
Sesampai nya didalam kamar, Cheril segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia sudah tidak tahan dengan tubuhnya yang lengket itu.
Setelah kegiatan itu selesai Cheril pun merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur nya yang sangat nyaman itu.
Bruk!
Cheril mencoba melupakan semua hal yang sudah terjadi, ia berusaha mengusir gangguan itu dari otaknya.
Namun sebesar apapun usahanya,Cheril tetap gagal melakukannya.
Ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.
Huuuuuuuuuuuuh
Cheril membuang nafas kasar
"Dasar laki-laki tikus !"
Aaaaaaaaaah
"Elvano, kamu benar-benar kurang ajar ya. Kamu sudah membuat ku kehilangan ciuman pertamaku dengan cara yang sama sekali tidak bermakna."
Aaaaahhhhhh
berteriak lagi.
"Ah, lagian kenapa juga sih aku harus mengerjai laki-laki itu tadi." Cheril menyadari kesalahannya.
"Tapi ini bukan salah ku, dia yang sudah merebut ruanganku." Cheril kembali membela diri.
"Ini semua salahnya Billy ! Dia yang sudah memberikan ruangan itu pada Vano !"
Huh ! Cheril menggerutu dengan wajahnya yang sedikit ditekuk.
"Billyyyyyyyy...." Kali ini Cheril memaki Billy.
Cheril sudah seperti orang stres berkata-kata dalam kesendirian, memaki dan menjawab sendiri pertanyaan yang juga ia buat sendiri.
Jikalau ada yang melihat nya pasti akan memegang dahinya untuk memeriksa dahinya untuk memastikan ia sedang sakit atau tidak.
Malam itu pikiran Cheril sungguh sangat kacau. Cheril baru bisa tertidur ketika jam didindingnya sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari.. Tidurnya tentu saja tidak lama, baru saja rasanya ia terlelap, alarmnya sudah berbunyi membangunkan Sang pemilik.
Dengan mata yang berat terpaksa Cheril harus beranjak, karna ia ada jam kuliah pagi yang sangat penting pagi ini. Hari ini ia akan melakukan praktek pertama nya membuat gaun malam. Jadi Cheril tidak ingin melewatkan pengalaman yang sudah sangat ia nantikan itu.
Cheril pun menuju kamar mandi nya dengan mata setengah terpejam.
Setelah mandi tentu membuat Cheril kembali bersemangat, mata panda nya, ia tutup dengan make up yang sedikit ia pertebal. Wajahnya juga sangat cantik dengan make demikian.
setelah merasa sudah siap ia pun segera turun dari lantai 2 menuju dapur. Waktu sudah menunjukkan pukul 7.05 saat itu, Cheril pun memutuskan sarapan di rumah, karna masih memiliki waktu sekitar 1jam dimulainya pelajaran.
Pagi ini Cheril sudah bersikap seperti biasanya, membuat Bibi Jum yang menyaksikan nya sedikit lebih tenang. Setidaknya Nona Cheril tidak perlu membuat Nyonya Besar nya kaget melihat tingkah anehnya.
Ibu Cheril sudah berada dimeja makan saat Cheril turun, ia pun kemudian sarapan bersama dengan Ibunya.
Sedangkan Ayah Cheril saat itu sedang keluar negeri ada pertemuan bisnis.
sudah sejak 2 hari yang lalu ia berangkat. Ia bahkan juga belum tau ada kepala gudang yang bertugas dibagian siff malam di Perusahaannya. Ntah apa reaksi nya jika mengetahui apa yang sudah dilakukan Billy yang sudah termasuk hal diluar nalar itu. Ya setidaknya Billy masih memiliki alasan kenapa memberikan posisi itu, pada akhirnya Cheril jugalah yang akan terkena masalah.
Cheril sarapan dengan singkat, setelah selesai ia pun pamit pada Ibunya,,
"Iya sayang, kamu hati-hati ya !"
"Iya Bu !' Jawab Cheril singkat
"Eh, tunggu dulu cheril ! Ibu kembali memanggil ketika Cheril sudah membalikan badannya kearah menuju pintu keluar.
"Ada apa Bu?"
"Ng-nggak, itu, Ibu mau bertanya, kapan kamu akan mempertemukan Ibu dan Ayah dengan calon suami kamu?" Ibu cheril melontarkan pertanyaannya sambil sedikit tersenyum.
"Eh, soal itu...."
Ah, kenapa Ibu tiba-tiba membahas soal ini sih, aku kan sedang tidak ingin mengingat laki-laki gila itu.
Huuh...
Ibu Cheril masih menunggu jawaban Cheril, ia menatap Cheril dengan tatapan penuh penasaran.
"Eh, nanti Cheril akan mencari waktu yang tepat untuk mempertemukan Ibu dan Ayah dengan dia. "Jawab Cheril asal yang penting bisa meyakinkan Ibunya, ia ingin segera mengakhiri pembicaraan tersebut.
Iya, Sandi pasti sibuk kan, Ibu bisa mengerti kok. Sandi pasti sangat sibuk dengan profesinya yang seorang dokter.
"Baik lah, Ibu tau dia sibuk, tapi setidaknya kamu harus menyuruh nya untuk meluangkan waktu demi bertemu Ibu dan Ayah. Ibu sudah tidak tahan menunggu lebih lama untuk berkenalan dengan calon menantu Ibu itu." Ibu Cheril menjawab dengan penuh keyakinan.
"Eh,,"
Memangnya Ibu mengenal Elvano, kok Ibu bisa bicara seperti itu.
"Yasudah, kamu berangkat sana ! Nanti kamu terlambat." Tambah Ibu Cheril.
"Ba-baik Bu ! Bye !" Jawab Cheril masih dengan sedikit kebingungan sambil melambaikan tangannya ke arah Ibunya.
Ibu Cheril sudah mencari tau siapa nama dan apa pekerjaan laki-laki yang mengantar Cheril pulang waktu itu, dan ia juga mendengar dari orang dari suruhannya bahwa Sandi adalah salah satu teman sekolah Cheril ketika masih SMP dulu, awalnya memang ia kaget, seharusnya laki-laki itu masih kuliah, tapi malah sudah mendapat gelar dokter spesialis jantung saat ini. Setelah mendengar semua penjelasan dari orang suruhan nya barulah Ibu Cheril mengerti dan ia sangat menyukai laki-laki itu. Ia tentu saja sudah tidak sabar menunggu Cheril memperkenalkan Sandi pada nya sebagai calon menantu nya.
Ntah apa yang akan terjadi jika yang Cheril pertemukan pada nya justru adalah Elvano yang hanya merupakan karyawan di Perusahaan milik suami nya bukan Sandi yang seorang jenius itu.
Cheril kemudian melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju kampusnya,.tidak lama kemudian ia pun tiba di kampus..
seperti biasanya Cheril disambut oleh kedua sahabatnya. Dan segera menuju kelasnya.
Tidak menunggu lama, pelajaran pertama pun dimulai. Cheril sangat antusias dengan pelajaran yang satu ini, ia memang sudah sejak lama menantikan waktu praktek tugas yang satu ini.
Namun ntah kenapa ketika praktek sedang berlangsung, ia malah tidak begitu berkonsentrasi, ia sedikit kepikiran tentang apa yang diucapkan oleh Ibunya dimeja makan tadi sekaligus juga kejadian semalam yang membuatnya sangat kesal. Ditambah lagi ia juga kurang tidur semalaman. Cheril pun tidak dapat berkonsentrasi dengan baik ketika dijelaskan oleh dosennya bagaimana cara pembuatan pola untuk gaun malam Yang akan menjadi tugas spesial nya ini.
Beberapa saat kemudian jam pelajaran tersebut pun telah berakhir. Cheril masih sangat kebingungan dengan sehelai kain warna krem dengan nuansa bling-bling yang sangat indah yang ada dihadapannya itu. ia benar-benar tidak tau pola yang sudah dijelaskan oleh dosennya tadi.
"Ahhhh... Bagaimana ini?"
Seketika ingatan nya tertuju pada Nona Cindy, Desainer senior di Perusahaan milik Ayahnya yang bertugas di siff malam.
Ah, iya. Cindi pasti bisa membantuku.
Ucap Cheril dalam hati, dari wajahnya ia pun tampak ceria kembali.
Akhirnya Cheril pun memutuskan untuk menanyakan pada Cindi nanti malam.