
Tidak memerlukan hitungan jam pesawat jet yang ditumpangi oleh Elvano dan Niko sudah tiba di tempat tujuan, yaitu kota XX tempat dimana Elvano dan Niko dibesarkan.
Setelah turun dari pesawat mereka sudah disambut oleh sopir hotel Belle yang diperintahkan oleh Manager hotel itu untuk menjemput kedua orang penting ini.
Namun tentu saja Elvano tidak meminta sopir itu mengantar mereka ke hotel, ya seperti yang kalian pikirkan, Elvano meminta sopir mengantar mereka ke rumah Ibu Anita.
Sesaat kemudian mobil yang ditumpangi mereka telah tiba di kediaman Ibu Anita.
Tok tok tok tok
Elvano mengetuk pintu.
Mendengar suara ketukan, Ibu Anita yang baru saja selesai memasak segera menuju ke arah pintu untuk membukakan pintu yang berbunyi tersebut.
Dan alangkah kagetnya dia, ternyata Elvano dan Niko yang berada di balik nya.
"Eh, kalian kok tidak mengabari Ibu mau kemari?" Ujar Ibu Anita melempar pertanyaan.
"Vano sangat merindukan Bu!" Ucap Elvano dengan nadanya manja sepeti biasanya.
"Ibu juga merindukanmu Vano!" Timpal Ibu Anita sambil tersenyum. Lalu kembali melanjutkan pembicaraannya.
"Ayo masuk!" Lanjut Ibu Anita lagi mempersilahkan kedua laki-laki ini untuk segera masuk kedalam.
Lalu mereka semua pun segera masuk ke dalam rumah Ibu Anita termasuk juga sopir hotel Belle yang menjemput mereka.
Mengingat mereka sudah sangat lama tidak bertemu, Elvano pun bercerita banyak hal pada Ibu Anita. Ia juga menceritakan tentang Cheril yang sudah ia nikahi, termasuk juga Cheril yang sudah tinggal bersama dengannya. Membuat Ibu Anita sedikit kaget mendengarnya.
"Jadi sekarang Cheril tinggal bersama mu Vano? Dan kalian sudah menikah?" Tanya Ibu Anita mengulangi kalimat Elvano yang memberitahukan padanya ia telah menikahi Cheril.
"Iya Bu!" Jawab Elvano singkat.
"Tapi kenapa kamu tidak mengabari Ibu tentang pernikahan kalian?" Ibu Anita kembali melempar pertanyaan. Ia sedikit menunjukkan ekspresi kecewanya kali ini.
"Maaf Bu, sebenarnya tidak bisa dikatakan menikah juga...." Ungkap Elvano lirih
"Maksud kamu apa Vano?"
Ibu Anita semakin bingung.
"Vano hanya melakukan kegiatan berfoto saja dengan Cheril." Jelas Elvano sambil menatap Ibu Anita.
"Lalu?"
Ibu Anita masih belum mengerti dengan jalan pikiran Elvano saat itu.
"Awalnya Vano hanya ingin bermain-main dengan nya. Tapi setelah semua kejadian yang membuat Cheril hampir kehilangan nyawanya baru membuat Vano sadar, ternyata Vano masih sangat mencintai Cheril." Ucap Elvano menjelaskan
Sedangkan Ibu Anita hanya mendengarnya dengan seksama tanpa berkomentar apapun. Ia bisa mengerti apa yang dimaksudkan oleh Elvano, ia pasti masih sangat kecewa pada Cheril. Sesaat kemudian Elvano pun melanjutkan kembali penjelasannya yang masih belum selesai.
"Vano bermaksud untuk melamar Cheril secara resmi Bu! Vano berencana untuk pergi ke rumah orangtua Cheril hari ini dan ingin membicarakan perihal lamaran, apa Ibu mau menemani Vano?" Lanjut Elvano kemudian sekaligus meminta Ibu Anita untuk menemaninya.
Bukan Ibu Anita yang kaget dengan pernyataan Elvano, justru Niko lah yang sangat kaget mendengar itu.
"APA? Jadi kamu berencana untuk mendatangi orangtua Cheril hari ini?" Ucap Niko tiba-tiba dengan suara agak keras, membuat semua yang ada di sana melemparkan pandangan mereka ke arah Niko. Termasuk juga sopir yang duduk agak jauh dari ketiga orang ini.
Sadar semua orang menatap nya, Niko seketika mengangkat tangan untuk menutup mulutnya.
"Iya, aku serius. Memangnya ada masalah apa dengan mu?" Ujar Elvano ketus.
"Eh.. Ng-nggak sih, hanya saja jadwal kita hari ini kan sudah diatur dengan sangat baik.." Niko menjawab lirih.
Kamu selalu seenaknya saja.. Apa kamu tidak berpikir semua rencana yang sudah aku susun secara rapi itu bakal berantakan.. Huuuh
Gumam Niko di dalam hati.
Ia sangat kesal dengan tingkah Elvano yang selalu bersikap seenaknya saja dalam bertindak. Ya, memang setidaknya Elvano harus memberitahukan Niko lebih dulu tentang rencanannya itu.
"Itu semua kan bisa diatur ulang!" Tanggap Elvano santai.
Tuh iyakan.. Dia memang selalu bertingkah seenaknya, berucap juga seenaknya saja. Dia pikir semudah itu apa menyusun sebuah agenda.
Niko kembali berkata-kata di dalam hatinya.
hanya hal itulah yang bisa ia lakukan, tidak ada gunanya juga jika ia terlibat dalam perdebatan dengan sahabat yang sekaligus merupakan majikannya itu. Karna Niko tidak mungkin memenangkan perdebatan itu pasti.
"Jadi bagaimana Bu? Apa Ibu bisa menemani Vano?" Elvano kembali fokus pada Ibu Anita.
Setelah terdiam beberapa detik, Ibu Anita pun menjawab pertanyaan Elvano.
"Baiklah! Ibu akan menemanimu!" Jawab Ibu Anita kemudian.
"Kalau begitu, ayo kita jalan sekarang!" Tambah Elvano tiba-tiba.
"APA?" Niko dan Ibu Anita berteriak bersamaan sambil menatap Elvano lekat, lalu Ibu Anita dan Niko juga saling melemparkan pandangan satu sama lain.
"Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" Elvano malah melemparkan pertanyaan yang sangat konyol. Padahal harusnya dia sendiri juga sudah tau apa penyebabnya.
Sementara isi hati Niko saat itu;
Eh, dia masih nanya... Sudah beruntung dia tidak membuat penyakit jantung Ibu Anita kumat.
"Vano, kamu tidak salah mau mendatangi kediaman keluarga Cheril sepagi ini? Ini kan baru pukul 8 pagi.." Ucap Ibu Anita.
Jelaskan Bu.. Jelaskan pada anak Ibu yang seenak jidatnya itu..
Niko masih bergumam di dalam hatinya.
"Memangnya kenapa? Tidak boleh ya Bu mendatangi rumah keluarga Cheril di pagi hari?" Elvano Kembali melemparkan pertanyaan yang sangat polos.
Sementara Niko sudah menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan tersebut.
Demikian juga dengan Ibu Anita. Hanya bedanya, Ibu Anita memang sudah mengetahui kepolosan putra angkatnya itu. Ia pun berusaha menjelaskan secara jelas pada Elvano.
"Vano, dengarkan Ibu! Memang tidak ada salahnya bertamu di pagi hari, namun biasanya pagi hari itu adalah jam yang sangat sibuk bagi setiap orang. Takutnya orangtua Cheril malah sedang tidak di rumah!"
Ibu Anita terdiam sesaat untuk memastikan Elvano dapat memahami apa yang ia ucapkan, setelah merasa yakin Elvano memahaminya, Ibu Anita kembali melanjutkan pembicaraannya.
"Jadi lebih baik kamu selesaikan dulu semua pekerjaanmu, sorenya baru kita ke sana." Jelas Ibu Anita panjang lebar.
Mendengar penjelasan Ibu Anita yang panjang lebar, akhirnya Elvano mengurungkan niatnya untuk mengunjungi keluarga Cheril pagi itu.
Dan sesaat kemudian Niko terpaksa harus membuat jadwal yang baru, hingga ia mengurangi waktu istirahat mereka, terus juga mempersingkat durasi pertemuan pada setiap perusahaan yang akan mereka kunjungi supaya semua pekerjaan hari ini bisa tetap berjalan sesuai rencana awal. Dan mereka juga tetap memiliki waktu luang untuk mengunjungi keluarga Cheril pada sore harinya.