
Setelah tiba di rumahnya, Niko sudah disambut oleh ibunya yang kebetulan sedang duduk di depan teras.
Ibu Niko terseyum melihat kedatangan putranya itu. Namun ia juga merasa heran Niko pulang pada jam secepat itu.
"Nik, kamu kok tumben jam segini sudah pulang? Kamu sakit?" Ibu Niko segera melemparkan pertanyaan ketika Niko mulai mendekatinya.
"Ehm? Tidak kok Bu ... Niko baik-baik saja," jawab Niko segera sebelum ibunya jauh lebih khawatir.
"Lalu kenapa kamu pulang secepat ini?" ibunya kembali melemparkan pertanyaan.
"Ah Ibu, memangnya tidak boleh Niko pulang lebih cepat?" Niko mulai masang wajah ngambek untuk menggoda ibunya.
"Eh, tentu saja boleh," tanggap ibu Niko segera ketika melihat wajah putra yang sudah mulai cemberut
"Ayo masuk dulu ke dalam!" ibu Niko kemudian membuka pintu dan menuntun Niko masuk ke dalam. Niko juga sudah melingkarkan tangannya ke leher ibunya.
Hubungan kedua ibu dan anak ini memang sudah sangat dekat. Niko juga hanya tinggal berdua dengan ibunya sama seperti Elvano dan Ibu Anita waktu itu. Ayah Niko juga sudah lama meninggal sejak ia masih SD malah. Karena itulah Niko sangat dekat dengan ibunya.
"Sekarang ceritakan pada Ibu, apa yang telah terjadi?" cecar ibu Niko setelah mereka telah duduk di meja makan.
Ibu Niko tau pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Niko. Perasaan seorang ibu memang tidak bisa dibohongi.
"Ehm, Jadi begini Bu ...,"
Akhirnya Niko pun menceritakan semuanya pada ibunya. Semua tanpa ada satu pun yang ia lewatkan. Lalu ia pun merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah amplop yang diberikan oleh Elvano tadi dan memberikan itu pada ibunya.
Ibu Niko pun meraih amplop itu dan membukanya. Alangkah kagetnya dia ketika melihat jumlah yang terdapat di dalam amplop tersebut.
Jumlah uang itu memang tidak sedikit bagi mereka, bahkan selama ini mereka belum pernah memegang uang sebanyak itu sebelumnya.
"Niko, apa tidak terlalu berlebihan Vano memberikan uang sebanyak ini pada kita?" protes ibu Niko.
"Aku juga tidak mau menerimanya tadi Bu, tapi Vano terus memaksa. Sudahlah Bu, di simpan saja," jawab Niko
Sebelumnya Niko memang sudah bercerita tentang Elvano yang adalah seorang anak dari keluarga Setiono pemilik Astra Investama Group yang terkenal itu. Jadi ibunya sudah tidak kaget lagi ketika tadi Niko berkata Elvano yang menawari nya bekerja sebagai Asisten Manager di perusahaan tersebut.
Ibu niko juga merasa sangat senang dengan tawaran yang diberikan Elvano pada putranya itu. Setidaknya Niko sudah tidak perlu lagi menarik angkot seperti saat ini dan masa depannya pun pasti akan semakin baik pikirnya.
"Oh iya Bu, mungkin kita sudah bisa berkemas mulai sekarang. Karnya hari selasa ini kita sudah akan pindah ke kota X," jelas Niko.
"Iya Nik, kamu istirahatlah dulu. Kamu kan baru saja pulang. Biar Ibu yang membereskan sebagian dulu," pinta ibu Niko.
Niko pun menuruti perkataan ibunya dan ia memilih merebahkan tubuhnya di atas sofa di ruang tamu mereka sudah mulai usang.
Huuuuuuh
Sesaat kemudian Niko ingat dengan apa yang ia janjikan pada Elvano tadi, dan ia pun segera merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.
Setelah menemukan, ia segera menggerakkan jemari dan memanggil nomor seseorang.
Beberapa detik saja sudah terdengar suara dari balik telepon.
"Eh, Rik. Ini Rik, tadi aku bertemu dengan Vano...,"
"Apa Vano? Dimana?"
Belum selesai dirinya berbicara Erik sudah memotong pembicaraan itu. Ia sangat antusias mendengar nama sahabatnya yang sudah lama menghilang itu.
"Tunggu dulu Rik, kamu dengarkan aku dulu. Jadi ceritanya begini ...,"
Niko mulai menceritakan apa yang diminta oleh Elvano tadi tentang pertemuan dengan dengan Cheril, Erik pun mendengarkan dengan seksama.
"Oh, jadi begitu ... Ah tapi Vano keterlaluan ... Dia malah tidak mengajakku bertemu malah hanya mengajak mu," protes Erik cemburu.
"Ah kamu ini Rik ... Itu juga karena ia ada perlu lainnya lagi denganku, makanya dia mengajak aku bertemu. Nanti aku ceritakan semuanya pada mu," janji Niko sambil memberi penjelasaan.
"Nah, jadi bagaimana Rik? Kamu bisa minta tolong ke Tania kan, untuk mempertemukan mereka?"
Niko kembali melanjutkan pembicaraan utamanya setelah merasa Erik sudah mulai tenang.
"Ehm, baiklah. Aku akan menghubungi Tania sekarang juga. Nanti aku kabarin kamu ya," ucap Erik kemudian dan langsung mematikan panggilan.
Kemudian Erik pun menelepon ke Tania dan Tania menghubungi Cheril. Awalnya Cheril sedikit ragu untuk bertemu dengan Elvano, tapi ia juga sudah sangat merindukan Elvano. Sejak acara pertunangan itu ia sudah tidak pernah lagi bertemu dengan dirinya. Tania juga tidak menceritakan soal tujuan Elvano yang ingin mengembalikan uangnya karena pikir Tania mungkin Cheril akan menolak. Cheril juga belum tau tentang status Elvano yang sudah berubah.
Lalu Cheril pun menyetujui pertemuan itu.
Tania yang sudah kegirangan karena berhasil membujuk Cheril segera menghubungi Erik, kekasih hatinya. Dan setelah mendapat kabar dari Tania Erik juga segera menggubungi Niko untuk memberitahukan tentang keberhasilan Tania. Sekaligus memberitahukan alamat yang di tunjuk oleh Cheril untuk pertemuan yang akan diadakan malam ini.
Yang tentu saja tempat itu sudah tidak asing lagi bagi Elvano.
Niko pun segera menghubungi Elvano yang baru saja tiba di rumah Ibu Anita.
Dan Elvano segera menjawab panggilan tersebut. Pada saat itu Elvano memang sedang memegang ponsel miliknya.
"Hallo Nik ... Sudah ada kabar tentang pertemuan itu?" sepertinya Elvano sudah bisa menebak apa yang ingin dibicarakan oleh sahabatnya itu.
Sudah bisa meramal juga ternyata dia sekarang.
"I-iya No ... Tania sudah menghubungi Wanita itu dan dia sudah setuju untuk bertemu denganmu malam ini jam 7 malam. Dan tempatnya di sebuah restoran yang ada di depan mall Z ... Tapi Tania tidak memberitahukan nama restoran ini, dia bilang wanita itu berkata kamu sudah mengetahui restoran itu," jelas Niko secara terperinci menirukan apa yang diucapkan Erik pada nya melalui telepon.
"Ok Nik. Aku memang sudah tau tempat itu kok. Baiklah, terimakasih untuk bantuanmu." ucap Elvano lalu menutup telepon.
Tut tut tut
Huuuuuuuuh
Elvano membuang nafas kasar.
Ia tidak habis pikir Cheril bisa memilih restoran itu sebagai pertemuan mereka malam ini. Sebuah restoran yang penuh dengan kenangan manis dirinya dengan Elvano. Yaitu Restoran pertama sekaligus terakhir yang mereka kunjungi berdua ketika pulang berkunjung dari rumah Elvano waktu itu.
Akhirnya Elvano memilih menghampiri Ibu Anita yang sedang duduk di ruang santai sambil nonton. Elvano lebih memilih menghabiskan waktu bersama Ibu Anita ketimbang memikirkan hal tentang pertemuannya yang lalu dengan Cheril sudah tidak penting lagi menurutnya saat ini.