
Hallo kakak, Mohon maaf sebelumnya. Untuk bab sebelumnya silahkan dibaca ulang, karna ada revisi total ceritanya ya ! Mohon dimaafkan untuk kelalaian ini. Dan mohon dimaklumi karna konsentrasi saya masih terbagi dua. antara revisi bab sebelumnya dengan menulis kelanjutan dari cerita ini.🙏
***********
Keesokan paginya
Pagi ini dikediaman Niko, Semua barang sudah dipacking dengan rapi. Niko beserta Ibunya sudah siap untuk pindah dari kota XX ini menuju ke kota X bersama Elvano. Mereka sudah sangat siap untuk menyambut kehidupan mereka yang baru.
Sementara dikediaman Ibu Anita, Elvano sendiri juga sudah rapi. Saat ini ia sedang sarapan dengan menu kesukaannya. Yaitu semur Jengkol. Sekali lagi, Elvano membuat kaget Manager Billy. Manager Li juga tidak menyangka pria tampan itu ternyata menyukai menu yang satu ini. Ia sampai tidak mengedipkan matanya melihat Elvano makan begitu lahap hanya dengan semur jengkol yang ada dipiringnya. Padahal jelas-jelas ada berbagai menu yang tersedia diatas meja, namun Elvano hanya memilih menu itu saja.
Elvano sama sekali tidak merasa terganggu dengan tatapan Manager Li. Sebelumnya Pak Supir juga kaget melihat dirinya suka makan jengkol, jadi Elvano sudah tidak heran melihat Manager Li yang juga ikut kaget kali ini.
Ia justru merasa heran kenapa kedua orang ini tidak menyukai menu favoritnya itu. Padahal baginya menu yang satu ini adalah menu yang paling enak dari semua menu yang ada di dunia ini.
Setelah selesai dengan makan pagi itu, Elvano segera menghubungi Niko memastikan dia juga sudah siap. Karna mereka akan berangkat tepat pukul 10 pagi.
Dan ternyata pada saat ia menghubungi Niko, Erik juga sedang ada disana. Erik ingin mengantar kepergian kedua sahabatnya ini ke bandara. Iya, kali ini mereka berangkat dengan pesawat. Pak supir sendiri sudah pulang lebih dulu ke kota X kemarin sore setelah Elvano dan manager Li selesai dengan tugas mereka kemarin.
Karna waktu yang masih cukup panjang, Elvano pun mengajak Niko dan Erik bertemu lebih awal. Ia lalu meminta Erik mengantar Niko beserta Ibunya ke rumah Ibu Anita. Sebab rumah Ibu Anita memang lebih dekat dengan bandara.
Elvano ingin bercengkrama kecil dengan Erik, karna ia belum bertemu dengan Erik sama sekali sejak ia pulang ke kota ini. Erik saja sudah sangat murka tadi ketika Elvano menelpon Niko.
"Wah, mentang-mentang sudah menjadi Tuan Muda sudah melupakan aku ternyata."
Demikianlah yang diucapkan oleh Erik ketika merebut ponsel milik Niko pada saat Elvano sedang menelfon Niko tadi.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil berwarna hitam milik Erik sudah terparkir didepan halaman rumah Ibu Anita. Semua penumpang didalam mobil segera turun dari mobil lalu menuju ke arah rumah Ibu Anita. Kebetulan pintu rumah memang tidak dikunci. Elvano dan yang lainnya justru sedang berada didepan teras.
"Heh.. Bro.. Wah, Ternyata kamu memang sudah sangat mirip dengan seorang Tuan Muda !" Ucap Erik ketika melihat Elvano dari jarak yang agak dekat.
Elvano yang mendengar itu hanya memasang wajahnya yang datar. Membuat aura Tuan Muda nya semakin kelihatan.
Sementara yang lain nya tersenyum kecil mendengar apa yang diucapkan Erik. Hanya Manager Li yang memasang ekspresinya yang agak dingin juga. Ia kelihatannya tidak terlalu suka melihat Tuan Muda nya diejek seperti itu. Namun ia juga tidak akan berbuat apapun, karna ia tau Erik adalah teman dari Tuan Muda Elvano.
Erik, Elvano dan Niko memilih mengobrol didalam rumah, sementara ibu Anita dan Ibu Erik berbicara diluar.
Dan Manager Li pun lebih memilih ikut masuk kedalam. Hanya saja ia duduk terpisah di ruang tamu sendirian. Sedangkan Elvano dan yang lainnya duduk diruang keluarga.
ketiga sahabat itu berbicara banyak hal hari ini. Tidak seperti biasanya yang dimana jika bertemu mereka lebih banyak diam. Mungkin karna mereka bertiga memang sudah lama tidak berkumpul, mengingat Elvano juga sudah tidak tinggal di kota itu lagi. Dan kali ini Niko pun sudah akan pergi.
Tanpa terasa waktu pun sudah berlalu dengan sangat cepat. Sudah saat nya mereka harus berangkat. Manager Li pun menghampiri Elvano.
"Tuan Muda, sudah saatnya kita harus berangkat !" Ucap Manager Li pelan.
Elvano hanya menganggukkan kepala pelan.
"Nik, kamu sudah siap untuk berangkat?" Tanya Elvano pada Niko sambil menatap nya.
"Eh, i-iiya !" Hehehe
Jawab Niko cengengesan.
"Semangat ya Bro !" Ucap Erik pada Niko sembari menepuk pundaknya kuat. Membuat Niko menjerit pelan.
"Baiklah kalau begitu. Ayo kita berangkat sekarang !" Ujar Elvano sambil tersenyum kecil.
ada sedikit kesenangan didalam hatinya. Selain ia dapat membantu sahabat nya itu, ia juga sudah membayangkan hari-harinya kedepan akan selalu bersama-sama dengan Niko, pasti sangat menyenangkan pikirnya.
Mereka bertiga pun kemudian melangkah keluar rumah menuju mobil yang sudah terparkir. Sedangkan Manager Li, ia sudah berjalan lebih dulu. Ia sedang memindahkan tas Elvano ke mobil Erik saat ini, karna Elvano sudah memberitahukan pada Manager Li, mereka akan menggunakan mobil Erik menuju bandara.
Sebelum berangkat Elvano berpamitan dengan Ibu Anita, sedikit suasana haru terjadi pada saat itu.
"Bu, Apa Ibu yakin tidak ingin ikut Vano kembali ke kota X?" Ucap Elvano pada Ibu Anita, ia mencoba membujuk Ibu Anita kembali bersamanya.
"Tidak Vano, Ibu hanya ingin menghabiskan masa tua Ibu di tempat ini sambil mengenang kembali masa-masa kecil mu dulu." Jawab Ibu Anita sambil tersenyum.
"Kalau begitu biar Vano menemani Ibu disini ya !" Ucap Elvano seketika. Membuat semua yang mendengar melototkan matanya.
Lebih-lebih Manager Li.
"Jangan Vano ! Kamu harus tetap kembali kesana. Ibu akan baik-baik saja kok disini. kamu tidak perlu mengkhawatirkan Ibu !" Jawab Ibu Anita menanggapi perkataan Elvano sekaligus meyakinkan Elvano.
Elvano terlihat menundukkan wajahnya sesaat sebelum kemudian mengangkatnya kembali.
"Baiklah Bu, Ibu harus berjanji untuk hidup dengan baik ya ! Jika ada perlu apapun, Ibu harus segera menghubungi Vano !" Ucap Elvano kemudian dengan wajah sedih.
"Iya, sudah kamu jangan bersedih begitu ! Nanti ganteng nya hilang loh." Jawab Ibu Anita sembari mengejek.
Mendengar itu pun akhirnya Elvano tersenyum kecil.
"Yasudah, sekarang Vano berangkat dulu Bu ! Sampai jumpa lagi Ibu !" Ucap Elvano sambil berjalan menuju ke arah mobil Erik dan ia juga melambaikan tangannya ke arah Ibu Anita.
Sementara Ibu Anita juga membalas melambaikan tangan pada Elvano. Dan ia juga berusaha tersenyum selebar mungkin supaya Elvano bisa lebih tenang meninggalkan dirinya. Padahal dalam hatinya ia sungguh ingin berteriak supaya putra angkatnya itu tidak pergi.
"Bu, kami berangkat ya ! Apa Ibu sudah yakin tidak ingin ikut mengantar ke bandara?" Kali ini Erik yang mengeluarkan suara.
"Tidak perlu Rik. Cukup disini saja. Lagian sama saja kok. Kamu hati-hati ya menyetirnya !" Jawab Ibu Anita.
Ia memang tidak ingin mengantar ke bandara, karna baginya hanya akan menambah rasa tak rela untuk melepaskan kepergian Elvano nantinya. Atau bahkan Elvano justru akan semakin tidak rela juga meninggalkan Ibu Anita.
"Baiklah kalau begitu. Kami jalan sekarang ya Bu ! Bye..." Ucap Erik mengakhiri pembicaraan sambil mengangkat tangannya melambaikan tangan ke arah Ibu Anita. Yang lainnya juga ikut melambaikan tangan mereka. Hanya Elvano yang tertunduk diam. Ia masih merasa sedikit tidak rela meninggalkan Ibu yang sudah membesarkannya itu.
Sesaat kemudian mobil Erik pun sudah melaju meninggalkan rumah Ibu Anita menuju bandara.