
Elvano dan Cheril berada di desa Semut Merah selama 2 hari lagi. Mereka menikmati detik demi detik waktu yang mereka miliki dengan penuh makna. Di waktu pagi mereka akan berjalan-jalan di tepi pantai menikmati sunrise, dan di waktu sore mereka juga akan duduk berdua di tepi pantai sambil berpelukan menikmati senja.
Hari ini merupakan hari terakhir mereka berada di tempat ini. Dan Elvano berencana mengajak Cheril berkeliling desa untuk mengenalkan tempat itu pada Cheril supaya wanitanya ini bisa lebih mengenali tempat yang nantinya akan menjadi tempat tinggal mereka ini.
Selain itu, Elvano juga ingin membiarkan orang-orang di desa ini mengetahui identitasnya yang sudah beristri. Agar tak ada lagi Shinta-Shinta berikutnya yang menantikan dirinya.
Perihal Shinta, Elvano juga bermaksud akan menyelesaikan kesalahpahaman ini hari ini juga.
Saat ini waktu menunjukkan pukul 6.20 pagi. Elvano dan Cheril sudah berada di tepi pantai seperti kemarin. Mereka sedang menikmati indahnya matahari terbit di tepi pantai.
Obrolan santai juga menemani kebersamaan mereka, hingga menuju ke sebuah topik yang lebih serius dimana Elvano mengutarakan rencananya.
"Sayang, pagi ini aku ingin mengajakmu berkeliling desa. Apa kamu mau?" ucap Elvano pada Cheril tanpa melirik ke arah Cheril.
Saat ini mereka sedang duduk saling berpelukan menghadap pantai. Kedua mata mereka sedang tertuju pada indahnya pemandangan matahari terbit.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Elvano, Cheril pun memutar wajahnya mengarahkan pandangannya ke arah Elvano.
"Ehm? Kamu serius Sayang? Tentu saja aku mau," jawab Cheril cepat.
Elvano tersenyum tipis melihat semangat yang diperlihatkan oleh Cheril.
"Tapi, apa kamu kuat untuk melakukannya? Apa kamu masih merasa mual?"
Kali ini Elvano berucap sambil menatap wajah Cheril.
"Nggak kok. Hari ini aku sudah tidak merasakan mual.
"Apa kamu yakin?
"Iya, Sayang, Aku tidak apa-apa,"
Cheril menjawab sambil mengangguk kasar. berusaha untuk meyakinkan Elvano bahwa dirinya benar-benar siap diajak Elvano untuk mengelilingi desa. Padahal sebenarnya Cheril sedang berbohong dirinya tidak merasa mual. Di waktu pagi seperti ini, rasa mual yang hebat akan selalu datang menghampirinya bahkan ingin sekali rasanya ia mengeluarkan isi perutnya seperti pagi-pagi sebelumnya. Rasa mual seperti ini memang hampir dialami semua wanita hamil di awal trimester pertama yang biasanya disebut sebagai morning sickness.
Demi dapat mengelilingi desa pagi ini, Cheril pun berusaha menahan dirinya supaya ia tidak benar-benar mengeluarkan isi perutnya. Beruntung, Cheril adalah wanita yang cukup kuat dan tangguh, hingga ia pun bisa melakukan hal tersebut.
"Baiklah! Jika kamu memang tidak merasakan mual lagi, 30 menit lagi kita mulai perjalanan kita!" ucap Elvano sambil tersenyum yang dibalas anggukan penuh semangat oleh Cheril.
Setelahnya mereka berdua pun duduk selama 30 menit lagi di tepi pantai untuk menikmati pemandangan indah yang ada di hadapan mereka.
-
-
30 menit berlalu dengan cepat. Matahari sudah semakin meninggi. Terlihat cahaya kemerahan pada langit bagian barat sudah semakin berubah ke warna jingga kekuningan. Kurang 10 menit lagi, waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
Sesuai dengan janji yang sudah diucapkan oleh dirinya, Elvano pun mengajak Cheril untuk segera beranjak keluar dari area pantai menuju ke arah desa.
Udara pagi terasa begitu menyegarkan. Desa Semut Merah yang memang masih sangat terjaga lingkungannya menambah kesejukan di pagi hari. Cheril dan Elvano berjalan perlahan menelusuri sepanjang perjalanan desa yang tampak memukau bagi Cheril.
Sesekali pasangan ini juga saling bertegur sapa dengan warga setempat yang berpas-pasan dengan mereka. Tentu saja semua warga desa mengenal sosok Elvano. Terlihat mereka begitu menghormati laki-laki itu. Tak jarang juga warga desa menatap pasangan ini dengan tatapan kekaguman. Sebab mereka merasa Cheril dan Elvano adalah mahkluk yang begitu sempurna secara penampilan mereka. Satunya cantik, satunya tampan. Sungguh merupakan pasangan yang sangat serasi. Penampilan mereka berdua bisa dikatakan dinilai dengan angka sempurna di mata warga yang ada di sini.
"Sayang, yang di sana itu tempat apa?" tanya Cheril sambil menunjuk ke arah perkebunan.
Perkebunan yang cukup besar itu tampak begitu elegan dari kejauhan. Memang sangat menarik perhatian bagi setiap orang yang melihatnya.
"Itu adalah kebun kopi, Sayang. Apa kamu mau ke sana?"
"Memangnya boleh? Nanti yang punya bisa marah,"
Elvano tersenyum kecil sebelum menjawab.
"Boleh kok, tidak akan ada yang marah. Warga di sini sangat baik. Ayo kita ke sana!"
Cheril dan Elvano kemudian melangkah memasuki perkebunan yang tampak sangat rapi itu. Seperti sedia kala, Elvano merangkul Cheril dengan penuh kasih. Menuntun istrinya dengan sangat berhati-hati menuruni perkebunan yang sedikit lebih bawah dari jalanan. Sejak mengetahui Cheril hamil, perhatian Elvano memang sangat berlebihan terhadap wanitanya itu. Itu dikarenakan Elvano sangat menyayangi Cheril dan juga bayi yang ada di dalam kandungan Cheril. Tak jarang juga Elvano menghabiskan waktunya berjam-jam hanya untuk mengelus dan menempelkan kupingnya di perut Cheril sambil mengajak bayinya itu berbicara pada saat mereka sedang bersantai.
Elvano bisa dikatakan adalah sosok pria yang sangat sempurna yang menjadi impian setiap wanita. Dia laki-laki baik, tampan, berkuasa, berkelimpahan harta, perhatian, romantis, penyayang, setia. Apalagi coba yang tidak ia miliki?
Apa masih belum bisa dikatakan Cheril adalah wanita yang paling beruntung bisa menikahi seorang pria yang demikian?
Saat ini, Cheril dan Elvano sudah memasuki kawasan perkebunan. Tampak seorang pria paruh baya menghampiri mereka.
"Selamat pagi Tuan Muda!" ucap pria yang dikenal sebagai Mandor di perkebunan tersebut.
Nama pria ini adalah Pak Manto. Selain menyapa Elvano, dia juga menyapa Cheril.
"Pagi Pak Manto! Bagaimana keadaan perkebunan ini? Apa sudah panen lagi setelah waktu itu?" jawab Elvano sambil melempar pertanyaan.
"Iya Tuan Muda. Panen secara bertahap. Sesuai dengan anjuran dari Tuan Muda kebun ini setiap hampir setiap bulan bisa dilakukan pemanenan," jelas Pak Manto.
"Baguslah! Sekarang sudah ada berapa jenis kopi yang kalian tanam?"
"Ada 3 jenis, Tuan Muda. Ada Liberika, Robustas dan Arabika,"
Awalnya di kebun ini hanya ada kopi Arabika saja, Dan hasilnya juga tidak seberapa karena jangka panen yang cukup lama. Saat mendengar keluh kesah dari warga, Elvano pun tergerak memberi ide supaya mereka menanam lebih dari satu jenis kopi agar setiap bulan mereka bisa mendapatkan hasil dari perkebunan ini, terutama kopi Liberika yang hampir menghasilkan buah sepanjang tahun . Dan ternyata ditanggapi positif oleh warga setempat. Perkebunan yang awalnya tidak terlalu besar itu kini telah berkembang menjadi sebuah perkebunan yang sangat luas.
"Ok! Semoga kedepannya perkebunan ini terus berkembang ya, Pak!"
"Iya, Tuan Muda. Jika dipikir-pikir perkebunnan ini dapat berkembang seperti sekarang ini juga dikarenakan campur tangan dari Tuan Muda. Kami sebagai warga setempat sangat berterima kasih pada Tuan Muda,"
Pak Manto mengucap sambil menundukkan badannya. Elvano yang melihat itu melepaskan tangannya dari lengan Cheril untuk memegang lengan Pak Manto supaya ia menegakkan kembali badannya.
"Jangan bersikap seperti ini Pak Manto. Ini semua adalah berkat kerja keras kalian. Saya hanya memberikan beberapa ide saja, sisanya adalah hasil kerja keras kalian semua," tutur Elvano merendah.
Sebenarnya perkebunan kopi ini memang sepenuhnya berkembang adalah karena campur tangan dari Elvano. Selain ide, tentu Elvano juga mengucurkan sejumlah dana untuk mereka, karena itu, warga memutuskan untuk membagi hasil dari perkebunan ini dengan Elvano. Awalnya, Elvano jelas menolak. Namun karena terus dipaksa, Elvano pun menerimanya. Setidaknya ia juga harus menghargai niat baik dari warga di sini. Selain bisnis kopi, masih ada lagi jenis bisnis lain yang berkembang pesat di desa ini berkat dari bantuan Elvano. Elvano juga berniat mengenalkan pada Cheril untuk jenis bisnis tersebut pada Cheril. Namun tidak sekarang, Elvano berpikir akan mengenalkan pada Cheril saat dirinya sudah menuntaskan seluruh tugasnya nanti. Saat dimana Elvano dan Cheril sudah tinggal di desa ini. 2 bisnis yang sedang digeluti oleh Elvano ini akan menjadi bisnis keluarga mereka ke depannya.
Cheril yang sedari tadi memperhatikan interaksi Elvano dengan Pak Manto semakin mengagumi sosok Elvano. Ternyata di perkebunan ini pun Elvano memiliki reputasi yang sangat baik. Wanita itu sangat terharu dengan semua yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.
Selama 2 hari berada di desa Semut Merah membuat Cheril mengenal banyak tentang laki-laki yang kini sudah menjadi bagian dari hidupnya itu.