
Hati Dirly memang sedikit berdenyut mendengar apa yang dikatakan oleh Elvano. Namun karena mata hati Dirly yang sudah berkabut hitam, ia pun tidak mengindahkan lagi apa yang diucapkan oleh Elvano itu.
Dirly ikut tersenyum tipis namun senyuman milik Dirly terlihat penuh dendam.
"Kau tak perlu membela Guru sia*** itu dihadapanku. Semua yang kamu katakan tidak akan mempengaruhi pikiranku tentang dia. Aku sangat membenci dirinya. Apalagi setelah kematian Nando," ucap Dirly dengan tatapan kosong.
Sedangkan Elvano malah sangat kaget saat mendengar Dirly mengatakan kakak peguruannya itu telah meninggal.
Elvano sontak membulatkan matanya.
"Nando sudah meninggal? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Elvano masih dengan ekspresi kaget.
"Iya, Kak Nando meninggal gara-gara menghadapi pasukan makhluk aneh ciptaan Guru Raymon. Pada saat kami hendak keluar dari gunung Elang Muda, kami dicegat oleh makhluk-makhluk aneh itu. Dan Kak Nando wafat diterkam oleh salah satu dari mereka," jelas Dirly dengan mata berkabut.
Elvano turut merasa sedih mendengar itu. Ia juga tau makhluk apa yang disebutkan oleh Dirly. Itu pasti makhluk yang dimaksudkan oleh Niko waktu itu, pikir Elvano saat itu.
"Tapi bagaimana kamu bisa melarikan diri dari mereka?" tanya Elvano penasaran.
"Guru sia*** itu tiba-tiba muncul dan memberi perintah supaya mereka tidak melanjutkan aksinya terhadap aku. Dan setelah itu aku pun segera berlalu dari hadapan nya dengan membawa serta mayat Kak Nado untuk dikuburkan," jelas Dirly
Dirly memang tidak sedang berbohong. Semua yang diceritakan oleh Dirly memang benar adanya. Satu-satunya hal yang tidak diceritakan oleh Dirly adalah mengenai dirinya yang juga membawa pergi peta itu dari ujung Elang Muda. Yang membuat dirinya terus dilanda masalah setelahnya. Dan pada akhirnya peta tersebut telah berhasil direbut oleh orang lain dan entah bagaimana ceritanya setelah itu bisa sampai ke tangan orang yang memberikan peta tersebut pada Elvano.
Elvano tampak ikut bersedih mendengar semua penjelasan dari Dirly. Namun entah kenapa, Elvano tetap merasa sepertinya ada kesalahpahaman yang sedang terjadi. Ia sangat yakin, Guru Raymon tidak benar-benar dengan sengaja ingin membiarkan makhluk aneh itu melenyapkan nyawa Nando. Pasti ada unsur ketidaksengajaan menurut pemikiran Elvano.
Namun ia juga tidak berkomentar apapun lagi. ia tahu, sekalipun ia menjelaskan semuanya pada Dirly saat itu, saudara seperguruannnya itu tidak akan mau mendengarkan penjelasan darinya.
"Dirly, aku ikut bersedih atas kepergian Nando," ucap Elvano lalu menudukkan wajahnya.
"Sudahlah! Semua itu sudah lewat. Aku pasti akan membalaskan dendam Nando suatu saat nanti. Setelah aku mendapatkan benda itu,"
Dirly kembali menatap Elvano lekat pada saat mengucapkan kalimat terakhirnmya itu. Elvano yang sudah mengangkat kembali wajahnya juga ikut membalas tatapan Dirly.
"Adik Jeong, aku tau, kau memiliki peta itu. Camkanlah, aku pasti akan merebut itu darimu!" tegas Dirly.
Sedangkan Elvano hanya menanggapi hal itu melalui tatapannya saja.
Elvano juga tidak terlihat kaget mendengar apa yang diucapkan oleh Dirly, karena ia sendiri memang sudah tahu sejak awal. Dirly pasti sedang mengincar benda tersebut. Hanya saja saat ini, Elvano sedikit mengkhawatirkan tentang adiiknya Valen.
Pasalnya, Valen sepertinya sangat tulus mencintai Dirly tanpa tau sebenarnya laki-laki itu hanya sedang memanfaatkan dirinya saja.
Usai mengatakan kalimat terakhirnya tadi, Dirly berlalu begitu saja dari hadapan Elvano.
Ssementara Elvano hanya bisa menatap punggung saudara seperguruannya itu yang semakin menjauh.
Hingga Dirly memasuki mobilnya dan keluar dari halaman rumah mewah tersebut.
Setelah itu, barulah Elvano masuk kembali ke dalam rumah.
-
-
Saat Elvano berada di dalam rumah, perkumpulan kecil yang tadi sedang berkumpul telah membubarkan diri. Hanya meninggalkan Cheril dan Valen yang masih duduk di ruang santai. Valen terlihat agak murung. Dan dia juga sudah menceritakan pada Cheril tentang Elvano yang hampir memergoki dirinya dan Dirly tadi.
Elvano melangkah mendekati kedua orang yang sangat ia sayangi itu. Lalu berkata,
"Sayang, aku mau berbicara pada Valen sebentar. Jika kamu belum merasa ngantuk, tunggu aku di sini ya, aku akan segera kembali,"
"Baiklah! aku akan menunggumu disini," jawab Cheril.
Dan hanya ditanggapi Elvano dengan senyuman.
Setelah itu Elvano melanjutkan kalimatnya yang berikutnya.
"Valen, ikut aku!"
"Ehm? Ba-baiklah!
Valen segera baranjak dari tempat duduknya dan melangkah dengan cepat menyusul langkah Elvano yang sudah lebih dulu melangkah pergi. Mereka berdua menuju ke ruang kerja milik Elvano.
Jegrek!
Usai membuka pintu, Elvano memberikan perintah pada adiknya itu.
"Masuklah!"
Dengan sedikit berat Valen menggerakkan kakinya melangkah memasuki ruangan tersebut. Seluruh tubuhnya kini bergetar hebat. Apalagi ekspresi Elvano saat itu juga terlihat begitu dingin bagi Valen. Persis seperti ekspresi pada saat pertama kali mereka bertemu.
Kemudian Elvano juga memasuki ruangan tersebut dan merebahkan diri di atas kursi kebesarannya.
"Duduklah!"
Elvano kembali memberikan perintah setelahnya.
Masih dengan seluruh tubuhnya yang bergetar hebat Valen memberanikan diri untuk merebahkan dirinya pada kursi yang berada di hadapan kakaknya.
Dan setelah itu, ia hanya menundukkan wajahnya tanpa berani melihat wajah Elvano yang menatap Valen lekat.
"Valen, lupakan laki-laki itu!" ucap Elvano lantang.
Valen yang sedari tadi tertunduk sontak mengangkat kembali wajahnya saat mendengar apa yang diucapkan oleh Elvano.
"Maksud Kakak?"
Valen memberanikan diri untuk bersuara.
"Tinggalkan laki-laki yang kamu kenal sebagai Fransisko itu!" tegas Elvano sekali lagi.
Tentu Valen tidak bisa menerima dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.
"Tapi kenapa Kakak memintaku untuk meninggalkan dia? Apa hanya karena dia hendak ...,"
Valen tidak mampu melanjutkan kalimatnya saat melihat mata Elvano yang menatapnya semakin dalam.
"Dia bukan laki-laki yang baik untukmu, Valen!" ucap Elvano kemudian.
Valen masih menundukkan wajahnya saat itu. Ia sangat ingin menanyakan kenapa Elvano bisa berkata demikian. Namun dirinya juga tidak memiliki keberanian yang seperti itu. Valen hanya berharap Elvano akan memberikan penjelasan baginya tanpa dia minta.
Dan beruntungnya, Elvano memang melanjutkan kalimatnya yang selanjutnya untuk memberikan sedikit penjelasan bagi Valen.
"Valen, Kakak sangat mengenal siapa laki-laki itu sebenarnya. Kakak bahkan jauh lebih dulu mengenal dirinya ketimbang kamu. Kakak sudah tau seperti apa sifat dan karakter yang ia miliki. Kakak harap kamu mau mendengarkan perkataan Kakak. Tinggalkan dia!" tegas Elvano sekali lagi.
Perlahan Valen pun mengangkat kembali wajahnya dan melirik ke arah Elvano.Valen masih merasa penasaran dengan alasan Elvano yang tidak dijabarkan itu. Karakter dan sifat seperti apa yang Elvano maksudkan? Valen sangat ingin menanyakan hal ini. Namun ia juga merasa sangat kesal dengan mulutnya yang kaku seketika. Ia tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.