
Keesokan paginya tidak ada banyak hal yang terjadi di dalam kehidupan Cheril dan Elvano. Begitu pun dengan keluarga Setiono. Elvano juga sudah kembali ke kantor hari ini. Tidak adah hal yang terlalu berarti maupun mala bahaya yang terjadi.
Cheril dan Elvano juga masih tinggal di kediaman keluarga Setiono. Dia merasa cukup aman saat ini. Karena setidaknya, dunia mafia untuk saat ini masih tentram. Palingan mereka sesama mafia lah yang sedang terlibat keributan dalam hal merebut peta palsu itu. Peta palsu yang sangat mirip dengan peta aslinya. Elvano memang membuatnya dengan sangat persis. Bahkan tempat yang ditunjukkan oleh peta palsu ini memnag sama dengan tempat yang ditunjukkan oleh peta asli. hanya saja titik letaknya yang berbeda.
Jika Cheril hanya sekedar menghabiskan waktunya bersama Ibu Winda, Flo dan valen di saat Elvano tak ada di rumah, Elvano lebih sibuk mengurus bisnis keluarganya sudah beberapa hari ia tinggal itu.
Tentu saja sangat banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan saat ini. Pekerjaan yang menumpuk sudah menantinya.
"Eh, tenyata kamu sudah kembali Vano?"
Senyuman manis merekah di wajah Niko saat membuka pintu ruang Presdir. Dan ia malah menemukan Elvano di ruangan itu. Selama Elvano tidak di tempat, Niko memang ditunjuk oleh Elvano sebagai penggantinya. Dan Niko mengusai ruangan Presdir itu.
"Kamu ini Nik, kenapa tersenyum begitu manis? Membuatku merinding saja," tanggap Elvano.
"Emh? Maksud kamu apa?"
"Ya, kamu itu melihatku sudah seperti melihat kekasihmu. Apa itu tidak menakutiku?
Eh, pikiran macam apa itu? Aku ini masih normal,"
Niko tentu saja tidak terima mendengar apa yang dikatakan oleh Elvano tentang dirinya.
Kemesraan kedua sahabat yangsudah beberapa saat tak terlihat ini pun kembali menghiasi ruangan tersebut.
Jika dipikir-pikir, hubungan mereka memang seperti sepasang kekasih saja.
"Apa iya? Kenapa kamu belum juga menikah?" ledek Elvano.
"KAMU!
Niko memang tidak dapat menjawab apapun lagi jika Elvano sudah berkata demikian. Senjata yang digunakan oleh Elvano untuk melawan Niko memang selalu dengan cara yang satu ini.
Melihat Niko yang kalah telak, Elvano tertawa penuh kemenangan.
"Makanya, sana pacari Nikita," goda Elvano lagi.
"Kamu ini kenapa selalu membahas tentang gadis itu? Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Paham?"
Wajah Elvano spontan berubah sanggap mendengar pengakuan Niko.
"Jangan bilang kamu masih mengharapkan wanita gial itu," ucap Elvano seketika.
"Maksud kamu Tika?"
"Ya, siapa lagi? Apa kamu sungguh menginginkan gadis itu, Nik?" tanya Elvano dengan tampang serius.
Ekspresi yang ditampilkan oleh Niko menjawab semua pertanyaan yang Elvano ajukan. Niko memnag tidak menjawab Elvano secar langsung, namun Elvano bisa mengetahui jawaban itu hanya dari ekspresi yang ditunjukkan oleh Niko saja.
"Kamu ini sungguh tak bisa melihat dengan baik ya Nik? Dia itu bukan wanita baik-baik. Kamu sendiri sudah menyaksikan semuanya dengan mata kepalamu sendri mengenaik kejahatan yang dia lakukan terhadapku. Kenapa kamu masih saja menginginkan wanita seperti itu?"
Niko masih belum dapat menjawab Elvano. Sahabatnya itu hanya bisa menundukkan wajahnya.
Semua yang diucapkan oleh Elvano memang benar. Niko mengetahui semuanya dengan sangat jelas dan baik tentang sifat Tika yang buruk. Namun entah kenapa, Niko memang tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.
Begitulah cinta. itulah yang dinamakan cinta itu buta. Niko telah dibutakan oleh cintanya terhadap Tika. Sehinggah dia tidak dapat melihat keburukan-keburukan yang Tika perbuat dari mata hatinya.
Dan Saat itu, Elvano telintas kembali dengan kejadian Tika yang mengetahui tentang keberadaan kastilnya. Elvano pun tergerak untuk mennayai Niko tentang itu. Elvano sedang berpikir, apa memang Niko yang memberitahukan tentang keberadaan kastil itu pada wanita itu.
"Hei Nik, aku mau menanyakan sesuatu padamu. Kamu harus menjawab dengan jujur.
Sekitar sebulan yang lalu, wanita itu menghampiriku di kastil. Apa kamu yang memberitahukan alamat kastil itu padanya?"
"Tentu saja bukan. Walaupun aku mencintai gadis itu, aku tidak mungkin mengkhianatimu Vano," jawab Niko
Elvano bisa melihat ada kejujuran yang terpancar dari sorot mata Niko. Ia tau Niko tidak sedang berbohong.
"Jika bukan kamu, siapa yang memberitahukan tentang itu?"
"Entahlah. Apa kamu ingin aku menyelidiki tentang ini?" tawar niko.
"Tidak perlu. Lagian sudah lewat. Sudah tidak terlalu penting lagi. Saat ini aku justru ingin memintamu mengawasi seseorang,"
"Siapa?" tanya Niko penasaran
"Adikku, Valen."
"Maksud kamu?"
"Valen saat ini sedang menjalin dengan seseorang yang benama Dirly,"
Mendengar Elvano menyebut nama itu Niko berusaha memutar otaknya, ia sedang berusaha mengingat nama tersebut.
Sepertinya aku pernah mendengar namau itu.
Sesaat kemudian niko pun dapaty mengingatnya dengan jelas.
"Maksud kamu Dirly yang mengkhianati Gurumu itu?" tanya Niko kemudian.
"iya, dia orangnya." jawab Elvano singkat.
Jawaban yang Elvano memberikan sangat cukup untuk membuat Niko membulatkan matanya seketika.
"Tapi bagaimana bisa mereka berdua saling mengenal?"
Niko semakin bingung memikirkan hal ini.
"Dirly tau mengenai peta itu.Padahal aku sudah mengelabui semua orang yang mengincar peta tersebut dengan membuatkan yang paslu untuk mereka bawa pergi. Tapi ternyata aku memang tidak bisa mengelabui Dirly. Sepertinya dia mengetahui peta yang ada pada mereka itu palsu. Dan dia tau aku masih memegang peta yang asli," jelas Elvano panjang lebar.
"Jadi maksud kamu dia sedang memanfaatkan Valen untuk melancarkan aksinya?"
"Tepat sekali!"
"Apa Valen tau mengenai ini?"
Niko masih melemparkan pertanyaan.
"Tidak. Aku belum memberitahukan padanya,"
Niko bisa mengerti tentang ini. Elvano pasti memiliki alasan khusus kenapa tidak memberitahukan tentang semua itu pada Valen. Dia juga tidak menanyakan tentang alasan Elvano lagi.
"Baiklah! Aku akan mengawasi Valen dengan baik," janji Niko.
"Bagus!"
Elvano memang sangat mengkhawatirkan keadaan adikknya itu saat ini. Elvano tau, Valen sedang berada di dalam bahaya yang besar. Setidaknya dengan mengutus Niko untuk menangani semua ini bisa membuat Elvano merasa sedikit lebih lega.
Usai dengan pembicaraan yang cukup serius itu mereka berdua kembali membahas perihal pekerjaan di kantor yang juga tak kalah seriusnya. Niko melaporkan banyak hal pada Niko. Tentang omset perusahaan yang sedikit menurun ketimbang sebelumnya juga menjadi pokok pembahasan mereka. Walaupun tidak begitu berpengaruh bagi pendapatan perusahaan, Elvano tetap dengan sigap menangani hal ini. Ia segera menyusun strategi terbaru dalam menanggulangi hal tersebut supaya perusahaan kembali berjalan lancar seperti sedia kala. Niko tampak takjub dengan semua strageti yang disusun oleh Elvano. Sebuah strategi yang begitu rumit yang tidak pernah terlintas di dalam pikiran Niko sama sekali.
Setelah merancang strategi tersebut, Elvano meminta Niko untuk menghubungi semua pihak yang terkait untuk mengadakan pertemuan dadakan saat itu juga.
Sebab bagi Elvano, walaupun hanya masalah kecil tetap harus segera ditangani jika tidak ingin masalah itu bertumbuh menjadi besar.