Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Hari pertama kerja


Elvano duduk berhadapan dengan Manager Billy.


Manager billy menatap Elvano lekat. Dalam hati nya ia sedang memikirkan banyak hal tentang laki-laki yang ada didepannya ini.


Apakah Nona Cheril sedang jatuh cinta dengan laki-laki ini.


Dia memang tampan sih


Setiap wanita yang melihat nya pasti akan jatuh hati.


Pantas saja Nona Cheril meminta ku langsung mempekerjakan dirinya.


Melihat tatapan Billy yang tidak bisa diartikan itu membuat Elvano semakin gugup.


Hmm


Elvano berdehem karna ia merasa sudah duduk lumayan lama tapi Billy hanya diam sambil memandang nya penuh arti.


"Eh.."


Hmm ( Billy juga membalas berdehem )


Billy tersadar dari lamunannya dan segera memperbaiki penampilannya yang sudah dingin menjadi semakin dingin.


"Siapa nama kamu tadi?" Tanya Billy mencairkan suasana hening yang sejak tadi tercipta.


"Elvano Pak !" Elvano menjawab singkat.


"Ah, iya... Elvano.. Saya panggil kamu Vano saja ya. Biar gampang nyebutnya." Ucap Pak Billy menyingkat nama Elvano,dan Elvano mengangguk setuju.


Hmm ( Berdehem lagi )


"Vano, hari ini kamu sudah bisa langsung bekerja sesuai dengan yang saya katakan padamu melalui telpon."


"Dan tugas kamu adalah mengawasi para Desainer dalam menjalankan tugas mereka, pastikan mereka bekerja dengan benar, selain itu kamu juga yang bertanggungjawab dibagian keluar masuk stok serta bahan yang akan digunakan dan yang akan dikirim ke bagian konsumen.


"Sampai disini kamu paham?" Manager Billy bertanya


"I-iya, paham Pak.."Jawab Elvano singkat


"Bagus !" Ucap Manager Billy menanggapi jawaban Elvano sembari berangkat dari tempat duduknya dan melangkahkan kaki nya.


Melihat Elvano masih duduk ia pun sedikit murka.


"Kenapa masih di situ? Ikut aku !" Manager Billy berkata dengan nada yang sedikit tinggi membuat Elvano sedikit kaget.


"Eh, iii-iya Pak !"


Elvano pun langsung berdiri dan menghampiri Manager Billy.


Mereka berdua kemudian melangkah keluar dari ruangan Manager Billy yang cukup besar itu.


Keadaan kantor saat ini sudah sedikit sepi karena karyawan siff pertama sudah pulang. Sedangkan Karyawan siff dua masih belum hadir semua. Selain itu juga karyawan siff kedua juga lebih sedikit bahkan tidak mencapai setengah jumlahnya dari siff pertama.


Manager Billy mengajak Elvano masuk kedalam sebuah ruangan yang cukup luas, hampir sama luas nya dengan ruangan Manager Billy.


"Vano, ini ruangan kamu."


'What? Ini ruangan ku?'


Elvano terpanah dengan ruangan yang lumayan luas itu. Baru pertama kerja disini ia sudah bisa memiliki ruangannya sendiri, yang seluas ini lagi. Elvano sungguh tidak menyangka.


"Vano, kamu dengar tidak aku bicara padamu?"


"Eh.... Iii-iya Pak.."


Lagi-lagi Manager Billy membuat Elvano kaget dengan nada tinggi dari suara nya.


Manager Billy memang orangnya agak tegas, tapi asli ia sangat baik kok.


"Vano, jadi sekarang, ini adalah ruangan kamu. Kamu harus tau satu hal. Posisi kamu cukup penting bagi Perusahaan ini dan walaupun kamu hanya karyawan siff malam, gaji mu akan 2x lipat dibanding karyawan lainnya. Jadi bekerjalah dengan sungguh-sungguh !" Ucap Manager Billy serius.


"Baik Pak ! Saya akan berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa !" Jawab Elvano juga dengan ekspresi yang sangat serius.


Elvano tidak menyangka ternyata ia bisa mendapat posisi yang cukup penting.


"Bagus !" Billy menanggapi singkat.


"Ikut aku, aku akan memperkenalkan kamu dengan sekretaris Jenika. Ia yang akan banyak membantu mu nanti."


Elvano hanya mengikuti Billy tanpa menjawab apapun.


Sekretaris Jenika sudah hadir dimeja kerjanya, ia memang selalu datang lebih cepat daripada yang lainnya, meja kerjanya berada persis disamping ruangan Elvano.


"Selamat Sore Jeni !" Jawab Manager Billy, sementara Elvano hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Jeni, ini Elvano. Ia yang akan mengisi posisi kepala gudang di kantor ini.


'Kepala gudang? Jadi saya diterima sebagai kepala gudang?


Elvano sedikit tidak percaya kali ini.


Itu memang posisi yang cukup tinggi di Perusahaan sebesar ini.


"Hallo.. Saya Jenika Pak !" Sekretaris itu menyapa Elvano sambil mengulurkan tangan mengajaknya bersalaman.


"Elvano"


Elvano menjawab singkat, dengan senyuman manis diwajahnya sambil menjabat tangan wanita itu.


"Vano, mulai hari ini kamu akan dibantu oleh Jenika dalam menyelesaikan pekerjaan mu !" Ucap Manager Billy.


"Baik Pak !" Jawab Elvano sambil menganggukkan kepala.


"Saya berharap kalian bisa bekerja sama dengan baik !"


Sekali lagi Billy menegaskan kepada kedua orang yang ada dihadapannya ini dan mereka pun mengangguk bersamaan.


"Selamat bergabung dengan perusahaan Indos Perkasa !" Billy mengulurkan tangan dihadapan Elvano, mengajak nya bersalaman sebagai tanda memberi Selamat.


Elvano pun meraih tangan Billy, ia juga tidak menyangka Billy yang awalnya sangat dingin itu bisa memberi nya selamat. Sembari bersalaman tak lupa Elvano mengucapkan beberapa patah kata.


"Terimakasih Pak ! Dan mohon bimbingannya !"


Yang diikuti anggukan dari Billy.


'Tenyata dia tidak seseram yang aku pikirkan. Syukurlah !'


Kata Elvano dalam hati.


Fiiiiiuh


"Baiklah, sekarang kalian bisa mulai bekerja ! Dan kamu Elvano, jika ada yang perlu ditanyakan, silahkan tanyakan pada Jenika !"


"Baik pak !"


Kemudian Billy pun pergi meninggalkan Elvano dan Sekretaris Jenika yang masih mematung.


Jenika adalah salah satu karyawan kepercayaan Perusahaan ini. Walaupun masih sangat muda, sepertinya ia dengan Elvano seumuran, namun ia sudah menikah jadi dia tidak begitu terusik dengan ketampanan Elvano.


"Maaf, Pak Elvano. Saya....


Belum selesai Jenika berbicara Elvano sudah memotong dengan mengangkat tangannya.


"Panggil saja saya Vano." Ucap Elvano, ia merasa kurang nyaman dengan panggilan yang sangat formal itu.


"Eh... Ma-maaf Pak ! Saya panggil Pak Vano saja !" Jawab Jenika yang sebaliknya. Ia justru merasa kurang nyaman memanggil Elvano dengan sebutan nama sedangkan Elvano Jelas posisinya adalah atasan bagi Jenika.


Cukup menyingkat namanya saja pikir Jenika.


"Terserah kamu lah !" Elvano menyerah, karna ia tau berdebat dengan wanita hanya akan membuang buang waktu saja.


"Baik pak Vano, saya akan memperkenalkan Bapak dengan karyawan yang ada didalam ruangan jahit ! Kata Jenika sambil membentangkan tangannya ke arah depan sekaligus mengintruksikan Elvano untuk menuju ke sana.


Mereka pun berjalan berdampingan menuju ruangan jahit.


Setelah membuka ruangan itu, terlihat ada sekitar 30an karyawan baru akan memulai mengerjakan pekerjaan mereka.


Mendengar bunyi pintu terbuka sebagian dari mereka melemparkan pandangannya ke arah pintu, dan di sana sudah berdiri Jenika dan Elvano.


Jenika kemudian memanggil smua karyawan dan karyawati yang ada di sana. Sebagian besar memang isinya wanita.


Dia memperkenalkan mereka satu per satu kepada Elvano.


Wanita-wanita di ruangan itu terkagum-kagum melihat ketampanan Elvano. Ada beberapa dari wanita di sana memang masih jomblo, mereka bahkan juga masih kuliah sama seperti Elvano.


Setelah selesai perihal kenalan, Jenika mengajak Elvano masuk ke ruangan penyimpanan kain. Dan stok beberapa bahan dasar untuk membuat pakaian.


Kemudian mereka sedikit berkeliling menjelajahi seluruh lantai yang ada di dalam kantor itu sekaligus memperkenalkan Elvano sebagai kepala gudang kepada seluruh penghuni perusahaan siff malam yang bertugas hari itu.


Hari pertama sepertinya hampir dihabiskan dengan perkenalan saja, mengingat Perusahaan itu besar sekali. Ada 12 lantai. Hanya lantai 12 yang tidak mereka Naiki, karena itulah ruangan Presdir Perusahaan Indos Perkasa. Yaitu ruangan Ayah dari Nona Cheril.


'Kira-kira Nona Cheril ada disana tidak ya?'


Elvano bertanya-tanya didalam hatinya.