
Saat ini Elvano sudah menginjakkan kakinya di anak tangga yang paling terakhir dan itu artinya ia sudah tiba di lantai bawah, tepat berada di hadapan ayahnya.
Winda yang mendengar suara keributan juga segera keluar dari kamarnya. Winda dapat mendengar dengan jelas suara keributan yang sedang terjadi, karena saat itu pintu kamarnya tidak tertutup rapat.
Namun, Ia segera menghentikan langkahnya di kejauhan ketika menyaksikan pemandangan langka di depannya.
Valen dan Flo yang hendak menuju ke arah tangga juga ikut dihentikan oleh Winda sebelum mereka melangkah lebih jauh.
"Eh ... Ada apa Bu?" Tanya Valen heran.
"Sssttt ... Pelankan suaramu Valen!
Tuh, Lihat yang ada di sana!" pinta Winda sambil memancungkan mulutnya ke arah Elvano dan Ayah William yang sedang berdiri di depan tangga saling berhadapan.
Sedangkan Pak Didi juga sudah ngacir sejak tadi. Ia tidak ingin mengganggu pertemuan kedua orang itu.
Valen dan Flo pun melihat ke arah yang dimaksud oleh ibu mereka secara bersamaan.
"Itu siapa Bu?" tanya Flo polos.
"Itu pasti Kakak ya Bu?" timpal Valen
"Iya, kamu benar Valen, itu Kakakmu," jawab Ibu Winda sambil tersenyum.
"Kalau begitu Flo mau kesana ah ... Mau ketemu kakak juga," Ujar Flo yang bersiap ingin melangkahkan kakinya girang.
Dengan sigap Winda segera menarik tangan Flo.
"Loh Bu, kenapa Ibu tidak membiarkan kami bertemu Kakak? Kami kan juga ingin bertemu Kakak." protes Valen.
"Bukan begitu Valen, kalian berdua tentu saja boleh bertemu Kakak kalian. Tapi, setelah ini ya. Biar Ayahmu menikmati waktu berduaan dengan Kakak kalian dulu." jelas Winda memberi pengertian pada kedua putrinya sambil merangkul mereka dengan tangan kiri dan kanannya.
Mereka berdua sepertinya mengerti dengan ucapan ibu mereka. Mereka akhirnya memilih berdiri di kejauhan bersama ibu mereka untuk menyaksikan pemandangan yang sangat langka itu.
Suasana haru mulai memenuhi ruangan rumah mewah kediaman keluarga Setiono saat itu.
Ibu Anita yang juga turut keluar dari kamarnya hendak mengambil minum di dapur juga menyaksikan suasana haru itu, ia juga menghentikan langkahnya tepat di belakang ketiga orang yang sedang berdiri di depannya dan ikut menyaksikan semua itu dari kejauhan.
"Elvano ..., " Tuan William memanggil putranya sambil memegang kedua pipi Elvano lembut.
Sedangkan Elvano hanya diam saja.
"Ini sungguh kamu Nak?! Kamu mirip sekali dengan Ibumu ... " pendapat Tuan William.
Tanpa menunggu lama Tuan William pun segera memeluk tubuh gagah itu.
"Elvano ... Maafkan Ayah, Maafkan Ayah yang selama ini tidak mengetahui tentang dirimu yang masih hidup. Dan selama 1 tahun ini Ayah juga tidak berhasil menemukanmu." tambah Tuan William.
Ia sudah menitikkan air matanya di balik punggung Elvano saat itu.
Sementara Elvano, ia hanya diam tak bergeming. Membiarkan tubuhnya dipeluk oleh ayahnya. Kali ini ia juga sudah mengangkat tangan untuk membalas pelukan Ayah William. Membuat Tuan William semakin terharu ketika tangan putranya ikut menyentuh punggungnya.
Mereka yang menyaksikan dari kejauhan juga ikut masuk dalam suasana haru, mereka semua turut menitikkan air mata. Termasuk juga Ibu Anita.
Mendengar suara tangisan di belakang mereka, Valen,Flo dan Ibu mereka Winda segera membalikkan badan.
"Loh, ini siapa Bu?" tanya Valen heran.
"Ini Anita sayang, kalian bisa memanggilnya dengan sebutan Ibu." jawab Winda penuh wibawa.
"Maksud Ibu?" Valen kembali bertanya.
Diam-diam Anita juga sedikit terharu dengan apa yang diucapkan oleh Winda. Ia pun menundukkan wajahnya.
"Valen, Flo, ini adalah salah satu pegawai di rumah kita sekitar 23 tahun yang lalu, dan dialah yang telah membawa Kakak kalian pergi waktu itu," jelas Winda.
Setelah terdiam sesaat untuk mengambil napas, Winda kembali melanjutkan pembicaraannya yang belum selesai.
"Ibu Anita inilah yang selama ini telah merawat Kakak kalian hingga sebesar ini," lanjut Winda kemudian.
"Jadi, kalian juga bisa memanggilnya dengan sebutan Ibu, seperti Kakak kalian memanggilnya, kalian pahaman?"
Setelah mendengar penjelasan dari Ibu mereka, Valen dan Flo tentu saja mengerti. Mereka lalu memutuskan untuk menyapa Ibu Anita secara bersamaan.
"Ibu ..., " sapa mereka berdua serentak.
Ibu Anita hanya menanggapi kedua gadis itu dengan senyuman. Lalu mengangkat tangannya untuk mengusap kepala kedua gadis itu. Tanpa diberitahu pun Ibu Anita sudah bisa menebak, kedua gadis di tersebut pasti adalah adik-adiknya Elvano.
Setelah perkenalan singkat antara Flo Valen dan Ibu Anita, mereka bertiga lalu memilih berjalan menuju ke arah Ayah William dan Elvano, tak lupa Winda juga mengajak Anita berjalan bersama-sama dengan mereka.
Setelah berada di hadapan mereka berdua, Winda turut mengangkat tangannya ikut memeluk Ayah dan Anak yang sedang berpelukan itu. Flo dan Valen pun juga ikut memeluk Kakak dan Ayah mereka. Mereka sekeluarga akhirnya berpelukan bersama.
Ibu Anita merasa sangat puas melihat keakraban yang tercipta di antara keluarga ini. Ia turut senang, melihat Elvano sangat disayangi oleh keluarganya besarnya sendiri.
Sesaat kemudian pelukan itu pun berakhir. satu Per satu dari mereka melepaskan tangan mereka.
Dan tentu saja diawali dengan perkenalan.
Setelah mereka semuanya duduk, Winda memulai percakapan.
"Vano, ini adalah kedua adikmu. Yang lebih besar namanya Valencia bisa dipanggil Valen dan yang lebih kecil bernama Florencia bisa dipanggil Flo," jelas Winda.
Mereka kemudian saling bersalaman.
Elvano hanya memasang wajahnya yang datar tanpa ekspresi apapun.
Ah, ternyata kakakku ini lumayan dingin. Wajahnya juga tampan sekali. Kok kayak Dika sih ...
Gumam Valencia di dalam hati.
Dika adalah laki-laki yang sangat populer di kampusnya, semua wanita sangat mengidolakan laki-laki itu, termasuk Valen.
"Ibu berharap kalian bertiga bisa akrab ya Vano," harap Winda. Ketika melihat ekspresi Elvano yang sangat dingin saat bersalaman dengan kedua adiknya. Ia sedikit khawatir mereka bertiga kesulitan dalam berinteraksi.
Mungkin Elvano masih tegang.
Gumam Winda dalam hati.
Ia hanya mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan berkata demikian.
Sementara isi hati Elvano saat itu;
'Tunggu, Bertiga? Jadi hanya Valen dan Flo? Adik laki-lakiku mana?' Batin Elvano.
Elvano memang masih berpikiran ia memiliki adik laki-laki yang akan tidur sekamar dengannya.
"Ma-maaf Bu, aku boleh bertanya?" Elvano memberanikan diri untuk bertanya.
"Tentu saja boleh. Apa yang ingin kamu tau Vano?"
"Itu Bu, apakah aku memiliki adik laki-laki?"
Pertanyaan Elvano jelas membuat semua yang ada di sana merasa heran. Mereka pun saling berpandangan.
"Vano, maafkan Ayah dan Ibu, kami tidak memberimu seorang adik laki-laki." Winda menjawab pertanyaan Elvano yang sedikit aneh itu.
'Ternyata memang tidak ada ya?'
Gumam Elvano dalam hati lagi.
"Maksudnya, kamu sangat ingin memiliki adik laki-laki ya Vano? Maaf Ibu sudah mengecewakanmu." lirih Winda.
Winda dapat melihat ada sedikit raut kekecewaan pada wajah Elvano. Winda pun menundukkan wajahnya.
"Eh, Bukan itu maksudnya ... "
Elvano terlihat sedikit gugup saat melihat ibunya bersedih seketika.
"Maksud aku, kamar yang aku tempati itu apa tidak terlalu besar untuk diriku seorang? Tempat tidurnya juga besar sekali ...," jelas Elvano.
"Terus di ruang pakaian juga sangat banyak pakaian khusus laki-laki. Memangnya itu pakaian siapa Bu?" tambah Elvano.
Mendengar penjelasan Elvano Winda Kembali mengangkat wajahnya. Ia juga tersenyum mendengar itu.
"Soal itu ya, semua pakaian di ruang ganti adalah milikmu Vano. Maaf jika tidak sesuai dengan seleramu. Ibu membelinya sejak 1 tahun yang lalu, ketika Ibu mengetahui kamu masih hidup saat itu." jelas Ibu Winda.
"Dan ibu selalu membayangkan jika dirimu kembali kamu akan mengenakan semua itu.
Ibu memang tidak tau ukuranmu, namun Ibu merasa anak Ibu pasti akan memiliki tubuh yang gagah, dan tampan.
Dan ternyata tebakan Ibu memang benar ... Kamu sangat gagah juga sangat tampan. Melebihi yang Ibu pikirkan malah. Semua pakaian di ruang ganti sepertinya sangat cocok untuk ukuran tubuhmu," ujar Ibu Winda yakin.
Padahal batinnya berkata lain.
Ah, untung saja dia tidak terlalu gemuk atau pun terlalu kurus, jadi aku tidak perlu merasa tidak enak.
Semua pakaian itu sepertinya memang sangat pas untuk tubuhnya itu ....
"Jadi, pakaian sebanyak itu adalah milikku seorang?" tanya Elvano kaget.
"Ehm, iya Vano ... Kamu juga masih boleh menambahnya jika kamu mau." tanggap Winda santai.
Elvano hanya diam tanpa menjawab apapun. Ia masih berusaha mencerna di dalam hatinya. Merasa tidak percaya dengan kenyataan yang sedang ia alami saat ini.
"Oh iya, tentang tempat tidurmu yang besar, Ibu memang sengaja memesan yang jauh lebih besar supaya jika kamu pulang dengan membawa seorang istri, kalian berdua bisa menempati tempat tidur itu bersama." jelas Winda lagi sambil tersenyum malu.
Ia memang sudah memikirkan semuanya dengan matang.
Namun mendengar ucapan ibu Winda tentang istri, Ekspresi Elvano malah langsung berubah.