
Pemakaman segera berlangsung setelah 1 hari jasad Tuan Besar Hendri Setiono berada di rumah duka. Karangan bunga memenuhi tempat itu yang dikirimkan oleh para kerabat dan juga rekan bisnis Astra Investama Group Membuat suasana duka begitu terasa.
Masyarakat dari kalangan kecil yang pernah ditolong oleh Hendri Setiono juga menyempatkan diri untuk mengantar kepergian orang baik itu. Doa dari berbagai kalangan termasuk anak-anak panti asuhan yang dibangun oleh keluarga Setiono juga turut mendoakan mendiang Hendri Setiono.
Keluarga Setiono memang memiliki beberapa panti asuhan yang sengaja dibangun oleh Hendri Setiono untuk menampung anak-anak kurang beruntung, dan panti asuhan tersebut dibangun tidak mencantumkan nama keluarga mereka melainkan menyerahkan hak milik sepenuhnya pada pemilik panti itu sendiri.
Membuat semua kerabat yang hadir di sana terkagum-kagum menyaksikan suasana haru yang terjadi disana. Mereka sama sekali tidak menyangka selama hidupnya Hendri Setiono memiliki jiwa sosial yang setinggi ini, sebab keluarga Setiono memang tidak pernah mempublikasikan tentang kehidupan sosial mereka kepada publik selama ini.
Jiwa sosial Hendri Setiono memang sangat tinggi. Bagaimana mungkin William bisa memiliki pemikiran Ayahnya dapat melakukan hal seperti ini terhadap cucunya sendiri? Ia bahkan banyak belajar dari Ayahnya itu.
Sesaat kemudian, acara pemakaman pun telah selesai digelar, para kerabat telah meninggalkan tempat pemakaman, yang tersisa kini hanya keluarga Setiono.
"Valen, Flo, bawalah Nenek kalian kemobil, dan pulanglah terlebih dahulu ! Ibu akan menemani Ayah kalian disini sebentar lagi." Kata Winda pada kedua putrinya, ia takut Ibu mertuanya terlalu lelah karena tubuhnya juga sudah tidak begitu kuat lagi seperti dulu.
"Baik Bu !" Jawab Valencia
"Ayo Nek ! Kita pulang dulu !" Ujar Valencia sembari menuntun Neneknya membantu nya berjalan menuju mobil yang juga dibantu oleh Florencia disebelah kiri Nenek.
Setelah kepergian mereka, sekarang tinggallah William dan Winda yang masih disana.
William terlihat sangat terpukul dengan kepergian Ayahnya. Ia memang sangat menyayangi Ayahnya, sekalipun Ayahnya telah melakukan kesalahan yang sangat fatal, William tetap tidak bisa membenci Ayahnya. Apalagi saat ini ia sudah tiada.
'Ayah, Ayah lihat tadi? Banyak sekali orang yang mendoakan Ayah. Aku yakin Ayah pasti sangat bahagiakan?' Ucapnya dalam hari.
William masih berjongkok didepan makam Ayahnya. Winda yang sedari tadi berada dibelakangnya melangkah mendekatinya dan ikut berjongkok.
"Win, kamu mau kan memaafkan Ayah?" William sangat berharap Winda juga bisa memaafkan kesalahan Ayahnya.
Winda merangkul bahu suaminya lalu menjawab pertanyaan suaminya itu.
"Wil, aku sudah memaafkan Ayah kok. Aku sama sekali tidak menyalahkan Ayah atas semua kejadian ini." Jawab Winda sambil melepaskan tangannya dari bahu suaminya.
Winda kemudian berdiri membuat William ikut berdiri.
"Wil, kamu ingat soal peramal yang Ayah bilang tadi?" Tiba-tiba Winda melemparkan pertanyaan.
William menaikan alisnya sembari mengingat kembali apa diucapkan oleh Ayahnya tadi.
"Hhmm. Iya, aku ingat ! Ada apa memangnya dengan peramal itu Win? Tanya William penasaran.
Winda kembali menarik nafas dalam beberapa kali lalu menghembuskannya perlahan sebelum memulai pembicaraannya.
"Wil, aku sudah tau soal peramal itu sejak usia kandungan anak pertama kita masih berusia 7bulan !"
"Maksud kamu?" William mencoba mencerna apa yang dikatakan istrinya. Ia memang tidak tau soal peramal itu padahal seisi rumah telah mengetahuinya.
"Iya Wil, aku sudah tau tentang ramalan yang ia sampaikan pada Ayah, saat itu aku tidak sengaja mendengar semuanya." Jawab Winda penuh keyakinan.
"Lalu kenapa kamu tidak memberitahukan padaku?" Sedikit raut penyesalan terpancar dari wajah William.
"Saat Ayah memberitahukan tentang kematian anak kita, Aku sudah meragukannya." Lanjut Winda yang membuat William tergelak.
"Maksud kamu, kamu sudah tau Ayah berbohong?"
Winda kembali menundukkan kepalanya setelah itu mengangkatnya kembali.
"Aku memang tidak yakin 100% Ayah berbohong, namun aku merasa curiga dengan semua yang dikatakan Ayah saat itu apalagi saat terpikir dengan apa yang dikatakan peramal itu pada Ayah. Dan satu hal lagi yang membuat aku semakin meragukan pernyataan Ayah waktu itu ialah Pak Rangga yang ikut pergi bersama Anita. Hal ini sungguh diluar akal sehatku Wil. Memangnya apa hubungannya coba, Anita pergi, Pak Rangga juga ikut menghilang." Ucap Winda mencoba mengingat kembali kejadian 23tahun silam.
"Lalu kenapa kamu tidak menceritakan padaku Win?" William kembali melemparkan pertanyaan pada Winda, ia merasa sangat menyesal dengan semua yang sudah terjadi.
Huuuuuuuuuuuuh...
Winda membuang nafas kasar
"Maafkan aku Wil, aku tidak tega jika harus menuduh Ayah melakukan hal yang sangat tidak terpuji seperti itu." Winda melanjutkan kembali penjelasannya.
Setelah mendengar penjelasan Winda, William segera meraih tubuh istrinya memeluknya erat.
"Winda, kamu tidak perlu meminta maaf, aku yang harus berterimakasih padamu.
Terimakasih Win, kamu sudah menjadi istri sekaligus menantu yang sangat baik untuk keluarga Setiono."
Mata William mulai berkaca-kaca. Ia merasa sangat terharu dengan sikap istrinya.
Sedangkan Winda, ia juga sedikit terbawa suasana, air matanya yang sejak tadi telah berhenti mengalir kembali menetes membasahi pipinya.
Pelukan yang berlangsung sekian detik mencapai hitungan menit pun terlepas.
"Win, aku berjanji padamu, kita pasti akan menemukan anak kita. Aku akan mencarinya hingga seluruh penjuru dunia jika diperlukan." Ujar William sembari menatap mata istrinya lekat.
Winda mengangguk pelan.
"Iya Wil, aku percaya padamu." Jawab Winda pasti.
Kemudian mereka kembali melangkah menuju depan makam Ayah mereka dengan saling berangkul. William merangkul lengan istrinya sementara Winda merangkul pinggang tegap milik suaminya.
Mereka berdua kembali berjongkok didepan makan yang masih basah itu.
"Ayah, Willi janji, Willi akan menemukan Elvano Setiono, Penerus Astra Investama Group." Ucap William dengan keyakinan penuh.
Sejak saat itu William berusaha mengutus orang untuk mencaritahu tentang putra sulungnya itu. Namun ternyata semua memang tidak mudah, mengingat dia sama sekali tidak memiliki gambaran apapun tentang putra nya yang sudah bertumbuh dewasa itu. Sekalipun ia memiliki fotonya semata bayi pun sudah akan sangat sulit untuk mengenalinya.
Sudah ribuan orang dengan nama yang sama yang disodorkan oleh orang suruhannya padanya, namun ia sama sekali tidak meyakini ada satu diantara mereka adalah anaknya sebab Ibu Anita yang dimaksudkan mereka sama sekali tidak menyerupai wajah Anita yang pernah bekerja di rumah mereka. Lagian William dan Winda juga sudah tidak begitu mengingat wajah Anita lagi yang sudah 23tahun menghilang dari kehidupan mereka.
1tahun sudah sejak saat itu, mereka masih belum bisa menemukan Putra sulung mereka. Elvano dan Ibu Anita memang tinggal sangat jauh dari tempat tinggal kedua orangtuanya kandungnya.
Mereka masih terus mencari keberadaan putra mereka hingga hari ini.