
Setelah selesai melakukan tugasnya sebagai pengawas, Elvano kembali ke ruangannya, namun sebelum ia masuk ke ruangannya ia terlebih dahulu menghampiri meja Sekretaris Jenika.
"Nona, Apad ada berkas yang bisa saya kerjakan?" Elvano bertanya pada Jenika
"Eh, belum ada Pak." Jawab Jenika singkat
Ia juga bingung, berkas apa yang bisa dikerjakan oleh pria tu, bukannya selama ini dia yang mengerjakan semua berkas yang ada.
'Kira-kira berkas apa yang harus aku serahkan pada Pak Vano?'
Jenika berpikir dengan sangat serius.
"Kamu kenapa Nona?" Elvano kembali bertanya melihat Jenika bengong.
"Eh.. Tidak apa-apa Pak." Jawab Jenika.
"Maaf Pak, Apa bisa Bapak memanggil saya cukup nama saja Pak? Maaf, saya merasa kurang enak mendengar anda memanggil saya dengan tambahan Nona didepannya. Ya setidaknya biar kita bisa lebih akrab saja." Hehehe
Tambah Jenika cengengesan sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Eh, Baiklah No...."
Wanita itu mulai melotot.
"Eh iya, baik Jenika ! Saya akan memanggilmu Jenika atau Jeni saja mulai hari ini !" Ucap Elvano juga sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
Setelah itu ia pun masuk kedalam ruangan miliknya sendiri di kantor itu.
Elvano merebahkan tubuhnya diatas kursi kebesarannya. Pikirannya mulai bekerja.
Hmm
"Kenapa aku merasa ada yang janggal ya ! Apa ini hanya perasaanku saja?"
Elvano berkata-kata sendiri.
"Sepertinya para Desainer yang ada di ruangan jahit agak canggung melihat kehadiranku. seolah-olah mereka belum pernah diawasi sebelumnya."
"Atau mungkin setiap ada pengawas yang mengawasi mereka, mereka akan tegang. Aku justru merasa mereka lebih relax dan mengerjakan pekerjaan mereka dengan sangat baik ketika perkenalan tadi daripada pada saat aku masuk untuk kedua kalinya saat mengawasi mereka."
"Jika memang demikian, bukankah kehadiranku sebagai pengawas justru akan membuat mereka tidak bisa berkonsentrasi dengan baik, hasilnya justru akan kurang maksimal."
"Apa begini baik?"
Huuuuuuuuh
Elvano menghela nafas panjang.
'Apa yang harus aku lakukan supaya para Desainer itu bisa lebih relax, sekalipun aku sedang mengawasi mereka.'
Elvano merasa jika kehadiran nya justru membuat anak-anak di ruangan jahit merasa tegang, malah ia yang akan mendapat masalah apabila apa yang mereka hasilkan malah menjadi kacau.
Elvano merebahkan punggungnya ke belakang senderan kursi yang empuk itu sambil memejamkan mata.
'Huh ! Nyaman sekali !
Bergumam dalam hati.
Baru saja ia merasakan sejenak bagaimana rasanya menjadi seorang pimpinan, duduk dikursi yang nyaman sambil bersenderan, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
Tentu saja membuat Elvano sedikit terpelanggat.
Tok tok tok
"Eh...."
"Masuk !" Ucap Elvano sembari memperbaiki penampilannya.
'Begitu kan seharusnya?'
Hihihi
Mendengar jawaban dari balik pintu, Jenika pun masuk dengan membawa setumpuk berkas yang sangat banyak.
Ia sudah menanyakan kepada Manager Billy apa yang harus ia laporkan kepada Kepala Gudang barunya, dan Manager Billy menyuruh nya membawakan semua berkas yang ada padanya kepada Elvano, membuat Elvano sedikit kaget.
"Eh, Nona, ma-maaf maksud aku Jeni, sini saya bantu !" Elvano berlarian kecil ke arah Jenika bermaksud untuk membantunya membawakan setumpuk berkas yang ada ditangan Jenika.
"Eh, tidak apa-apa Pak, saya bisa bawakan ini, kalau Bapak menyentuh nya justru ini bisa roboh seketika !" Jawab Jenika
Eh, benar juga yang ia katakan.
"Baik, kalau begitu. Letakan disitu saja !" Elvano menunjuk sebuah meja kecil di pojok ruangan itu.
Elvano akhirnya membiarkan Jenika membawa nya sampai ke meja tamu yang ada diruangannya.
'Semua berkas ini harus aku kerjakan sendiri?'
Elvano menepuk jidatnya.
Sebenarnya semua berkas itu data nya sudah dimasukkan kedalam komputer Jenika, dan juga sudah ditransfer kedalam komputer yang ada diruangan Elvano, kedua komputer itu memang sengaja diatur supaya saling berhubungan untuk mempermudah tranfer data.
Melihat wajah Elvano yang kebingungan menatap segunung berkas yang terletak dimeja tamu nya, membuat Jenika memalingkan wajahnya untuk tertawa kecil.
Ya, berkas itu memang sangat banyak. Itu adalah isi data selama kurang lebih 10bulan. Karna saat Elvano masuk yaitu pada bulan Oktober, jadinya itu berkas dari bulan Januari hinggah Oktober, per 1tahun Perusahaan Indos Perkasa memang akan melakukan pengecekan stok tepatnya dibulan Desember.
Nah, bisa dibayangkan, jika dikerjakan sendiri oleh Elvano, bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan pula pasti. Apalagi Elvano juga belum begitu mengerti dibidang ini.
"Pak, berkas-berkas ini sudah ada dikomputer Bapak..." Ucap Jenika sambil tersenyum. Ia sedikit memancungkan mulutnya ke arah meja kerja Elvano, disana sudah ada komputer milik Elvano sendiri.
Elvano juga ikut memutar kepalanya mengarah kearah komputer itu berada
Fiiiiiiiiiiuh
Ia bernafas lega mendengar itu.
"Lalu berkas-berkas ini untuk apa?"
"Oh ini, tadi saya menanyakan kepada Pak Billy apa yang harus saya laporkan kepada Bapak. Dan beliau menyuruh saya membawakan semua berkas ini ke ruangan Bapak, berkas ini bisa disimpan di ruangan Bapak katanya." Jenika menjelaskan panjang lebar.
"Tunggu ! Memangnya kamu tidak tau apa yang harus kamu lakukan kepada Kepala Gudang sebelumnya? Kenapa masih harus menanyakannya pada Pak Billy?" Elvano bertanya karna penasaran
"Eh, maaf Pak ! Sebelumnya belum pernah ada Kepala Gudang di siff malam." Jawab Jenika.
"Oh ya?" Apakah sebelumnya juga tidak ada pengawas yang bertugas mengawasi Desainer? " Elvano menambah pertanyaannya
Jenika menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
Sepertinya saya sudah pernah memberitahukan pada nya deh tadi. Apa ia lupa, atau tidak mendengarnya ya.
Jenika memang sudah memberitahukan pada Elvano tadi, tapi Elvano sedang tidak memperhatikannya, karna ia masih agak gugup saat itu, jadinya pikirannya saat itu masih sangat tidak fokus.
"Maksud kamu apa di siff pertama, Kepala Gudang disana juga tidak pernah mengawasi para Desainer?"
"Tidak Pak !" Sekali lagi Jenika menggelengkan kepalanya.
'Jadi dugaan ku benar?'
"Baik lah ! Kamu boleh keluar Jeni !" Elvano memberi perintah pada Jenika layaknya seorang pimpinan.
"Ba-baik Pak ! Oh iya, satu lagi Pak, kata Pak Billy, jika Bapak memiliki waktu lebih, Bapak juga bisa sekaligus memeriksa data-data yang saya bawakan ini, barangkali ada yang salah atau setidak nya supaya Bapak bisa mengenal barang-barang yang ada di Perusahaan ini." Tambah Jenika sebelum meninggalkan ruangan itu.
"Iya baik lah ! Terimakasih Jeni atas bantuan mu."
"Baik pak, sama-sama ! Saya permisi Pak !" Jenika pamit lalu keluar dari ruangan itu meninggalkan Elvano yang kebingungan.
'Jadi benar, tenyata baru kali ini para Desainer itu diawasi, pantas saja mereka begitu tengang saat aku di sana."
Baik lah ! Sepertinya aku harus mencari cara bagaimana menghadapi mereka supaya mereka tidak canggung lagi.
Elvano duduk kembali dikursi kebesarannya sambil berpikir keras harus melakukan apa setelah ini.