Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Episode 109


Niko sendiri saat ini sudah selesai dengan kartu undangan yang diminta oleh Elvano, Ia meminta pada bagian percetakan untuk mencetak secepat mungkin karna undangan itu harus disebar malam ini juga. Tentu saja mereka sangat kaget, kenapa bisa ada orang yang ingin memesan kartu undangan semendadak itu. Bagian percetakan akhirnya memilih mengutamakan pesanannya lebih dulu karna Niko berjanji akan membayar 2x lipat dari harga aslinya. Dan untuk urusan gedung sendiri juga sudah ia pesan.


Pada saat Ia baru saja keluar dari gedung yang ia booking untuk acara besok, ia mendengar ponselnya berdering, kemudian ia pun segera merogoh kantong jasnya untuk mengambil ponsel yang berdering itu.


Dan ternyata Elvano yang menghubunginya.


Ia pun segera menjawab panggilan itu.


"Hallo.. Ada apa Vano?"


"Kamu dimana sekarang?" Elvano malah bertanya balik.


"Aku baru saja keluar dari gedung yang aku pesan untuk acaramu besok." Ucap Niko apa adanya.


"Oh. Sekarang aku ingin kau membatalkannya !" Ujar Elvano seenak jidatnya.


"APA? Maksud kamu?" Niko sangat kaget mendengar apa yang dikatakan Elvano.


'Apa ia ingin membatalkan pernikahan itu?'


"Ya, maksud ku batalkan saja gedung itu. Aku tidak jadi menggunakan gedung itu." Ujar Elvano lagi.


"Tapi alasannya apa? Jangan bilang kamu akan membatalkan pernikahan itu !" Kata Niko sudah dengan wajah yang memerah karna marah.


"Kalau iya kenapa?" Elvano malah berucap demikian membuat Niko semakin emosi saja.


"Kamu !"


"Ya, maaf !"


Eh, dia pikir hanya mengucapkan kata maaf sudah cukup. Aku bahkan belum sempat makan malam hanya demi mengurusi urusannya ini.


Huuuuuuuuh


Niko membuang nafas kasar.


Karna Niko hanya diam saja, Elvano pun kembali melanjutkan pembicaraannya. ia tau Niko pasti sedang marah. Ia memang sedikit menggoda sahabatnya itu. Lagian ia juga tidak berkata ingin membatalkan pernikahan itu. Dan memang tidak akan ia batalkan.


"Aku tidak membatalkan pernikahan itu. Hanya merubah rencananya saja." Tambah Elvano lagi.


Eh, jangan bilang dia akan menyuruhku melakukan hal lainnya lagi.


"Maksud kamu?" Tanya Niko lagi.


"Aku akan menikahi Cheril dibawah tangan !" Ujar Elvano kemudian.


"Maksudnya bagaimana lagi?" Niko sungguh tidak mengerti apa maksud istilah itu. Ia jadi semakin bingung. Ia malah tidak menyangka, Elvano yang sangat diam ternyata mengerti tentang istilah seperti itu.


"Ya maksudnya tidak ada pesta. Cukup foto-foto saja !" Tambah Elvano.


Oh, jadi itu maksudnya. Baguslah. Aku juga tidak perlu repot-repot menyebarkan undangan ini lagi.


Tapi kenapa dia tidak mengatakannya dari tadi sih?


Walaupun merasa lebih lega, tapi Niko masih saja merasa kesal dengan tingkah Elvano yang seenaknya itu.


"Tapi, apa itu berarti pernikahannya bisa dikatakan sah?" Tiba-tiba Niko mengatakan hal itu.


Ah, kenapa juga sih aku harus melemparkan pertanyaan seperti itu. Padahal juga sudah bagus seperti itu, aku tidak perlu lagi repot-repot.


Niko menyesali perkataannya itu. Ia menekuk jidatnya sendiri karna kesal. Yang akhirnya juga membuat dia meringis kesakitan.


"Auuu ! Gumamnya pelan sembari menjauhkan ponselnya dari mulutnya karna tidak ingin gumamannya itu didengar oleh Elvano.


"Ya, aku juga tidak tau tentang itu, tapi kalau tidak salah dulu banyak yang menikah seperti itu. Mereka masih bisa hidup bersama hingga tua !" Jawab Elvano penuh keyakinan.


Dalam hatinya ia sudah sangat bersyukur Elvano masih tetap pada keputusannya yang tidak pakai ribet itu.


"Nik, besok pagi kamu jemput wanita itu langsung menuju ke bridal saja. Cari bridal yang biasa saja, jangan yang terkenal, nanti malah diliput sama wartawan." Elvano kembali melemparkan permintaannya.


"Eh, Baiklah ! Aku akan mengurus semuanya !" Jawab Niko kemudian.


"Bagus ! Setelah itu baru kamu menjemputku dirumah !" Tambah Elvano lagi.


"Ok ! Ahsiiiap Tuan Muda !" Ucap Niko lantang.


Setelah perbincangan itu Elvano kemudian mengakhiri panggilannya.


Ia juga merasa cukup lega, tidak perlu lagi pusing memikirkan cara untuk menyampaikan rencana gilanya itu pada kedua orangtuanya.


Setelah itu ia memilih merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya yang empuk. Ia ingin segera tidur karna masih belum puas setelah tertidur di bathtub selama 1jam tadi.


Namun belum sempat ia memejamkan matanya, sudah terdengar ketukan pintu yang disertai suara panggilan dari Pak Didi didepan pintu kamarnya.


Tok tok tok !


"Tuan Muda, sudah saatnya makan malam !" Ucap kepala pelayan itu dari balik pintu.


Elvano pun sedikit tersentak mendengar suara ketukan yang disertai dengan suara panggilan itu.


"Bawa saja keatas !" Teriak Elvano.


"Baik Tuan Muda !" Jawab Pak Didi singkat.


Pak Didi segera berlalu dari kamar Tuan Muda nya dan segera turun untuk menyiapkan makan malam yang akan dibawanya ke atas sesuai dengan permintaan Tuan Muda nya itu.


"Loh, Pak Didi, mana Tuan Muda?" Tanya Ibu Winda ketika tidak melihat sosok Elvano sedangkan Pak Didi sudah tiba dibawah.


"Tuan Muda katanya ingin makanannya dibawakan ke kamar saja Nyonya !" Jawab Pak Didi sesuai dengan yang dikatakan oleh Elvano.


"Oh, jadi begitu." Ibu Winda memang sudah tidak heran lagi sih, Elvano memang sering makan didalam kamar kalau sedang malas turun kebawah. Tapi ia merasa sedikit kecewa karna tidak bisa mengintrogasi putranya itu perihal wanita yang dikatakan oleh Tuan William tadi.


Tuan William sendiri menyadari kegusaran istrinya itu. Ia tidak menyangka ternyata ucapan asalnya tadi justru membuat istrinya segusar itu.


"Sudah, jika kamu memang sangat ingin tau, datangi saja Elvano ke kamarnya !" Ucap Tuan William kemudian.


"Eh, maksud Ayah apa? Ada apa memangnya dengan kakak?" Tanya Valencia.


Saat itu Valen dan Flo memang sedang berada dimeja makan. Karna mereka memang akan makan malam saat itu.


"Eh, Tidak ada masalah apa-apa kok Valen !" Jawab Ibu Winda menanggapi pertanyaan Valen.


"Ibumu sedang penasaran dengan wanita kakakmu Valen !" Timpal Ayah William.


"Oya? Jadi kakak sudah memiliki pacar ya?" Ucap Valen tak kalah girangnya. Sudah seperti ketika Ibunya mendengar apa yang diucapkan oleh Ayahnya tadi.


"Belum tau juga Valen, Ayahmu hanya sembarangan berucap saja tadi. Ibu juga belum memastikan apa memang benar kakakmu itu memiliki pacar atau tidak." Jawab Ibu Winda.


"Begitu ya?"


Padahal Valen sudah sangat senang mendengar kakaknya sudah memiliki pacar, pikirnya jika kakaknya sudah punya pacar artinya ia juga sudah boleh pacaran. Selama ini Valen memang belum berani berpacaran terang-terangan karna Ayahnya pernah bilang padanya supaya ia menyelesaikan kuliahnya lebih dulu dengan benar.


Sementara Flo ia hanya menyimak dalam diam. Dengan usianya yang segitu ia memang belum memiliki pikiran sejauh itu.


"Sudahlah ! Ayo kita makan !" Ucap Ibu Winda akhirnya.


"Mari makan !" Ujar Flo girang.


Nah kalau soal makan dia memang yang paling girang.