
Acara makan-makan juga sudah selesai. Dan saatnya ketiga orang ini harus kembali dengan kegiatannya masing-masing. Cheril paling juga hanya menghabiskan waktunya didepan televisi. Sementara Elvano dan Niko masih memiliki setumpuk pekerjaan di kantor yang harus mereka selesaikan.
Saat ini ketiga orang ini sudah kembali melangkahkan kaki mereka keluar dari restoran itu menuju mobil. Niko berjalan lebih dulu sementara Elvano dan Cheril berada dibelakang. Ia masih mengulangi sikapnya yang tadi, menggenggam erat tangan Cheril menuju ke arah mobil.
Jantung Cheril sudah kembali berdetak tak beraturan dengan perlakuan Elvano yang bisa dikatakan sangat romantis itu.
Apalagi pada saat selesai makan tadi, Elvano masih sempat melakukan aksinya yang membuat iri semua orang.
Ketika itu Elvano melihat mulut Cheril sedikit berantakan karna terkena percikan kuah udon, Ia pun dengan sigap mengusap lembut mulut Cheril dengan tangannya. Tentu saja Cheril sangat kaget dengan perlakuannya itu. Dan ada sedikit perasaan aneh yang muncul di dalam hati Cheril saat itu.
Jadi saat Elvano mengulangi sikapnya seperti waktu mereka baru turun dari mobil tadi, Cheril pun bisa merasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Ia sendiri tidak mengerti apa yang ia rasakan sebenarnya. Dan jujur saja, saat ini ia juga tidak berani untuk mencintai laki-laki itu lagi, karna jelas Elvano berkata padanya bahwa tujuan dirinya menikahi Cheril hanya untuk bermain-main dengannya saja. Cheril juga masih terngiang kalimat Elvano yang sudah 2x mengatakan dia itu barang bekas.
Cheril tidak ingin nantinya ia malah akan merasa kecewa jika Elvano tiba-tiba mencampakkannya.
Ketika Niko yang sudah lebih dulu tiba di depan mobil, ia segera membukakan pintu bagian belakang untuk kedua orang ini. Niko sempat melirik ke arah tangan keduanya yang masih sangat lengket. Membuatnya tersenyum tipis. Ntah apa isi otaknya saat itu.
Sesaat kemudian Elvano dan Cheril yang juga sudah tiba di depan pintu mobil dan segera masuk ke dalam mobil masih dengan tangan Elvano yang menggenggam erat tangan Cheril. Seolah-olah ia sangat tidak rela untuk melepaskan tangan itu lagi.
Dan Niko yang juga sudah di dalam mobil setelah keduanya masuk pun segera melajukan kendaraan mewah itu.
Elvano memilih menyenderkan tubuh kekarnya disenderan kursi mobil sembari menatap lurus kedepan. Dan sesaat setelahnya, ia juga sudah melepaskan genggamannya dari tangan Cheril. Ntah apa yang sedang ia pikirkan saat itu. Elvano terlihat mengusap wajahnya pelan, lalu memejamkan matanya perlahan.
Sementara Cheril kembali merasa heran ketika melihat Elvano yang seketika sudah berdiam diri itu. Tapi kali ini Cheril sudah tak berani lagi menatap wajah itu lekat, Elvano bisa saja mengetahuinya sekalipun saat itu dirinya sedang memejamkan mata. Dia kan memiliki banyak mata. Begitulah pikiran Cheril saat itu.
Kalau Elvano mengetahui Cheril menatapnya lekat, pasti akan ada masalah baru lagi yang akan terjadi. Jadi Cheril lebih memilih melirik Elvano hanya dari sudut matanya saja.
Sekitar 15 menit perjalanan mereka, suasana hening benar-benar tercipta hingga mereka tiba Kembali di rumah sewa yang ditempati Cheril.
Kali ini Niko bisa tenang, ia tidak perlu lagi menyaksikan drama yang dimainkan pasangan ini. Ya, ntah kenapa Niko justru merasa agak sepi sih.
Cheril juga merasa demikian. Ia tidak menyangka Elvano akan terus memejamkan matanya hingga mereka tiba di rumah sewa itu.
Setelah menyadari mobil akan segera berhenti, Elvano kembali membuka matanya perlahan.
Ternyata sudah sampai ya ...
Gumamnya dalam hati setelah ia mengedarkan pandangannya dan ternyata ia melihat rumah sewa itu disana.
"Cheril, apa kamu masih memiliki uang pegangan?" Tanya Elvano tiba-tiba.
"Eh, I-iya .... Masih ada sedikit." Jawab Cheril sejujur mungkin.
Mendengar jawaban Cheril, Elvano terlihat merogoh saku jasnya seperti sedang mencari sesuatu. Sesaat kemudian ia memang mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya itu.
"Ambil ini! Gunakan sesukamu!" Ucap Elvano kemudian sambil menyodorkan kartu ATM pada Cheril.
"Eh ... Ini apa?" Tanya Cheril sembari mengangkat tangannya meraih apa yang diberikan oleh Elvano.
"Heh! Apa kamu tidak pernah melihat kartu ATM?" Elvano terlihat sedikit murka lagi.
Mendengar ucapan Elvano, Niko kembali tersenyum tipis. Ia juga tau, Cheril hanya berpura-pura saja. Tidak mungkin kan Cheril tidak tau itu kartu ATM. Mungkin maksud Cheril adalah kartu itu untuk apa?
"I-iya, aku tau .... Maksudnya untuk apa kamu memberikan ini untukku?" Tanya Cheril akhirnya.
"Aku kan sudah mengatakannya. Kamu boleh menggunakan itu sesukamu!" Ujar Elvano mengulangi kalimatnya yang tadi.
Kali ini Cheril sudah terdiam kembali. Ia tidak berniat untuk kembali bertanya.
Iya, lebih baik diam saja. Daripada ia akan mendapat masalah baru lagi nantinya.
"Kamu masih belum mau turun?" Tambah Elvano tiba-tiba karena melihat Cheril hanya berdiam diri.
"Eh .... I-iya .... Aku turun!"
Kemudian Cheril segera membuka pintu mobil. Tangan Cheril sudah menempel pada pegangan pintu saat itu.
"Tunggu!" Elvano kembali bersuara.
Seketika Cheril pun menghentikan gerakannya.
Ah, apalagi sih ... Bukannya tadi dia menyuruhku turun ....
"Ada apa lagi?" Cheril memberanikan diri untuk bertanya.
"Heh! Kamu sungguh tidak tau harus melakukan apa? Apa kamu tidak tau harus mengucapakan apa pada orang yang sudah berbuat baik padamu?" Lagi-lagi Elvano meninggikan nada bicaranya.
Baiklah, episode terbaru akan segera dimulai kembali.
Gumam Niko dalam hatinya. Namun ntah kenapa Niko merasa senang sih, sedari tadi rasanya sangat sepi tidak mendengar pertengkaran mereka.
"Eh, I-iya .... Terimakasih sayang untuk semua yang telah kamu berikan. Dan juga untuk makan siangnya." Ucap Cheril kemudian sambil berusaha tersenyum semanis mungkin.
"Heh! Bukan seperti itu!"
Dia mulai lagi kan. Apa maunya coba. Bukannya dia ingin aku berterimakasih .... Aku sudah melakukannya..
"Lalu harus bagaimana lagi?" Cheril kembali bertanya.
"Cium aku! Disini!" Titah Elvano sambil menunjuk b*b*rnya.
Bisa dibayangkan, Cheril tentu saja sangat kaget. Ia memang sudah tau Elvano pasti akan minta dicium. Tapi ia sama sekali tidak berpikir Elvano akan memintanya mencium b*b*rnya. Wajahnya pun sudah memerah seketika.
Dan Cheril pun kembali melototkan matanya. Tentu saja sopir didepan juga ikut melototkan matanya. Namun kali ini Niko sudah tidak berani melirik ke arah belakang. Ia tak sanggup menyaksikan c**man mesra yang mungkin akan terjadi lagi. Seperti kejadian di angkotnya dulu.
"Ayo lakukan! Ingat ya, harus melakukannya dengan benar!" Perintah Elvano sekali lagi.
"Ba-baik Tuan Muda Elvano!" Jawab Cheril sengaja menyebut Elvano dengan nama itu karena kesal. Wajah Cheril sudah semakin merah hingga menyerupai tomat.
Ia kemudian mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah Elvano. Dan ketika ia sudah sangat dekat dengan b*b*r Elvano ia pun mencoba memejamkan matanya supaya bisa mengurangi rasa malunya.
Cup!
Kedua bibir itu kini telah bertemu. Dan Elvano jelas tidak membiarkan b*b*r s*xy itu terlepas begitu saja. Ia malah mengangkat tangannya lalu meletakkannya lembut diatas kepala Cheril menahannya melepaskan c**man itu. Alhasil, Elvano malah merubah kecupan itu menjadi c**man p*n*s. Dan entah kenapa Cheril juga tidak menolaknya, yang ada juga ia ikut membalas permainan Elvano yang sudah mulai panas itu.
Benar saja yang dipikirkan Niko. Mereka sungguh terlibat dalam c**man mesra.