
Obrolan kecil di antara para tamu terus berlanjut hingga pada sesi yang terpisah-pisah. Yaitu, para anak muda berkumpul pada satu titik, dan para orangtua berkumpul pada titik lainnya.
Dan tentu topik yang sangat menarik ada pada perkumpulan anak-anak muda.
Sementara Flo yang usianya terpaut cukup jauh lebih memilih masuk ke dalam kamarnya untuk mengerjakan tugas sekolah miliknya yang lumayan banyak hari itu.
"Heh, Nik, kamu sudah punya gebetan belum?" Tanya Erik sekaligus menggoda Sahabatnya itu. Dan itu merupakan pembicaraan pembuka.
"Eh....
Melihat Niko yang sedikit salah tingkah membuat Erik mengerti, pasti Niko masih belum memiliki gebetan.
"Makanya Rik, kenalkan teman kita ini pada temanmu. Kamu kan punya banyak koleksi."Timpal Elvano yang membuat Tania melototkan matanya.
Hihihi
Elvano cekikikan melihat ekspresi Tania.
"Ah, itu kan dulu.... Sekarang hanya ini saja wanita yang aku kenal." Ucap Erik sambil merangkul leher Tania, supaya ia tidak jadi marah.
Fiiiiiiuh
Dasar kamu No, awas ya, berani ngerjain aku... Lihat saja akan aku balas kamu...
Gumam Erik di dalam hati.
Sementara isi hati Niko saat itu;
*Hahaha
Senjata makan tuan kan kamu.... Makanya jangan suka mengejekku.... Akhirnya malah kamu yang kena getahnya*.
Lain halnya lagi dengan Nikita. Sepertinya Nikita diam-diam sedang memperhatikan Niko.
Ternyata laki-laki ini lumayan tampan juga kalau sedang tertawa.... Manis....
Gumam Nikita dalam hati.
Tentu Tania menyadari hal ini, karena Tania duduk berhadapan dengan Nikita. Jadi ia bisa melihat dengan jelas, Nikita yang diam-diam sedang memperhatikan Niko, menatap nya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Tania pun menyenggol Erik yang berada di sampingnya membuat Erik melemparkan pandangan ke arahnya.
Lalu Tania pun memancungkan mulutnya ke arah Nikita memberi kode pada Erik supaya ikut melirik ke arah Nikita. Dan Erik pun melakukan itu.
Eh, sepertinya wanita itu menyukai Niko.
Ucap Erik dalam hati. Ia pun tersenyum kecil.
Terbesit rencana kecil di dalam hatinya, untuk menjodohkan Nikita dengan Niko.
Wah, nama mereka berdua juga cocok ternyata. Hehehe
Setelahnya topik pembicaraan pun berubah, mereka lebih memilih mendengarkan cerita dari kakak Cheril yang menceritakan pengalamannya selama berkuliah diluar negeri. Hingga siang pun sudah berganti sore, satu per satu dari mereka beranjak untuk pergi mandi. Yang pertama beranjak adalah Kak Adriela, Valen juga ikut beranjak, setelahnya Tania juga Erik menyusul. Dan terakhir Elvano juga menyusul setelah mendapat pesan singkat yang dikirimkan oleh Erik.
Heh No, Nikita sepertinya menyukai Niko. Ayo tinggalkan mereka berdua.
Demikian pesan singkat tersebut.
"Nik, aku ke kamar mandi sebentar ya, tapi kamu jangan pulang dulu!" Ucap Elvano.
"Eh, baiklah." Jawab Niko singkat.
Ia tidak tau Elvano sedang mengerjainya saat itu. Ia hanya berpikir mungkin Elvano masih ada perlu dengan nya.
Tinggallah Niko dan Nikita yang masih berada di sofa ruang tamu hanya duduk berduaan.
Sementara Elvano,Tania juga Erik sedang mengintip mereka dari kejauhan.
Deg deg deg deg deg
Jantung Nikita sudah berdetak sangat tak beraturan saat itu. Sedangkan Niko hanya biasa saja. Ia juga tidak menyadari Nikita yang sesekali melirik ke arahnya.
yang ada Niko malah asyik dengan ponselnya.
"Ah... Kenapa Niko sangat tidak peka?" Ujar Erik gemas.
"Itu karena Niko tidak kayak kamu, kalau sudah melihat wanita cantik sedikit saja, matamu langsung melotot." Timpal Tania.
"Ah.... Kamu.... Masih cemburu saja. Heh, No.... ini dia gara-gara kamu!" Ujar Erik lagi.
"Eh.. kok salah aku?"
Jelas Elvano tidak terima disalahkan. Padahal memang gegara dirinya lah Tania terus mengungkit tentang Erik yang kegatelan.
Akhirnya mereka kedua orang itu pun terdiam.
20 menit sudah kedua insan itu duduk di ruang tamu. Tak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Membuat ketiga orang yang mengintip mereka merasa semakin gemas.
Sedangkan Niko sendiri juga sudah mulai resah.
Kenapa Vano lama sekali....
Gumam Niko dalam hati.
sambil sesekali ia melirik ke arah jam tangannya, juga melemparkan pandangan ke arah dapur, di mana kamar mandi berada.
Dan pada saat yang bersamaan Elvano juga sudah keluar dari persembunyiannya karena tak tahan lagi menunggu terlalu lama di tempat persembunyian tersebut.
"Eh.. Nik, maaf membuat mu menunggu lama." Ujar Elvano sambil menepuk pundak Niko.
"Iya, tidak apa-apa. O iya, kamu masih ada perlu apa No?" Tanya Niko
"Sepertinya sudah tidak ada. Kamu bisa pulang sekarang Nik!" Jawab Elvano santai.
Jadi, buat apa dia menahan ku sejak tadi...
"Tadi kamu bilang...."
"Ah, sudahlah! Aku pulang dulu!"
Ucap Niko akhirnya.
Niko pun segera berlalu dari hadapan Elvano dan Nikita. Setelahnya Elvano juga berlalu menuju kamarnya meninggalkan Nikita yang masih duduk di ruang tamu seorang diri.
Dan ternyata mereka sudah gagal ingin membuat Nikita dan Niko bermesraan saat itu.
------
Seusai mandi, semuanya telah berkumpul kembali di ruang makan. Bersiap untuk menyantap makan malam bersama.
Seperti sebelumnya, obrolan santai juga menghiasi perkumpulan tersebut. Ibu Winda sempat menanyakan Elvano kenapa tidak membawa Cheril kembali saat itu. Lagian besok mereka sudah akan menikah. Namun Elvano masih tetap pada pendiriannya yang ingin memberikan kejutan pada Cheril.
"Biarkan saja Bu, besok saja baru dijemput." Jawab Elvano.
Setelah usai dengan makan malam, Elvano segera kembali ke dalam kamarnya meninggalkan mereka semua yang masih ramai di ruang keluarga. Sebab ia sudah merasa sangat kangen dengan Cheril. Apalagi setelah ibunya membahas soal Cheril tadi.
Bruk
Elvano menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur dan segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Cheril.
Kali ini Elvano memilih Video Call dengan Cheril.
Di layar ponselnya tertulis;
My Honey berdering...
Berulang kali Elvano memanggil, namun Cheril sama sekali tidak mengangkat telepon itu. Jelas-jelas tertulis berdering yang berarti panggilan tersebut sedang aktif. Membuat Elvano mulai merasa khawatir.
"Kenapa tidak dijawab? Apa yang sudah terjadi sebenarnya?" Gumam Elvano pelan.
Sesaat kemudian Elvano berpikiran untuk menghubungi pengawal yang ada di apartemen, karena sudah 10x panggilan video call yang ia layangkan namun tidak dijawab oleh Cheril sama sekali.
Dan alangkah kagetnya dia, setelah mendapat jawaban dari para pengawal bahwa mereka tidak menemukan Cheril di dalam apartemen miliknya.
Elvano pun segera bergegas menuju apartemen. Tidak lupa ia juga menghubungi Niko supaya menemuinya. Dan juga semua pengawal dikerahkan oleh Elvano untuk mencari Cheril yang menghilang.
Ia sudah tidak lagi menghiraukan Ibu Winda yang menanyakan dirinya mau kemana saat ia tiba-tiba keluar dari rumah. Membuat semua orang yang ada di sana bertanya-tanya.
Pikiran Elvano sungguh sangat kacau saat itu. Ia sudah mengingat kembali kejadian beberapa waktu yang lalu, di mana Cheril di pukul oleh anak buah Bos Baron. Dan pada saat Cheril hampir kehilangan nyawanya.
"Cheril.... Kamu ada di mana? Kenapa tidak menjawab panggilanku?"
Aaaaaaaah...
Elvano sudah semakin frustasi. Berapa kali pun ia mencoba menghubungi Cheril kembali selama di dalam perjalanan menuju apartemen, ia tetap saja tidak mendapat jawaban.
"Pak, percepat laju kendaraannya.... CEPAT!" Teriak Elvano membuat Pak sopir kaget.
Padahal saat itu laju kendaraan tersebut juga sudah sangat cepat.
"Ba-baik Tuan Muda!"
Pak sopir hanya bisa menjawab demikian.
Dan hanya sedikit mempercepat laju kendaraan itu.