Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Erik mendapat laporan dari orang utusannya


Siang pun telah berganti malam. Cheril semakin gelisah memikirkan nasibnya.


Siang tadi Cheril memang dibawakan makanan oleh anak buah Baron. Awalnya ia sama sekali tidak ingin menyentuh makanan itu. Namun karna perutnya sangat kelaparan, ia pun memakannya. Setidaknya ia harus memiliki tenaga ekstra untuk melawan laki-laki hidung belang itu nanti malam. Pikirnya dalam hati.


Semua aktivitas sudah selesai, memang masih sangat cepat untuk pergi tidur, namun Bos Baron sudah tidak mampu lagi menahan dirinya untuk tidak segera masuk kedalam kamarnya. Ia sudah sangat haus akan wanita. Apalagi ketika ia membayangkan lekukan tubuh Cheril yang begitu sempurna. Membuat jiwa nakal nya sangat bergejolak.


Jegrek !


Bos Baron membuka pintu perlahan.


Senyuman tipis mengembang dipipi paruh baya nya. Usianya memang sudah tidak muda lagi, mungkin seumuran dengan Ayahnya Cheril.


Melihat laki-laki hidung belang itu membuat Cheril tersentak. Saat itu Cheril sedang duduk ditepi ranjang. Ia pun segera beranjak, membuat Bos Baron bersuara.


"Eh, Nona Cantik, tidak perlu beranjak. Tetaplah disitu. Kita akan bersenang-senang sekarang !" Ucapnya dengan ekspresi genitnya sembari menutup kembali pintu kamarnya dan menguncinya.


Cheril pun semakin ketakutan setelah mendengar ucapannya.


Sementara laki-laki itu semakin melangkah mendekatinya. Sedangkan Cheril ia terus memundurkan langkah nya hingga sudah benar-benar terpojok membuatnya harus menghentikan langkahnya.


Apa yang harus aku lakukan sekarang. Vano... Tolong aku...


Ntah kenapa nama Elvano malah muncul dikepala Cheril. Ia sangat berharap Elvano ada disana saat ini. Ia sudah sangat ketakutan saat ini. Seluruh tubuhnya kini sangat gemetaran.


Sementara Bos Baron juga sudah mulai membuka kancing kemejanya sembari melangkah menuju ke arah Cheril.


"Heh ! Jangan takut. Tidak apa-apa kok. Hanya sakit sedikit saja." Hahahahaha


Ucap laki-laki itu lagi sambil tertawa keras.


Saat ini Bos Baron sudah tiba dihadapan Cheril. Ia mulai mengangkat kedua tangannya hendak memegang pundak Cheril. Dengan segera Cheril pun menepis tangannya. Yang ada laki-laki itu malah semakin merasa tertantang.


Hahahahahahaha


Ia kembali tertawa keras melihat keberanian gadis itu.


"Ayolah sayang ! Aku janji, aku akan melakukannya dengan sangat pelan !" Hahahahaha


Ujar laki-laki itu lagi masih sambil tertawa keras.


Bos Baron kembali mencoba menghampiri Cheril, namun kali ini ia lebih menyiapkan strateginya. Dengan sigap ia segera meraih kedua lengan Cheril dan melemparnya keatas ranjang membuat Cheril berteriak seketika.


Ia pun segera menindih tubuh Cheril ketika Cheril sudah terbaring diatas ranjang.


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang. Ah iya....


Sesaat Cheril teringat sesuatu. Ketika wajah laki-laki dengan tubuh kekar itu hendak mendekatkan wajahnya kearah Cheril, ia pun dengan segera menggigit pipi laki-laki itu dengan sekuat mungkin. Membuat laki-laki itu mengerang kesakitan.


Plaaaak !


Satu tamparan keras mendarat di pipi Cheril, ia pun juga mengerang kesakitan.


"Dasar wanita br*ngs*k !" Ucap Bos Baron dengan suara keras.


Bos Baron segera memegang pipi nya yang digigit oleh Cheril tadi, alangkah kagetnya dia ketika melihat tangannya berlumuran darah segar yang mengalir sangat banyak. Ia pun segera membuka pintu kamar dan berlaku dari kamar itu.


Walaupun Cheril merasa kesakitan, namun ia cukup lega karna laki-laki tadi tidak jadi menidurinya.


Fiiiiiiiiiiuh


Untuk malam ini Cheril pun bisa tenang.


-------------------------


Keesokan paginya Erik sudah mendapatkan kabar dari orang yg ia utus.


Saat itu Erik sedang berada di ruang kerjanya. Erik memiliki sebuah toko mainan, toko yang cukup besar milik keluarganya. Keluarga Erik memang bisa dikatakan lumayan, walaupun tidak terlalu kaya, tapi lumayanlah. Saat ini Erik memang sudah mulai belajar untuk mempelajari yang bisa ia pelajari, karna nantinya toko ini juga akan jatuh ke tangannya.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk !" Ucap Erik


Dari balik pintu terlihat seorang laki-laki masuk kedalam ruangannya.


Erik tentu saja mengenali laki-laki itu. Itu adalah orang suruhannya untuk mencaritahu tentang keberadaan Cheril kemarin.


"Katakanlah apa yang kamu tahu !" Ucap Erik dengan nada datar.


Laki-laki itupun menceritakan semuanya. Semua yang ia tau.


Ketika Erik Mendengar nama Baron, ia pun sangat kaget. Tentu saja ia tau siapa Baron, laki-laki itu memang sudah sangat terkenal akan kebengisannya.


Bagaimana bisa Jimmy bisa berurusan dengan laki-laki gila itu. Bagaimana dengan nasib Cheril.


Erik terlihat sangat cemas saat ini.


Awalnya orang utusan nya baru menyampaikan bahwa Cheril sudah berada di kediaman Baron saat ini. Erik sudah terlihat sangat cemas. Membuat orang itu menghentikan pembicaraannya sesaat.


Beberapa detik kemudian ia kembali melanjutkan pembicaraannya.


"Bos, tapi pagi ini Nona Cheril sudah dibawa pergi oleh Bos Baron !" Ucapnya lagi.


"Apaaaaa? Kamu tau Cheril dibawa kemana?" Erik semakin shock mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu.


"Iya Bos. Mereka menuju ke kota X. Kabarnya disana Bos Baron memiliki sebuah tempat hiburan yang sangat besar. Dan mungkin Nona itu akan dijual di tempat itu." Tambah Laki-laki itu lagi.


Kali ini Erik sudah sangat lemas mendengar apa yang dikatakannya.


ia sangat bingung harus bagaimana saat itu. Jelas ia tidak mungkin dapat melawan laki-laki itu. Secara kekayaan jelas sangat jauh dibanding dirinya. Kekayaan Ayah Cheril pun tak ada tandingannya sama sekali dengan Baron. Masih seujung kuku bagi nya.


Saat ini Ayah Cheril juga belum tau mengenai putrinya yang sudah dibawa oleh Baron. Ia juga belum mengetahui semua yang telah terjadi pada anak dan menantunya itu. Kalau soal saham Jimmy yang sudah ditarik sedikit demi sedikit itu memang sudah terjadi sejak 2 bulan yang lalu, Ayah Cheril pun sudah tidak mau mengambil pusing lagi soal itu. Ia berpikir mungkin Jimmy sengaja melakukan itu. Ia sama sekali tidak tau tentang kehancuran Perusahaan inti milik Jimmy.


Lagian kedua orangtua Cheril juga sangat sibuk dengan kehidupan mereka, jadi mereka pun hampir tidak memiliki waktu untuk menanyakan keadaan putri nya selama ini setelah ia tinggal terpisah dari mereka setelah pernikahan itu berlangsung.


Cheril juga tidak pernah menemui orangtuanya, apalagi wajahnya lebih sering babak belur, ia malah merasa senang kedua orangtuanya tidak begitu menanyakan keadaannya terutama mendatanginya karna takut orangtuanya akan merasa khawatir jika melihat keadaannya yang sangat menyedihkan.


Sekarang apa yang harus aku lakukan untuk menolong Cheril. Aku sungguh tidak tau harus berbuat apa.


Jimmy terus berkata-kata dalam hatinya.


Sesaat kemudian ia pun teringat dengan Elvano. Iya, Vano pasti bisa membantunya. Di kota X, bukannya Elvano juga tinggal di sana. Jimmy pun kembali menemukan titik terang.


"Baiklah ! Sekarang kamu sudah boleh keluar !" Ucap Erik pada laki-laki utusannya itu.


Kemudian laki-laki itu pun segera berlalu dari ruangan kerja Erik.