
~Cinta itu hanya sebuah kata yang sangat mudah untuk diucapkan, namun begitu rumit untuk dimengerti.
Begitupun dengan cinta Elvano terhadap Cheril. Jelas-jelas Cheril sudah pernah mengkhianati Elvano pada saat pertunangan dulu, tapi ia masih bisa memaafkan Cheril bahkan kembali mencintainya. Mungkin di sini hanya sebuah kisah fiksi belaka, namun percayalah, di dunia nyata juga sangat banyak kisah cinta yang tak kalah membingungkan dari ini.
---------
Pagi ini Elvano akan mengunjungi kota XX untuk meninjau bisnisnya yang ada di sana. Pukul 6 pagi Elvano sudah rapi dan siap untuk berangkat. Mengingat dirinya akan bepergian beberapa hari, semalam ia lebih memilih menginap di apartemen bersama Cheril.
Terjadilah perbincangan ringan antara dirinya dengan Cheril di pagi ini.
"Cheril.. Mungkin untuk beberapa hari kedepan aku tidak akan datang kemari." ucap Elvano mengawali pembicaraan.
"Oh, begitu ya .... " Cheril menanggapi Elvano singkat lalu menundukkan wajahnya.
"Kamu kenapa?"
Melihat Cheril tertunduk lesu membuat Elvano melemparkan pertanyaan.
"Eh, tidak apa-apa kok!" Cheril masih berpura-pura semua baik-baik saja. Tapi tentu saja Elvano tidak percaya begitu saja.
"Masih mau berpura-pura? Kamu takut merindukan ku ya?" Elvano menggoda Cheril sambil tersenyum konyol.
"Apaan sih .... Nggak!" Jawab Cheril masih menjaga gengsinya. Padahal dia memang sedang berpikiran demikian. Ditambah lagi Minggu depan adalah hari ulang tahun nya. Ia takut Elvano akan melewatkan itu.
"Heh! Jadi kamu tidak akan merindukan ku?" Elvano malah murka mendengar jawaban Cheril.
Eh, kenapa dia marah ... Bukannya dia sendiri yang tidak ingin ke sini. Kamu pasti ingin berduaan dengan istrimu yang lain kan ....
Gumam Cheril dalam hati.
"Masih diam saja? Kamu sungguh berani ya tidak merindukan ku!" Elvano sudah semakin murka. Wajahnya sudah memerah saat itu.
"Ah, iya ... Aku pasti akan sangat merindukanmu sayang!" Hehehe. Ucap Cheril akhirnya sambil cengengesan. Ia juga segera mendekati Elvano meraih lengannya dan memeluknya erat.
Padahal dalam hatinya ia sudah mengumpat kesal.
Dasar laki-laki aneh ... Sudah akan bersenang-senang dengan wanita lain malah memintaku untuk merindukan nya.
Cheril masih tetap pada pikirannya. Ia berpikir Elvano tidak ingin menginap di apartemen itu karna ingin berduaan dengan istrinya yang lain.
"Hanya begitu saja?" Elvano masih murka walaupun Cheril sudah bersikap manis. Ia sedang meminta diperlakukan lebih.
"Eh ....
Mau mu apa sih Tuan Muda ....
Cheril kembali mengumpat kesal di dalam hati.
"Jangan diam saja! Masih tidak tau harus melakukan apa?" Ucap Elvano lagi. Dan membuat Cheril melototkan matanya. Ia tau yang dimaksudkan Elvano. Elvano pasti ingin memintanya untuk mencium nya.
"Lalu mau kamu apa?" Cheril malah memilih melempar pertanyaan.
"Kamu ....
Elvano tau Cheril pasti sedang berpura-pura tidak tau, tapi dia juga sudah tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni Cheril, mengingat jadwalnya yang begitu padat di kota XX nanti. Jadi Elvano pun kembali melanjutkan perkataannya yang menggantung langsung to the point.
"Cium aku!" Lanjut Elvano akhirnya.
"Heh! Laki-laki gila ... Kamu pikir kamu siapa? Bisa seenaknya saja!"
Elvano sedikit tersentak mendengar ucapan Cheril yang tidak dia sangka.
Baru saja Elvano hendak bersuara, Cheril sudah lebih dulu melanjutkan pembicaraannya.
"Kamu selalu berbuat sesukamu ... Datang dan pergi dari apartemen ini semaumu saja. Dan sekarang kamu malah ingin memintaku mencium mu ... Padahal jelas-jelas kamu ingin bersama dengan istrimu yang lain kan?" Tukas Cheril dengan suara yang sangat keras.
Seketika Elvano melototkan matanya mendengar semua yang dikatakan Cheril. Sebelumnya ia sama sekali tidak menyangka Cheril bisa memiliki pikiran seperti ini terhadap dirinya.
Bagaimana dia bisa memiliki pikiran serumit ini ....
Namun Elvano juga merasa senang sih, mengetahui Cheril sedang merasa cemburu terhadapnya.
"Jadi kamu sedang cemburu? Tenyata kamu manis juga ya ... Aku tidak menyangka kamu bisa cemburu padaku ..." Ucap Elvano sambil tersenyum senang.
"Eh. ....
Kenapa aku bisa mengatakan semua itu ... Seharusnya aku tidak melakukan itu kan ... Sungguh memalukan.
Wajah Cheril malah sudah sangat memerah karena malu. Membuat Elvano yang melihatnya tidak dapat lagi menahan diri.
Dia memang sangat manis jika wajahnya memerah seperti itu ....
Dengan sigap Elvano segera mendekap Cheril ke dalam pelukannya. Lalu ia mulai melakukan aksi furgalnya. Bahkan ia hampir melanggar etika yang ia pegang selama ini. Aktivitas yang ia lakukan terhadap Cheril kali ini memang sedikit melebihi sebuah c***an seperti biasanya. Namun segera ia tahan sebelum terlanjur lebih jauh.
Cheril saja sangat kaget dengan keganasan yang ditunjukkan oleh Elvano kali ini. Ia sudah seperti singa yang sedang menggila saja di dalam pikiran Cheril.
"Jagalah sikapmu Nona! Sudah berapa kali aku berkata padamu, jangan pernah menunjukkan wajah merahmu itu padaku! Jangan salahkan aku jika aku akan melakukan yang lebih daripada ini!" Ucap Elvano setelah selesai dengan perlakukan furgalnya itu.
Kemudian Elvano segera berlalu dari hadapan Cheril menuju kamar untuk menyiapkan sedikit pakaian yang akan ia bawa ke kota XX. Ia takut jika tetap bersama Cheril di sana akan membuatnya tidak dapat menahan diri, jadi lebih baik mencari kesibukan lain.
Sementara Cheril, ia hanya masih termenung di tempat dengan wajahnya yang masih memerah hingga terdengar suara ketukan pintu yang mengejutkan dirinya.
Tok tok tok
Walaupun sedikit kaget, Cheril tetap segera menuju ke arah pintu sembari memperbaiki penampilannya yang agak berantakan karena keganasan Elvano tadi.
Ia sudah bisa menebak siapa yang ada di balik pintu. Ya, orang itu adalah Niko.
"Selamat pagi Nona!" Sapa Niko sambil sedikit menundukkan tubuhnya.
"Selamat pagi Niko!" Balas Cheril.
Pada saat yang bersamaan Elvano juga sudah berada di sana.
"Ayo kita pergi sekarang!" Ucap Elvano tanpa basa-basi dengan ekspresinya yang datar, lalu segera keluar dari apartemen itu begitu saja.
"Eh, ayo!" Jawab Niko singkat dan segera mengejar Elvano yang sudah mulai menjauh.
Sebenarnya Niko agak heran, ia berpikir sepertinya kedua orang ini sedang terlibat pertengkaran. Karna biasanya Elvano akan menghujani Cheril dengan ciuman di seluruh wajahnya sebelum pergi meninggalkan apartemen ataupun sebaliknya, Cheril yang diharuskan oleh Elvano untuk menghujani nya dengan ciuman. Sementara ini, Elvano malah langsung keluar begitu saja, pamit pun tidak.
Kemudian kedua laki-laki ini sudah langsung menuju ke arah mobil yang akan membawa mereka ke bandara. Hari ini mereka memang akan berangkat dengan menggunakan pesawat jet milik keluarga Setiono.
Semua jadwal memang sudah tersusun dengan sangat sempurna, dari jam keberangkatan yang dimulai dari pukul 06.30 hingga semua kegiatan yang akan mereka lakukan hari itu. Namun ada satu hal yang belum Niko ketahui, yaitu Elvano akan mengunjungi keluarga Cheril untuk meminta restu. Entah bagaimana ekspresi Niko ketika mengetahui hal ini. Selain itu, mungkin jadwal yang sudah ia atur juga bakal sedikit diobrak-abrik oleh Elvano.