
Setelah kepergian Tika Elvano berjalan dengan terburu-buru menuju ke arah kamar untuk menemui Cheril.
JEGREK!
Tok tok tok
"Buka pintunya, sayang ... Dengarkan dulu penjelasan aku!" bujuk Elvano.
Elvano tak dapat membuka pintu dari luar karena Cheril telah mengunci pintu dari dalam kamar.
Bisa ditebak apa yang sedang dilakukan oleh Cheril saat itu. Tentu saja ia sedang menangis di atas tempat tidur.
Sementara di luar, Elvano masih terus membujuk Cheril supaya membukakan pintu untuknya.
"Cheril, aku mohon buka dulu pintunya! Kamu harus dengarkan penjelasanku! Aku dan Tika tidak melakukakan apapun. Kamu hanya salah paham saja,"
Oh, jadi gadis itu bernama Tika ... Aku tidak akan membukakan pintu untuk mu.
Hik hik hik hik
Hening. Ya, suasana inilah yang ada. Cheril tidak menjawab Elvano, melainkan hanya menjawab di dalam hati saja.
BAM BAM BAM!
Suara ketukan pintu kini sudah berbeda. Elvano yang mulai emosi memukul pintu keras.
"Cheril, jika kamu tidak membuka pintu juga, akan aku hancurkan pintu ini!" ancam Elvano.
Sontak Cheril yang ketakutan segera beranjak untuk membukakan pintu. Terkadang untuk menghadapi wanita yang sedang ngambek memang dibutuhkan sedikit gertakan. Dan terbukti cara ini memang ampuh.
Jegrek!
Setelah membuka pintu Cheril segera berbalik hendak kembali ke tempat tidur.
Namun segera ditahan oleh Elvano dengan meraih tangan Cheril dan menarik nya ke dalam pelukannya.
"Lepaskan aku!" pinta Cheril sembari memukul-mukul dada Elvano.
"Tidak akan!"
Bukannya melepaskan Elvano malah berusaha melum** bib*r Cheril kasar. Dan tentu saja Cheril juga berusaha melawan Elvano. Karena tak ingin membuat Cheril tersakiti, Elvano pun melepaskan ******* itu. Namun tidak dengan pelukannya.
"Dengarkan aku dulu!" pinta Elvano sekali lagi.
Apa lagi yang perlu dijelaskan? Aku sudah mendengar semuanya,"
"Benarkah? Jadi kamu sungguh lebih percaya sama orang yang bahkan tidak kamu kenal ketimbang mempercayai suamimu sendiri?" cibir Elvano yang membuat Cheril diam seribu bahasa.
Akhirnya Elvano mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan penjelasannya.
"Kamu dengar baik-baik! Aku dan Tika itu tidak ada hubungan apapun. Kemarin itu dia mendatangiku di kantor. Awalnya hanya untuk urusan bisnis yang diutus oleh ayahnya. Namun memang pada akhirnya dia ingin menggoda ku,"
Cheril jelas melotot mendengar kalimat terakhir itu.
"Terus kamu tergoda kan? Lepaskan aku!" berontak Cheril.
"Kamu ini selalu berasumsi seenaknya saja. Tentu saja aku tidak mungkin tergoda dengan gadis muka badut seperti dia. Sedangkan aku sudah memiliki seorang istri yang sangat cantik dan baik seperti mu,"
Badut ... Hahaha
Kali ini Cheril sedikit tergelak dan tertawa kecil.
"Sayang, aku hanya berusaha menerima dia sebagai seorang tamu saja. Dan itu malah membuat dia merasa senang, lalu menganggap itu sebagai hal yang romatis. Sekarang kamu paham kan?"
Hati cheril sudah hampir luluh dong pastinya.
Cheril menatap Elvano lekat sekarang.
"Apa itu benar?" tanya Cheril ingin meyakinkan diri.
"Tentu saja! Aku sangat mencintaimu, Cheril!"
Elvano kemudian medekatkan wajahnya ke arah wajah Cheril. Bibir kedua orang ini pun saling berdekatan. Perlahan tapi pasti, suasana yang sebelumnya tegang kini berubah romantis. Semakin dalam dan semakin dalam. Akhirnya setelah beberapa hari menunggu istrinya dalam kesabaran karena siklus bulanan, pagi ini Elvano pun mendapatkan buah dari kesabaran itu.
-
-
Usai perang kedua, Cheril menuntut Elvano untuk menjelaskan tentang Tika. Sebab ia merasa sangat penasaran, siapa wanita itu sebenarnya.
"Dia itu teman kampus aku. Dan sejak dulu dia memang selalu berusaha menggoda ku. Tapi aku sama sekali tak tertarik pada nya. Apalagi sejak bertemu dengan mu waktu di taman dulu,"
Wajah Cheril sedikit merona ketika Elvano membahas soal yang satu ini. Ia teringat kembali bagaimana waktu itu ia dengan gagah berani mengajak Elvano menikah. Mungkin lebih tepatnya Cheril memaksa Elvano menikahinya, dengan memanfaatkan masalah yang sedang dihadapi oleh Elvano waktu itu.
Sebenarnya sih, Elvano malah sangat mensyukuri hal ini sekarang. Sebab berawal dari hari itulah yang membuat mereka dapat bersama hingga saat ini.
Sayangnya, Elvano juga tak dapat melihat wajah Cheril yang sudah memerah itu, karena posisi mereka saat itu Elvano sedang memeluk Cheril yang membelakanginya di atas tempat tidur.
Sesaat setelah memberi jeda untuk mengambil nafas, Elvano melanjutkan kembali penjelasannya mengenai bagaimana ia bisa bertemu kembali dengan Tika saat ia sudah menjadi Presdir Astra Investama Group. Dan termasuk perjodohan yang diinginkan oleh ayah Tika. juga soal obat perangsang waktu itu.
Oh, jadi obat perangsang yang waktu itu adalah dari wanita itu. Wah ... Sepertinya wanita ini sangat berbahaya. Aku harus lebih berhati-hati terhadap orang ini.
"Sayang, sekarang kamu sudah paham kan seberapa besar cintaku padamu? Kamu pasti masih ingat, sekalipun aku sedang dipengaruhi oleh obat perangsang, yang aku inginkan hanya dirimu. Bukan wanita itu!"
Saat ini Elvano sudah membalikkan badan Cheril yang membuat mereka saling berhadapan.
"Lagian, jika memang aku menginginkan gadis itu, kita tidak mungkin bersama saat ini. Jelas-jelas dia yang lebih dulu hadir di dalam kehidupanku sebelum kamu ada. Setelah ini kamu harus selalu percaya padaku. Paham Tidak?"
"Ehm ... Hem em. Terimakasih Jeong Shu atas cintamu yang begitu besar!" ucap Cheril sambil tersenyum.
Tentu saja cintaku sangat besar untuk mu ... Aku sudah pernah mengatakan padamu sebelumnya, cintaku padamu sebesar samudera. Bahkan seluas cakrawala, dan sedalam lautan. Entahlah ... Apa cintamu terhadapku juga sebesar ini atau tidak.
Baik, setelah penjelasan panjang, tentu Elvano sudah meminta jatah lagi. Haha.
Tidak usah dibayangkan dan tidak perlu diintip ya Readers. Biarkan mereka bersenang-senang. Lagian memang sudah beberapa hari ini Elvano tidak mendapatkan jatah reman. Sudah pasti ia merindukan itu.
Dua insan yang sedang bercinta kini merasakan kebahagiaan yang teramat indah. Namun percayalah, di dalam perjalanan waktu, pasti akan ada banyak masalah dan rintangan yang harus mereka lalui. Tidak selalu mulus begitu saja. Memang demikianlah sebuah kehidupan. Penuh dengan cobaan yang harus dilalui untuk mencapai kebahagiaan yang sutuhnya menjelang waktunya nanti.
Setelah selesai dengan aktivitas suami-istri di pagi hari, pasangan ini memutuskan untuk membersihkan diri mereka bersama. Jelas dong, kejadian serupa hampir terulang kembali di dalam kamar mandi. Namun semua itu masih bisa tertahan karena mengingat Elvano yang ada rapat pagi menjelang siang hari ini.
Elvano dan Cheril pun segera menyudahi aktivitas mandi bersama mereka dan bergegas mengenakan pakaian mereka. Setelah rapi, keduanya menuju meja makan untuk sarapan bersama.
"Sayang, aku berangkat dulu ya! Ingatlah untuk tetap di dalam kastil saja!"
Begitulah pesan yang disampaikan oleh Elvano setelah menyelesaikan sarapan bersama Cheril dan sudah hendak berangkat kerja.
Cup!
Tak lupa satu kecupan lembut juga ia berikan di kening Cheril seperti biasanya sebelum benar-benar melangkahkan kaki ke arah mobilnya.
Sejak tinggal di kastil, Elvano memang tidak pernah lagi menggunakan sopir. Dan Niko juga diperintahkan oleh Elvano untuk langsung ke kantor saja. Sebab jarak kastil dengan kediaman Niko lumayan jauh.
Lagian Elvano juga sudah mulai terbiasa menyetir sendiri. Rasanya lebih leluasa.
Sesaat kemudian, Elvano menghidupkan mesin mobilnya, dan berlalu dari hadapan Cheril.