Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Hal konyol dihari pertama kerja


Elvano pun membalikkan kembali badannya menghadap Ibu Anita.


"Ada apa Bu?" Tanya Elvano sopan


"Salam buat Nona Cheril, Nak !" kata Ibu Elvano sambil tersenyum.


"Hm?"


Elvano menaikan alisnya.


"Sampaikan salam Ibu untuk Nona Cheril sekaligus kasih tau, kalau dia sempat main-main ke rumah kita. Ibu merindukan nya." Ibu Anita menambah keinginannya.


"Baik lah Bu, kalau Vano bertemu dengan Nona Cheril Vano akan menyampaikan pesan Ibu.." Akhirnya Elvano hanya bisa mengiyakan walaupun ia tidak yakin Cheril akan ada di Perusahaan itu.


"Bye-bye Bu !" Elvano melambaikan tangannya


Ibu Elvano membalas melambaikan tangannya.


Elvano kemudian berdiri di pinggir jalan depan rumah mereka, berpas2n sebuah angkot berwarna merah lewat di depan rumah mereka yang tujuan perjalanan nya satu arah dengan Perusahaan indos perkasa.


Elvano pun melambaikan tangannya memberi pertanda berhenti. Sang sopir kmudian menepikan kendaraannya.


Elvano naik kedalam angkot,dan angkot pun melaju dengan kecepatan sedang karena suasana jalan di sana memang agak sepi.


PT Indos Perkasa


Elvano sudah tiba di Perusahaan milik keluarga Nona Cheril.


Suasana di luar kantor cukup ramai dengan kendaraan yang terparkir karena karyawan di sana belum pertukaran siff jadi kantor masih ramai.


Biasanya pukul 16.00 tepat karyawan siff pertama baru akan pulang dan untuk siff kedua akan masuk pukul 16.05 untuk menghindari penumpukan massa.


Karyawan siff kedua memang tidak sebanyak karyawan sif pertama. Karena dimalam hari memang tidak terlalu banyak kerjaan untuk dikerjakan.


Elvano merasa sedikit gugup. Ia mengalihkan rasa gugup nya dengan memperbaiki penampilannya. Merapikan rambut dan pakaian nya yg sudah tampak rapi sejak tadi. Kemudian melangkah masuk kedalam gedung Perusahaan.


Ketika melihat Elvano berada dipintu masuk seorang satpam membukakan pintu untuk nya.


"Selamat siang Pak, Ada yang bisa saya bantu?' Tanya satpam sopan.


"Eh,,i-iya, saya.... Apa saya bisa bertemu dengan Manager Billy?" Tanya Elvano sedikit gugup


"Maaf, Apakah Bapak sudah berbuat janji?" Satpam itu kembali bertanya.


"Eh.... I-iya, saya sudah janji 2 hari yang lalu."


Elvano menjawab sedikit asal, ia juga tidak tau harus menjawab apa. Manager Billy memang berkata pada nya ia sudah diterima sebagai karyawan disana, tapi ia juga tidak begitu yakin dengan itu, dirinya bahkan belum pernah melakukan wawancara kerja.


"Kalau boleh tau nama Bapak siapa?"


"Elvano"


"Baik, kalau begitu Bapak silahkan tunggu disana dulu ! Saya akan menghubungi Pak Billy.." Ucap satpam itu sambil menunjuk satu set sofa yang tersusun rapi di salah satu sudut ruangan bagian depan di dalam kantor tersebut.


Elvano menganggukkan kepala kemudian melangkah kearah sofa dan duduk menunggu di sana.


Sedangkan Bapak satpam menuju meja resepsionis memberikan instruksi pada wanita cantik yg ada di sana untuk menghubungi Manager Billy.


Awal nya Billy merasa tidak punya janji dengan siapapun setelah wanita itu menyebut nama yg disebutkan satpam ia baru ingat dengan karyawan baru yang direkomendasikan oleh Nona Cheril.


"Suruh dia ke ruangan saya !" Kata Manager Billy memberi perintah dari balik telpon.


"Baik pak !" Jawab wanita itu sambil menutup telpon. Ia pun menyampaikan apa yang disampaikan oleh Manager Billy kepada Bapak satpam itu.


"Bapak Elvano, Bapak diminta untuk langsung menuju ruangan Bapak Billy !" Ucap Bapak satpam pada Elvano.


"I -ya Pak." Jawab Elvano langsung berdiri tegak.


Belum selesai satpam itu melanjutkan pembicaraan Elvano bergegas melangkahkan kakinya cukup cepat menuju ke dalam kantor.


Melihat Elvano dengan tampangnya yang terlihat sangat pede satpam itu pun kembali memanggil Elvano yang sudah menjauh.


"Eh.... Pak... Pak... Tunggu !" Satpam itu memanggil sambil sedikit berlari kecil mengejar Elvano.


Elvano membalikan badannya.


"Ada apa Pak?" Elvano bertanya heran.


Bapak satpam membalas menatap nya tak kalah heran,


"Memangnya Bapak tau dimana letak ruangan Bapak Billy?


Elvano spontan menepuk jidat nya.


Plak !


Melihat tingkah Elvano yang menggemaskan membuat Bapak Satpam tertawa kecil, sedangkan Elvano jangan ditanya lagi, wajahnya sudah memerah seketika.


Wanita cantik yang ada dibagian resepsionis itu pun memperhatikan nya, ia juga terlihat menutup mulutnya dengan satu tangannya menahan tawa.


"Ma-maaf Pak, saya tidak tau ruangan Bapak Billy, kalau boleh tau ruangannya dimana Pak?'


Akhirnya Elvano memberanikan bertanya kepada Bapak satpam masih dengan wajahnya yang masih memerah karena malu.


Satpam itu berusaha memperbaiki sikapnya dan menghentikan tawa kecil nya.


"Saya akan mengantarkan Bapak. Silahkan ikut saya !" Ucap Bapak satpam kemudian


Elvano dan Bapak satpam pun berjalan beriringan. Bapak Satpam berada didepan, sedangkan Elvano mengikuti dari belakang.


Mereka masuk dalam lift, karna ruangan Pak Billy ada dilantai paling atas yaitu lantai 11, begitu pun dengan ruang kerja Elvano nantinya.


Suasana hening tercipta selama didalam lift. Wajah Elvano masih sedikit memerah karna kejadian tadi.


Ting tong


Bunyi lift


Pintu terbuka lift, mereka sudah tiba dilantai 11 saat itu.


Ketika Elvano dan Bapak satpam melangkah keluar dari lift melewati sekumpulan meja kerja yang masih dipenuhi karyawan Perusahaan itu, karyawan cewek mulai melirik ke arah mereka.


Tentu saja mereka melirik Elvano.


Boleh juga laki-laki itu. Tampan.


Begitulah kira-kira kata cewek-cewek itu dalam hatinya.


Elvano memang terlihat sangat tampan. Pakaian formal yang ia kenakan membuat aura Tuan Muda nya semakin terpancar.


Bahkan ada beberapa wanita jomblo yang melihat nya sambil memegang kedua pipinya seolah-olah sangat ingin memiliki Elvano yang baru pertama dilihatnya itu.


Elvano sama sekali tidak merasa terganggu, ia memang sudah terbiasa dengan suasana seperti itu, di kampus juga demikian. Walaupun ini pertama kali nya di tempat ini, tapi kurang lebih ya sama saja bagi nya.


Tok tok tok


Bapak satpam mengetuk pintu setelah mereka tiba di depan ruangan Manager Billy.


"Masuk!" Billy menjawab dari balik pintu.


Pak satpam pun membukakan pintu kepada Elvano dan mempersilahkan dia untuk masuk.


Setelah Elvano masuk pak satpam pamit.


"saya permisi pak !"


Ia kembali menutup pintu dan turun ke lantai bawah


Elvano berjalan mendekati Billy.


"Selamat Pagi Pak !" Ucap Elvano mengucap salam.


Pak Billy melototkan matanya, membuat Elvano sedikit gugup dengan mata yang terlihat cukup besar itu.


"Memangnya jam berapa sekarang?" Pak Billy membuka pembicaraan, sekali lagi Elvano kembali menepuk jidatnya.


Plak !


Salah lagi. Sungguh memalukan.


Wajah nya benar-benar memerah sekarang, lebih merah dari kejadian dilantai dasar tadi.


Bagaimana tidak, kali ini bahkan ia melakukan hal konyol di depan Manager nya sendiri yang baru pertama kali ia temui.


"Ma-maaf pak, maksudnya Selamat sore Pak !" Elvano memperbaiki ucapannya.


Berbeda dengan sikap Bapak satpam, Manager Billy lebih bisa mengontrol sikapnya, ia masih bisa masang wajahnya yang dingin sekalipun melihat hal konyol yang dilakukan Elvano tadi.


Membuat Elvano sedikit lebih gugup dengan sikap dingin yang diperlihatkan Manager itu.


"Silahkan duduk !" Ucap Manager Billy kemudian


"Baik, Terimakasih Pak !" Jawab Elvano sopan.