Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Episode 129


#Monolog


Pagi ini Ibu Winda terbangun cukup pagi yaitu pukul 4 subuh ia sudah terjaga. Sementara Tuan William yang menyadari istrinya menggeliat diatas tempat tidur, ia juga ikut terjaga. Saat itu keduanya masih dalam posisi berbaring di ranjang tanpa busana hanya berbalutkan selimut yang menutupi tubuh mereka.


"Eh, kamu sudah bangun Win?" Ucap Tuan William sembari mengucek matanya pelan. Lalu kembali meraih tubuh istrinya dan memeluknya erat dari belakang.


"Iya Will.. Aku teringat dengan Elvano.." Jawab Winda. Sementara tangan Tuan William sudah mulai nakal lagi karna menyadari istrinya masih belum berbusana.


"Sudahlah.. Tidak perlu dipikirkan. Nanti kita kesana!" Ujar Tuan William. Ia sudah semakin fulgar saat itu.


"Kamu mau apa lagi Will? Aku mau bangun!" Kata Winda sembari berusaha melepaskan tangan Tuan William dari tempat favoritnya. Namun Winda gagal melakukan itu, karna ia tidak memiliki tenaga yang cukup untuk melawan tangan nakal itu.


"Nanti saja.." Ucap Tuan William singkat sambil memberikan kecupan di leher istrinya membuat Winda merinding seketika. Lalu dengan cekatan ia sudah hendak membalik tubuh Winda menghadap nya. Membuat Winda sedikit tersentak.


"Eh... Mau apa lagi kamu?" Tanya Winda.


Sementara yang ditanya bukannya menjawab, ia malah tersenyum penuh arti.


"Tidak.. Jangan melakukannya lagi!" Ucap Winda yang sudah mengerti maksud dari ekspresi itu.


"Ayolah sayang! Aku masih kangen kamu!" Tuan William malah berusaha membujuk istrinya.


"Tidak! Aku tidak mau melakukannya lagi!" Ujar Winda membuat Tuan William memanyunkan bibirnya seketika.


Namun Tuan William sama sekali tidak menghiraukan istrinya. Yang ada juga dia tetap membanjiri wajah istrinya dengan kecupan lembut serta meninggalkan beberapa tanda di tempat favoritnya walaupun Winda berusaha memberontak saat itu. Karna tenaga Winda yang sama sekali tidak sebanding dengan tenaganya membuat Winda sedikit pasrah pada akhirnya.


Ketika William sudah agak mengendorkan kekuatannya, Winda segera mengambil kesempatan untuk beranjak.


"Eh, kamu mau apa?" Tanya Tuan William.


"Aku mau bangun Will. Mau nelpon rumah sakit menanyakan istri Elvano dirawat di sana atau tidak." Jawab Winda apa adanya.


"Tapi kan bisa nanti saja!" Tambah Tuan William masih belum rela melepaskan tubuh istrinya.


"Aku maunya sekarang. Aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi! Memangnya kamu tidak penasaran dengan kabar menantu kita?" Ujar Winda masih memaksa.


Huuuuuuuuh


William membuang nafasnya kasar. Lalu kembali bersuara.


"Yasudah! Terserah kamu saja!" Jawab Tuan William sedikit kecewa.


Winda pun segera beranjak karna William sudah tidak lagi menahannya. Ia sama sekali tidak memerdulikan lagi wajah suaminya yang sudah manyun itu. Dan segera meraih ponselnya untuk menelfon ke rumah sakit milik keluarga mereka. Ia berpikir, Elvano mungkin akan membawa Cheril ke sana.


Dan tepat seperti dugaannya. Mereka memang berada di rumah sakit itu.


Setelah mendapatkan kabar dari rumah sakit, Ibu Winda pun segera menyiapkan diri dengan menuju kamar mandi untuk membersihkannya diri. Setelahnya ia juga segera menuju dapur meminta koki untuk menyiapkan beberapa menu yang akan dibawanya ke rumah sakit.


Tepat pukul 7 pagi Winda dan William pun sudah siap menuju rumah sakit.


--------------------


Sesaat kemudian Elvano segera menjawab Ibunya.


"Masuk saja Bu!"


Padahal saat itu ia sangat bingung. Bagaimana harus menjelaskan semua itu jika Ibunya bertanya yang macam-macam.


Namun Elvano juga tidak mungkin kan menyembunyikan Cheril pada saat seperti ini.


Lagian dia juga tidak berniat lagi menyembunyikan semuanya. Mungkin ia bisa mengambil kesempatan ini untuk mengenalkan Cheril pada Ibunya.


Jegrek


Ibu Winda membuka pintu pelan.


"Eh, Selamat pagi Ibu, Ayah!"


Elvano mengucap salam ketika melihat ayah dan ibunya masuk bersamaan. Ia sedikit kaget sih, awalnya Elvano berpikir ibunya hanya datang seorang diri.


Sementara Cheril juga ikutan kaget mendengar Elvano menyebut kata ayah.


Ia bertambah kaget ketika melihat Ibu Winda. Awalnya dia berpikir Ibu Anita yang datang.


"Vano... Mereka...."


"Oh, perkenalkan sayang, ini adalah kedua orangtua kandungku." Ucap Elvano kemudian. Jelas Cheril sangat bingung mendengar itu. Ia terlihat sedikit mengerutkan dahinya.


'Orangtua kandung?'


"Maksud kamu?"


Cheril kembali melempar pertanyaan.


"Ceritanya panjang sayang.. Aku janji, nanti aku ceritakan semuanya padamu." Jawab Elvano akhirnya.


Sementara kedua orangtua Elvano hanya berdiam diri menyaksikan percakapan putra dan menantunya. Mereka memang sudah mendengar dari Niko bahwa Cheril yang belum mengetahui identitas asli Elvano. Jadi lebih baik mereka memilih diam saja daripada salah berucap.


Setelah percakapan mereka selesai barulah Ibu Winda bersuara.


"Bagaimana kabarmu Nak?" Tanya Ibu Winda pada Cheril.


"Baik Tante!" Jawab Cheril singkat.


"Eh, kok Tante sih? Panggil Ibu Nak.. Kamu kan sudah menjadi istri Vano!" Protes Ibu Winda.


Elvano sedikit tersentak mendengar ini.


Ternyata Ibu sudah tau, Cheril dan aku sudah menikah..


Gumam Elvano dalam hati. Saat itu ia berpikir mungkin Niko yang memberitahukannya, karna memang hanya dia seorang yang tau dan kedua pengawal itu. Mereka berdua tidak mungkin memiliki keberanian untuk berbicara hal sepenting ini pada Nyonya dan Tuan Besar mereka. Pikir Elvano.


"Eh, i-iya, maaf I-Ibu !" Jawab Cheril sedikit gugup. Cheril bahkan hampir lupa ia sudah menikah dengan Elvano.


"Nah, Begitu seharusnya.. Kamu cantik sekali Nak, sangat cocok dengan Vano.." Ujar Ibu Winda sambil tersenyum.


"Terimakasih Tan, maksudnya Terimakasih Ibu !" Jawab Cheril sedikit mengeryitkan wajahnya karna hampir salah lagi.


"Bu, darimana Ibu tau tentang Cheril?"


Giliran Elvano yang melemparkan pertanyaan.


Oh, jadi nama istri Vano Cheril ya.. Namanya juga bagus.. Sangat sesuai dengan orangnya.


Ibu Winda berkata-kata dalam hatinya. Lalu segera menjawab pertanyaan Elvano.


"Niko yang memberitahukan pada Ibu semalam. Lagian kenapa kamu tidak kasih tau Ibu dan Ayah No? Kami kan sangat mengkhawatirkan kamu yang sudah sangat malam tapi masih belum pulang ke rumah. Kamu juga tidak menjawab telpon." Ucap Ibu Winda panjang lebar dan tepat seperti tebakan Elvano, memang Niko yang memberitahukan pada ibunya.


"Eh, kapan Ibu menelepon?" Tanya Elvano lagi sembari merogoh sakunya mencari ponselnya. Dan setelah dilihatnya ternyata memang ada panggilan tak terjawab beberapa kali dari ibunya.


"Maafkan Vano Bu, sepertinya Vano tertidur pada saat Ibu nelpon." Ucap Elvano kemudian.


"Yasudah tidak apa-apa !" Jawab Ibu Winda sambil mengusap pundak Elvano lembut.


"O iya, bagaimana ceritanya Vano, istrimu ini bisa masuk ICU seperti ini?"


Ibu Winda kembali melempar pertanyaan.


"Sssst! Pelankan suara Ibu, Dokter bilang Cheril belum boleh terlalu banyak berpikir. Takutnya Cheril kembali teringat akan hal yang sudah ia alami jika Ibu menanyakan hal ini sekarang." Ucap Elvano perlahan di dekat telinga ibunya. Membuat Ibu Winda sedikit penasaran dengan pernyataan yang ia sampaikan. Terlihat jelas rasa penasaran itu dari raut wajah Ibu Winda.


"Nanti Vano akan menceritakan semuanya pada Ibu!" Tambah Elvano lagi ketika menyadari ekspresi penasaran yang diperlihatkan oleh ibunya. Dan dibalas anggukan pelan dari Ibu Winda.


"Oh iya, kalian sarapan dulu yuk.. Ibu membawakan sarapan untuk kalian." Ujar Ibu Winda sembari menunjukkan barang bawaan yang masih dipegang olehnya.


"Eh, tapi kata Dokter Cheril belum boleh makan Bu." Ucap Elvano.


"Oh, yasudah ! Kau saja yang sarapan !" Lanjut Ibu Winda akhirnya.


"Nanti saja Bu, Vano belum lapar.." Jawab Elvano menolak secara lembut.


"Eh, nanti kamu sakit loh." Ujar Ibu Winda khawatir.


"Vano kan belum lapar Bu, bukan tidak mau makan. Letakkan sana di meja, nanti Vano makan Bu!"


"Iya, No.. Makanlah lebih dulu, benar kata Ibu, nanti kamu bisa sakit jika tidak makan!" Cheril ikut membujuk Elvano. jelas saja ia tidak bisa menolak Cheril di saat seperti ini.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan makan." jawab Elvano akhirnya.


Ibu Winda pun tersenyum puas mendengar itu. Dalam hatinya berkata ;


Ternyata Vano memang sangat mencintai wanita ini.. Buktinya saat dia bersuara Vano langsung menuruti nya..


Sementara Elvano yang sudah meraih makanan yang dibawa oleh ibunya sudah langsung menuju ke arah sofa. Dan menikmati menu sarapan itu.


Sejak tadi hanya Tuan William yang terus berdiam diri menyaksikan perbincangan ketiga orang di dalam ruangan itu bergantian. Itu karna Tuan William memang tidak pandai berbaur dalam situasi seperti ini.