Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Kedatangan Tika


Selain obrolan santai, mereka juga menggelar foto keluarga. Walaupun tetap saja ada aksi konyol dari Elvano yang tidak memperbolehkan Cheril berdekatan dengan yang lain nya ketika sedang berfoto. Sang Fotografer pun harus menuruti permintaan Elvano. Selain itu berbagai upacara adat juga diikuti oleh Elvano dan Cheril yang dipimpin oleh pemuka agama, juga pendamping pengantin. Ya, kali ini kedua insan ini menikah layaknya pasangan normal.


Setelah serangkaian acara usai, tak terasa waktu sudah semakin sore. Saat ini jam di dinding sudah menunjukkan pukul 17.00. Cheril dan Elvano diminta oleh pendamping pengantin menuju ke pelaminan belakang.


"Pelaminan belakang maksudnya apa Vano?" tanya Cheril Bingung.


"Ikuti saja .... Nanti kamu juga akan tau. " jawab Elvano sambil tersenyum.


Kedua pengantin ini melangkah perlahan sesuai dengan yang diinstruksikan oleh petugas yang bertugas untuk mengambil video momen penting mereka.


Ketika tiba di taman belakang, mata Cheril melotot seketika. Salah satu tangannya yang tidak digandeng oleh Elvano terangkat menutup mulutnya yang terbuka lebar. Cheril terpanah akan keindahan taman belakang yang belum ia ketahui.


Tempat ini indah sekali ....


Gumam Cheril dalam hati. Cheril sangat mengagumi keindahan taman itu.


Langkah demi langkah, perlahan tapi pasti, kedua insan yang sedang dilanda asmara ini telah tiba di atas pelaminan. Keduanya lalu duduk di sana dan diikuti kedua orangtua mereka yang ikut duduk di kursi samping kiri kanan pengantin yang sudah disediakan oleh panitia IO.


"Sayang .... Ini sangat indah ... " ujar Cheril kagum. Wajahnya terlihat sangat bahagia.


"Kamu suka?" tanya Elvano.


"Hm mm .... Aku suka banget!" jawab Cheril mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Terimakasih sayang!" ucap Cheril sambil mempererat rangkulannya.


Saat itu kedua pasangan ini memang sedang saling merangkul.


Sementara Elvano tidak menjawab apapun. Ia hanya tersenyum puas saat melihat Cheril begitu bahagia.


Sesaat kemudian, tamu sudah mulai berdatangan. Satu per satu tamu undangan menaiki pelaminan untuk memberikan selamat kepada kedua pengantin.


Apa yang ditakutkan oleh Cheril sungguh terjadi. Tak seorangpun dari tamu undangan yang berhasil menjabat tangan Cheril. Bahkan seorang anak kecil saja tidak diperbolehkan Elvano menyentuh tangan Cheril. Dia akan segera menepis setiap tangan yang ingin menyalami Cheril. Jika tidak, ia yang akan segera menjabat tangan yang terulur ke arah Cheril.


Dan apabila ada yang menatap Cheril Elvano juga akan murka seketika.


"Heh! Jangan menatap istriku seperti itu!"


"Pelayan .... Sediakan sebuah karton besar, dan tulis yang jelas, dilarang menatap pengantin wanita lebih dari 5 detik!" titah Elvano akhirnya.


Jadilah kalimat tersebut diletakkan di depan pelaminan. Membuat setiap orang yang membaca tulisan itu kebingungan. Tetap saja para tamu undangan menatap Cheril. Dan Elvano menjadi sangat murka.


"Heh! Kalian buta? Baca tulisan di depan!"


Atau jika tidak, Elvano akan melototi setiap tamu yang melirik Cheril.


Kedua orangtua Cheril dan kedua orangtua Elvano hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka. Termasuk juga Cheril. Memang tidak ada yang bisa mereka lakukan. Elvano sama sekali tidak menggubris masukan dari kelima orang ini.


Niko yang menyaksikan semua kejadian memalukan itu dari kejauhan juga ikut menggeleng-gelengkan kepalanya.


Hari sudah semakin larut. Ribuan tamu sudah memenuhi ruang tamu juga taman belakang yang sudah disulap menjadi tempat pesta.


Hampir semua tamu undangan sudah menghadiri undangan Elvano. Masih ada beberapa tamu saja yang belum hadir, salah satunya adalah Tika.


"Tuan Muda, 5 menit lagi kita akan memasuki puncak acara." ucap pendamping pengantin.


"Baiklah." tanggap Elvano singkat.


Setelah mendapat persetujuan Elvano, pendamping pengantin segera memberikan kode pada bagian panitia IO supaya mereka mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk puncak acara yang akan segera digelar.


Tepat 5 menit kemudian, pendamping pengantin kembali memberi kode pada Elvano supaya segera turun dari pelaminan untuk melakukan kegiatan puncak acara.


Pada saat yang bersamaan, Tika tiba di kediaman Setiono. Ia datang bersama kedua orangtuanya.


Mereka bertiga segera melangkah masuk menuju taman belakang.


Terlihat raut kekecewaan yang teramat dalam pada wajah Tika juga ayahnya. Walaupun masih kesal dengan penolakan Elvano tentang perjodohan waktu itu, mereka tetap memilih menghadiri pesta ini demi perusahaan keluarga mereka.


Sudah bagus, Elvano masih mengundang mereka, dan tidak menghancurkan perusahaan mereka karena rencana jahat yang sudah dilakukan kedua Ayah dan Anak itu.


Tika memandang lekat ke atas pelaminan, Elvano dan Cheril sudah hendak turun dari sana. Dengan segera Tika bersama kedua orangtuanya melangkah menuju pelaminan sebelum kedua pengantin ini benar-benar turun dari pelaminan.


Setibanya di atas pelaminan, Tika menatap Elvano dan Cheril lekat secara bergantian, dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Cheril merasa sedikit heran kali ini, karena Elvano membiarkan Tika menatapnya begitu lama dan dengan tatapan yang sangat serius.


Apa wanita ini pacar Vano .... Atau orang yang pernah dicintai oleh Vano .... Vano bahkan hanya diam saja ketika dia menatap ku seperti itu.


Cheril bertanya-tanya di dalam hati.


Entah kenapa Cheril sedikit tidak menyukai Tika.


Setelah puas memandang Cheril dan Elvano bergantian, tiba-tiba Tika memeluk Elvano.


Membuat Cheril tersentak seketika.


Wajah Cheril yang sebelumnya terlihat sangat berbahagia sudah berubah murung seketika.


Sementara Elvano masih diam tak bergeming. Membuat Cheril semakin yakin, Tika adalah wanita yang pernah atau bahkan masih dicintai oleh Elvano.


Cheril terus berargumen di dalam hatinya.


"Lepaskan pelukanmu itu, jika tidak ingin aku hancurkan perusahaan Ayahmu!" bisik Elvano pelan.


"Iiiiisshh .... " Tika mengumpat kesal sambil melepas pelukan itu. Lalu melemparkan tatapan sinis ke arah Cheril. Dan setelah itu segera berlalu dari atas pelaminan meninggalkan rasa penasaran yang sangat dalam di hati Cheril.


Sesi puncak acara pun segera digelar setelah Tika dan kedua orangtuanya berlalu dari pelaminan. Namun Cheril terlihat tidak menikmatinya sama sekali. Termasuk Wedding Kiss yang diadakan. Ia terlihat sangat murung membuat Elvano bertanya-tanya di dalam hati.


"Sayang, kamu kok sepertinya sangat lesu. Ada apa?" tanya Elvano akhirnya, ketika mereka sudah selesai menggelar puncak acara dan kembali ke atas pelaminan.


"Eh .... Tidak apa-apa." jawab Cheril singkat.


"Tidak apa-apa bagaimana? Jelas-jelas kamu terlihat sangat lesu. Apa kamu sakit?"


Elvano mulai khawatir. Ia bahkan sudah memeriksa dahi Cheril.


"Nggak kok." Cheril kembali menjawab singkat.


Ya, memang tidak panas.


"Lalu kenapa kamu jadi murung begini?"


Elvano menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku kan bilang, aku tidak apa-apa. Apa kamu tuli?" murka Cheril.


"Eh .... Kenapa kamu marah?" tanya Elvano bertambah bingung.


"Sudah ah .... Aku mau ke toilet dulu!" ujar Cheril sambil melangkah pergi.


"Eh ....


Kenapa dia tiba-tiba bersikap sedingin ini ....


Elvano masih bertanya-tanya. Ia masih belum menyadari apa yang membuat Cheril bersikap seperti itu.


Melihat Cheril pergi meninggalkan pelaminan begitu saja, Niko datang menghampiri Elvano. Niko memang sudah menyaksikan semua yang terjadi sejak tadi. Sekalipun Jauh dari Elvano, Niko diam-diam selalu memperhatikan Elvano.


"Kenapa No?" tanya Niko.


"Eh .... Entahlah .... Cheril sepertinya marah padaku. Tapi kenapa dia marah ya?"


Ternyata Tuan Muda ini tidak tau alasan istrinya marah ....


"No .... Coba kamu ingat-ingat lagi, Sejak kapan Cheril bersikap dingin seperti tadi?" tanya Niko lagi.


Elvano pun mencoba mengingat-ngingat kembali kapan Cheril mulai bersikap aneh. Dan ia mulai mengingatnya dengan baik.


"Sejak Tika tiba ... Iya, sejak wanita itu tiba." ucap Elvano yakin.


"Sekarang kamu tau kenapa Nona Muda bersikap seperti itu?" Niko kembali melempar pertanyaan.


"Tidak." jawab Elvano singkat.


Membuat Niko menepuk jidatnya.


"Tuan Muda, Cheril sedang cemburu .... Paham?" ucap Niko akhirnya.


"Oh .... Jadi dia cemburu?"


kali ini wajah bingung Elvano sudah berubah senyam-senyum. Dia terlihat senang saat mengetahui Cheril sedang cemburu.


Tak lama kemudian, Cheril sudah kembali ke pelaminan. Dan Niko pun sudah berlalu dari sana.


"Heh .... Kamu cemburu ya?" goda Elvano


"Eh .... Apaan? Tidak!" jawab Cheril ketus.


Hahahahaha


"Masih tidak mau mengakuinya? Tapi aku senang kok kamu cemburu ... Kamu jadi manis begini saat sedang cemburu." rayu Elvano sambil senyum-senyum tidak jelas.


Sementara Cheril sama sekali tidak menggubris omongan Elvano.


"Jangan dipikirkan. Wanita itu bukan siapa-siapa aku kok. Aku hanya mencintaimu seorang. Paham?" jelas Elvano.


"Apa benar? Coba buktikan!" tantang Cheril.


"Eh .... Kamu sudah berani menantang ku?"


"Eh ....


Ah ... Kenapa juga aku menantang laki-laki ini ... Bagaimana sekarang ....


Kali ini malah Cheril yang ketakutan.


"Baiklah ... Aku akan buktikan padamu bahwa cintaku seluas samudera, dan hanya untuk mu seorang." ujar Elvano akhirnya.


Yup. Elvano memang sudah menyiapkan kejutan ini. Iya tidak menyangka, malah akan ada momen sebaik ini dalam menunjukkan kejutan besarnya itu.