Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Bagaimana menyampaikannya?


Elvano kemudian segera masuk kedalam mobil itu dan Pak supir juga ikut masuk. Lalu sesaat kemudian mobil yang ditumpangi mereka pun segera melaju meninggalkan gedung Astra Investama Group.


Disepanjang perjalanan Elvano terus melamun. Pastinya ia sedang memikirkan hal yang tadi. Tentang bagaimana ia harus menjelaskan pada kedua orangtuanya tentang acara yang akan segera digelar esok paginya. Otaknya terus berputar, hingga membuat kepalanya terasa sakit. Tapi masih saja ia belum mendapatkan jawaban apapun.


Tak terasa, mobil pun sudah Kembali berhenti melaju, karna telah memasuki perkarangan rumah mewah tempat tinggal Elvano saat ini.


Pak supir lalu membukakan pintu mobil untuk Elvano, yang membuat Elvano tersadar seketika.


Eh, ternyata sudah sampai di rumah ya.


Karna asyik dengan pikirannya yang tak juga membuahkan hasil, Elvano bahkan tidak tau saat ini ia telah tiba dikediamannya.


Kemudian Elvano pun segera turun dari mobil itu dan melangkah mendekati pintu utama. Kemudian ia segera mengetuk pintu ketika sudah berada dihadapan pintu utama itu.


Tok tok tok


Hanya dalam hitungan detik, pintu sudah terbuka lebar. Seorang kepala pelayan yang menggantikan pak Rangga dulu yang membukakan pintu untuk Elvano. Ia pun segera menundukkan tubuhnya ketika melihat Elvano yang berada dibalik pintu sembari mengucap salam.


"Selamat Sore Tuan Muda !" Ucap Kepala pelayan itu dengan tubuh yang masih tertunduk.


"Selamat Sore Pak Didi !" Balas Elvano.


"Apa Tuan dan Nyonya ada di rumah?" Tambah Elvano melempar pertanyaan.


"Iya Tuan Muda. Tuan Besar dan Nyonya besar sedang duduk di ruang tengah." Jawab Pak Didi.


"Oh, Baiklah ! Terimakasih ya Pak Didi !" Ucap Elvano kemudian.


"Eh, sama-sama Tuan Muda." Balas Pak Didi dengan ekspresi heran.


Tak biasanya Elvano mengucapkan Terimakasih seperti itu. Dan juga tidak biasanya Elvano menanyakan kedua orangtuanya seperti itu. Ia juga jarang pulang ke rumah jam segitu sih. Biasanya ia selalu pulang diatas jam 6 sore.


Setelah selesai berbicara dengan Pak Didi, ia lalu melangkahkan kakinya ke arah ruang tengah dimana kedua orangtuanya sedang duduk santai.


"Selamat sore Ayah, Ibu !" Elvano mengucap salam setelah berada di ruang tengah.


Tuan dan Nyonya Besar Setiono memang sedang duduk diruang tengah sembari menikmati berita di salah satu channel televisi swasta.


"Eh, Selamat Sore Vano !" Jawab Ibu Winda


"Tumben kamu pulang secepat ini Vano?" Ucap Ayah William menambahkan.


"Iya Yah. Ada yang ingin Vano bicarakan pada Ayah dan Ibu !" Jawab Elvano to the point.


"Eh, mau bicara apa Vano? Tanya Ibu Winda, sepertinya ekspresi Elvano sangat serius. Ia pun sangat penasaran.


"Eh, Begini...."


Elvano menghentikan ucapannya sesaat, karna merasa ragu harus melanjutkan kalimatnya atau tidak.


Sementara Ibu Winda sudah sangat penasaran menunggu kelanjutan kalimat Elvano membuat nya sedikit mengerutkan dahi. Berbeda dengan Ayah William yang masih bisa bersikap setenang mungkin.


"Kamu mau bicara apa?" Ibu Winda kembali bertanya karna sudah sangat penasaran.


"Eh. Tidak apa-apa Bu !" Jawab Elvano kemudian.


Ia tidak mampu melanjutkan kembali kalimatnya. Masih terngiang dipikirannya membayangkan kedua orangtuanya yang mungkin akan terkena serangan jantung jika mendengar apa yang ia katakan nanti.


Gumam Ibu Winda semakin penasaran. Ia yakin pasti ada yang sedang disembunyikan oleh Elvano.


"Vano naik keatas dulu ya ! Mau membersihkan diri dulu." Ucap Elvano kemudian. Lalu segera melangkahkan kakinya cepat menuju arah tangga untuk naik ke lantai atas dimana kamarnya berada.


"Eh. Kok malah pergi sih?" Gumam Ibu Winda pelan.


"Eh, Wil, sepertinya ada yang disembunyikan oleh Elvano. Kira-kira apa ya?" Tanya Nyonya Winda pada suaminya.


"Ya, mana aku tau. Tanyakan saja pada anaknya !" Jawab Tuan William dengan sangat santai.


"Ah, kamu ini. Masa kamu tidak penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh putramu itu?" Ucap Nyonya Winda lagi.


"Paling juga soal wanita." Ujar suaminya masih dengan nada yang sangat santai.


"Eh, benarkah?" Justru Nyonya Winda yang sangat bersemangat mendengar tanggapan Tuan William itu.


Padahal Tuan William juga asal ucap. Namun juga sangat mengena sih. Elvano memang ingin membicarakan perihal wanita kan.


"Kalau kamu penasaran tanyakan saja pada anaknya langsung !" Ucap Tuan William lagi.


"Eh, iya, nanti aku tanyakan ke dia !" Jawab Nyonya Winda akhirnya. Ia sendiri sudah senyum-senyum memikirkan hal itu.


'Jika memang benar, itu artinya Elvano akan segera menikah kan? Aku akan punya menantu.'


Nyonya Winda berkata-kata didalam hatinya masih sambil senyum-senyum sendiri. Rasanya ia sudah ingin berteriak Hore ! Karna saking senangnya.


Sementara Elvano sudah berada didalam kamarnya saat ini. Ia memang segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, karna tubuhnya memang sudah terasa sangat lengket dan ia juga merasa sangat pegal, sehingga membuat nya ingin segera berendam didalam air hangat.


Saat berada didalam bathtub, Elvano malah membayangkan wajah Cheril, pikiran nakalnya mulai berkeliaran.


"Ah, seandainya wanita itu ada disini saat ini, aku akan mengerjainya habis-habisan. Aku akan meminta nya untuk memijat seluruh tubuhku ! Hahaha. Kira-kira bagaimana reaksinya ya?" Elvano berkata-kata sendiri sambil membayangkan wajah Cheril yang mungkin akan sangat cemberut atau mungkin ia akan sangat marah, atau bisa juga ia akan merasa malu.


"Ah, tidak mungkin ia malu, kan dia sudah terbiasa. Ia sudah pernah menikah toh. Pasti dia juga sudah pernah memijat suaminya itu didalam bathtub, ataupun sekedar menggosok punggungnya."


Mengingat hal itu malah membuat Elvano merasa sangat kesal.


"Aaah. Sudahlah ! Memang kenyataannya dia sudah menikah dengan laki-laki itu, dan bahkan statusnya juga belum jelas mereka sudah cerai atau belum. Lagian aku hanya ingin bermain-main dengan dirinya saja kan." Elvano Kembali berkata-kata sendiri.


"Yang harus aku pikirkan saat ini, bagaimana aku harus memberitahukan pada kedua orangtuaku ya?" Elvano kembali mengingat hal itu. Hal yang membuat dirinya pusing 7 keliling.


Tadi saja ia sudah mencobanya, tapi ia sama sekali tidak dapat mengatakannya. Ia sungguh bingung harus bagaimana memulainya supaya kedua orangtuanya itu tidak merasa kaget.


Elvano sudah tidak berkata apapun lagi saat ini, ia juga memilih melupakan pikirannya yang rumit itu sesaat lalu memejamkan matanya. Saat ini ia sedang ingin menikmati sentuhan air hangat yang sangat menghangatkan tubuhnya itu. Membuat dirinya merasa sangat nyaman dan segar.


Saking nyamannya Elvano pun tertidur didalam bathtub.


Sekitar satu jam kemudian ia baru terjaga kembali.


"Ya ampun, ternyata aku ketiduran didalam bathtub?" Gumam Elvano pelan sembari mengucek-ngucek matanya yang masih setengah terpejam. Rasanya ia belum rela membuka matanya.


Walaupun tak rela Elvano tetap segera beranjak dari bathtub itu dan mengeringkan dirinya. Kali ia tidak segera beranjak, jangan-jangan ia akan demam karna terlalu berlamaan didalam air yang sudah mulai dingin itu.


Sesaat setelah ia sudah selesai mengeringkan diri dan berpakaian santai, ia segera meraih ponselnya. Tiba-tiba satu ide muncul didalam benaknya.


Elvano membuka menu kontak dalam ponselnya dan mencari nomor Niko, lalu menghubungi nomor itu.