
Sementara acara pertunangan yang sudah berubah setingannya masih terus berlanjut. Diatas panggung sudah berdiri kedua insan manusia yang berbeda jenis bersiap untuk bertukaran cincin.
Terlihat pasangan Wanita sama sekali tidak bahagia, ia malah sesekali menghapus air mata nya yang menetes diwajahnya. Membuat semua orang yang hadir di sana bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Sebagian dari mereka, termasuk karyawan Indos Perkasa yang tau titik persoalan nya mengenai Cheril yang seharus nya bertunangan dengan Elvano sepertinya mendapatkan jawaban nya ketika melihat Cheril begitu sedih. Mereka mengira-ngira di dalam hatinya masing-masing, pasti ada yang salah dengan acara pertunangan ini.
Ayah Cheril yang masih terdiam dikejauhan menyaksikan anaknya diatas panggung yang sedang bertukaran cincin juga tidak dapat melakukan apapun. Ia sepertinya mengetahui ini adalah bagian dari rencana istrinya. Tidak mungkin juga jika tiba-tiba ia maju keatas panggung untuk membatalkan acara pertunangan ini, tentu saja ia akan merasa sangat malu terhadap tamu undangan yang hadir, apalagi banyak yang merupakan yang tamu penting bagi Perusahaannya.
"Cheril, kamu mau membuat aku malu? Kenapa kamu malah menangis? Hapus air mata mu !" Jimmy berkata pelan namun terdengar sangat tegas dan penuh emosi, ia murka melihat Cheril menangis ketika acara pertukaran cincin sedang berlangsung.
MC yang bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Jimmy karna jaraknya yang dekat dengan mereka berdua merasa sangat prihatin, sepertinya ia mulai mengerti melihat Cheril menangis begini dan adanya perubahan nama pasangan pada kertas yang ia pegang.
Setelah mendengar perkataan Jimmy, Cheril kemudian menghapus air matanya dan berusaha tersenyum.
Acara pertukaran cincin pun berakhir sukses.
Kini Cheril dan Jimmy sudah berstatus tunangan yang tetap pada rencananya, sebulan kemudian mereka akan melakukan pernikahan. Jadwal pernikahan itu sendiri telah diumumkan oleh MC sesuai dengan rencana sebelumnya.
-----------------------------
Elvano beserta rombongan yang sudah meninggalkan pesta menuju mobil Erik.
Setelah semuanya masuk kedalam mobil, mereka masih duduk seperti posisi pada saat mereka datang tadi, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman Elvano.
Tidak ada percakapan yang terlalu berarti selama dalam perjalanan, karna mereka tidak ingin menambah luka pada hati Elvano.
"Kamu yang sabar ya Vano.. "
Hanya kalimat ini lah bisa mereka keluarkan dari mulut mereka masing-masing saling bergantian untuk menguatkan Elvano.
Ketika mobil berhenti dikediaman Ibu Anita dan Elvano, mereka semua ikut turun dari mobil dan masuk kerumah Elvano, maksudnya adalah supaya Elvano bisa lebih tenang jika ada mereka di sana untuk mengajak nya mengobrol. Mereka memang sedikit khawatir Elvano akan melakukan hal yang nekat jika sendirian, sekalipun ada Ibunya yang menemani nya. intinya yang mereka pikirkan semakin ramai akan semakin baik.
Padahal semua usaha yang mereka rencanakan sepertinya tidak berarti sama sekali, Elvano malah langsung menuju kamarnya ketika tiba di rumah.
"No.. Aku harap kamu tidak melakukan hal yang nekat.. " Erik membuka pembicaraan. Ia sangat tau bagaimana rasanya sakit hati, ia juga mengalami nya ketika harus mengalah pada Elvano beberapa waktu yang lalu. Apalagi masalah ini sangat serius.
Elvano yang berjalan dengan sangat cepat menghentikan langkahnya ketika mendengar nasehat dari Erik. Ia lalu membalikkan badannya.
"Kalian tenang saja, aku tidak akan berbuat hal yang sebodoh itu. Aku hanya ingin menenangkan diri." Lalu Elvano kembali berbalik membuka pintu kamar dan menutupnya sedikit kasar.
Brak !
Mereka yang masih berdiri di sana hanya saling memandang.
"Sudahlah, kalian tidak perlu khawatir, aku tau Nak Vano orangnya seperti apa, ia tidak akan melakukan hal yang akan merugikan dirinya. Percayalah padaku.!" Ucap Ibu Anita yang berjalan dari arah dapur membawakan air putih untuk para tamu nya.
"Tidak perlu repot Bu ! Kami sudah akan pamit." Ujar Erik kemudian setelah melihat Ibu Anita sedang memegang beberapa gelas air mineral kemasan.
"Baiklah jika begitu, Ibu mewakili Vano meminta maaf pada kalian semua atas ketidaknyamanan ini !" Ucap Ibu Anita lagi
"Tidak apa-apa kok Bu, ini juga bukan salah Ibu dan Vano." Tania menambahkan.
"Iya benar kak, sekarang Kakak istirahatlah, kami pamit dulu !" Ibu Erik ikut bicara.
"Oh iya, jika terjadi apa-apa Ibu harus menghubungi kami ya Bu !" Erik menambahkan.
Ibu Anita hanya mengangguk pertanda setuju. Ia tau Elvano pasti sangat terluka dengan kejadian malam ini, namun ia juga sangat yakin Elvano juga tidak mungkin melakukan hal yang dapat merugikan dirinya sendiri seperti yang sudah dia ucapkan tadi.
Erik dan yang lainnya pun pamit pulang meninggalkan Elvano dan ibu Anita di rumah mereka.
Setelah kepulangan mereka, Ibu Anita mendekati pintu kamar Elvano, lalu membukanya pelan, pintu itu memang tidak terkunci, Ibu Anita pun masuk ke dalam kamar Elvano.
Ia mendapati Elvano sedang duduk dipinggir tempat tidurnya dengan tatapan kosong dan kedua tangan nya ia letakkan diatas dahinya.
Lelaki ini cukup bisa mengontrol emosinya dengan baik, terbukti tak satu pun barang dikamarnya yang bergeser dari tempatnya. Seperti kebanyakan laki-laki lain yang akan mengacak seisi kamar mereka ketika sedang marah.
Diam-diam Ibu Anita merasa kagum dengan sikap Elvano yang sangat pandai mengatur emosinya ini.
Ibu Anita kemudian berjalan ke arah tempat tidur dan duduk disamping Elvano.
"Vano, kamu yang sabar ya Nak. Masih banyak kok perempuan lain diluar sana." Ibu Anita membuka suara.
"Sudahlah Bu, Vano tidak apa-apa kok. Ibu jangan membahas soal itu lagi ya !" Jawab Elvano berpura-pura kuat.
"Vano, Ibu sangat mengerti tentang kamu, ibu tau kamu terluka, tapi kamu juga anak yang sangat kuat, Ibu yakin kamu pasti mampu melewati semua ini dengan baik." Lanjut Ibu Anita.
Kali ini Elvano memilih diam dan menundukkan kepalanya, ia memang tidak bisa membohongi Ibu Anita yang sudah bertahun-tahun hidup bersama nya. Elvano memang sedang berbohong dengan berkata; Ia baik-baik saja.
"Bu, sepertinya Vano akan menemui orangtua kandung Vano !" Tiba-tiba Elvano mengatakan hal yang tidak disangka oleh Ibu Anita.
"Eh..
Ia tidak tau harus senang atau sedih saat ini. Di satu sisi ia merasa senang akhirnya Elvano mau juga kembali ke keluarganya, disisi lain ia juga merasa sedikit takut jika Elvano kembali ke sisi orangtuanya maka Elvano tidak akan punya banyak waktu lagi bersama dirinya yang hanya sebagai seorang asisten rumah tangga ditempat itu.
"Ibu mau kan menemani Vano kesana besok?" Lanjut Elvano lagi.
"I-iya, Ibu akan menemanimu Vano." Jawab Ibu Anita sedikit terbata-bata.
Akhirnya hari ini tiba juga. Dimana Elvano akan segera mendapatkan kembali gelar Tuan Muda nya.
Saya selaku author juga dag-dig-dug loh dengan kehidupan Elvano setelah ini.. Hehehe🥰🥰