
Setelah masuk kedalam rumah yang disewakan Niko untuk nya, Cheril pun segera merebahkan tubuhnya diatas sofa yang ada didalam rumah tersebut.
Fiuuuuuh
Cheril benar-benar merasa lega saat ini. Apalagi saat ini juga ada kedua pengawal yang menjaga nya.
Mata Cheril juga sudah sangat mengantuk karna ia tidak tidur semalaman di rumah Bos Baron. Cheril takut laki-laki itu akan kembali kedalam kamarnya ketika ia tertidur. Maka dari itu Cheril pun terjaga sepanjang malam.
Sesaat kemudian, Cheril mulai masuk kedalam pikirannya yang sangat rumit. Saat ini Cheril memang masih sangat bingung dengan semua kejadian yang baru saja terjadi terhadap dirinya. Bagaimana bisa Niko tiba-tiba muncul ditempat itu lalu menolongnya. Memikirkannya saja tidak pernah. Ia malah sudah menyiapkan strategi untuk kabur dari tempat itu dengan cara melompat dari jendela kamar tempat ia dikurung itu. Ya walaupun berada dilantai 5 Cheril tetap ingin mencobanya, daripada hidupnya harus dihabiskan ditempat itu, ia lebih memilih mati saja kalau memang ia gagal mendarat dengan baik pada saat melakukan aksi heroiknya itu. Untung saja ia belum melakukannya, dan Untungnya juga Niko datang lebih cepat.
"Aku benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa Niko muncul begitu saja di tempat itu tadi? Dan darimana dia tau aku berada disana? Padahal juga baru saja aku tiba di tempat itu." Cheril berkata-kata seorang diri. Ia memang merasa sangat heran. Sungguh sangat heran.
Namun rasa kantuk Cheril sepertinya lebih besar dibanding rasa penasarannya. Buktinya saja, tidak menunggu lama Cheril pun sudah terlelap diatas sofa yang empuk itu. Meninggalkan setumpuk benang kusut didalam otaknya yang belum teruraikan.
----------------
Sementara Niko sendiri juga sudah tiba di gedung Astra Investama Group saat ini. Ia sedang berjalan menuju lift khusus yang langsung tertuju ke ruangan Presdir. Karna Niko memang ingin menuju ke ruangan itu.
Ting tong
Lift yang ditumpangi Niko telah terbuka kembali tepat didepan ruangan Elvano. Niko pun segera keluar dari lift dan menuju ke arah ruangan itu. Setelah mengetuk pintu dihadapannya sebanyak 2x, ia pun segera membuka pintu itu dari luar, karna pintu itu memang tidak pernah dikunci.
Ketika melihat Niko berdiri dihadapannya Elvano pun langsung beranjak dari tempat duduknya Karna waktu untuk bertemu dengan klien pentingnya memang sudah tiba.
"Ayo kita pergi sekarang !" Ucap Elvano kemudian.
"Baik !" Jawab Niko singkat sambil meraih laptopnya yang ada di atas meja tamu beserta dengan beberapa file yang sudah disiapkan oleh Sekretaris untuknya.
Kemudian mereka berdua pun segera meninggalkan ruangan itu menuju tempat pertemuan.
Didalam mobil, mereka berdua pun terlibat dalam perbincangan ringan yang diawali oleh Niko yang menunjuk rumah sewa yang ditempati oleh Cheril. Kebetulan mereka memang melewati rumah sewa itu. Sesuai dengan apa yang ia sampaikan pada Elvano, letak rumah itu memang sangat dekat dengan Astra Investama Group. Hanya berjarak sekitar belasan bangunan ruko saja.
Rasanya juga sangat janggal, rumah sewa yang sangat sederhana itu berada ditengah-tengah kota, samping kiri kanan nya pun hanya ada ruko dan gedung-gedung tinggi seperti gedung milik Astra Investama Group.
"No, itu tuh rumah sewa yang aku sewakan buat Cheril." Ucap Niko membuka pembicaraan sembari memancungkan mulutnya ke arah rumah sederhana itu.
"Eh, maksud kamu rumah yang aneh itu?" Jawab Elvano menganggapi juga sambil melirik ke arah rumah sewa yang dimaksudkan oleh Niko.
"Eh, rumah aneh gimana maksudnya?" Tanya Niko, ia berpikir mungkin ada humor horor yang beredar tentang rumah itu.
Gawat juga pikirnya jika memang rumah itu berhantu.
"Ya, anehlah, yang lainnya gedung mewah semua, hanya bangunan itu saja terlihat biasa saja." Ujar Elvano kemudian.
Fiuuuuuh
Niko pun bisa bernafas lega.
Aku kira rumah itu berhantu. Syukurlah pikiranku salah.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu menyewa rumah sejelek itu untuk Cheril?" Tambah Elvano lagi.
"Eh,"
Malah bilang rumah itu jelek.
"Eh, Apa hubungannya identitasku dengan rumah sewa itu?" Tanya Elvano merasa alasan Niko tidak masuk diakal sehatnya.
"Ya ada lah Tuan Muda. Kalau aku menyewa rumah yang mewah, Cheril pasti akan bertanya-tanya darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu untuk menyewa rumah itu. Dan dia pasti berpikir mungkin kamu ada dibalik semua ini."
Sebelum melanjutkan pembicaraannya Niko berhenti sesaat, ia sedang memikirkan cara untuk menjahili sahabatnya itu.
"Atau kalau tidak, mungkin juga ia akan merasa curiga kenapa aku bisa sebaik itu pada nya. Mungkin ia akan berpikir aku memiliki perasaan pada nya." Ucap Niko panjang lebar menjelaskan pada Elvano.
Kalimat terakhir yang ia ucapkan tentu saja membuat laki-laki itu murka.
"Apa maksud mu? Kamu menyimpan perasaan pada wanita itu?" Ucap Elvano dengan nada tinggi.
Eh, dia marah. Wah sepertinya aku berhasil menjahilinya. Hihihi
Niko bergumam dalam hatinya sembari tertawa kecil.
"Eh, kenapa kamu malah cekikikan seperti itu lagi?" Elvano semakin murka dengan ekspresi yang ditampilkan oleh Niko.
"Eh, Ng-nggak kok Tuan Muda. Maaf !" Hihihi
Niko masih cekikikan juga karna ia merasa sangat geli dengan tingkah sahabatnya itu.
Ternyata orang yang jatuh cinta itu rupanya seperti itu ya. Sungguh menggemaskan.
Kemudian Niko pun berusaha mengalihkan pembicaraannya dengan membahas topik lain.
"Eh, No, ternyata kamu masih menyimpan perasaan juga ya sama Cheril? Padahal kan dia sudah...."
Niko tiba-tiba menghentikan pembicaraannya ketika melirik ke arah spion wajah Elvano sudah berubah menjadi sangat dingin.
"Aku juga tidak tau perasaan apa yang aku rasakan sekarang. Jujur, aku memang tidak bisa membenci wanita itu. Tapi aku juga sangat ingin rasanya membalas nya karna sudah menancapkan luka yang begitu dalam dihatiku." Ujar Elvano dengan wajah datarnya.
"Eh,"
Ternyata serumit itu ya.
"Terus apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" Tanya Niko lagi.
"Lihat saja nanti. Nanti kamu juga akan mengetahuinya. Yang jelas aku sudah tidak akan melepaskan wanita itu lagi !" Jawab Elvano masih dengan wajah datarnya.
'Memangnya kamu tega melakukan hal apa pada wanita itu? Sepertinya kamu masih sangat mencintai nya. Rumah sewa yang sederhana saja kamu sudah protes'
Niko berkata-kata didalam hatinya.
Setelah mendengar jawaban Elvano tadi, Niko sudah tidak lagi melemparkan pertanyaan apapun lagi. Suasana hening pun tercipta. hingga mereka tiba di sebuah gedung yang cukup mewah, sebuah hotel bintang 5 tempat pertemuan mereka dengan klien penting pada pagi menjelang siang itu.
Setelah Niko menghentikan laju mobilnya, ia pun segera turun dari mobil dan membuka pintu untuk Elvano. Sekalipun Elvano itu sahabatnya, Niko tetap memperlakukannya sebagai seorang majikan yang harus ia layani.
Awalnya Elvano memang menolak Niko melakukan hal itu terhadap nya, namun karna Niko terus memaksa ingin melakukan hal itu, lama-kelamaan Elvano pun sudah tidak menghiraukan nya lagi.
Setelahnya kedua sahabat itu kemudian melangkah masuk ke dalam gedung, tempat dimana pertemuan penting tersebut akan diadakan.