
Setelah selesai dengan kejutan kecil yang diberikan keluarga Elvano pada Cheril, pasangan ini kembali ke kamar mereka untuk mandi pagi.
Dan anggota keluarga yang lain juga ikut melakukan rutinitas itu. Hanya Ibu Winda dan Ayah William yang sudah selesai melakukan rutinitas tersebut. Kedua orangtua ini memang sudah terbiasa mandi sangat awal.
Saat ini Cheril dan Elvano sudah berada di dalam kamar mereka. Pasangan ini memilih mandi bergantian karena kamar mandi yang ada di dalam kamar tidur mereka hanya ada satu saja. Elvano mengalah pada Cheril, dia meminta Cheril mandi lebih dulu karena dia tau wanita pasti mandinya lebih lama. Belum lagi soal merias diri.
Setelah keduanya selesai menjalani aktivitas mereka yang satu ini, Elvano terlihat membantu Cheril mengeringkan rambutnya yang sangat panjang.
Elvano terpanah melihat rambut indah itu. Dia pun mendekatkan wajahnya ke arah rambut Cheril, menghirup wewangian rambut itu dalam-dalam, wewangian khas yang sangat disukai Elvano. Rasanya sangat menenangkan.
"Sayang, rambut kamu sangat harum." Ucap Elvano masih sambil mencium rambut Cheril.
Sementara Cheril hanya tersenyum mendengar itu.
Cheril memang selalu merawat dirinya dengan sangat telaten. Dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tak hanya rambutnya yang harum, namun tubuh Cheril juga memiliki wewangian khas yang sangat nyaman.
Bib bib bib bib bib
Saat Elvano masih menikmati wewangian rambut Cheril, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan bunyi ponselnya.
Elvano pun harus melepaskan rambut indah milik istrinya itu menuju meja kecil untuk mengambil ponselnya.
"Halo .... " Elvano menjawab telepon. Dan itu dari Niko.
"Hallo No, semua yang kamu pesan sudah siap." Ucap Niko memberi laporan.
"Baguslah .... Kami akan segera menuju ke sana." Tanggap Elvano sambil tersenyum.
Setelahnya panggilan itu sudah terputus begitu saja.
"Telepon dari siapa sayang?" Tanya Cheril dengan suara sedikit keras dari meja rias.
"Dari Niko sayang. Kita akan pergi ke suatu tempat setelah ini. Kamu bersiap-siaplah!" Perintah Elvano.
"Eh, memangnya kita mau kemana? Kamu tidak kerja?" Tanggap Cheril.
"Nanti kamu juga akan tau. Aku belum masuk kantor. Kan kita baru saja menikah. Mungkin aku akan libur beberapa hari. Manager Li akan mengurus semua pekerjaanku." Jelas Elvano panjang lebar. Saat ini Elvano sudah berada di dekat Cheril dan sudah mencium rambut Cheril kembali.
"Tapi kita mau kemana?" Cheril kembali melemparkan pertanyaan yang sama.
"Aku kan sudah bilang, nanti kamu juga akan tau. Yang jelas kamu pasti akan menyukai tempat ini." Ujar Elvano sambil memeluk Cheril dari belakang.
Sementara Cheril yang tidak mendapatkan jawaban membuat dirinya semakin penasaran.
"Ya, tapi kan aku harus tau, kamu akan mengajak aku kemana, supaya aku bisa mengenakan pakaian yang pas."
Cheril mencoba mencari alasan agar Elvano mau memberitahukan kemana mereka akan pergi. Namun sekeras apapun dia berusaha Elvano tetap tidak memberitahukan pada Cheril. Ini adalah sebuah kejutan, jadi dia tidak mungkin memberitahukan pada Cheril.
"Apapun yang kamu kenakan akan terlihat pas sayang. Sudahlah .... Ayo siap-siap. Jika kamu terus bertanya, aku malah akan memakan mu. Dan kita pun tidak akan jadi pergi." Ancam Elvano yang membuat wajah Cheril memerah seketika.
Cup
Lalu keduanya segera beranjak untuk menyiapkan diri mereka masing-masing.
Elvano terlihat memilih pakaian yang agak santai, dengan kaos oblong berwarna putih yang dikombinasikan dengan celana jeans panjang berwarna biru tua.
Sementara Cheril memilih mengenakan mini dress bertangan yang panjangnya di atas lutut dengan warna putih. Lalu memberikan polesan tipis di wajahnya. Rambutnya yang panjang diurai begitu saja.
Penampilan mereka tampak sangat serasi. Sewarna, seirama dan selaras.
Sungguh pasangan yang sangat serasi.
Setelah selesai mempersiapkan penampilan masing-masing, kedua orang ini juga saling berpandangan, saling mengagumi satu sama lain.
"Sayang, kamu sudah siap?" Tanya Elvano.
"Iya, aku siap." Jawab Cheril singkat.
"Kalau begitu ayo kita jalan sekarang! Kita masih harus sarapan di bawah." Ajak Elvano sambil merangkul pinggang Cheril.
Dan Mereka berdua segera berlalu dari kamar menuju tangga. Sebelum pergi, mereka memang akan makan pagi bersama anggota keluarga Elvano yang lainnya. Masih dalam momen merayakan hari ulang tahun Cheril.
Setelah tiba di lantai bawah, seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan, Cheril dan Elvano pun segera menuju meja makan untuk makan bersama.
Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama, acara makan pagi pun selesai digelar. Dan pasangan ini kembali beranjak menuju mobil setelah berpamitan.
Seluruh anggota keluarga Elvano memang sudah tau Elvano akan memberikan kejutan ulang tahun selanjutnya pada Cheril, hanya Cheril yang tidak tau apa yang sedang Elvano rencanakan untuk dirinya.
Saat itu Niko sudah berada di luar menunggu pasangan ini, ia segera membukakan pintu mobil bagi Cheril dan Elvano ketika melihat mereka keluar dari rumah mendekati mobil. Setelahnya mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang menuju suatu tempat yang akan membuat Cheril kaget namun pastinya ia juga akan lebih bahagia dari kejutan pertamanya tadi.
Sekitar 20 menit kemudian mobil mereka sudah memasuki area bandara. Yup, mereka akan bepergian jauh.
"Sayang, kenapa kita ke bandara? Kita mau kemana? Kita kan tidak membawa pakaian ganti." Ucap Cheril panjang lebar.
"Kita akan menuju kota XX sayang." Jawab Elvano santai, sambil memainkan ujung rambut Cheril dan sesekali menghirup wewangian yang sangat ia sukai itu.
Mendengar ucapan Elvano, membuat Cheril melototkan matanya seketika. Kaget, bercampur senang. Wajahnya tampak berseri-seri. Namun dia masih berpikir, mungkin dia hanya salah dengar.
"Sayang, apa kamu berkata kita akan ke kota XX? Aku tidak salah dengar kan?" Tanya Cheril ingin meyakinkan diri. Sambil memutar wajahnya melihat ke arah Elvano.
"Iya. Kita akan ke sana. Apa kamu senang?" Tanya Elvano balik sambil membalas tatapan Cheril.
"Hm mm ... Aku senang. Sangat senang malah." Tanggap Cheril, Dan segera berhambur memeluk tubuh Elvano.
Tentu saja Elvano tidak tinggal diam, ia juga mengangkat tangannya mengusap-usap kepala Cheril hingga punggungnya perlahan. Dan juga mengecup libur kepala Cheril.
Tak lama kemudian, mereka telah tiba di parkiran eksklusif yang ada di bandara. Niko segera memarkirkan mobil mereka dan setelahnya ketiga orang ini menuju ke arah lift yang langsung tertuju ke jalur pesawat jet milik keluarga Elvano.
Sekali lagi, Cheril terpanah dengan pesawat jet yang ada di hadapannya. Ia sama sekali tidak menyangka ternyata keluarga Elvano bahkan memiliki pesawat jet. Cheril semakin penasaran, siapa Elvano sebenarnya. Hingga saat ini, Cheril memang belum tau, Elvano adalah Presdir dari Astra Investama Group yang sangat besar itu.