
Keesokan paginya
Pagi ini Cheril bangun lebih awal, waktu itu jam didinding kamarnya baru menunjukkan pukul 4 subuh. Ia terbangun karena kebelet pipis namun ia sudah tidak bisa tidur kembali karna pikirannya yang mulai berpetualang.
Hari ini adalah hari yang sangat menegangkan bagi Cheril, ia masih belum yakin semua akan berjalan baik-baik saja.
Karna Cheril tidak dapat memejamkan kembali mata nya, Cheril pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan turun kebawah menuju dapur.
Tentu saja Bibi Jum sangat kaget melihat kehadiran Nona Cheril itu.
"Eh Non Cheril, kok pagi-pagi begini Non Cheril sudah ada disini? Tanya Bibi Jum sambil mengerjakan pekerjaannya.
"Eh, gapapa kok Bi, aku hanya terbangun pengen pipis tapi udah ga bisa tidur kembali, jadi aku memutuskan untuk turun ke bawah." Jawab Cheril sambil tersenyum.
Cheril memang sangat dekat dengan Bibi Jum, sejak kecil Bibi Jum sudah merawat Cheril, jadi Cheril sudah menganggap Bibi Jum sebagai pengganti Ibunya ketika ditinggal pergi. Dari kecil Ibu Cheril memang sudah sangat jarang berinteraksi dengan nya. Bibi Jum lah yang selama ini selalu menemani Cheril.
Namun sejak Cheril bertumbuh dewasa, ia memang sudah agak jarang bermanjaan dengan Bibi yang telah mengabdikan separoh usianya untuk keluarganya itu.
Ntah kenapa pagi ini Cheril rasanya ingin sekali bermanjaan dengan orang yang ada dihadapannya saat ini, melihat Bibi Jum, Cheril seperti melihat Ibu Anita. Akhirnya Cheril meminta Bibi Jum untuk melepaskan pekerjaannya sesaat dan menemaninya berbicara.
"Bi, aku ingin sekali memeluk Bibi." Kata Cheril sambil menatap Bibi Jum dengan tatapan manjanya yang sekaligus membuat Bibi Jum tertegun.
Tentu saja Bibi Jum juga sudah sangat merindukan dipeluk dan memeluk Cheril, itu sudah lama sekali terakhir mereka lakukan.
"Silahkan Non ! Non Cheril bisa memeluk Bibi sepuas Non Cheril mau." Jawab Bibi Jum lembut.
Cheril pun mendekatkan diri ke arah Bibi Jum, lalu mengulurkan tangannya dan melingkarkannya kepinggang Bibi Jum kemudian kepalanya bersandar pada dada Bibi Jum. Cheril sudah seperti seorang anak kecil yang sedang meringkung kedalam pelukan Ibunya.
Hangat sekali, seandainya yang aku peluk ini adalah Ibu, sudah lama sekali rasanya Ibu tidak memelukku seperti ini, aku merindukan pelukan Ibu.
Apa Ibu juga memperbolehkan aku memeluknya seperti ini.
Cheril mulai tenggelam dalam lamunan yang ia lukis sendiri.
Sedangkan Bibi Jum, ia merasa sangat heran dengan tingkah laku Cheril. Namun ia juga sangat menikmati pelukan Cheril yang hangat itu, ia jadi kepikiran putrinya yang seharusnya sudah seumuran Cheril.
*****Flashback
Devi (nama anak Bibi Jum), nasib Devi tidak seberuntung Cheril, yang ketika Ibunya tidak memiliki banyak waktu untuk nya, Ibunya masih bisa mencarikan seorang ART untuk mengurus Cheril kecil.
Berbalik dengan Devi, ia justru harus merelakan Ibunya pergi untuk merawat anak lain yang bukan darah dagingnya hanya demi bisa tetap memberikan kehidupan yang layak baginya dan Neneknya di kampung.
Ayah Devi yang merupakan suami dari Bibi Jum telah meninggal saat Devi belum genap 1tahun. Suami Bibi Jum meninggal tiba-tiba, pada pagi hari saat Bibi Jum hendak membangunkannya suaminya sudah tidak bergerak lagi, membuat Bibi Jum sangat syok saat itu. Menurut dokter yang Bibi Jum panggil ketika mendapatkan suaminya tak sadarkan diri, suaminya meninggal karena serangan jantung.
Pada saat itulah semuanya harus berubah. Bibi Jum harus mengambil keputusan yang sangat berat demi tetap bisa membelikan susu untuk Devi dan juga mencukupi kebutuhan Nenek Devi. Bibi Jum pun harus rela meninggalkan Devi kecil tinggal bersama Neneknya yang sudah renta.
Dan pada saat itu jugalah Bibi Jum mulai masuk ke dalam keluarga Cheril.
Pada suatu hari, waktu itu usia Devi baru menginjak 2tahun, Devi kecil ikut Neneknya yang sudah renta itu mencuci pakaian di sebuah sungai kecil, memang hal ini setiap hari ia lakukan selama ini, hanya saja Nenek selalu mendudukkan Devi kecil di sebuah kursi goyang lengkap dengan pengamannya hingga Devi kecil tidak mungkin bisa bergerak kemanapun, ia pun bisa mencuci pakaian dengan tenang.
Pagi itu, Nenek Devi juga melakukan hal yang sama seperti biasanya, ia membawa serta cucunya itu ke sungai untuk mencuci baju, dan ia juga mendudukkan Devi di sebuah kursi kecil miliknya serta memasang pengamannya. Kemudian Nenek pun kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Devi yang sudah bertumbuh semakin besar ternyata sudah semakin pintar, ntah sejak kapan ia mulai belajar berusaha melepaskan pengaman kursinya itu, hari itu pun ia mulai menarik-narik tali pengaman yang terpasang, dan kali ini ia benar-benar berhasil melepaskannya. Devi kecil tentu saja sangat senang.
Dengan sigap ia segera berlarian ke arah sungai untuk bermain air.
Sungai tempat Neneknya mencuci pakaian arusnya cukup deras,dan sangat berbatuan, tentu sangat berbahaya untuk anak seusia itu.
Ketika Devi kecil menapaki kakinya ke dalam sungai seketika ia pun tergelincir dan tubuh kecilnya langsung terbawa arus yang cukup deras itu. Neneknya yang baru menyadarinya kaget bukan main, ia segera berusaha menolong cucunya dengan ikut turun kedalam sungai Dan karna kakinya yang sudah tidak kuat membuatnya ikut terjatuh ke dalam sungai, tubuh kurusnya pun juga ikut terbawa arus.
Sedangkan keadaan sungai yang memang biasanya digunakan oleh warga kampung untuk mencuci pakaian saat itu masih sepi, karna waktu yang masih terlalu pagi. Nenek Devi yang saat itu berteriak minta tolong pun tak ada yang mendengarnya.
Beberapa saat kemudian seorang warga yang kebetulan melintas di dekat sungai melihat Nenek Devi sudah mengambang diatas sungai tak bernyawa, tidak jauh dari situ ia juga melihat jasad seorang anak kecil yang tak lain adalah Devi. Warga itu pun berteriak meminta bantuan pada warga setempat, namun setelah diangkat keduanya memang sudah tak bernyawa lagi.
Agak siang Bibi Jum baru mendapatkan kabar bahwa kepergian Ibu dan Anaknya, ia seperti disambar petir disiang bolong setelah mendapat kabar tsb.
sejak saat itulah Bibi Jum yang sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi didunia ini pun memutuskan untuk tetap tinggal di rumah keluarga Cheril dan mengabdikan sisa hidupnya untuk keluarga ini. Dan ia pun sangat menyayangi Cheril, ia sudah mengangap Cheril seperti anaknya sendiri.
Sama halnya dengan keluarga Cheril yang juga sangat menyayangi Bibi Jum dan menganggap Bibi Jum sudah seperti keluarga mereka sendiri.