Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Dirly yang sebenarnya


Penjelaasan


Cheril sebenarnya tidak sungguh-sungguh mual seperti yang ia katakan pada Elvano tadi. Awalnya dia hanya ingin menuju dapur untuk mengambil sedikit camilan. Namun tanpa sengaja Cheril melihat Elvano sedang memojokkan Dirly di dekat tembok, Cheril tau pasti ada sesuatu yang sedang terjadi, jadi dia pun menghampiri Elvano dan Dirly dengan beralasan mual supaya kejadian yang tak diinginkan tidak terjadi di dalam rumah itu.


Elvano kemudian menuangkan sedikit air hangat pada gelas dan memberikannya pada Cheril, lalu Cheril meminum air minum tersebut secara perlahan.


"Bagaimana sekarang? Apa sudah baikan Sayang?" tanya Elvano setelah Cheril selesai minum.


"Sudah enakan kok," sahut Cheril.


"Sayang, atau kamu istirahat saja di kamar ya. Aku takut terjadi apa-apa terhadap kamu dan bayi kita," pinta Elvano.


"Aku tidak apa-apa kok, sekarang sudah tidak mual lagi. Aku masih ingin berkumpul dengan yang lain, Sayang,"


"Apa kamu yakin?"


Dari raut wajahnya, Elvano seperti sangat mengkhawatirkan keadaan Cheril. Jika sudah seperti ini Cheril jadi merasa sedikit bersalah pada Elvano karena sudah membohongi suaminya itu. Namun hal ini juga tidak membuat Cheril mengatakan alasannya yang sebenarnya.


"Iya Sayang, aku tidak apa-apa kok. Kamu tidak perlu khawatir seperti itu ya. Ayo kita kembali ke depan!"


Karena Cheril terus memaksa untuk tetap tinggal, Elvano tidak dapat melakukan apapun. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke ruangan santai berkumpul kembali dengan yang lainnya. Tak lupa Cheril lebih dulu mengambilkan sedikit camilan yang ia letakkan di atas meja dapur tadi untuk dibawa ke ruang santai.


Dirly masih berada di kediaman keluarga Setiono hingga sekitar 1 jam lagi lamanya. Perkumpulan kecil itu berbicara banyak hal sambil menikmati camilan yang dibawakan oleh Cheril. Camilan yang Cheril dan Elvano dapatkan dari desa Semut Merah yang diberikan oleh warga di sana. Camilan khas daerah sana yang Cheril dan Elvano sendiri tak tau apa namanya. Ketika ditanya oleh Ibu Winda darimana mereka mendaptakan camilan seenak itu, Elvano segera mengambil alih untuk menjawab.


"Dari tempat yang kami kunjungi, Bu,"


"Iya, Ibu juga tahu soal itu. Maksud Ibu daerah mana? Jangan bilang kamu juga tidak tau nama daerah itu,"


"Ya begitulah. Hehehe." Bohong Elvano.


Ibu Winda pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ungkapan Elvano.


Mendengar Elvano berkata demikian, Cheril baru menyadari, ternyata keluarga besar Setiono tidak tahu mengenai desa itu. Karena Elvano seperti tidak ingin keluarganya tahu tentang ini, Cheril juga ikut merahasiakan hal ini dari meraka semua.


Kurang lebih satu jam kemudian Dirly berpamitan. Dan Valen mengantar laki-laki itu menuju pintu keluar. Sementara Elvano yang tidak percaya dengan Dirly memutuskan untuk membuntuti mereka berdua.


Tiba di depan pintu keluar, Dirly yang menyadari Elvano sedang mengikuti mereka, ia pun sengaja menjahilii laki-laki itu.


"Sayang, tidak perlu antar sampai di depan. Sampai di sini saja ya," ucap Dirly


Cih ... Menyapa adikku dengan sapaan semesrah itu. Mau minta dihajar orang ini.


Elvano sedang menyembunyikan dirinya di dekat vas khiasan yang cukup tinggi yang ada di dekat pintu keluar.


"Eh, tidak apa-apa kok. Biar aku antar sampai depan saja," ujar Valen.


"Tidak perlu Sayang, Sampai di sini saja sudah cukup kok,"


"Tapi ...,"


Ah, Valen ini kenapa terus membujuk laki-laki itu sih, jaga harga dirimu Adikku sayang.


Elvano merasa sangat gemas pada Valen yang bertingkah demikian. Ingin rasanya dia segera keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri kedua orang ini.


"Sungguh tidak apa-apa kok,"


Kemudian Dirly mulai melancarkan aksinya untuk menjahili Elvano. Dirly mendekatkan wajahnya ke arah wajah Valen, ia hendak meraup bibir Valen.


Saat melihat wajah Dirly dan Valen yang sudah hampir tak berjarak, Elvano pun membulatkan matanya dan segera keluar dari tempat persembunyiannya.


"HEI! Apa yang sedang kau lakukan terhadap Adikku?" bentak Elvano.


"Kakak ... Kenapa Kakak ada disini?"


Valen bersuara.


"Kamu ini! Seharusnya kamu itu berterima kasih pada Kakak karena sudah menolongmu. Jika tidak bibirmu yang manis ini pasti sudah di lahap oleh Buaya kelaparan itu," sergah Elvano melemparkan pandangan ke arah Dirly.


Tentu ucapan Elvano membuat Valen semakin malu sekaligus juga merasa tidak enak terhadap Dirly.


"Kakak kenapa berbicara seperti itu? Itu kan tidak sopan Kak," protes Valen.


"Kamu ini masih kecil sungguh tidak tau apapun. Sekarang kamu masuk ke dalam. Biar Kakak yang mengantarkan laki-laki buaya ini keluar dari rumah kita,"


"Tapi Kak ...,"


"Ayo masuk!"


Jika tadi Elvano masih memasang wajah manisnya, kali ini Elvano sudah memasang ekspresinya yang sangat serius. Valen yang belum pernah melihat ekspresi Elvano yang seperti ini merasa sedikit ketakutan. Ia pun segera menuruti perkataan Elvano. Gadis itu memilih segera masuk kembali ke dalam rumah walaupun sesekali Valen masih menoleh ke arah belakang menatap Elvano dan Dirly.


Hingga Valen sudah tak terlihat lagi, Elvano pun menutup pintu utama setelah dirinya sudah keluar dari rumah. Dia memang sungguh-sungguh mengantarkan Dirly keluar menuju halaman depan.


"HEI! Katakan padaku, sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan, Dirly?" tanya Elvano.


"Ehm?"


Elvano tersenyum sinis mendengar tanggapan Dirly yang sangat singkat itu.


"Aku sudah mengetahui semuanya, Dirly. Tentang semua hal yang terjadi di gunung Elang Muda. Sekarang katakan padaku, apa yang kamu inginkan sesungguhnya?"


Dirly mengarahkan pandangannya ke arah Elvano lekat. Dan untuk pertama kalinya Dirly menatap Elvano dengan seksama. Tanpa sengaja, ia melihat ke arah dada Elvano, dan mendapatkan sesuatu yang berkilau dari balik pakaian yang dikenakan oleh Elvano. Dirly sedikit kaget melihat itu. Tentu saja Dirly sangat tau apa benda itu.


Huuuh


Dirly lebih dulu membuang nafas kasar sebelum menanggapi Elvano.


"Ternyata guru ****** itu sungguh sangat menyayangimu ya,"


"KAMU!"


Elvano sontak murka mendengar Dirly menyebut kata sekurang ajar itu terhadap guru mereka.


Sedangkan Dirly hanya menundukkan wajahnya sesaat sambil tersenyum kaku.


"Selama ini aku dan kakak Nando selalu kalah denganmu. Guru ****** itu selalu pilih kasih. Kamu mendapatkan segalanya dari dia, sedangkan kami hanya mendapatkan remahannya saja. Apa kami salah merasa iri padamu? Padahal kami sudah lebih dulu ada disana sebelum kau ada,"


Dirly menatap wajah Elvano lekat pada saat mengucapkan kalimat terakhirnya itu.


Begitupun dengan Elvano. Ia juga membalas tatapan Dirly dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Jadi kalian merasa iri padaku? Hati kalian kenapa begitu tidak bagus? Padahal Guru tidak pernah berbuat hal seperti yang kamu katakan itu. Dia juga memperlakukan aku sama dengan kalian. Bahkan aku harus berlatih jauh lebih keras dari kalian. Apa kamu masih ingat pada saat aku yang baru saja tiba 3 hari disana malah sudah disuruh memasuki kandang singa? Apa kalian juga diminta Guru untuk melakukkan hal itu?" sergah Elvano.


"Justru itulah, Jeong Shu. Guru memperlakukan dirimu dengan sangat istimewa. Barulah ia melakukan hal itu," tegas Dirly.


Elvano tersenyum tipis mendengar itu.


"Kenapa pikiranmu begitu pendek Kakak seperguruan?" Apa kau tidak berpikir Guru begitu menyayangi nyawa kalian sehingga tak tega melakukan hal yang sebahaya itu terhadap kalian?" lirih Elvano.


Hati Dirly memang sedikit berdenyut mendengar apa yang dikatakan oleh Elvano. Namun karena mata hati Dirly yang sudah berkabut hitam, ia pun tidak mengindahkan lagi apa yang diucapkan oleh Elvano itu.


Dirly ikut tersenyum tipis namun senyuman milik Dirly terlihat penuh dendam.