Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
3 pengawal khusus


Bagai singa yang terusik tidurnya, mungkin umpama ini yang paling tepat untuk menggambarkan Elvano saat ini. Kemarahan Elvano sungguh telah mencapai puncak dari emosinya. Ruangan CCTV yang tadinya tertata rapi, kini berantakan bagai kapal pecah. Sosok Elvano yang lembut berubah drastis seperti bukan dirinya. Kalau sudah begini, sangat sulit untuk ditenangkan. Cheril yang berusaha menenangkan dirinya hampir dilukai oleh Elvano yang mengamuk membabi buta.


"Maafkan aku ya Cheril! Aku sudah membuatmu ketakutan tadi."


Ya, hanya beribu-ribu maaf yang bisa diucapkan Elvano setelah semua yang ia tampilkan tadi. Berulang kali ia ucapkan itu sejak di ruang CCTV tadi, hingga kini mereka sedang di dalam perjalanan pun Elvano masih mengucapkan kata maaf tersebut. terhadap Cheril. Rasa sesal sangat mendominasi. Apalagi pada saat teringat dirinya yang hampir melukai Cheril dan membahayakan janin di dalam perutnya.


Sesuai dengan firasat Ibu Winda. Elvano tidak dapat memenuhi janjinya kali ini. Mereka memang tidak kembali ke rumah besar Setiono lagi setelah keluar. Jika sudah ada masalah seperti ini, Elvano sudah pasti akan mengurung Cheril di kastil Red Rose supaya keadaan Cheril jauh lebih aman.


Kini tak hanya harus meminta maaf pada Cheril, ia pun harus berusaha keras memberi penjelasan pada ibunya tercinta mengenai hal ini. Tentu juga harus disertai dengan alasan yang sangat tepat supaya wanita kesayangan Elvano yang satu ini bisa mengerti dan tidak merasa curiga. Apalagi Elvano juga tentu harus merahasiakan tentang Valen yang diculik. Ia tidak ingin keluarganya terlibat di dalam masalah ini. Biarlah hanya dirinya saja. Ya, cukup dirinya yang menghadapi ini semua.


Mobil yang dikendarai oleh Elvano telah memasuki halaman Red rose. Bibi pekerja segera menyambut pemilik kastil penuh misteri itu. Dan tentu tak lupa tentang Pak tua di kastil ini yang juga dengan segera membukakan pintu gerbang bagi mereka tadi. Setelah beberapa hari menghilang tanpa memberi kabar, majikan mereka itu juga kembali tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Ingin bertanya pun percuma, sebab lidah mereka bagaikan terkunci. Tak mungkin mereka memiliki kelancangan yang seperti itu.


Elvano dan Cheril turun dari mobil. Cheril harus setengah berlari untuk dapat mengimbangi Elvano. Kini pria lembut yang ia kenal itu sedikit berubah sikapnya. Namun juga tidak total. Saat menyadari Cheril berusaha mengimbangi langkahnya, lelaki perkasa itu kembali memperlambat jalannya. Lalu ia yang akan mengalah dengan mengimbangi gerak langkah Cheril. Merangkul wanita yang hanya menjadi miliknya itu memasuki kastil Red Rose yang Elvano bangun dari hasil kerja kerasnya sendiri. Bagaimanapun rupa Elvano, rasa cinta yang besar dari dalam hatinya akan reflek mengalahkan semua keegoisan yang ada.


"Sayang, untuk sementara kita harus kembali ke tempat ini lagi. Kamu tidak apa-apakan?"


"Asal bersamamu, aku akan selalu baik-baik saja,"


Seperti tahu Elvano akan pergi menghadapi mala bahaya, demikianlah jawaban yang diberikan Cheril saat itu.


Dan Elvano hanya bisa tertunduk dengan senyuman yang tidak bisa diartikan.


"Berjanjilah padaku untuk tetap di dalam kastil ini. Aku sudah mengirim kode merah pada pengawal khusus. Tempat i ni akan dijaga dengan ketak setelah ini. Dan maafkan aku sekali lagi Cheril, aku harus pergi untuk menyelamatkan adikku." Jelas Elvano


Tentu saja ada sedikit rasa nyeri di hati Cheril yang membuat jantungnya berdenyut seketika. Rasanya jantung itu hampir berhenti berdetak untuk sejenak mendengar ini. Namun si*lnya, lidahnya itu juga tidak mampu menahan kepergian pria yang sangat ia cintai itu. Bagaimanapun, nyawa Valen saat ini juga sedang dalam bahaya. Dan hanya singa inilah pastinya yang dapat menolong Valen saat ini.


Dengan derap langkah yang sedikit dihentak kasar, Elvano kembali menuju pintu keluar menuju ke arah mobilnya setelah menuntun Cheril memasuki kastil. Lelaki gagah itu harus pergi lagi untuk memulai petualangannya. Sementara kode merah yang dikirimkan oleh Elvano kepada pengawal khusus juga sudah diterima dengan baik. Saat Elvano tiba di halaman, para pengawal telah memenuhi tempat itu.


"Rein, Jack, dan Zum, kalian ikut aku! Yang lainnya tetap disini. Awasi setiap gerak-gerik wanita yang ada di dalam sana dengan baik! Jika terjadi sesuatu padanya, maka nyawa kalian yang akan menjadi taruhannya!"


Tidak dengan nada tinggi, Bahkan hampir menyerupai berbisik saking kecilnya volume yang dikeluarkan dari mulut Elvano saat mengucapkan itu. Namun mampu membuat merinding sebagian orang yang mendengar itu. Walaupun mengucap dengan nada rendah, ucapan Elvano jelas mengandung ketegasan di dalamnya.


Usai mengucapkan hal ini, raja singa itu melangkah pergi begitu saja. memasuki mobilnya, lalu pergi begitu saja. Sementara mobil lainnya segera menyusul mengikuti Elvano dari belakang.


"AARRHG! SI*AL! SHIT! Kau sungguh ingin melihat kemarahanku ternyata."


BUG! BUG! BUG!


"AAARRGGHH!!"


Elvano kembali berlarut kedalam emosi saat sedang berada di dalam mobil. Kali ini setir mobil pun menjadi korban dari keganasannya. Berulang kali dirinya memukul-mukul setir hingga menimbulkan bunyi yang cukup kuat.


Elvano menyipitkan matanya sejenak saat ada mobil yang menyelinap paksa ke arah depan. Ada sedikit perasaan aneh yang muncul di dalam benaknya. Gerak refleknya membuat dirinya segera menunduk seketika. Dan,


PENG! PENG! PENG!


Tepat seperti yang ia pikirkan. Ada yang menembak ke arah mobilnya. Untung saja Elvano cukup peka dalam hal ini. Jika tidak, Elvano sudah pasti telah tertembak.


"SI*L!!" umpatnya kesal.


"Sepertinya mereka sudah tau tentang peta yang sudah aku palsukan itu."


Ada sedikit rasa khawatir yang menghampiri Elvano saat ini. Apalagi jika bukan tentang keamanan Cheril. Pada saat yang bersamaan dengan masalah yang datang menimpa Valen, orang-orang itu malah kembali.


Tanpa diperintah oleh Elvano, ketiga orang yang ada di belakangnya sudah segera bertindak dengan mendahului mobil Elvano dan melumpuhkan musuh yang ada di depan mereka. Hanya dengan 3 kali tembakan yang sama dari pihak mereka, ketiga musuh mereka yang berada di bagian depan hilang kendali begitu saja. Dan mobil itu menabrak trotoar jalan yang cukup lengang itu.


Ketiga pengawal yang dibawa oleh Elvano bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah yang terbaik dari yang terbaik. Si mata elang Rein yang mampu melihat dengan jelas walaupun hanya setitik tanda di wajah dengan jarak 100 meter sekalipun, Si kaki besi Jack yang pernah menghancurkan sebuah bangunan kokoh hanya dengan kekuatan kakinya dan tentu saja orang yang melepaskan tembakan tadi adalah Zum yang sudah sangat terkenal dengan tembakannya yang tidak pernah meleset.


Hanya dengan 3 tembakan yang ia lepaskan, ketiga orang yang ada di dalam mobil itu tewas seketika.


Sementara Elvano hanya menampilkan ekpresi datarnya saja menyaksikan semua itu. Tidak ada kata takjub ataupun kata pujian yang keluar dari mulutnya. Yang ada hanyalah, "aku sudah membayar mereka mahal, jika tidak bisa melindungiku hanya dalam bahaya sekecil ini, lalu apa gunanya mereka?"


Elvano kembali pada posisinya. Ia yang kembali memimpin perjalanan setelah mobil ketiga pengawalnya mengalah untuknya.


Mobil mereka kembali melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke suatu tempat yang tak lain adalah sebuah rumah besar yang menjadi markas terlarang Elvano.