Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Munculnya Tika


~ 3 hari kemudian ~


Kini berita tentang peta rahasia sudah menyebar luar di dunia mafia. Dan semua pihak berlomba-lomba untuk mendapatkan peta tersebut. Sebagian dari mereka juga sudah mengetahui di mana peta itu berada saat ini. Tentu saja keamanan Cheril dan Elvano sudah semakin terancam. Namun, dengan kemampuan Elvano yang saat ini, beserta begitu banyak orang-orang hebat yang ada di sampingnya, seharusnya Elvano sudah sangat siap menghadapi itu semua.


Seseorang yang tak disangka ternyata juga mencoba mendekati Elvano saat ini. Ia ingin merebut Elvano dari Cheril. Yup, siapa lagi jika bukan Tika? Dan Elvano memutuskan untuk mengikuti permainan dari perempuan itu. Sebab Elvano merasa curiga, Tika memiliki tujuan yang sama dengan para mafia yang menginginkan peta tersebut. Elvano memikirkan sebuah rencana yang lebih halus untuk menjebak wanita ini masuk ke dalam perangkapnya.


Drrt drrt drrt!


Mama tercinta calling ....


"Siapa sayang?" tanya Cheril.


"Ibu Winda, sayang!"


"Hallo Bu ... Ada a ...,


Elvano terlihat menjauhi ponsel dari kupingnya sebelum menyelesaikan kalimat yang ingin ia ucapkan. Penyebabnya adalah karena suara Ibu Winda yang sangat keras seperti berbicara di toa sudah lebih dulu menyerang Elvano.


"KAMU INI KEMANA SAJA SIH, NO?"


Setelah Ibu Winda menghentikan pembicaraannya, barulah Elvano mendekatkan kembali ponsel ke kupingnya dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh ibunya.


"Ada kok Bu ... Untuk sementara Vano dan Cheril memilih pindah di luar dulu," jelas Elvano.


"Apa maksudmu Vano?"


"Iya Bu, jadi kan Vano dan Cheril baru menikah, kami ingin hidup berdua dulu maksudnya biar memiliki waktu lebih banyak untuk berduaan," alasan Elvano


"Tapi kan di rumah ini juga bisa. Kasihan sama Cheril, jika kamu bekerja Cheril pasti akan merasa kesepian," bujuk Ibu winda.


"Nggak kok Bu, tenang saja! Kami hanya ingin lebih fokus saja untuk membuat cucu yang banyak buat Ibu dan Ayah!"


Elvano terpaksa harus menggunakan alasan ini supaya Ibu Winda tidak terus membujuk mereka untuk kembali ke kediaman keluarga Setiono. Kalau sudah begini Ibu Winda memang sudah kehabisan kata-kata. Semua orangtua tentu ingin segera menggendong cucu pastinya.


"Ehm ... Kalau memang itu keputusan kalian, terserah kalian saja deh. Tapi ingat ya, kalau Cheril merasa bosan kamu harus mengajaknya kembali ke rumah ini!"


"Iya Bu, Ibu tenang saja. Kami pasti akan baik-baik saja kok. Sudah dulu ya Bu, mau bikin cucu dulu buat Ibu ... Bye!"


Tut tut tut!


"Eh ... Dasar anak kurang ajar ... Ibunya belum selesai bicara malah dimatikan. Apa sungguh sangat ingin membuat cucu? Sekarang kan masih pagi?!" gumam Ibu Winda dalam kebingunan.


----


Sementara di kastil, Cheeril yang mendengar ucapan Elvano tadi sudah lebih dulu ngacir keluar dari kamar karena takut laki-laki itu sungguh-sungguh meminta jatah pada dirinya.


"Ternyata kamu di sini? Kenapa kamu kabur begitu saja?" tanya Elvano saat menemukan Cheril sedang duduk di ruang santai.


"Ehm? Tidak apa-apa kok Jeong Shu!" tanggap Cheril sambil tersenyum manis.


Yup, Sejak mendengar pembicaraan Elvano dengan Niko secara tak sengaja, Cheril lebih sering memanggil Elvano dengan sebutan itu sekarang. Sayangnya Cheril juga hanya mendengar sedikit tentang pembicaraan itu. Jadi Cheril sama sekali tak tau tentang guru Elvano yang hebat dan juga dunia mafia mau pun tentang peta rahasia itu.


"Kamu pasti ingin melarikan diri karena takut aku mangsakan?" tebak Elvano. Dan itu sangat tepat.


"Ehm? Ng-nggak kok! Apaan sih ... Ayo sarapan!" ajak Cheril mengalihkan topik.


Haha


"Kamu pikir bisa membodohiku?"


Elvano sudah berjalan mendekati Cheril sambil memasang tampang genitnya. Ia bersiap-siap ingin menyerang Cheril, ,membuat Cheril segera beranjak berlarian kecil. Dan Elvano pun mengejarnya.


Hahahaha


Tawa lepas terdengar jelas di dalam kastil itu. Tawa yang sangat membahagiakan terdengar dari suara yang dihasilkan pasangan ini ketika sedang bermain kejar-kejaran.


Namun sayangnya hal ini tak berlangsung lama, karena tiba-tiba saja seorang wanita masuk begitu saja ke dalam kastil tersebut.


Loh ... Wanita ini kan yang memeluk Jeong Shu di acara pernikahan kami waktu itu ...


Yes, She is Tika. Jujur saja, berbagai pikiran buruk sudah mengahampiri isi kepala Cheril saat itu.


"Pagi Vano ...," sapa Tika dengan nada manja sambil melemparkan tatapan sinis ke arah Cheril.


"Kenapa dia bisa berada di sini sayang?" tanya Cheril pelan.


Ehem ....


Elvano sama sekali tak menjawab Cheril. Ia malah menatap wanita itu dengan tatapan tajam.


"Sayang, kamu masuk ke kamar dulu ya!" pinat Elvano tanpa menoleh.


Tentu ini membuat Cheril sedikit terluka.


Ada apa ini ... Kenapa malah meminta ku masuk ke kamar ...


"Apa aku tidak boleh menemani mu di sini?" rayu Cheril.


"Tidak! Lebih baik kamu tunggu di dalam kamar saja! Aku tidak akan lama kok, sayang." bujuk Elvano yang kali ini sambil memegang kedua pipi Cheril saat berbicara. Membuat Tika merasa sedikit muak melihat pasangan itu.


Ciiih!


"Ta-tapi ...,


"Kamu percaya kan sama aku? Masuklah!" titah Elvano tegas.


Akhirnya Cheril sudah tidak memiliki alasan apapun lagi. Mau tak mau ia harus masuk ke dalam kamar membiarkan Elvano berduaan dengan perempuan itu sambil berharap semua akan baik-baik saja.


Walaupun sebenarnay ia sanagt meragukan hal itu.


Jujur saja, sebenarnya Elvano juga cukup kaget bagaimana wanita itu bisa tau tentang kastil ini. Padahal ia tidak pernah memberitahukan pada Tika. Apalagi Tika juga dapat dengan leluasa memasuki kastil tanpa terkena jebakan apapun.


"Katakan! Siapa yang memberitahukan padamu tentang tempat ini?" tanya Elvano ketus.


"Vano ... Aku merindukanmu ... Apa aku tidak boleh mencarimu?"


Tika sudah berusaha meraih lenagn Elvano untuk ia peluk saat itu. Namun segera ditepis oleh Elvano.


"Aku tanya, siapa yang memberitahukan padamu tentang tempat ini? Apa itu NIko?" tebak Elvano.


Ia berkata dengan wajah yang sangat dingin.


Jika itu memang kau Nik ... Apa aku masih bisa mengampuni mu?


Terpancar ekspresi kemarahan yang sangat mengerikan pada wajah Elvano.


Jika memang NIko yang mengatakan pada Tiak tentang tempat itu, itu artinya Niko memang sedang menabuh gendang dengan Elvano. Jelas-jelas ini adalah perbuatan dari seorang pengkhianat. Elvano benar-benar marah besar saat ini.


"JAWAB AKU!!" bentak Elvano yang membuat Tika tersentak.


"Sayang ... Kenapa harus marah seperti ini? Aku hanya ingin bertemu denganmu saja. Ayolah kita bersenang-senang seperti kemarin!" ajak Tika.


PRANG!!


Elvano dan Tika sontak melemparkan pandangan mereka ke asal suara.


"Cheril?" ucap Elvano.


Dan Cheril sendiri yang sebelumnya hendak mengambilkan minuman untuk Tika dan Elvano sudah berlarian ke dalam kamar.


Elvano jelas kaget, sedangkan Tika tentu saja merasa senang. Tawa sinis kini mengkhiasi wajahnya. Tak disangka dan tanpa rencana, ia malah berhasil membuat Cheril merasa cemburu.


"Sekarang kamu pergi dari sini! PERGI!!"


"Baiklah, aku akan pergi!" tanggap Tika sambil memperlihatkan senyuman sinisnya.


dan segera berlalu dari kastil Red Rose.


Sedangkan Elvano segera berlarian menuju ke arah kamar untuk menemui istri tercintanya.