
Kwalitas kerja Elvano memang sudah tidak diragukan lagi. Di bidang apapun, ia selalu menjadi yang terbaik. Termasuk juga di dunia mafia. Saat ini namanya mulai dikenal oleh sebagian orang karena usahanya yang berkembang dengan sangat pesat itu. Identitasnya yang sebelumnya tertutup rapat perlahan tersingkap begitu saja. Apalagi setelah tersiarnya kabar tentang Elvano yang memegang peta rahasia itu. Membuat semua kalangan mencari tau siapa itu Elvano. Dan mereka cukup kaget saat mengetahui ternyata Elvano adalah pemain baru namun sudah sangat besar usahanya itu.
Setelah Niko berhasil menghubungi semua pihak terkait, rapat dadakan pun segera dijadwalkan 30 menit lagi dari waktu itu.
Elvano pun segera mempersiapkan dirinya dengan baik.
30 menit kemudian Elvano dan Niko memasuki ruang pertemuan dengan setumpuk berkas yang di bawakan oleh sekretaris Helen dan sebuah laptop juga dibawa oleh Niko yang mengisi data strategi yang di desain oleh Elvano tadi.
Kemudian Niko mulai menyalakan laptop tersebut yang dipancarkan ke layar yang ada di dinding. Elvano pun maju dan menjelaskan semua strategi itu pada seluruh pemegang saham. Mereka yang hadir di sana tampak sangat kagum dengan strategi yang disusun oleh Elvano. Sebuah strategi yang sangat cemerlang yang tidak semua orang dapat memikirkan cara itu. Dan mereka semua tentu mengangguk setuju atas apa yang disampaikan oleh Elvano.
Hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 jam pertemuan singkat itupun berakhir dengan hasil yang memuaskan.
Begitulah dengan hari ini.
Setelah kegiatan rapat tadi, Elvano kembali mendapat jadwal kunjungan dari beberapa rekan bisnisnya yang lain. Niko selalu memani Elvano kemanapun ia melangkah. Jika di rumah ada Cheril yang selalu menemani Elvano, maka di kantor memang Niko lah yang selalu ada untuknya.
Pada saat jam makan siang tiba Elvano juga tak lupa menelepon Cheril untuk sekedar mengingatkan istrinya supaya tidak lupa makan siang. Demikian juga dengan Cheril yang juga ikut mengingatkan Elvano untuk makan siang. Pasangan ini memang saling mengingatkan untuk hal yang satu ini.
Hari ini merupakan hari yang sangat sibuk di perusahaan. Bahkan tidak hanya hari ini saja. Hingga 2 minggu ke depan pekerjaaan yang menumpuk terus mengkhiasi hari-hari Elvano. Mungkin bisa dikatakan Elvano harus membayar mahal untuk hari liburnya yang terlalu lama.
Selama 2 minggu semua terlewatkan begitu saja. Kedamaian masih utuh seperti sedia kala. Belum ada tanda-tanda akan ada masalah yang datang. Mungkin saja para kelompok mafia masih belum menyadari tentang peta palsu itu. Sebab belum ada yang berhasil menuju ke sana. yang ada masih terjadi baku hantam diantara mereka dalam hal saling merebut peta yang sudah dipalsukan itu.
***
Usai mengurusi semua urusan pekerjaan selama berminggu lamanya, Elvano pun memiliki waktu untuk bersantai di hari Sabtu ini.
Elvano ingin memanfaatkan waktu senggangnya itu untuk mengajak Cheril memeriksakan kandungannya ke Dokter SPOG. Sebab sejak hari itu, Cheril belum pernah lagi menemui dokter.
Jadwal yang ditentukan oleh dokter juga sudah terlewat beberapa hari. Dikarenakan pekerjaaan yang sangat banyak, Elvano memang melupakan hal yang teramat penting itu. Tak hanya Elvano yang melupakan ini, bahkan Cheril juga tak mengingatnya. Mereka baru mengingat tentang itu tadi malam saat melihat kembali buku catatan di buku kehamilan milik Cheril.
Elvano sangat ingin tau bagaimana perkembangan janin yang ada di dalam perut istrinya itu. Jika waktu itu di rahim Cheril masih belum terlihat adanya pertumbungan janin, seharusnya saat ini sudah terjadi pembentukan embrio di sana jika wanita ini memang sungguh sedang hamil.
Saat ini keluarga Setiono masih belum mengetahui tentang kehamilan Cheril.
Elvano dan Cheril yang sebelumnya hendak memberitahukan pada Ibu Winda di hari ulang tahunnya minggu lalu batal karena Elvano yang terlalu sibuk. Dan juga tidak ada acara apapun pada hari itu.
Pagi ini fajar mulai menyingsing. Matahari tampak bersinar cerah. Elvano dan Cheril telah bersiap untuk berangkat menuju rumah sakit.
"Kalian mau kemana?" tanya Ibu Winda
Ibu Winda merasa heran pagi-pagi begini Elvano dan Cheril sudah tampil dengan rapi keluar dari lift.
"Kami ingin pergi jalan-jalan sebentar Bu,"
Elvano yang mengambil alih dalam menjawab. Ia masih berusaha merahasiakan kehamilan istrinya itu. Entah apa yang sednag direncanakan oleh Elvano saat itu.
"Pagi-pagi begini sudah ingin keluar jalan-jalan?"
Ibu Winda tampak sedikit kebingunan. Mau kemana pada jam sepagi ini? Saat ini memang baru menunjukkan pukul 8 pagi. Mall saja belum ada yang buka, pikir Ibu Winda. Jujur, Ibu Winda takut Cheril dan Elvano akan menghilang lagi seperti waktu itu.
"Ke taman, kemana saja Bu," jawab Elvano asal.
Akhirnya pertanyaan tersebut pun terlontar begitu saja.
Elvano memperlihatkan senyuman tipisnya setelah menyadari kekhawatiran ibunya itu.
"Tentu saja, Bu. Kami pasti kembali kok," jawab Elvano.
Ibu Winda merasa lega mendengar itu.
"Baguslah!"
Ibu Winda menjawab singkat lalu terdiam sesaat. Setelah itu ia kembali menambahkan sedikit permintaan pada Elvano dan Cheril.
"Kalian tidak sarapan lebih dulu? Ayo temani Ibu sarapan lebih dulu. Entah kenapa pagi-pagi begini Ibu sudah merasa lapar saja. Tidak nyaman nih sarapan seorang diri," bujuk Ibu Winda manja.
Sebelumnya Ibu Winda belum pernah melakukan hal ini. Entah kenapa pagi ini dia bisa bersikap seperti ini. Seperti tidak begitu rela membiarkan Elvano dan Cheril pergi dari rumah ini. Mungkin dia masih meragukan pernyataan Elvano yang mengatakan akan kembali ke rumah ini lagi setelah kepergian mereka. Sebab waktu itu juga mereka pergi dari rumah pagi-pagi sekali. Dan tidak lagi kembali ke rumah mewah itu selama berbulan lamanya.
"Ehm? Tapi kami belum lapar, Bu," tanggap Elvano.
Elvano juga melirik ke arah Cheril sebelumnya.
"Ya sudahlah Sayang, kita temani Ibu dulu saja. Kasihan Ibu," sambung Cheril
Perasaan seorang wanita memang lebih mudah terenyuh saat mendengar kalimat permohonan seperti itu. Cheril merasa tidak tega terhadap Ibu mertuanya itu saat melihat wajah Ibu Winda yang mulai manyun mendengar jawaban yang diberikan oleh Elvano.
"Baiklah kalau begitu," tanggap Elvano kemudian.
Senyuman merekah di wajah paruh baya ibunya tercinta. Ibu Winda merasa senang mendengar persetujuan dari anaknya itu. Di dalam hatinya, Ibu Winda sangat berterima kasih atas bujuk rayu yang dilakukan oleh Cheril terhadap Elvano. Kemudian mereka bertiga pun melangkah menuju meja makan saling berdampingan.
"Oh iya, memangnya Ayah kemana Bu? Valen dan Flo juga tidak terlihat, kemana mereka semua?" tanya Elvano penasaran.
Saat ini mereka bertiga sedang duduk di meja makan.
Selain penasaran, Elvano juga sedikit merindukan suasana kebersamaan itu. Elvano yang sejak kembali ke rumah ini memang belum sempat melakukan kegiatan makan bersama keluarganya baik sarapan maupun makan malam, apalagi sekedar bersantai bersama mereka. 2 minggu terakhir, ia hanya bisa bergelut dengan urusan pekerjaan. Elvano tidak memilki kesempatan untuk merasakan kehangatan kebersamaan dengan keluarganya itu. Pagi-pagi sekali ia sudah harus menuju kantor. Bahkan untuk sarapan pun Elvano sering kali melakukanya di dalam mobil. Dan saat pulang dari kantor pun tidak pernah di bawah pukul 8 malam.
"Ayah kamu sepertinya sedang berolahraga di atas. Kalau Flo dan Valen mungkin masih molor," jawab Ibu Winda.
Ayah William memang biasa melakukan aktivitas olahraga pada jadwal yang teratur. Yaitu pada 3 hari dalam 1 minggu. Hari ini juga termasuk di dalam jadwal olahraganya. Sedangkan Flo dan Valen pada hari sabtu seperti ini juga tidak memiliki kegiatan apapun, dan biasanya akan bangun lebih siang.
"Begitu ya?" tanggap Elvano singkat.
"Kenapa Vano? Kok murung?"
Ibu Winda sedikit heran melihat wajah putranya itu berubah murung.
"Tidak apa-apa kok Bu. Hanya kangen saja sudah lama tidak sarapan bersama-sama," jawab Elvano yang sudah merubah ekspresinya kembali.
Sedangkan Ibu Winda terseyum tipis mendengar itu. Ia juga baru menyadari, memang sudah cukup lama mereka tidak pernah sarapan bersama-sama.