Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Sandi atau Elvano?


Dikala Mentari hampir menyelesaikan tugasnya untuk memberikan cahaya kehidupan bagi setiap insan disiang hari, kini Sang Bulan pun harus segera bersiap menggantikannya untuk terus menyinari bumi dimalam hari bersama dengan para bintang-bintang yang indah nan jauh dilangit yang menjunjung tinggi.


Saat ini kediaman keluarga Senjaya telah selesai mempersiapkan beraneka ragam makanan diatas meja makan untuk menyambut calon menantu yang akan diperkenalkan pada keluarga tersebut oleh anak gadis mereka.


Siang tadi Cheril kembali menghubungi Elvano memberitahukan pada dirinya tentang jamuan makan malam dari keluarganya, dan Elvano pun sudah menyetujuinya.


Cheril yang sedari tadi telah mempersiapkan diri secara maksimal, kini ia telah siap dengan dandanan tipis nan elegan diwajahnya dengan balutan dress selutut berwarna pink salem yang sangat cocok ketika bersatu dengan tubuhnya yang bak model itu membuat gadis itu terlihat begitu anggun dan cantik sekali.


Sedangkan Elvano yang memang aslinya adalah seorang Tuan Muda, ketika ia mengenakan sebuah pakaian mahal yang sengaja ia beli siang tadi di sebuah Mall khusus untuk acara makan malam ini membuat aura Tuan Muda nya sangat terpancar, dengan balutan Jas berwarna silver yang ia kombinasikan dengan kemeja berwarna putih membuat Elvano tampak sangat elegan dan sempurna sebagai seorang laki-laki, tidak akan ada yang mengetahui statusnya yang hanya seorang anak kuli cuci jika ia tidak memberitahukannya.


Walaupun keduanya kini sedang sangat gugup, mereka sama sekali tidak tau apa yang akan terjadi nanti, namun mereka berdua tetap berusaha untuk memberikan kesan yang maksimal pada kedua orangtua Cheril yang telah mempersiapkan perjamuan malam ini.


Terang yang kini sudah berubah menjadi gelap sepenuhnya membuat bulan pun hadir tanpa diminta. Waktu telah menunjukkan pukul 7 malam, Elvano sudah berdiri didepan pintu keluarga Senjaya saat ini.


Satpam dikediaman keluarga Senjaya memang sudah mengenali Elvano setelah ia mengantar Cheril pulang kemarin malam. Ia pun segera diijinkan masuk ke dalam gerbang dan dipersilahkan menuju pintu utama untuk menyapa sang pemilik rumah secara langsung.


Tok tok tok


Bibi Jum yang mendengar suara ketukan segera membukakan pintu.


"Eh, maaf Den, Apakah ini Den Elvano?" Tanya Bibi Jum ketika melihat dibalik pintu telah berdiri sesosok pria tampan nan gagah yang sempat membuatnya tak berkedip sesaat karna terpanah dengan ketampanan laki-laki Yang ada dihadapannya itu.


"Iya B." Jawab Elvano singkat


Hanya dengan melihat penampilan wanita didepannya itu ia sudah bisa mengenalinya sebagai seorang asisten rumah tangga dikeluarga tersebut.


"Silahkan masuk Den ! Tuan dan Nyonya sudah menunggu dimeja makan."Ucap Bibi Jum sembari sedikit menundukkan tubuhnya pertanda hormat dan mempersilahkan tamu majikannya untuk masuk.


"Eh, tidak perlu sesungkan ini Bi !" Ucap Elvano ketiak menyaksikan Bibi Jum yang menundukkan tubuhnya.


Elvano pun turut membungkukkan tubuhnya membalas perlakuan yang ia dapatkan dari Bibi Jum


"Eh, Den, jangan begini !" Reflek Bibi Jum memegang kedua lengan Elvano menegakkan tubuhnya yang kekar.


"Ma-maaf Den, saya lancang." Bibi Jum kembali membungkukkan tubuhnya ketika menyadari apa yang telah perbuat terhadap calon menantu keluarga ini.


"Tidak apa-apa kok Bi, Bibi tidak perlu sungkan." Ujar Elvano sambil tersenyum manis sambil balik memegang kedua lengan Bibi Jum untuk menegakkan tubuhnya.


"Bibi Jum, ada apa ribut-ribut?"


Nyonya pemilik rumah menghampiri mereka setelah mendengar kegaduhan yang terjadi didepan pintu utama.


"Eh, Nyonya.." Bibi Jum menundukkan wajahnya.


Ini pasti Ibunya Cheril.


"Selamat Malam Tante !" Elvano mengucap salam.


Ibu Elvano tergelak melihat penampilan laki-laki yang ada di hadapan nya itu.


Ia hampir tak berkedip ketika menatap Elvano.


"Eh, selamat Malam !" Balas Ibu Cheril


"Kamu pasti Sandi kan?" Tambahnya lagi.


Ibu Cheril memang tidak melihat Sandi sang jelas malam itu,jadi dia tidak tau wajah Sandi yang sebenarnya seperti apa.


Deg


'Sandi? Jadi benar ya Dokter itu adalah pacar Cheril yang putus kontak waktu itu? Ibunya bahkan sudah kenal dengan Sandi.'


Wajah Elvano berubah tegang.


Ibu Cheril mempersilahkan Elvano masuk kedalam dan langsung menuntunnya menuju meja makan. Di sana sudah ada tuan besar keluarga ini yang sedang menunggu kehadiran Elvano.


Detak jantung Elvano sudah tidak beraturan saat itu. Selain masih berusaha mencerna nama yang disebut oleh Ibu Cheril, ia juga masih bingung bagaimana caranya menghadapi atasannya itu jika ia tau dirinya adalah calon menantu atasannya tersebut.


"Eh, Vano, kamu sudah datang? Silahkan duduk !" Ucap Dedy Senjaya dengan sangat santai.


'Tunggu, Ayah panggil dia apa tadi? Vano? Bukankah laki-laki ini bernama Sandi?'


Sedangkan dalam hati Elvano


'Eh, Bapak Dedy Senjaya kok sama sekali tidak merasa kaget ketika melihatku? Apa ia sudah tau semuanya?'


"Selamat Malam Pak, eh, Om, eh Pak !"


Elvano bingung harus memanggil pimpinannya yang juga adalah calon mertuanya dengan sebutan apa.


"Panggil saja Ayah !" Timpal Ayah Cheril sambil tersenyum mengejek membuat Elvano sangat salah tingkah.


"Duduklah Vano !" Tambahnya lagi.


"Ba-baiklah !" Jawab Elvano singkat sambil merebahkan tubuhnya diatas kursi makan yang tersedia.


'Eh, apa-apaan ini? Jadi Ayah sudah mengenal calon menantunya ini? Sepertinya hubungan mereka juga sangat dekat.'


Ibu Cheril berkata-kata dalam hati, ia mencoba mempelajari situasi yang sedang berlangsung.


"Jadi Ayah sudah mengenal laki-laki ini? Bukankah namanya Sandi? Kenapa Ayah memanggilnya Vano?"


Akhirnya Ibu Cheril mengeluarkan suara untuk bertanya, ia sudah sangat penasaran jika harus menahannya lebih lama.


Sementara Elvano lebih memilih menundukkan wajahnya.


Ayah Cheril mengangkat bahunya sambil tersenyum. Lalu melemparkan pertanyaan.


"Memangnya kamu itu tau dari siapa pacarnya Cheril bernama Sandi?"


"Ah Ayah, kok malah balik nanya sih?"


Wajah Ibu Cheril mulai cemberut.


"Lah, sepertinya Ibu sangat yakin dengan pengetahuan itu."


Ibu Cheril yang sudah merasa terpojok dengan apa yang di katakan suaminya akhirnya terdiam karna merasa malu. Ada sedikit kekecewaan yang terukir diwajahnya. Ia memang sudah sangat senang mengetahui calon menantunya adalah seorang Dokter Spesialis Penyakit Jantung.


'Eh, tunggu dulu ! Mungkin saja dia memang Dokter itu, mungkin orang yang memberitahukanku kemarin salah menyebut namanya.'


Ibu Cheril kembali tersenyum, ia sedang berusaha menghibur hatinya sendiri.


"Oh iya, Cheril kok masih belum turun? Ayah Cheril menanyakan Cheril yang belum juga turun.


Elvano ikut mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari keberadaan Cheril.


"Bibi Jum, tolong panggilkan Cheril Bi !" Ibu Cheril kemudia memberi perintah pada Bibi Jum supaya memanggilkan Cheril.


Sementara diketinggian Cheril sedang melangkah dengan anggunnya menuruni setiap anak tangga.


Semua mata kini melemparkan pandangannya ke arah tangga ketika Bibi Jum menunjuk ke arah tangga hendak memberitahukan keberadaan Nona Cheril.


Ia sendiri juga sudah tidak mampu untuk berkata-kata lagi karna terpanah dengan kecantikan Cheril.