Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Perjalanan menuju bukit Delima


Elvano dan ketiga pengawal khususnya mulai menyusun sebuah strategi. Karena Jack jauh lebih tau tempat ini, Jack lah yang paling banyak menuangkan ide di dalamnya. Tidak hanya gunung Elang Muda yang sangat banyak jebakan, ternyata di bukit Delima pun cukup banyak jebakan. Dan jauh lebih mematikan.


Salah satu jebakan yang paling mematikan ada pada The Sun Flower garden.


Sesuai dengan namanya, di tempat itu penuh dengan bunga matahari yang sangat indah. Dan karena alasan inilah, tempat ini sudah sangat banyak memakan korban.


Jack menjelaskan, Setiap orang yang terjebak ke dalam kebun tersebut biasanya akan mereka rekrut sebagai bagian dari mereka. Jika mereka menolak, maka mereka akan dibiarkan mati begitu saja. Namun jika mereka menerima, pimpinan Blood team Hitam akan memberikan pada mereka penawar racun itu. Bisa dibayangkan, betapa liciknya mereka itu.


Saat Jack menceritakan perihal kebun ini, Elvano pun mengingat masa kecilnya dulu. Masa dimana ia masih menjadi bagian dari gunung Elang Muda. Bukit Delima memang selalu menjadi tempat terlarang. Guru Raymon selalu memberikan peringatan bagi mereka supaya tidak berada terlalu dekat dengan bukit itu. Sebab kata Guru Raymon di sana terdapat bunga pemakan yang sangat berbahaya. Jika seseorang sudah dimakan, maka selamanya tidak akan dapat keluar lagi. Dan sekarang Elvano baru mengerti soal ini. Dia juga baru mengerti kenapa selama ini Guru Raymon tidak mengijinkan para murid bermain terlalu dekat dengan bukit Delima. Ternyata di sana adalah tempat yang menjadi markas kelompok sesat itu.


"OK! Jack, karena kamu lebih tau dengan jalan di sana, maka aku menunjukmu sebagai penunjuk arah. Apa kau bersedia?" tanya Elvano.


"Ya! Aku siap, Tuan!" sahut Jack lantang.


"Bagus. Apa yang lainnya juga siap?" Elvano mengucap sambil melirik ke arah Rein dan Zum yang ada di belakang.


"Tentu Tuan. Kami akan melakukan yang terbaik untuk membantu Tuan," jawab Rein


Sebelum Rein memberi jawaban, ia lebih dulu melirik ke arah Zum. Dan setlah itu, ia pun mengambil alih untuk menjawab sekaligus menjadi perwakilan dari Zum.


Tentu saja kami akan melakukan yang terbaik untuk melindungi Tuan. Tuan kami begitu menyayangi Tuan. Jika terjadi sesuatu pada Tuan, kepala kami ini bisa menjadi taruhannya.


Demikianlah yang ada di pikiran Rein saat itu.


"Baiklah, jika semua sudah siap, kita segera berangkat ke tempat itu. Let's go to the war!" ucap Elvano dengan suara lantang.


Elvano kemudian mengambil alih kemudi. Mode sopir otomatis dimatikan olehnya. Hologram yang tadinya tampil juga sudah ia matikan. Sebuah GPS sebagai penunjuk arah diaktifkan oleh Elvano.


Seharusnya perjalanan mereka tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk mencapai tempat itu. Sekalipun jalan yang mereka gunakan adalah jalur darat. Dan Squash juga sangat hebat menemukan jalan yang jauh lebih singkat, walaupun mereka harus melewati lembah, sungai-sungai kecil, dan jalanan berliku tajam. Namun tentu saja Squash tidak mengalami kesulitan yang terlalu signifikan menghadapi semua itu.


Kecanggihan yang ia miliki malah membuat mobil itu sangat menikmati perjalanan pertamanya yang begitu menantang. Waktu yang seharusnya mereka butuhkan untuk mencapai tempat itu jika dari pengalaman Niko waktu itu seharusnya membutuhkan 1 harian. Itupun dari kota XX. Nah, bagi mereka, ternyata tidak membutuhkan waktu se-lama itu untuk mencapai tempat tujuan tersebut. Hanya dalam hitungan beberapa jam saja, mereka sudah tiba di bawah bukit dan bersiap memanjat ke atas. Semua sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh Elvano.


Sekali lagi jika perjalanan yang seharusnya sangat jauh itu hanya membutuhkan waktu yang begitu singkat bagi mereka meencapai tempat ini, Elvano kembali berpikiran, mungkin hanya akan membutuhkan waktu 30 menit saja untuk mencapai ke atas bukit.


"Squash, apa kau siap memanjat?" tanya Elvano?"


"Tentu Tuanku!" jawab Squash antusias.


"Bagus!"


Kemudian Elvano mulai menekan mode memanjat. Roda Squash yang sedari tadi terus berubah-ubah bentuk, kini kembali harus mengubah wujudnya menjadi bentuk yang menyerupai cakar harimau. Hal ini tentu saja supaya si macam ini lebih mudah dalam melaksanakan tugasnya yang satu itu.


Semua penumpang yang ada di dalam dapat merasakan roda itu seperti mengeluarkan gigi-gigi tajam. Mobil tersebut terasa terangkat lebih tinggi. Ketiga pengawal khusus itu yang sedari tadi terus mengagumi kecanggihan Squash kembali terpana. Sungguh sebuah mobil yang sangat sempurna bagi mereka. Walaupun mereka tidak menampilkan kekaguman mereka lewat ekspresi menggelikan, mereka akan selalu mengagumi Squash di dalam hati.


Sesaat kemudian, Squash mulai memanjat naik. Perlahan tapi pasti. Dan seiring berjalan, perlahan Elvano juga menaikkan kecepatan Squash. Sekitar 15 menit kemudian, mereka pun mencapai titik pendaratan pertama.


Elvano tersenyum puas karena itu.


Ia merasa senang karena semua sepertinya berjalan sesuai dengan yang ia inginkan.


"Sekarang kita coba lagi ya Squash. Seharusnya ini juga tidak terlalu sulit," kata Elvano pelan.


Elvano kembali menginjak gas. Mobil canggih ini pun kembali melaju pelan. Perlahan Elvano menaikkan kembali kecepatanna. Dan sesuai dengan pikiran Elvano, mobil tersebut kembali mencapai titik aman yang kedua. Elvano kembali tersenyum puas. Dan seharusnya, mereka berhenti di sini. Squash tidak bisa ikut kali ini. Sebab mereka harus melakukannya dengan berjalan kali.


Baru saja Elvano hendak mengajak mereka semua keluar dari mobil, Rein tiba-tiba bersuara.


"Tuan, sepertinya kita belum mencapai titik tujuan deh. Lihatlah, sisi kiri kanan kita hanya ada jurang. Tak ada jalan sama sekali," jelas Rein.


Elvano dan yang lainnya pun melirik ke arah sisi kiri kanan jalan sesuai dengan yang ditunjuk oleh Rein. Memang tidak salah Rein mendapatkan julukan si mata elang, Dikala yang lainnya tidak mengetahui tentang kebenaran ini, dirinya malah jauh lebih peka.


"Eh, sepertinya Rein benar. Jack, bukankah katamu tadi kita hanya butuh mencapai 2 titik aman untuk mencapai markas itu? Kenapa kiri kanan kita hanya ada jurang?" tanya Elvano.


Dan Jack pun terlihat mengerutkan dahinya.


"Seharusnya memang begitu," jawabnya bingung.


Tentu Elvano dapat melihat ekspresi kebingungan yang ditampilkan oleh Jack. Ia pun tak ingin membuat Jack semakin berlarut di dalam kebingungannya.


"Baiklah, kalau begitu, kita coba sekali lagi. Siapa tau mereka sudah memindahkan markas mereka ke tempat yang lebih tinggi dari ini," pendapat Elvano.


Elvano kemudian kembali memasukkan gas secara perlahan. Mode memanjat yang sudah ia matikan tadi kembali ia aktifkan. Perlahan tapi pasti, kendaraan canggih yang memiliki nama Squash ini melaju gagah. Layaknya seekor macan yang sangat hebat. Squash kembali menunjukkan kemampuannya yang membuat semua orang terus mengagumi dirinya. Perlahan Elvano juga menaikkan kecepatan Squash seperti tadi. Dan Sekitar 10 menit kemudian mereka pun mecapai titik aman. Elvano dan ketiga pengawalnya harus kembali mendapatkan kejutan.


"Kita sudah 3 kali memanjat, tapi sepertinya memang hanya ada jurang di sisi kiri kanan. Apa kita salah jalan?"


Elvano terlihat berpikir keras.


"Seharusnya tidak. Ini adalah jalan yang benar. Lagian GPS juga menunjukkan hal yang sama kan?" Jack menjawab Elvano sekaligus melemparkan pertanyaan.


"Benar juga katamu," tanggap Elvano bingung.


"Tunggu, aku merasa ada yang aneh," ucap Rein.


Dia berhenti sesaat untuk melirik yang lainnya secara bergantian. Lalu kembali melanjutkan pembicaraannya.


"Coba kalian perhatikan pohon yang ada di sisi kiri sana. Itu kan pohon anggur yang sama dengan titik pertama dan titik kedua tadi," jelas Rein sambil menunjuk ke arah pohon tersebut.


Memang ada yang aneh dengan tempat tersebut. Seharusnya di bukit itu penuh dengan pohon rindang bukan? Ini malah hanya ada 1 pohon saja di sana. Sisanya hanya berupa rerumputan hijau yang tingginya semata kaki saja yang terbentang luas di tempat itu. Dan terlihat jelas, sisi kiri dan kanan bukit sudah tidak ada lagi jalan. Yang ada hanyalah jurang.


Saat mereka ikut melirik ke arah pohon tersebut, mereka semua pun menyetujui perkataan Rein. Mereka memang tidak tahu persis bahwa itu adalah pohon anggur, tapi mereka tahu persis, di setiap titik yang mereka singgahi tadi memang terdapat sebuah pohon yang menjulang tinggi di sisi kiri titik tersebut.


"Bukankah itu artinya kita terus berputar-putar pada tempat yang sama?"


Zum yang sedari tadi hanya berdiam diri akhirnya bersuara.


Rein dan Jack mengangguk setuju.


"Gawat! Sepertinya kita masuk ke dalam jebakan mereka," tanggap Elvano dengan ekspresi yang sedikit panik.


"Sepertinya benar yang dikatakan Tuan," timpal Rein setuju.


"Tapi bagaimana bisa? Setahu aku di sini tidak ada jebakan," sambung Jack bingung.


Yang Jack tahu, di sana memang merupakan titik yang cukup aman. Dan seharusnya tidak ada jebakan apapun di sana.


Elvano yang melihat ekspresi bingung bercampur panik di wajah Jack kembali menenangkan Jack. Mungkin saja saat itu Jack sedang ketakutan pikir Elvano. Bisa saja kan Jack perpikir telalu banyak, hingga takut dituduh oleh Elvano sebagai seorang pengkhianat yang sengaja ingin menjebak Elvano dan yang lainnya? Karena memang dia yang mengarahkan mereka semua menuju ke arah ini.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Mungkin mereka melakukan perubahan setelah kau pergi, Jack," ucap Elvano sambil menepuk pundak Jack.


Usai memberikan sedikit sentuhan ketenangan bagi Jack, Elvano melanjutkan kembali kalimatnya yang lain.


"Baiklah, kita tidak boleh menyerah. Sekarang kita akan mencobanya lagi. Kita akan kembali memanjat. Apa kalian semua siap?"


Suasana menjadi begitu hening untuk sesaat.


"Ya, Tuanku!" jawab Squash lantang.


Karena tidak ada satu pun dari pengawal khusus itu yang menjawab Elvano, Squash pun mengambil alih menjadi perwakilan. Akhirnya suasana yang sedikit tegang itupun dicairkan oleh Squash. Aksinya yang satu itu jelas cukup menggelitik. Mereka semua yang mendengar itu terkekeh kecil dibuatnya.


Setelahnya, mereka pun kembali memanjat. Tepatnya Squash kembali melakukan petualangannya.