
Setelah acara lamaran itu, Elvano dan Niko masih tinggal sekitar 2 hari lagi di kota XX karna masih banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan disana.
Salah satu kegiatan penutup yang harus mereka ikuti adalah menghadiri peresmian sebuah hotel baru milik kolega bisnis mereka yang akan diadakan pada malam ini. Dan di perusahaan ini Astra Investama Group juga ikut mengambil andil dengan menanamkan saham mereka di sana.
Pagi telah berganti siang, dan siang pun telah berganti sore. Hari ini adalah hari terakhir bagi Elvano dan Niko berada di kota XX. Semua pekerjaan mereka sudah selesai dengan sempurna. Hanya tinggal 1 kegiatan lagi yaitu menghadiri acara peresmian hotel yang akan diadakan malam ini.
Elvano dan Niko sudah bersiap-siap saat ini, karena acara itu akan dimulai pukul 7 malam. Sementara sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul 18.20. Kedua laki-laki ini pun sudah rapi dalam waktu 10 menit kedepan.
Keduanya berangkat dari rumah Ibu Anita menuju hotel tepat pada pukul 18.30 dan tiba di sana tepat pukul 18.50, tepatnya 10 menit sebelum acara dimulai.
Di sana sudah hadir banyak sekali Pengusaha dari berbagai perusahaan dan kebanyakan perusahaan-perusahaan itu juga merupakan partner dari Astra Investama Group itu sendiri. Jadi rata-rata yang ada di sana sudah mengenal Elvano dengan baik. Ada juga beberapa pengusaha yang membawa serta anak gadis mereka, karna ingin memperkenalkan anak mereka pada Elvano, mereka tau Elvano akan menghadiri acara ini. Tika juga ada di sana saat itu, dia mewakili ayahnya yang berhalangan hadir. Sebenarnya bukan berhalangan hadiri, tapi mang sengaja tak menghadirinya. Karena kedua Ayah dan Anak ini sedang merencanakan sesuatu untuk menjebak Elvano.
Elvano terlihat sangat tampan seperti biasanya. Dan Niko juga tampan dengan penampilan formalnya itu. Sehingga ketika mereka memasuki ruangan convention hall, semua mata langsung tertuju pada kedua laki-laki ini. Terutama para gadis, anak dari para pengusaha partner Astra Investama Group, termasuk juga Tika.
Ketika melihat Niko dan Elvano memasuki ruangan, Tika segera melangkah mendekati Elvano karena ia tidak ingin wanita lain yang lebih dulu mendapatkan Elvano. Ia pun segera berlarian kecit menuju ke arah pintu, tempat Elvano dan Niko berada saat itu.
Dari kejauhan Elvano sendiri sudah melihat Tika yang sedang melangkah menuju ke arahnya, namun dia juga tak berniat untuk menghindari wanita itu. Uang ada juga Elvano sedang menatapnya lekat.
Mau apalagi wanita itu..
Elvano bergumam dalam hatinya.
"Selamat malam Vano!" Sapa Tika ketika ia sudah berada di hadapan Elvano.
Eh, wanita ini lagi... berani juga dia masih muncul di hadapan Vano..
Giliran Niko yang berkata-kata dalam hatinya.
Elvano tidak terlihat ingin membalas sapaan Tika sama sekali. Dia masih merasa sangat kesal dengan kejadian waktu itu.
"Vano, kamu masih marah soal waktu itu? Aku minta maaf!" Ucap Tika sambil mengulurkan tangannya.
Dan Elvano masih diam saja. Masih tak berniat untuk menjawab Tika.
Karena melihat Elvano diam saja, Niko pun mengangkat tangannya, lalu menjabat tangan Tika menggantikan Elvano.
"Maafnya diterima Nona!" Ucap Niko sambil tersenyum lebar.
Kenapa laki-laki tukang angkot ini yang menyalami tanganku... Iih...
"Heh! Aku tidak sedang berbicara padamu. Aku bicara dengan Vano!" Ujar Tika sembari berusaha melepaskan tangan Niko dari tangannya.
Melihat Tika murka, Elvano tersenyum puas dalam hatinya.
"Jangan marah-marah Nona, nanti cantiknya hilang loh!" Ujar Niko mengejek.
Tika pun semakin murka mendengar apa yang dikatakan oleh Niko.
Si*l*n... Laki-laki ini mau bermain-main dengan ku ya...
Tika pun kembali menyerang Niko dengan kalimat-kalimat berikutnya. Dan membuat perdebatan mereka menjadi sedikit lebih lama.
Sementara Elvano sendiri sudah melarikan diri dari kedua orang yang sedang terlibat dalam pertengkaran mesra itu. Ia memilih duduk di sebuah meja yang terletak di bagian pojok dekat meja bar. Tempat dimana Tika sudah merencanakan sesuatu untuk Elvano. Sungguh kebetulan sekali Elvano sendiri malah memilih tempat itu tanpa diminta oleh Tika.
Menyadari Elvano telah menghilang, Tika pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari keberadaan Elvano. Dan alangkah kagetnya dia ketika ia melihat Elvano sudah duduk di meja yang ia pilihkan itu. Selain kaget, pastinya ia juga sangat senang.
Ternyata aku tidak perlu bersusah payah memikirkan cara untuk mengajaknya duduk di meja itu..
Tika pun segera menyusul Elvano menuju ke arah meja tersebut. Dan Niko mengikuti nya dari belakang.
Sesampainya di meja itu, Tika segera memberikan kode pada salah satu pekerja bar yang sudah ia bayar supaya membawakan minuman kepada mereka.
Dan sesaat kemudian pekerja bar ini sudah membawakan minuman itu di hadapan mereka bertiga.
2 gelas minuman berwarna merah ini aman, dan satu gelas lainnya berisikan minuman berwarna biru muda, dan itu mengandung obat perangsang didalamnya yang ingin Tika tujukan pada Elvano.
Tika pun memberi kode pada pekerja itu untuk meletakkan minuman yang berbeda di hadapan Elvano ketika merasa Niko dan Elvano sedang tidak memperhatikannya. Elvano saat itu memang sedang memainkan ponselnya, ia bahkan belum mengetahui minuman miliknya berbeda sendiri.
Setelahnya, pekerja itu segera berlalu dari meja mereka.
"Vano, ayo kita bersulang!" Ucap Tika tiba-tiba.
"Eh....
"Kenapa mengajak ku bersulang? Ajak saja Niko.. Kalian sepertinya cocok.." Jawab Elvano mengejek.
Aku tuh cocoknya sama kamu... Bukan sama tukang angkot itu..
"Vano... Aku maunya bersulang dengan mu.. Bukan dengan laki-laki itu.." Ujar Tika menanggapi.
Eh, masih berpura-pura ternyata, bahkan minuman mereka sama, punya ku sendiri yang berbeda. Hahaha..
"Baiklah kalau begitu.. Ayo Nik, kamu juga ikut bersulang!" Ucap Elvano sambil mengangkat gelasnya dengan senyuman lebar. Ia sama sekali tidak berpikiran buruk tentang ini. Ia malah berpikir Tika sengaja memilih minuman yang sama dengan Niko.
"Eh... Baiklah! Ayo kita bersulang!" Jawab Niko juga sambil mengangkat gelasnya.
Triiiing
Ketiga orang itu kemudian bersulang dan segera meneguk minuman mereka hingga habis. Termasuk juga Elvano.
Saat itu Tika merasa sangat senang karena Elvano sama sekali tidak menyadari telah masuk ke dalam jebakannya
Sebentar lagi kamu akan menjadi milikku Vano..
Gumam Tika sambil tersenyum sinis.
Sesaat kemudian Elvano sudah mulai merasakan ada sesuatu yang sangat aneh dalam dirinya. Ia merasa sedikit pusing. Karena itu Elvano pun sedikit menundukkan wajahnya.
"Kamu kenapa Vano?" Tanya Tika berpura-pura tidak tau apa yang sedang terjadi.
"Entahlah.. Kepalaku tiba-tiba pusing.." Jawab Elvano masih menunduk dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Kamu tidak apa-apa Vano?" Niko juga ikut bertanya karena merasa khawatir.
"Kepalaku pusing sekali Nik!" jawab Elvano lagi. Kali ini jawabannya ditujukan pada Niko.
"Atau kamu beristirahat saja di kamar hotel ini!" ujar Tika. Ini juga bagian dari rencananya. Tika memang sudah membooking sebuah kamar khusus yang ingin ia gunakan untuk melancarkan rencananya.
Saat itu Elvano mulai merasa sedikit curiga. Kenapa tiba-tiba Tika bisa menyuruhnya beristirahat di hotel itu. Selain itu ia juga teringat, dirinya merasa pusing setelah meminum minuman yang ditawarkan oleh Tika.
'Mungkinkah wanita ini sedang mengerjai ku? Kepalaku memang merasa sangat berat setelah meminum minuman tadi. Selain itu aku juga merasa sangat bergairah.'