Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Episode 248


Saat tersadar dari lamunannya nama pertama yang terucap dari mulut Elvano tentu saja adalah adiknya tercinta.


"Di mana Valen? Bagaimana kondisinya saat ini?" tanya Elvano panik.


Elvano bahkan sudah berusaha untuk beranjak kembali yang dengan sigap ditahan oleh wanita muda itu,


"Tenanglah Tuan. Jika anda bertindak ceroboh, kondisi anda belum stabil," nasehat wanita muda itu.


"Bagaimana aku bisa tenang? Aku sangat tahu separah apa kondisi Valen saat ini. Aku tertidur hingga 3 hari, dan berada di markas Blood team 4 hari, itu artinya sudah 7 hari waktu yang dihabiskan,"


Mata Elvano semakin membulat saat memikirkan itu. Dia lalu melirik wainta tadi dan berkata,


"Jika Valen tidak segera mendapatkan penawar itu dalam 3 hari lagi dia akan kehilangan nyawanya," tambah Elvano panik.


"Kau harus membantu ku bertemu dengan nya Nona! Aku ingin melihat adikku sekarang juga," mohon Elvano.


"Tenanglah Tuan. Adik anda pasti akan baik-baik saja. Saat ini kondisinya lumayan stabil kok. Guru sudah berusaha menolong dia," jelas wanita itu menjeda.


"Dan, Tuan boleh panggil saya Yuka. Nama saya Yuka. Saya adalah asisten Guru Raymon,"


Ungkapan gadis itu sudah pasti akan menjadi kejutan tersendiri bagi Elvano.


"Guru Raymon? Ja-jadi aku sedang berada di gunung Elang Muda saat ini?"


Terpancar setitik kebahagiaan di balik pilunya suasana hati saat mendengar nama Guru Raymon disebut oleh Yuka.


Pantas saja aku merasa tempat ini sangat tidak asing.


"Iya Tuan! Guru Raymon yang sudah mengirim Kak Gemilang untuk menolong kalian saat mendengar kabar tentang penyekapan itu," jawab Yuka sambill tersenyum tipis juga disertai dengan anggukan kecil.


Tapi Guru tau darimana kami disekap oleh Blood team?


Walaupun merasa penasaran, Elvano juga tak ingin berlarut dalam hal yang tidak terlalu penting seperti ini.


"Baiklah. Nona Yuka, apa aku boleh memintamu mengantarkan aku ke ruangan Valen? Aku sangat mengkhawatirkan kondisi nya," rayu Elvano.


Yup, topik yang diharapkan Yuka dilupakan oleh Elvano ternyata masih diingat dengan baik oleh nya.


Yuka memang sedang berbohong pada Elvano tentang kondisi Valen. Sesungguhnya kondisi Valen sangat tidak baik. Dia semakin melemah. Guru Raymon hanya bisa berusaha menolong dengan menyuplai tenaga dalam bagi Valen supaya dia memiliki kekuatan untuk bertahan lebih lama. Hanya itu saja yang bisa dilakukan Guru besar itu untuk menolong. Sebab Valen cuma dapat disembuhkan dengan ramuan penawar racun itu saja.


Jegrek!


"Kamu ini kenapa begitu keras kepala?"


Guru Raymon tiba-tiba muncul dari balik pintu berperan sebagai penolong bagi Yuka yang tidak tahu lagi harus menjawab apa pada Elvano.


"Guru ... Hormat murid pada Guru," ucap Elvano sopan sambil berusaha beranjak dan dibantu oleh Yuka supaya bisa sedikit menegakkan tubuh Elvano.


Setelahnya, wanita muda itu segera berlalu usai mendapatkan kode dari Guru Raymon.


Tentu saja guru dan murid itu ingin saling melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu. Juga sekaligus akan membahas sebuah masalah yang sangat serius.


"Jeong shu, bagaimana keadaanmu? Apakah sudah baikan?" tanya Guru Raymon lembut.


"Iya Guru, murid sudah merasa baik," jawab Elvano juga dengan lemah lembut namun terdengar tegas.


"Baguslah kalau begitu. Aku sedikit mengkhawatirkan kondisimu kemarin. Kau sempat mengalami kritis. Syukurlah kau masih bisa bangun kembali."


Senyuman tipis terbit dari wajah paruh baya Guru Raymon. "Sang Lion King memang tak akan mudah ditumbangkan." Batinnya.


"Tapi, aku mangkhawatirkan Valen. Dia tidak sedang baik-baik saja kan? Aku tahu, Yuka membohongiku," sambung Elvano.


Guru Raymon tampak menghela napas panjang. Memang tidak akan mudah membohongi Elvano. Laki-laki itu terlalu pintar. Dirinya bahkan ahli meracik racun. Guru Raymon pun kalah dengan Elvano dalam hal yang satu ini. Jadi bagaimana bisa membohongi orang yang sangat mengerti tentang hal itu?


"Ya, seperti yang kamu pikirkan Jeong Shu. Adikmu memang tidak sedang baik-baik saja. Aku hanya bisa memberikan dia tenaga dalam untuk bertahan. Dan kamu tahu sendiri kan? Hanya bunga teratai pelangi yang terletak di dekat teratai abadi itulah yang dapat menolong Valen saat ini."


"Jadi apa yang harus aku lakukan Guru?"


Elvano tampak kebingungan saat ini. Di satu sisi, dia harus menolong adiknya, di sisi lain dia juga harus menjaga kerahasiaan mengenai tempat yang disebutkan oleh gurunya itu. Ya, peta yang dijaga oleh Elvano selama ini adalah adalah tempat teratai abadi berada. Dan benda inilah yang selama ini dijadikan rebutan oleh para mafia dan orang-orang berkepentingan.


Jika ada yang memaksa mencabut pedang tersebut padahal dia bukanlah jodoh dari pedang Elang Emas, maka benda itu akan merusak kejiwaan orang itu. Dan hal inilah yang terjadi pada keturunan ke empat serta ke 5 di perguruan gunung Elang Muda waktu itu. Yang menyebabkan sangat banyak jiwa berjatuhan. Setelah kejadian tersebut, pedang tersebut pun diasingkan.


"Tenanglah! Aku sudah mengirim Dirly ke sana untuk mengambilkan bunga teratai putih itu untuk Valen," jawab Guru Raymond sambil menepuk pundak Elvano pelan.


Bukannya senang mendengar itu, Elvano malah sangat kaget. Matanya membesar seketika.


"Apa Guru tidak sedang bercanda? Mungkin Dirly akan menemukan kedua benda rahasia itu. Dan dia akan menghancurkan Guru," lirih Elvano.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Tidak ada yang lebih penting dari sebuah nyawa yang polos. Bagaimanapun juga Valen jauh lebih penting dari semua itu,"


Jawaban Guru Raymon tentu membuat Elvano merasa terharu. Tak disangka, Gurunya itu bahkan rela membiarkan orang seperti Dirly mendekati tempat rahasia tersebut hanya demi kesembuhan Valen. Ya, walaupun Guru Raymon memang tidak memberitahukan di tempat itulah benda pusaka yang selama ini Dirly cari berada.


Namun bagaimanapun Elvano tetap saja tak bisa menerima ini.


"Tapi Guru, kenapa tidak ijinkan aku yang ke sana saja? Bagaimana kalau aku berangkat sekarang?"


Bug!


Guru Raymon memukul kepala Elvano pelan. Namun tetap saja laki-laki ini menjerit manja.


"Kenapa guru memukulku?" tanya Elvano dengan nada manja.


Selain latihan keras, guru dan murid yang satu ini juga sangat sering bercanda ria sewaktu Elvano masih kecil dulu. Dan sepertinya Guru Raymon masih menganggap Elvano sebagai murid kecilnya. Sehingga dengan ringan, Guru Raymon tetap bisa mengajak Elvano bersenda gurau.


"Masih bertanya?"


"Jika menunggumu sadar, adikmu itu bisa celaka. Aku malah takut Valen tidak bisa melewati malam ini jika benda itu belum juga dibawa kembali oleh mereka."


Elvano sontak mengangkat wajahnya menatap Guru Raymon dengan ekspresi melotot.


"Apa Valen sangat lemah?" tanya Elvano kemudian.


"Iya. Tapi kamu tidak perlu khawatir, seharusnya ke empat orang yang aku utus tadi sudah akan pulang kemari sebelum petang."


Setidaknya Elvano bisa sedikit lebih lega mendengar ini. Selain perihal Valen, dia juga lega setelah mengetahui Dirly tidak pergi sendiri. Setidaknya ada Jack, Zum dan Rein yang pergi bersama-sama dengan Dirly. Ya, siapa lagi? Jika mereka pergi berempat pasti tiga orang lainnya adalah ketiga pengawal khusus itu.


"Guru, selain Valen, ada satu hal lagi yang murid cemaskan saat ini. Yaitu menyangkut hidup dan mati murid," ungkap Elvano.


Bug!


Sekali lagi Elvano mendapatkan pukulan pelan dari Guru Raymon tepat di kepalanya.


Dan kali ini belum sempat Elvano melayangkan pertanyaan, Guru Raymon sudah lebih dulu bersuara.


"Kau ini sungguh keterlaluan. Murid macam apa kau ini? Kamu menikah bahkan tidak mengundang ku. Apa kamu ini masih menganggap aku ini Gurumu?" maki Guru Raymon.


"Eh, maaf! Hehe."


Elvano menjawab cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.


"Jadi Guru sudah tahu ya mengenai pernikahanku?


Guru memang selalu dapat menebak dengan baik isi pikiran murid. Ya, Aku sedang mencemaskan hidup dan mati ku. Mereka tak lain adalah istri dan anak aku."


Raut wajah Elvano berubah murung saat mengucapkan ini. Sedih. Tentu saja laki-laki itu bersedih memikirkan ini. Cheril yang sedang mengandung anak mereka entah dimana keberadaan nya saat ini.


"Guru, aku harus segera pergi dari sini untuk mencari mereka. Mungkin setelah memastikan Valen baik-baik saja, aku akan pergi setelah itu."


Guru Raymon tak dapat mengatakan apapun. Dia hanya menundukkan wajah turut memperlihatkan rasa sedihnya. Ia bisa mengerti bagaimana kegelisahan yang dialami oleh Elvano saat itu.


Namun sesungguhnya, Guru Raymon tidak akan membiarkan Elvano pergi dari sana. Dan Guru besar itu memiliki satu alasan supaya Elvano akan tetap tinggal hingga ia benar-benar pulih kembali. Hanya saja ia masih akan merahasiakan ini hingga petang nanti.


Lalu apa rahasia yang sedang disembunyikan oleh Guru Raymon? Nantikan bab selanjutnya.


Bersambung ....