Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Dokter Shinta


Monolog


Saat mendengar istrinya mengeluh merasa mual, Elvano terlihat sangat panik dan khawatir. Awalnya, ia ingin mengajak Cheril pergi ke dokter. Namun setelah dipikir-pikir Elvano malah takut Cheril tidak memiliki tenaga yang kuat untuk menuju ke tempat dokter. Tempat dokter memang tidak terlalu jauh, hanya saja Elvano terlalu khawatir sebab Cheril makan sangat sedikit tadi. Dan Elvano pun memutuskan untuk menjemput dokter datang ke Villa. Jadi, inilah Alasannya kenapa Elvano pergi begitu saja.


Saat tiba di tempat praktek Dokter Shinta, Elvano terlihat begitu panik, membuat Dokter Sinta ikut merasa panik.


"Shin! SHINTA!" teriak Elvano dengan nafas ngos-ngosan.


Dokter Shinta yang melihat itu sangat kaget.


"Ada apa Kak? Apa yang terjadi? Dan kenapa Kakak di sini? Kapan Kakak datang ke desa?" tanya Dokter Shinta bertubi-tubi.


Setelah Elvano berhasil mengatur nafasnya, ia pun menjawab pertanyaan Dokter Shinta.


"Sudahlah, itu tidak penting. Sekarang aku mau kamu ikut denganku. Sesuatu sudah terjadi pada istriku. Kamu harus menolong nya sekarang juga!"


Apa dia bilang istri tadi ... Jadi Kak Vano sudah menikah.


Dokter Shinta membatin. Ia tak menyangka Elvano sudah menikah.


"Ayo ikut aku!"


"Eh ...,"


Tanpa menunggu persetujuan dari Dokter Shinta, Elvano sudah langsung menarik pergelangan tangan nya keluar dari ruangan menuju mobil.


Saat di dalam mobil suasana menjadi sangat hening. Dan membuat Elvano merasa heran.


Elvano mengenal Shinta dengan sangat baik, biasanya gadis ini sangat cerewet dan selalu bertanya banyak hal. Kali ini dia malah hanya diam saja. Jelas, membuat Elvano kebingungan.


"Kamu kenapa Shin? Apa kamu juga sakit? Biasanya kamu sangat cerewet, kenapa sekarang kamu diam saja?"


Saat mengucapkan ini, Elvano sedikit mengerutkan dahinya dan juga sesekali melirik ke arah Shinta dan berpindah ke arah depan karena saat itu ia sedang menyetir.


"Ehm? Aku tidak apa-apa kok. Hanya lagi males ngomong aja,"


Dokter muda itu terlihat sedikit menekuk wajahnya. Sepertinya dia sedang kesal.


Dan Elvano menyadari ini, saat ia melirik ke arah gadis itu, ia mendapati ekspresi cemberut diwajahnya.


Namun Elvano juga tidak terlalu menghiraukan hal itu. Karena yang ada di pikiran Elvano sekarang hanya keadaan Cheril yang membuat dirinya terus merasa khawatir.


Selain hanya melirik ke arah gadis itu, Elvano sudah tidak berbicara apapun lagi dan lebih memilih fokus menyetir.


Suasana hening pun kembali tercipta di sepanjang perjalanan hingga mereka tiba di Villa.


-----


Cheril melangkah dengan terburu-buru dari kamar menuju keluar Villa. Dan pada saat yang bersamaan Elvano dan Shinta juga sudah tiba di depan Villa.


Ia sedikit tersentak saat melihat Elvano sedang menggandeng tangan Sinta menuju ke arah Villa.


"Siapa wanita yang sedang bersama Vano?"


Pertanyaan tersebut muncul di dalam hati Cheril.


"Loh, Sayang, kenapa kamu keluar dari kamar? Kamu kan sedang tidak sehat,"


"Ayo kita masuk ke dalam!" ajak Elvano pada Cheril.


Sebelum menuntun Cheril memasuki Villa, ia lebih dulu melirik ke arah Shinta.


"Hei, kenapa masih berdiri di sana? Ayo kemari!" panggil Elvano sembari melambaikan tangannya ke arah Shinta.


"Eh ...,


Huuuh!


( Shinta membuang nafas kasar )


"Iya, aku ke sana!" jawab Dokter Shinta lesu.


Dengan berat hati, Shinta pun melangkahkan kakinya ke arah Villa.


Setelah Shinta sudah sangat dekat dengan Elvano dan Cheril, mereka bertiga pun melangkah memasuki Villa bersamaan.


Sesaat sebelumnya, mata Shinta dan mata Cheril masih sempat saling beradu tatap.


Jika tatapan Cheril lebih kepada rasa penasaran dengan gadis itu, tatapan Shinta malah lebih kepada rasa cemburu.


Shinta menatap Cheril dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, membuat Cheril mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Penjelasan:


Gadis yang bernama Sinta itu adalah dokter satu-satunya di desa Semut Merah ini. Dimana letak dari pantai yang dikunjungi oleh Cheril dan Elvano saat ini.


Walaupun Desa ini tidak terlalu jauh dari kota, namun desa ini bisa dikatakan sedikit terpencil. Jalanan pada desa ini juga tidak begitu mulus. Sebagian dari jalanan yang ada di desa ini malah belum diaspal. Yang dimana pada saat musim hujan tiba, jalanan tersebut akan sangat becek dan membahayakan para penggunanya.


Elvano dan Shinta saling mengenal sejak sekitar 1 tahun yang lalu. Saat Elvano membantu keluarga Pak Jono untuk mendapatkan pertolongan.


Pada saat itu anak bungsu dari Pak Jono sedang mengalami pendarahan di kepalanya akibat terjatuh dari pohon mangga. Elvano dan Manajer Li yang kebetulan melintas di dekat sana segera memberikan tumpangan pada anak itu untuk dibawa ke dokter. Ketika itu, Pak Jono yang juga ikut mengantar memberikan petunjuk pada Elvano dan Manager Li, agar membawa anaknya kepada Dokter Shinta.


Dan ternyata, keadaan anak bungsu Pak Jono sangat parah. Dokter Shinta tidak mampu menanganinya. Namun, Elvano terus memberikan semangat kepada Dokter Shinta supaya setidaknya Dokter itu harus memberikan pertolongan pertama terlebih dahulu kepada anak itu.


Pada saat Dokter Shinta sungguh merasa tidak mampu, Elvano malah terus menyemangatinya. Karena Elvano tahu jika anak itu tidak diberikan pertolongan pertama, maka anak itu kemungkinan besar tidak akan sampai di rumah sakit di kota. Melainkan akan kehilangan nyawanya karena kehabisan darah sebelum tiba di rumah sakit di kota. Akhirnya Dokter Shinta pun mencoba melakukan yang terbaik yang ia bisa bermodalkan semangat yang diberikan oleh Elvano.


Dengan perlahan Dokter Shinta menjahit kepala anak bungsu Pak Jono. Walaupun tidak begitu rapi, ternyata Dokter Shinta berhasil menghentikan darah yang keluar dari kepala anak itu. Setelahnya, ia baru memberikan surat rujuk supaya anak itu dibawa ke rumah sakit di kota agar mendapatkan pertolongan yang lebih baik.


Mendengar apa yang diucapkan oleh Dokter Shinta, Pak Jono menangis tersedu-sedu. Sebab ia tidak memiliki biaya untuk membawa anaknya ke kota. Dan lagi-lagi Elvano lah yang menjadi pahlawan bagi Pak Jono. Ia berjanji akan membawa anak bungsu Pak Jono menuju kota dan menanggung semua biaya perawatannya.


Selain Pak Jono yang terus mengucapkan terima kasih kepada Elvano, Dokter Shinta juga diam-diam mengagumi perbuatan Elvano.


Dan sejak itulah Shinta merasa sangat menyukai Elvano.


Pertemuan mereka berdua tidak hanya sampai disitu saja, Elvano masih sering bolak-balik ke desa Semut Merah untuk mengunjungi anak bungsu Pak Jono setelah ia diijinkan pulang ke rumah oleh pihak rumah sakit di kota. Dan mengingat akses dari desa ke kota cukup jauh, Elvano meminta Dokter Shinta untuk merawat anak tersebut selama rawat jalan masih diperlukan.


Hal ini membuat hubungan Elvano dan Shinta semakin dekat, hingga mereka pun sering berjalan berdua. Entah itu sekedar makan bersama, ataupun berjalan menelusuri desa.


Dengan alasan ini juga, predikat dokter pada diri Shinta sudah tidak melekat saat Elvano memanggil gadis itu. Ia lebih leluasa memanggil gadis itu hanya dengan namanya saja.


Namun sejauh itu, Elvano hanya menganggap Shinta sebagai adiknya saja. Tidak lebih daripada itu.