Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Perdebatan Elvano dan Shinta yang memusingkan


Jegrek!


Elvano membukakan pintu kamar dan menuntun Cheril masuk ke dalam Villa secara perlahan. Sementara Shinta mengikuti mereka dari belakang.


Setelah berada di dalam kamar, Elvano mendudukkan Cheril dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur. Dokter Shinta menyaksikan itu dengan seksama sambil memperlihatkan ekspresinya yang tidak bersahabat.


"Shin, tolong periksa istri aku. Dia sedang hamil. Dan sekarang dia terus merasa mual. Kamu harus menyembuhkan dia!" ucap Elvano.


"Ehm?


Wanita ini bahkan sudah hamil dan aku tidak mengetahui kapan dia menikah. Sungguh sangat keterlaluan. Batin Shinta


Sedangkan batin Cheril saat itu,


Oh, Ternyata wanita ini adalah Dokter.


Shinta masih diam di tempat, belum bergerak sama sekali. Elvano pun kembali menyapa gadis itu.


"Kenapa masih di sana? Ayo periksa istri aku! Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya," kata Elvano sambil memperlihatkan rasa khawatirnya.


"Menyebalkan!" gumam Shinta pelan.


Dan Elvano masih dapat mendengar gumaman Shinta secara samar.


"Kamu ngomong apa sih, Shin? Bicara itu yang keras, aku tidak bisa mendengarmu," ujar Elvano.


"Eh, tidak apa-apa kok. Baiklah, aku akan periksa dia," sahut Shinta.


Gadis muda itu masih memperlihatkan wajah kesalnya.


Dengan sangat terpaksa Shinta melangkah mendekati tempat tidur dan lalu mengeluarkan stetoskopnya untuk memeriksa Cheril.


"Berbaring Kak!" perintah Shinta dengan wajah masam.


"Eh, Memangnya seperti itu ya seorang dokter menyapa pasiennya? Kenapa sangat tidak sopan?" protes Elvano.


"Jadi, mau diperiksa atau tidak nih?" kesal Shinta.


"Eh, kamu ini ...,"


Melihat keadaan yang memanas, Cheril pun bersuara untuk meredam suasana.


"Sudahlah Sayang! Aku tidak apa-apa kok,"


Ucap Cheril sambil melemparkan pandangannya ke arah Elvano. Lalu kembali fokus kepada Dokter Shinta yang terlihat memperlihatkan ekspresi kemenangannya kepada Elvano. Kemudian Cheril kembali melanjutkan perkataannya yang belum selesai.


"Periksalah!" pinta Cheril sambil tersenyum.


Kenapa dia tersenyum begitu manis ya ... Padahal aku sengaja memperlakukan dirinya dengan tidak bersahabat. Dasar wanita aneh.


Setelah terdiam sesaat, Shinta lalu mendekatkan stetoskopnya ke arah tubuh Cheril yang sedang berbaring di atas tempat tidur. Ia juga menanyakan perihal gejala yang dialami oleh Cheril.


"Hanya merasa mual saja kok, selain itu tidak ada gejala lain." Ungkap Cheril.


Dokter Shinta tersenyum tipis, lalu membuka resep.


"Gimana, Shin? Bagaimana keadaan istriku? Apakah berbahaya?"


Elvano bertanya dengan ekspresinya yang masih terlihat sangat khawatir.


"Dia baik-baik saja. Orang yang sedang hamil muda itu memang biasa merasa mual. Paham?" jelas Shinta jutek.


Tentu saja sikap Shinta yang seperti ini kembali mendapat protes dari Elvano.


"Hei! Kamu ini ya ... Dasar anak kecil! Sungguh tidak tahu caranya bersikap sopan ya? Kenapa berkata dengan wajah seperti itu terhadap orang yang lebih dewasa?" protes Elvano.


Dokter Shinta jelas marah dan tidak terima dikatai anak kecil oleh Elvano.


"Hei! Aku bukan anak kecil! Kenapa selalu mengatakan aku anak kecil sih? Umur kita kan hanya berbeda 2 tahun saja. Sungguh menyebalkan!" koreksi Shinta.


"Tetap saja kamu adalah anak kecil. Bagaimana pun, usia kamu itu di bawah aku. Jadi kamu adalah anak kecil buat aku. Dan selamanya akan tetap jadi anak kecil bagiku," ledek Elvano.


Entah kenapa melihat Elvano dan Shinta yang seperti itu membuat Cheril merasa lega. Rasa bahagia juga meliputi hatimu.


Sepertinya Cheril bisa menjadi penilai yang baik mengenai perasaan Elvano terhadap Shinta.


Cheril dapat melihat Elvano yang menganggap Shinta sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Sebab sikap Elvano terhadap Shinta saat ini, sama seperti saat Elvano sedang berinteraksi dengan kedua adik perempuannya Flo dan Valen.


Dan memang demikianlah adanya.


"Eh ... KAMU! Mau berapa kali aku katakan padamu? Aku sudah bukan anak kecil lagi," tegas Shinta.


Ehem ....


"Kenapa kalian berdua berisik sekali? Apa tidak tahu sedang ada pasien di sini?" sambung Cheril ketus.


Elvano dan Shinta yang tadinya saling beradu tatap melemparkan pandangan mereka secara bersamaan ke arah Cheril.


Kemudian Elvano melangkah mendekati Cheril. Saat melewati Shinta, Elvano Masih sempat meledek gadis itu.


"Minggir kamu!"


"Eh ...,"


Aku gebukin nih orang sekalian.


Shinta menggerutu di dalam hati sambil memperlihatkan rasa kesal dengan menekuk wajahnya dan mengepalkan tangannya seperti hendak memukul Elvano.


Lagi-lagi sikap Shinta yang seperti itu menjadi hiburan tersendiri bagi Cheril. Cheril terlihat memperlihatkan senyuman tipis miliknya.


"Sayang, Apa kamu baik-baik saja? Masih mual tidak?" tanya Elvano sambil mengusap rambut bagian depan Cheril secara perlahan.


"Dia tidak apa-apa. Wanita mu itu baik-baik saja. Wanita hamil muda itu memang biasa merasa mual. Apa masih belum paham?"


Bukannya Cheril yang menjawab, malah Shinta yang menjawab pertanyaan Elvano.


Sekarang keadaaan yang sudah mulai tenang pun kembali memanas.


"Aku tidak bertanya padamu! kenapa malah kamu yang menjawab? Aku itu sedang berbicara pada istriku. Paham?" tanggap Elvano ketus.


"Habisnya aku kok merasa sangat kesal ya dengan kamu yang sangat bodoh ini,"


Elvano yang sebelumnya sedang duduk di tepi tempat tidur segera beranjak dan menekan pinggangnya. Lalu berkata,


"Eh, kenapa mengatakan aku bodoh? Sungguh berani ya!"


Elvano berkata dengan suara yang cukup nyaring. Suara Elvano bahkan dapat didengar oleh Pak Jono yang sedang berada di luar Villa.


"Kamu itu memang bodoh. Kalau bukan bodoh lalu apa namanya? Bahkan gejala yang dialami oleh wanita hamil muda saja kamu tidak tahu. Kenapa kamu hanya tahu membuatnya saja?"


Suara Dokter Shinta juga tak kalah nyaringnya dengan suara Elvano tadi.


Pak Jono sedikit tersentak saat mendengar suara wanita itu.


"Loh, Bukannya itu suara Dokter Shinta?" gumam Pak Jono pelan.


Lelaki paruh baya itu jadi merasakan penasaran, kenapa Dokter Shinta bisa berada di Villa saat ini. Mungkinkah telah terjadi sesuatu? Pikiran inilah yang hadir di benak Pak Jono. Dan ia pun memutuskan masuk ke dalam Villa untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di sana.


~Sedangkan keadaan di dalam kamar Villa,


Saat mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Shinta membuat Cheril membelalakan matanya. Yang dirasakan oleh Cheril saat itu, antara sangat ingin tertawa keras atau malah merasa prihatin.


Sementara ekspresi Elvano saat itu, wajahnya sudah memerah antara malu dan juga marah.


Cheril yang dapat melihat ekspresi Elvano yang sangat aneh itu secepat mungkin bertindak.


"Hei! Kalian berdua ini kenapa masih ribut begini? Sudah ah! Aku jadi tambah mual nih," timpal Cheril.


Elvano yang sedari tadi sedang beradu tatap dengan Shinta, segera melemparkan pandangannya ke arah Cheril.


"Apa kamu sangat mual, Sayang? Maafkan aku ya!"


Ucap Elvano sambil mengusap kepala Cheril pelan.


Lalu kembali melemparkan pandangnya ke arah Shinta dengan tatapan kesal.


"Kamu sih, Shin! Ajak ribut saja dari tadi," omel Elvano.


"Eh, kok malah aku yang salah? Jelas-jelas kamu yang cari masalah," sahut Shinta tidak terima.


"Eh, Kamu ...,


Dan keributan pun kembali terjadi hingga Cheril kembali bersuara.


"Sudahlah Sayang! Sudah! Aku pusing banget deh dengan suara kalian ini," sergah Cheril.


Dan kali ini Elvano dan Shinta melemparkan pandangan mereka ke arah Cheril secara bersamaan.


Pada saat yang bersamaan Pak Jono juga sudahyg berdiri di depan pintu kamar Villa yang sedang terbuka.