
Setelah Elvano melepaskan pelukannya dari tubuh Ibu Anita, Cerita panjang penuh dramatis pun dimulai.
Elvano terlihat sangat serius menyimak dan berusaha memahami bahasa sederhana yang disampaikan oleh Ibu Anita mengenai jati dirinya yang sangat rumit itu.
Ibu Anita menceritakan semuanya tanpa disensor sedikit lpun sesuai dengan kenyataan yang terjadi sekitar 23tahun yang lalu.
Sesekali ia melirik ke arah Elvano seakan ingin mengartikan raut wajah Elvano yang
dipenuhi dengan rasa penasaran, bercampur kekecewaan.
Kalimat terakhir untuk menutup semua ceritanya yaitu hingga pada kakek Elvano yang memberikan nama Elvano Setiono pada bayi mungil yang ada didalam dekapannya saat itu, yang kini sudah bertumbuh dewasa. Dan sedang duduk manis dihadapannya mendengarkannya bercerita.
Nama ini jugalah yang pada akhirnya menjadi awal dari terbongkarnya rahasia yang selama ini ia simpan dengan sangat rapi.
Melihat Elvano yang hanya berdiam diri tanpa berkomentar apapun membuat Ibu Anita sedikit khawatir. ia pun memutuskan untuk memulai pembicaraan.
"Vano, kamu tidak apa-apa kan?"
"I-iya Bu, Vano baik-baik saja kok Bu."
Tentu saja Ibu Anita bisa melihat kebohongan dari sorot mata Elvano,
Dia tidak sedang baik-baik saja.
"Vano, kamu tidak marah kan pada Ibu?"
"Tidak Bu, Ibu sama sekali tidak bersalah, justru aku yang harus berterimakasih pada Ibu karna sudah membesarkanku seperti anak Ibu sendiri."
Mata Elvano mulai berkaca-kaca, perlahan air mata itu mengalir melalui sudut matanya. Ini merupakan kali pertama bagi Ibu Anita melihat Elvano berlinang air mata. Elvano memang dikenal sebagai laki-laki yang kuat, ia belum pernah menangis dihadapan siapapun, bahkan ketika Ayah angkatnya Pak Rangga meninggal, ia sama sekali tidak meneteskan air mata, malah ia berdiri dengan tegar memberikan kekuatan bagi Ibu Anita yang sangat bersedih saat itu.
Menangislah nak, jika itu bisa membuatmu lega.
Ibu Anita pun kemudian mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk Elvano.
"Bu, Terimakasih ! Terimakasih untuk semua pengorbanan yang telah Ibu berikan pada Vano !" Elvano mulai terisak, tangisannya semakin menjadi.
Ia sama sekali tidak menyangka ternyata kehidupannya sedramatis ini. Awalnya ia hanya mengira mungkin ia adalah anak dari suami Ibunya yang lain selain Pak Rangga, namun ternyata lebih dari itu.
Sedangkan Ibu Anita sama sekali tidak berkomentar apapun, ia Hanya diam dan membiarkan Elvano menangis didalam pelukannya. Sesekali ia juga menghapus air matanya yang mengalir akibat suasana haru yang tercipta.
Setelah Elvano sudah lebih tenang, Ibu Anita pun melepaskan pelukannya.
Dan iya kembali melanjutkan pembicaraannya yang belum ia tuntaskan.
"Vano, Ibu berharap kamu tidak membenci kedua orangtuamu Nak, termasuk juga Kakekmu."
Ujar Ibu Anita sambil menatap Elvano lekat.
Elvano tidak menjawab apapun, tentu saja secara manusiawi Elvano sangat kecewa pada mereka semua terutama Kakeknya yang lebih mempercayai soal ramalan dibanding menyayangi cucunya sendiri. Mau dijelaskan bagaimanapun sungguh tidak dapat diterima oleh akal sehat Elvano.
Hanya dengan melihat raut wajah Elvano Ibu Anita sudah bisa mengerti anaknya itu pasti merasa sangat kecewa pada keluarganya.
"Vano, Ibu mengerti perasaan mu saat ini, Ibu tau kamu pasti sangat kecewa, namun sekarang kamu sudah akan menikah Nak, kamu harus menemui mereka untuk memberitahukan pada mereka tentang pernikahanmu !"
"Tidak Bu, Vano belum siap." Jawab Elvano singkat
"Tapi Vano, kamu sudah akan menikah, apa kamu tidak menginginkan orangtuamu mendampingimu dipelaminan?"
"Ibu kan juga orang tua Vano Bu."
"Tapi kan Ibu kan bukan orangtua kandungmu Nak. Temuilah mereka Nak ! Mereka pasti akan merasa sangat senang mendengar kabar bahagia ini." Terukir sedikit senyuman tipis ketika Ibu Anita menyebut kalimat ini.
"Tidak Bu. Vano tidak akan melakukan itu. Biar Ibu saja yang mendampingi Vano mengantikan mereka, Ibu lebih pantas duduk disamping Vano daripada mereka !"
"Ta-tapi...."
"Sudahlah Bu ! Vano tidak ingin membahasnya lagi."
"Vano, bukankah kamu sudah berjanji apapun yang terjadi kamu tidak akan marah?"
Ibu Anita masih terus berusaha memperjuangkan keinginannya untuk mempertemukan Elvano dengan kedua orangtua kandungnya.
"Vano tidak marah kok Bu. Vano hanya belum ingin menemui mereka."
"Jika kamu tidak marah, kamu tidak mungkin bersikap seperti ini. Pernikahan itu adalah hal yang sangat penting Vano, semua orangtua pasti akan berharap bisa mendampingi anaknya ketika mereka melangsungkan pernikahan." Ucap Ibu Anita lagi
"Termasuk juga dengan Ibu, iya kan? Ibu yang sudah membesarkanku hingga seperti sekarang ini, Ibu juga pasti sangat menginginkan mendampingi Vano diacara pernikahan Vano nanti. Iya kan Bu?" sambung Elvano tiba-tiba
Kali ini Ibu Anita tidak bisa menjawab apapun, ya apa mau dikata, semua yang dikatakan oleh Elvano memang benar adanya. Tentu saja ia juga sangat ingin menemani anak yang sudah ia besarkan itu dipelaminan nantinya.
"Bu,Vano tidak marah pada mereka kok, jujur saja Vano memang merasa sangat kecewa pada mereka, tapi demi Ibu, Vano tidak akan membenci mereka, namun Vano belum siap jika harus bertemu dengan mereka saat ini. lagi pula Vano juga tidak ingin Ibu merasa sedih tidak dapat mendampingi Vano dihari bahagia Vano nantinya.
Kata-kata Elvano sedikit menyentuh hati Ibu Anita, membuat air matanya yang sudah kering berkumpul kembali dipelupuk matanya karna terharu namun segera ia tepis dan menahannya tidak bertambah banyak.
Bukan saat nya untuk menangis.
Demikianlah hatinya berbicara.
"Baguslah Vano, Ibu bersyukur kamu bisa menerima semua ini dengan lapang dada. Ibu tidak apa-apa kok Vano, berikanlah kesempatan itu pada kedua orangtuamu untuk mendampingimu dihari bahagia kamu dengan Cheril nanti !" Ucap Ibu Anita kemudian.
"Bu, maafkan Vano ! Vano belum bisa memberikan kesempatan itu. Biarkan Ibu saja yang mendampingi Vano nanti." Jawab Elvano masih tetap pada pendiriannya.
"Tapi Vano...."
"Sudahlah Bu ! Vano harap Ibu bisa mengerti dengan apa yang sudah menjadi keputusan Vano saat ini. Sekarang Vano mau ke kamar dulu Bu, Vano sedang ingin sendiri."
Akhirnya perdebatan sengit yang terjadi diantara mereka diakhiri oleh Elvano. Ibu Anita juga sudah tidak bisa berkata-kata lagi selain membiarkan Elvano berlalu. Ia juga tau keputusan Elvano sangat sulit untuk diubah.
Siang itu pun dihabiskan Elvano hingga malam hari hanya didalam kamar. Ia hanya keluar untuk makan malam dan setelahnya ia masuk kembali ke dalam kamar hingga keesokan paginya.
Elvano pun melewati jam kerjanya hari itu, ia sama sekali tidak berniat untuk berangkat kerja karna moodnya saat itu benar-benar sedang sangat kacau.
Sedangkan Ibu Anita, ia juga tidak memaksa Elvano untuk bekerja setelah kejadian siang tadi, ia tau Elvano pasti sedang sangat tidak ingin diganggu oleh apapun termasuk pekerjaan, jadi ia juga membiarkan putra angkatnya itu melewatkan sisa hari itu dengan berkurung diri di dalam kamarnya tanpa mengingatkannya ketika jam kerja telah tiba. Elvano mau keluar untuk makan malam saja sudah sangat bagus pikirnya.