Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Kejadian di dalam Restoran


Cinta itu seperti angin, kau tidak bisa melihatnya, tapi kau bisa merasakannya.


~Nicholas Sparks


Niko segera turun dari mobil dan berlari ke arah pintu belakang untuk membukakan pintu bagi Elvano, namun alangkah terkejutnya Niko ketika ia baru saja berdiri didepan pintu mobil belakang tiba-tiba pintu sudah terbuka dengan sendirinya yang dibukakan sendiri oleh Elvano. Ia sendiri malah berlarian menuju pintu disebelahnya untuk membukakan pintu bagi Cheril. Tentu saja Niko pun semakin heran melihat pemandangan langka itu.


Sepertinya dirimu sudah semakin berlebihan Tuan Muda, apa masih berani bilang hanya ingin sekedar bermain-main dengan Nona ini..


Gumam Niko dalam hatinya.


------------ #Sebelumnya.


Ketika Cheril hendak membukakan pintu untuk turun sendiri, Elvano segera menahannya dengan memegang tangannya yang sudah siap untuk membukan pintu sendiri.


"Tunggu ! Kamu tetap disini, biar aku yang membukakan pintu untukmu." Ucap Elvano tiba-tiba.


Saat itu Niko tidak mendengarnya karena ia sudah berada diluar mobil.


Cheril yang mendengar Elvano berkata demikian sampai melototkan matanya karna kaget. Tapi ntah kenapa Cheril juga merasakan ada sebercak kebahagiaan yang menghampiri hatinya saat itu. Iya, dia merasa senang diperlakukan demikian oleh Elvano.


-----------


Lalu ia sungguh melakukan itu, ia turun dan membukakan pintu bagi Cheril, setelahnya ia juga mengulurkan tangannya untuk membantu Cheril turun dari mobil. Dan setelah itu tangannya juga terus menggenggam erat telapak tangan Cheril yang sudah berhasil diraihnya seolah-olah ia sudah tidak ingin melepaskannya lagi. Dan segera melangkah menuju restoran tanpa menghiraukan Niko sama sekali.


Sementara Niko, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perubahan signifikan yang ditunjukkan oleh Elvano dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Lalu ikut menyusul pasangan itu dari belakang.


Setelah menemukan tempat duduk, mereka segera merebahkan tubuhnya diatas tempat duduk di restoran itu dengan posisi Elvano masih tetap menggenggam erat tangan Cheril, sepertinya ia ingin memberitahukan pada semua orang bahwa wanita cantik itu adalah istrinya.


Dan Niko duduk didepan pasangan ini.


Lalu mulai memilih menu mereka masing-masing.


"Cheril, kamu mau makan apa?" Tanya Elvano


"Eh..


Dia memanggil namaku.. Sudah lama sekali aku tidak mendengar dia menyebut namaku seperti itu.


Yang ada Cheril malah melamun melihat perubahan sikap Elvano ini. Ia masih belum mampu mencerna semua perlakukan Elvano yang tiba-tiba berubah sedramatis tadi, sekarang Elvano malah menyebut namanya tanpa menggunakan kata Nona lagi didepannya, atau bahkan biasanya Elvano akan memanggilnya dengan kata 'Heh'. Membuat Cheril seperti sedang terbang diatas awan saja.


"Kenapa diam saja? Kamu tidak menyukai tempat ini ya?" Elvano kembali bersuara karna Cheril hanya diam saja.


"Eh, tidak kok, aku suka tempat ini, sangat suka malah. Baiklah ! Aku akan memilih menuku." Ucap Cheril kemudian sembari berusaha melepaskan tangannya yang satunya yang masih digenggam erat oleh Elvano.


Ya, pastinya Elvano mencegah hal itu.


"Tidak perlu dilepas ! Biar saja tetap seperti ini !" Ujar Elvano. Ia masih belum rela melepaskan tangan Cheril dari genggamannya.


Membuat Niko yang sedang menunduk memilih menu sedikit mengangkat wajahnya untuk melirik kearah mereka berdua.


Cheril yang menyadari Niko melirik mereka, ia pun merasa sangat malu.


"Tapi, aku sedikit kesulitan memilih menu jika kau terus menggenggam ku seperti ini." Ucap Cheril tiba-tiba. Ia masih berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Elvano.


"Jadi kau tidak suka aku memegang tanganmu?" Akhirnya Elvano murka lagi deh. Ia sudah melepaskan tangan itu sekarang.


Ya, mulai lagi deh pasangan ini.


Huuuuuuuh


Niko membuang nafas kasar karna merasa perang akan segera dimulai kembali.


Mendengar Cheril yang menyebut namanya seperti itu malah membuat Elvano semakin murka.


"Heh ! Tadi aku suruh kamu panggil aku apa?" Ucap Elvano setengah berteriak. Kali ini lebih kuat dari ucapannya tadi. Semua orang yang ada di Restoran itu sudah melemparkan pandangannya kearah mereka.


Cheril dan Niko pun ikut mengedarkan pandangan mereka menyusuri seluruh ruangan itu.


Tolong Tuan Muda, kita sedang di Restoran, jangan bertingkah seperti anak kecil begitu. Harga dirimu bisa jatuh Tuan Muda.


Ya tentu saja sebagian orang yang ada di restoran itu memang sudah mengenal Elvano, terutama para pegawai yang ada disana karna restoran ini adalah milik keluarga Setiono.


Ketika mereka bertiga masuk ke dalam restoran tadi, semua pegawai langsung menundukkan tubuh mereka dan segera menuntun mereka menuju tempat duduk spesial di restoran itu. Dan sesekali mereka juga melirik kearah Cheril, memang belum ada yang tau Cheril adalah istri Elvano yang ia nikahi secara diam-diam apalagi belum genap 1hari usia pernikahan mereka. Selama ini Elvano juga belum pernah terlihat membawa wanita ketika memasuki Restoran itu. Jadi wajar saja jika semua pegawai melirik Cheril dan menatapnya heran.


Cheril yang menyadari tatapan para pegawai itu juga ikut merasa heran, kenapa mereka sepertinya sangat penasaran dengan dirinya, selain itu ia juga sangat penasaran melihat para pegawai yang menundukkan tubuh ketika mereka melangkah memasuki restoran tadi. Namun ia tidak memiliki keberanian untuk menanyakan hal ini.


"Ma-maaf !" Ucap Cheril sesegera mungkin berharap Elvano tidak marah lagi.


Apa kamu tidak melihat, semua orang sedang menatap kita, tolong hentikan sikap anehmu itu Elvano.


Gumam Cheril dalam hati sambil sesekali masih mengedarkan pandangannya kepada orang-orang yang masih melirik kearah mereka.


Elvano menyadari semua itu, tapi ia memang sama sekali tidak memerdulikan semua itu.


"Mau aku katakan berapa kali? Aku tidak membutuhkan kata maaf mu itu !" Ucap Elvano lagi masih dengan nadanya yang tinggi.


Ah, bagaimana caranya supaya laki-laki ini segera diam sih..


Cheril sudah semakin malu karna Elvano masih terus meneriakinya.


"Baiklah, peganglah tanganku ini, aku tidak akan melepaskan tangan ini lagi." Ucap Cheril kemudian sambil meletakkan kembali tangannya diatas telapak tangan Elvano dan memintanya untuk menggenggam erat tangannya lagi.


"Tidak mau.. Aku sudah tidak menyukai tangan itu lagi !" Jawab Elvano ketus. Tapi volumenya sudah ia turunkan.


"Jadi kamu mau apalagi sekarang?" Akhirnya Cheril hanya bisa melemparkan pertanyaan itu, yang ia sendiri sudah tau, jika ia mengatakan itu, Elvano pasti akan meminta yang macam-macam. PASTI.


Namun ia sendiri sudah tidak memiliki cara lain lagi.


"Baiklah ! Aku ingin kau mencium pipiku !" Ucap Elvano yang membuat Cheril dan Niko melototkan matanya seketika.


Tidak hanya kedua orang ini, pegawai Restoran yang sedang berdiri disana pun ikut melototkan matanya.


Sedari tadi pegawai itu memang sudah berdiri disana untuk mencatatkan makanan yang ingin ketiga orang ini pesan. Ia juga sangat kebingungan sejak tadi menyaksikan pertengkaran kedua insan ini.


Kamu masih waras Tuan Elvano.. Yang benar saja aku harus melakukan itu didepan orang sebanyak ini..


"Kenapa masih diam? Ayo lakukan !" Tambah Elvano lagi.


Aaaah... Jadi dia sungguh-sungguh dengan ucapannya..


Mau tidak mau Cheril pun harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh Elvano, kalau tidak ia akan semakin murka.


Sebelum melakukan hal gila itu, Cheril terlebih dahulu menarik nafasnya dalam-dalam lalu kembali menghembuskannya pelan.


Cup !


Satu kecupan lembut mendarat dipipi Elvano yang dilakukan oleh Cheril dengan gerakan yang sangat cepat. Dan berhasil mengukir senyuman manis di wajah tampannya.


Sementara Cheril, wajahnya sudah semerah tomat saat ini.


Sedangkan Niko dan pegawai wanita tadi hanya tersenyum geli melihat sikap Elvano yang sepertinya sudah sangat puas karna berhasil mengerjai wanita itu.