
Sekitar 20 menit kemudian, Pak Sopir menghentikan laju kendaraannya di depan sebuah bangunan mewah yang merupakan kediaman keluarga Setiono.
Lalu turun dari mobil dan mengitari mobil itu ke arah belakang untuk membukakan pintu mobil bagi Nona Mudanya.
Jegrek
Mendengar suara pintu mobil membuat Cheril tersadar dari lamunannya.
"Silahkan turun Nona!" Ucap Pak sopir sopan.
Eh, dimana ini .... Wow .... Bangunan ini mewah sekali ....
Cheril berdecak kagum di dalam hati.
Dirinya baru tersadar dengan bangunan mewah yang ada di hadapannya.
"Nona .... Nona .... Nona .... "
Berulangkali Pak sopir memanggil Cheril tanpa mendapatkan jawaban. Karena saat itu, Cheril kembali melamun, kali ini ia lebih merasa kagum dengan bangunan mewah yang ada di hadapannya itu.
"Nona .... Kita sudah tiba ... Anda bisa turun sekarang ... "
Akhirnya untuk panggilan terakhir yang disertai dengan sederetan kalimat yang menyerupai perintah, baru menyadarkan lamunan Cheril.
"Eh .... I-iya Pak .... Aku turun!" Jawab Cheril gelagapan.
"Maaf Pak, kita ada dimana sekarang?" Tanya Cheril.
Cheril sungguh merasa sangat penasaran.
"Silahkan masuk Nona! Ini adalah rumah Tuan Muda Elvano." Jawab Pak Sopir jujur.
Apa .... Jadi ini rumah Vano ... Wow ... Ternyata Elvano sekaya ini ya ....
Cheril kembali bertanya-tanya di dalam hatinya. Rasa penasarannya semakin memuncak. Ia benar-benar tidak pernah berpikir Elvano memiliki kekayaan yang sebesar ini.
Dan akhirnya Cheril melangkah dengan anggun namun juga sedikit kikuk, menuju pintu utama.
Ketika melihat Cheril, para pengawal yang ada di sana segera menundukkan tubuh mereka.
Sementara Cheril, ia merasa seperti sedang bermimpi diperlakukan Bak seorang selir yang sedang berjalan menuju ke istananya.
Selain bangunan mewah, berbagai pernak-pernik yang menghiasi rumah itu juga menjadi perhatian tersendiri bagi Cheril.
Sepertinya akan ada pesta yang akan diadakan di tempat ini ....
Pikir Cheril di dalam hatinya. Terselip rasa kagum yang tak berkesudahan.
Ya, kediaman keluarga Setiono hari ini memang sudah dihias dengan berbagai aksesoris dari gerbang masuk, meliputi ruang tamu hingga taman belakang.
Tok tok tok tok
Pak sopir mengetuk pintu. Membuat Cheril sedikit kaget, sebab dirinya terus melamun di setiap langkahnya.
Jegrek
Pak Didi yang membukakan pintu saat itu. Dan ia bisa menebak dengan baik, Ia yakin, wanita yang sedang bersama Pak sopir adalah Cheril. Nona Muda keluarga ini.
Tentu saja Pak Didi segera menundukan tubuhnya memberi hormat.
"Selamat pagi Nona." Ucap Pak Didi sopan sambil menundukkan tubuhnya.
"Eh, i-iya .... Selamat pagi Pak." Jawab Cheril canggung.
"Eh .... Cheriiiiilll ...."
Tiba-tiba terdengar suara yang sangat tidak asing dari dalam rumah mewah tersebut.
Yang menyebut nama Cheril. Dan tentu Cheril masih bisa mengenali suara itu dengan sangat baik. Walaupun dirinya sudah sangat lama tidak mendengar suara itu.
"Kak Adriel .... " Tanggap Cheril sambil memiringkan kepalanya untuk memastikan dengan jelas, bahwa suara itu adalah milik Adriela, kakak satu-satunya Cheril.
Cheril kemudian melangkah masuk ketika Pak Didi membukakan pintu lebih lebar lagi. Dan ia sungguh mendapati kakaknya sedang berada di hadapannya.
"Kakak .... Ini sungguh Kak Adriel? Bagaimana bisa Kakak bisa berada di sini?"
Kedua Kakak Adik ini sudah saling berpelukan di depan pintu utama untuk melepaskan rasa kangen mereka. Cheril sungguh tidak menyangka bisa bertemu dengan kakaknya di sana.
"Tidak hanya Kakak yang ada di sini .... Ayah dan Ibu juga ada. Bahkan juga kedua sahabatmu ... " Jelas Adriela
"APA?"
"Bagaimana bisa kalian semua bisa berada di tempat ini? Aku bahkan baru kali ini menginjakkan kakiku di tempat ini."
Cheril sangat tidak habis pikir dengan apa yang ia alami saat itu. Semua itu sungguh terasa seperti mimpi.
Sementara Orang-orang yang disebutkan oleh Kak Adriel sudah muncul satu per satu di hadapan Cheril termasuk juga Ibu Anita.
Cheril hanya terdiam dengan kedua tangannya menutup mulutnya yang menganga, sambil melemparkan pandangan ke arah mereka semua satu per satu. Lalu juga memeluk mereka semua satu per satu.
Tak hanya orang-orang tersebut, Ayah William juga Ibu Winda pun ikut menampakkan dirinya. Juga ada Flo dan Valen yang merasa sangat kagum dengan kecantikan alami Cheril.
Setelah selesai memeluk semua orang yang ia kenal, kali ini Cheril berhadapan dengan keluarga Elvano. Ibu Winda yan lebih dulu maju, Cheril memang sudah mengenal orang ini.
"Selamat pagi Tante." Sapa Cheril.
"Eh, kok masih panggil Tante?" Protes Ibu Winda dengan wajah cemberut.
"Ah, i-iya, maksudnya selamat pagi I-Ibu." Ucap Cheril malu-malu.
Dan Ibu Winda tersenyum mendengar itu.
"Selamat pagi Cheril." Balas Ayah William sambil tersenyum.
Kemudian mata Cheril terhenti pada kedua gadis imut yang berada di hadapannya.
"Hai .... Aku Flo kak .... Dan ini Kakak aku .... Valen. Kami adalah adik dari Kak Vano." Ucap Flo menyapa Cheril sekaligus memperkenalkan dirinya juga sekaligus kakaknya, Valen.
Semua yang ada di sana tersenyum menyaksikan kepolosan yang ditampilkan oleh Flo. Termasuk juga Cheril.
"Eh .... Hai .... Kenalkan, aku Cheril .... Mmmm .... Aku adalah .... "
_
_
_
"Dia adalah istri Kakak kalian yang ganteng ini .... " Sambung Elvano yang tiba-tiba muncul dari dalam.
"Eh ....
Semua orang yang ada di sana pun melemparkan pandangan mereka ke arah Elvano.
Kemudian, laki-laki tampan itu berjalan dengan anggun menuju ke arah Cheril, dan langsung merangkul leher Cheril.
Sementara Cheril, wajahnya sudah memerah seketika.
So sweet ..... Ah, Cheril ... Kamu sungguh membuat ku iri ...
Ucap Nikita dalam hati. Memang dia yang menampilkan ekspresi terheboh pada saat itu.
" Sudah cukup perkenalannya. Dia adalah milikku. Aturan terbaru, tidak ada yang boleh memandang dan berbicara sangat serius dengan Istriku dalam waktu lebih dari 2 menit!" Titah Elvano.
Eh, Aturan konyol apa ini .... Selalu berucap seenaknya saja.
Protes Cheril dalam hati.
Wajah Cheril sudah semakin memerah. Ia merasa sangat malu dengan semua orang yang ada di sana karena aturan konyol yang diucapkan oleh Elvano.
Sedangkan semua orang yang ada di sana hanya tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala mereka setelah mendengar aturan aneh itu.
"Yasudah .... Ayo kita berkumpul di ruang santai!" Ajak Ibu Winda.
Dan mereka semua segera membubarkan diri dari tempat tersebut menuju ruang santai. Kecuali Cheril dan Elvano.
"Eh, kenapa kita tidak ikut mereka?" Protes Cheril.
"Kamu tidak mendengar apa yang aku ucapkan tadi?"
"Eh ....
Jadi dia serius dengan ucapannya itu ....
"Sekarang kamu harus ikut aku ke atas!" Perintah Elvano.
"Mau kemana?" Cheril kembali melempar pertanyaan.
"Pokoknya kamu ikut saja. Jangan banyak protes. Atau kamu mau aku ci ...."
"Ah .... Baiklah!" Jawab Cheril sesegera mungkin sebelum Elvano menyelesaikan kalimatnya.
Elvano pun tersenyum puas dengan kemenangan yang ia dapatkan.
Padahal dia kan memang selalu mendapatkan kemenangan itu.
Lalu kedua orang ini berjalan saling berdampingan dengan tangan Elvano yang merangkul bahu Cheril menuju ke arah lift untuk naik ke lantai atas.
Sekali lagi, Cheril merasa sangat kagum dengan bagian dalam dari bangunan mewah itu. Rumah mewah tersebut bahkan terdapat lift. Cheril sungguh terpanah akan semua yang ia saksikan.
"Sayang, apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Cheril.
"Ya .... Apa yang ingin kamu tau?"
"Bagaimana bisa kedua orangtuaku, Kakak Adriel, juga yang lainnya bisa berada di sini?" Ucap Cheril kemudian.
"Oh .... Soal itu ya .... Nanti kamu juga akan segera tau kok ... "
Elvano masih belum berniat untuk memberitahukan semua yang sedang ia rencanakan pada Cheril. Cheril pun hanya bisa memasang wajah cemberut.
Cup
Satu kecupan mendarat di bibir Cheril membuat wanita berparas ayu itu kaget seketika.
Ah .... Dia memang selalu berlaku seenaknya saja ... Huuuuuuh ....
"Sayang, apa di tempat ini akan diadakan pesta? Acara apa?" Tanya Cheril lagi.
Ting tong
Belum sempat Elvano membalas, lift yang ditumpangi mereka sudah terbuka kembali.
"Ayo, kita keluar dari sini!" Titah Elvano. Ia sengaja mengalihkan perhatian Cheril.
Mereka berdua melangkah keluar dari lift menuju sebuah ruangan yang ada di depan.
Saat tiba di depan ruangan tersebut, Elvano segera membukakan pintu.
Jegrek
Ketika pintu terbuka, Mata Cheril melototkan seketika. Dengan kedua tangannya yang ikut terangkat untuk menutup mulutnya yang terbuka.