Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Kejutan pagi bagi Elvano


Malam sudah berganti pagi, Cheril terbangun kembali dari tidurnya yang panjang, dan mendapati dirinya masih berada pada tempat yang sama di mana ia terjatuh semalam.


Cheril mencoba menggerakkan tubuhnya, semua tulang sudah terasa hamoir remuk. Sekujur tubuhnya kini terasa sangat sakit terutama di bagian wajah yang sudah menyisakan luka lebam hasil dari tamparan Jimmy semalam.


Sedikit demi sedikit air mata Cheril yang sudah kering kembali berjatuhan ketika mengingat kembali apa yang sudah terjadi pada dirinya semalam.


Ketika ia sudah bisa benar-benar berdiri dengan baik Cheril pun mencoba melangkahkan kaki dengan berat menuju ke arah dapur untuk mengambil minum karena ia sudah merasa sangat kehausan.


Setelah selesai minum Cheril memilih kembali ke kamar yang merupakan kamar yang diperuntukan untuk seorang pembantu yang berada di bagian belakang, selama ini Cheril memang selalu tidur di sana, karena Jimmy tidak ingin Cheril berada di kamar utama, ia jugalah meminta Cheril untuk tidur di kamar pembantu.


Kendati demikian, Cheril merasa senang, setidaknya ia bisa terlepas dari Jimmy.


Cheril juga sudah tau Jimmy pasti juga sudah mengunci pintu dari luar yang membuat Cheril tak mungkin dapat keluar rumah, ketika ia marah memang inilah yang selalu terjadi. Cheril pun tidak punya pilihan lain selain untuk tetap tinggal di rumah itu.


Selangkah demi selangkah Cheril melangkahkan kaki dengan sedikit sempoyongan, tubuh yang kesakitan dan kepalanya ya sedikit pusing membuat Cheril hampir tidak dapat mencapai kamar. Untung saja kamar itu cukup dekat dari dapur, Cheril pun masih bisa mencapai tempat tidurnya yang jauh dari kata mewah itu. Cheril kemudian merebahkan kembali tubuh ke atas tempat tidur, Dan mulai menangis kembali merenungi nasibnya yang malang.


************


Sementara Elvano pagi-pagi begini ia sudah mendapatkan kejutan dari Manager Li.


Manager Li ternyata berangkat lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan setelah mengetahui Presdirnya sudah lebih dulu meluncur ke kota XX kemarin pagi.


Tepat pukul 08.00 pagi ia sudah berada di kota X karena ia menggunakan jet pribadi milik keluarga Setiono jadi ia bisa tiba lebih cepat yang hanya memerlukan setengah jam saja ia mengudara.


Tuan William memang sengaja menyuruh Manager Li pergi dengan pesawat jet supaya pada saat pulang nanti Elvano juga bisa menumpangi pesawat jet itu kembali ke kota X sehingga Elvano tidak perlu merasa kelelahan karena kelamaan di dalam perjalanan.


Elvano masih duduk terdiam di depan Manager Li, ia tidak habis pikir ternyata Manager Li juga mengetahui alamat Ibu Anita sedangkan sopir yang mengantar dirinya kemarin saja malah menyasar ke arah hotel.


Manager Li memang sudah mengirim orang untuk mencari tau terlebih dahulu keberadaan Tuan Mudanya, sehingga ia pun tidak lagi kesulitan dalam menemukan Elvano.


"Manager Li, minumlah terlebih dahulu teh panas ini!" tawar Ibu Anita sembari membawakan 2 gelas teh panas manis dan juga 1 piring biskuit ke arah Manager Li dan juga Elvano yang sedang duduk di sofa tamu.


"Eh, terimakasih Nyonya!" ucap Manager Li sambil menundukkan kepala sopan.


Manager Li juga sudah tau wanita paruh baya itu adalah orang yang telah membesarkan Tuan Mudanya, yang juga bisa dikatakan wanita itu juga merupakan ibu angkat Tuan Mudanya. Jadi ia pun bersikap dengan sangat sopan karena ia sangat menghormatinya.


Manager Li sudah sangat lama mengabdikan dirinya untuk perusahaan. Dari sebelum Elvano dilahir ia sendiri yang baru berusia 18 tahun saat itu juga sudah mulai menjadi bagian dari Astra Investama Group hanya sebagai staf biasa karena ia juga hanya tamatan SMA saat itu. Tuan William lah yang kemudian menguliahkan Manager Li hingga ia berhasil menyelesaikan jenjang S1 karena Tuan William bisa melihat cara kerja Manager Li yang sangat bagus, ia pun merasa sangat sayang pada nya. Manager Li tidak dapat melanjutkan kuliah karena faktor ekonomi di dalam keluarganya saat itu sangat tidak memungkinkan. Akhirnya Tuan William tergerak untuk menguliahkan Manager Li.


10 tahun bekerja ia lalu diangkat sebagai Manager oleh Tuan William menggantikan manager lama yang sudah pensiun lebih awal. Sejak saat itulah ia mengabdikan diri sebagai seorang manager untuk perusahaan itu hingga hari ini.


Manager Li selalu melakukan yang terbaik untuk perusahaan itu.


Mengingat usianya yang sudah mencapai kepala 5, inilah alasannya Tuan William mengijinkan Elvano mengangkat manager pribadi baru baginya supaya bisa meringankan pekerjaan Manager Li yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi. Paling sebentar lagi Manager Li juga bisa pensiun lebih awal pikir Tuan William.


Sruuut!


( Bunyi ketika Manager Li menyeruput teh )


Setelahnya ia kembali meletakkan teh itu di atas meja. Dan kembali tangannya meraih biskuit yang juga dibawakan oleh Ibu Anita tadi.


"Tuan Muda, bagaimana jika sore ini kita meninjau mall Z terlebih dahulu? Setelah itu ke menuju hotel yang kemarin Tuan Muda singgahi," ajak Manager Li sambil mengunyah biskuit.


"Ehm?


Tunggu, dari mana dia tau aku sudah mampir di hotel itu kemarin ... Dan apa katanya tadi, jadi Mall Z juga merupakan bagian dari Astra Investama Group ... Kenapa aku tidak mendapatkan laporan darinya melalui email kemarin.


Mall Z memang salah satu yang telah dilewatkan oleh Manager Li, ia lupa memasukkan datanya ke dalam laporan kemarin.


Ia pun bisa mengerti dari sorot wajah Elvano yang kebingungan mendengar nama Mall Z yang yang ia sebutkan. Perihal hotel itu, Manager Li sangat yakin pak sopir pasti akan menuju ke sana lebih dulu jika Elvano tidak menyampaikan tempat tujuannya tepat seperti yang ia pikirkan.


"Tuan Muda, maafkan saya jika mengejutkan anda, kemarin saya lupa memasukkan data bagian Mall Z ke dalam laporan kunjungan." Ucap Manager Li lagi sambil meminta maaf.


Dia bahkan bisa tau apa yang sedang saya pikirkan.


Wow ... Pantas saja Ayah William sangat menghormatinya.


Gumam Elvano di dalam hati.


"Baiklah ... Tidak perlu menunggu hingga sore, sebentar lagi kita menuju ke sana," tanggap Elvano kemudian.


Manager Li hanya membalas Tuan Mudanya melalui anggukan saja sambil menyeruput kembali tehnya.


Sruuut!


Elvano juga meraih gelas teh bagiannya lalu meminum agak lebih cepat karena kepunyaan Elvano lebih dingin. Ibu Anita memang sudah tau Elvano lebih suka teh yang tidak terlalu panas. Sementara Manager Li terbengong menatap Tuan Mudanya yang dalam sekejap sudah berhasil menghabiskan teh yang menurutnya cukup panas itu.


"Kenapa Manager Li melihatku seperti itu?" tanya Elvano ketika menyadari Manager Li terus menatap nya tanpa mengedipkan mata sama sekali.


"Ehm? Ma-maaf Tuan Muda!" ucap Manager Li kemudian sambil memperbaiki sikapnya.


Elvano pun kemudian berlalu dari hadapan Manager Li menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri, Elvano juga memasang wajahnya sedikit kebingungan memikirkan tatapan Manager Li terhadap dirinya yang tidak ia sadari apa alasannya.


Kebingungan yang dialami keduanya pun berlalu begitu saja.