
Pagi ini Elvano dan Cheril beserta rombongan terbang dari kota XX kembali ke kota X menggunakan pesawat jet pada pukul 05.30.
Lalu setelah tiba di kota X, Elvano memerintahkan pada para pengawal supaya kembali ke kediaman keluarga Setiono, sedangkan mereka berdua menuju ke sebuah tempat yang sangat asing bagi Cheril. Elvano memang sengaja tidak mengajak Cheril kembali ke kediaman keluarga Setiono karena tak ingin keluarganya ikut terlibat ke dalam masalah yang sangat rumit ini.
Karena penasaran dengan tempat asing tersebut Cheril pun bertanya,
"Sayang, kita ada di mana?" tanya Cheril heran sambil memandang sebuah bangunan yang cukup megah yang ada di hadapan mereka saat ini.
"Ayo turun!" bukannya menjawab pertanyaan Cheril, Elvano malah memberikan perintah pada Cheril supaya turun dari mobil. Seperti biasa, Cheril akhirnya harus tetap dibuat penasaran.
Kemudian Cheril segera turun dari mobil, ketika Elvano membukakan pintu untuk dirinya. Saat itu Elvano sendiri yang membawa mobil. Ia tak ingin ada orang lain yang tau tentang tempat itu, makanya dia sendiri yang menyetir. Memang ada beberapa pengawal yang mengetahui tempat itu, tapi mereka hanya orang yang benar-benar dipercaya oleh Elvano saja. Dan sudah pasti kemampuan mereka diatas rata-rata.
Ketika mereka tiba di sana, ternyata kastil tersebut juga tidak kosong. Ada seorang perempuan yang tinggal di tempat itu untuk mengurus kastil tersebut yang bernama Bibi Nois. Juga seorang Bapak tua pengurus kebun bernama Pak Teo.
Kastil ini baru dibeli oleh Elvano sekitar 1 1/2 bulan yang lalu dari hasil kerja keras dia sendiri. Diam-diam Elvano ternyata juga memiliki usahanya sendiri selain usaha Astra Investama Group milik keluarganya. Dan usaha tersebut berkembang dengan sangat cepat. Hingga menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Diperkirakan omset yang dihasilkan oleh usaha Elvano ini bisa menghasilkan puluhan miliar per minggunya.
Tujuan awal membeli kastil ini, Elvano memang hanya ingin memanfaatkan tempat itu sebagai tempat persembunyian. Rencananya tempat tersebut akan Elvano jadikan sebagai tempat persinggahan ketika dia sedang tak ingin berada dirumah. Atau jika ia sungguh sedang membutuhkan waktu untuk sendiri atau ada hal yang seperti sekarang ini. Sejak membeli kastil tersebut, Elvano memang belum pernah menempati nya, kecuali hanya sekedar menghabiskan weekend saja di tempat itu. Itupun Elvano belum pernah menginap di sana.
Kastil tersebut lumayan besar, dan juga memiliki taman bunga yang sangat indah. Selain itu juga dilengkapi dengan tingkat keamanan yang cukup tinggi. Di beberapa titik tertentu telah dilengkapi dengan jebakan formasi yang jika tombol itu diaktifkan, maka titik formasi akan aktif.
Sepertinya takdir mengatur hidup Elvano dengan begitu teliti.
Semua yang dilakukan oleh Elvano sebenarnya adalah hasil tiruannya dari Raymon. Entah bagaimana Elvano dapat mengahadapi hari ini jika ia tidak berguru pada Raymon di masa kecilnya dulu.
Ketika Elvano dan Cheril tiba, Bibi Nois segera menyambut mereka. Bibi Nois cukup kaget melihat Elvano membawa wanita ke tempat itu. Sekali tebak Bibi Nois sudah tau, pasti wanita ini bukan wanita sembarangan. Sebab Tuan Mudanya itu terlihat begitu menyayangi wanita tersebut.
“Selamat pagi Tuan Muda dan selamat pagi Nona!” sapa Bibi Nois sambil tersenyum.
“Selamat pagi Bibi Nois!” balas Elvano yang juga diikuti anggukan dari Cheril.
“Oh iya, Bibi, dia adalah Nyonya pemilik kastil ini. Dia adalah istri saya, namanya Cheril,” jelas Elvano memperkenalkan Cheril sebagai bagian dari pemilik kastil tersebut.
Sekali lagi Cheril juga ikut mengganggukan kepalanya sambil membatin,
Oh, jadi kastil ini milik Vano ....
“Selamat datang Nyonya Cheril di kastil Red Rose milik Tuan Muda Elvano! Jika membutuhkan bantuan apapun Nyonya bisa memanggil saya,” ucap Bibi Nois sedikit menundukkan bahunya sopan.
“Eh, i-iiya, terimakasih Bibi!’ balas Cheril canggung.
'Red Rose ya … Sungguh nama yang indah. Apa di sini sungguh dipenuhi dengan bunga mawar merah …. '
Cheril kembali bertanya-tanya di dalam hatinya. Yup, sesuai dengan namanya, taman bunga yang ada di belakang memang dipenuhi dengan bunga mawar merah.
“Apa Tuan Muda dan Nyonya akan tinggal di sini mulai sekarang?” tanya Bibi Nois.
“Hanya untuk sementara waktu,” jawab Elvano singkat dan segera menuntun Cheril memasuki kastil itu.
“Oh iya, Bi, formasi depan sudah saya aktifkan, tolong beritahukan pada Pak Teo supaya dia tidak masuk dalam jebakan itu!” perintah Elvano.
Mendengar ucapan Elvano, Bibi Nois pun bisa mengerti. Pasti sedang ada hal serius yang terjadi. Dan pasti karena alasan ini juga, kenapa Elvano dan Cheril harus tinggal di sana untuk sementara waktu. Tak lupa ia juga segera berlarian kecil menuju kebun belakang untuk memberitahukan pada Pak Teo mengenai pesan dari Elvano itu.
Setelahnya, Elvano dan Cheril pun kembali melangkahkan kaki mereka memasuki kastil. Dan pastinya langsung tertuju ke arah kamar.
"Sayang, apa yang akan kita lakukan di sini?" Cheril kembali melempar pertanyaan.
"Untuk sementara kamu dan aku akan tinggal sini, kamu tidak apa-apa kan?" jelas Elvano sambil melemparkan pertanyaan.
"I-iiya, aku tidak apa-apa kok ... Tapi apa kita akan terus bersembunyi di sini, dan sampai kapan?" tanya Cheril lagi.
"Tidak, aku akan tetap bekerja seperti biasanya. Hanya saja kamu, kamu yang harus tetap tinngal di sini. Tidak boleh pergi kemanapun, tau tidak?" pinta Elvano.
"Memangnya kenapa?" protes Cheril.
"Hei, dengar baik-baik ya, kamu tidak boleh kemanapun! Tidak boleh protes, jadilah istri yang patuh!" perintah Elvano.
"Ya, tapi kan aku harus tau alasannya sayang,"
"Alasannya karena aku sangat mencintaimu. Dan aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu, paham?"
Tentu saja Cheril bingung. Dia kan wanita yang cukup polos, atau ia hanya berpura-pura polos?
"Ta ...," Cheril sudah hendak protes lagi, tapi segera dicegah oleh Elvano.
"Ssttt! Sekali lagi kamu bersuara akan aku cium!" ancam Elvano.
"Ta ..., "
Cup!
Karena Cheril tetap saja ngotot , Elvano pun mencium bibir Cheril dan melum***nya kasar untuk beberapa detik.
"Sudah aku bilang kan? Jika kamu masih bersuara akan aku cium. Tunggu, atau kamu begitu berharap aku mencium mu ya?" goda Elvano yang sudah merubah wajah serius menjadi senyuman konyol miliknya.
"Apaan, tidak! Baiklah aku akan diam," ucap Cheril akhirnya yang hanya ditanggapi Elvano dengan tawa kecil.
Karena ada masalah yang lebih penting daripada meladeni Cheril, Elvano pun memilih mengakhiri pembicaraan itu.
Pada saat itu Elvano memang sedang tak memiliki mood untuk bercanda. Tau sendiri kan? Keadaan sedang sangat tegang.
"Kamu istirahatlah dulu, aku mau keluar sebentar." Ucap Elvano sambil mengusap kepala Cheril dan juga memberikan satu kecupan lembut di kening Cheril. Lalu segera berlalu dari kamar meninggalkan Cheril seorang diri.