Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Malam pertama yang tertunda.


Setelah kepergian Niko, Elvano kembali fokus pada Cheril. Tatapannya saat itu lekat pada bibir ranum milik Cheril. Ia sudah semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Cheril. Namun sebelum Elvano berhasil meraih bibir itu, Cheril kembali menahan nya.


"Eh ... Vano ... Tunggu!" Tahan Cheril sembari mengangkat tangannya menahan bibir Elvano yang sudah mendekat.


Huuuuuuuh


"Apalagi Cheril? Ayolah .... Aku sudah tidak bisa lagi menahan diriku ini!" Ujar Elvano yang membuat Cheril semakin penasaran.


'Apa yang terjadi pada Vano sebenarnya?'


Pada saat Cheril terbengong dengan pikirannya yang sedang bertanya-tanya, Elvano pun mengambil kesempatan itu.


Cup


Kali ini Elvano sudah berhasil meraih bibir ranum milik Cheril. Namun ia sangat kesal karena Cheril hanya diam saja.


"Cheril, balas aku, jika tidak, mungkin aku akan mati karena obat perangsang ini. Tolong aku Cheril!" Ujar Elvano kemudian.


Sementara Cheril malah bertambah kaget mendengar ucapan Elvano.


'Obat perangsang? Jadi semua ini karena pengaruh obat perangsang? Tapi bagaimana Elvano bisa mendapatkan obat itu?'


Cheril bertanya-tanya di dalam hatinya.


"Cheril, maafkan aku! Apa kamu keberatan melayaniku?" Elvano melemparkan sebuah pertanyaan yang membuat wajah Cheril memerah seketika. Dan melihat wajah Cheril yang memerah membuat jiwa nakal Elvano semakin menjadi. Namun ia masih berusaha menahan dirinya karena tidak ingin memaksa Cheril.


Eh ....


Lalu Elvano merogoh saku jasnya seperti sedang mencari sesuatu, setelah menemukan itu, ia segera mengeluarkan tangannya dari sana.


Apa yang sedang dia lakukan ....


"Cheril, ini adalah cincin pernikahan kita. Aku akan memakaikan cincin ini padamu sekarang. Dan jika kamu mau menerimaku sebagai suamimu yang sah, maka kamu juga harus memakaikan cincin yang satunya padaku!"


Deg


Jantung Cheril sudah berdetak kencang saat itu. berbagai rasa bercampur menjadi satu di sana. Antara senang, terharu dan lain sebagainya.


Ternyata selama ini ia tidak menganggap pernikahan kami ini adalah pernikahan yah sah .... Pantas saja ia selalu menghindari ku ...


Setelah mengucapkan kalimatnya itu, Elvano segera meraih tangan Cheril, lalu melingkarkan salah satu cincin itu ke jari manis Cheril. Dan yang satunya ia letakkan di atas telapak tangan Cheril.


"Kamu boleh menolak jika kamu memang tidak ingin." Ucap Elvano lirih.


Setelah terdiam sejenak, Cheril kemudian meraih tangan Elvano dan balas melingkarkan cincin yang ada padanya di jari manis milik Elvano.


Elvano yang sebelumnya tertunduk pun kembali mengangkat wajahnya dan tersenyum manis. Lalu menghujani wajah Cheril dengan ciuman yang bertubi-tubi.


"Terimakasih sudah mau menerimaku Cheril. Aku mencintaimu .... " Ujar Elvano sambil menatap Cheril lekat.


"Aku juga mencintaimu Vano." Balas Cheril dengan wajahnya yang sudah semakin memerah.


Mendengar ucapan Cheril juga membuat Elvano merasa sangat senang saat itu. Namun obat perangsang yang ada padanya jauh lebih besar pengaruhnya dibanding perasaan yang ada padanya.


"Baiklah, sekarang kamu siap? Berjanjilah untuk membalas permainan ini .... Jika tidak aku mungkin akan mati Cheril." Ujar Elvano kemudian.


Deg


"Tapi bagaimana kamu bisa mendapatkan obat itu Vano?" bukannya menjawab Cheril malah kembali melempar pertanyaan pada Elvano. Sebenarnya, tujuan dari pertanyaan itu adalah untuk sedikit menghilangkan rasa gugupnya saja. Detak jantung Cheril saat itu sudah semakin tak beraturan.


"Sudahlah! Nanti aku akan menjelaskan semuanya padamu." ucap Elvano ketus. Ucapan Elvano kali ini berhasil membungkam mulut Cheril.


Elvano memang sudah tidak bisa lagi menahan dirinya.


Ia pun sudah kembali menghujani wajah Cheril dengan kecupan bertubi-tubi, terakhir kecupan itu dibiarkannya berada di bibir Cheril. Dan Elvano bisa merasa tenang, karena Cheril membalas itu.


Dan kembali menghujani Cheril dengan kecupan, lalu meninggalkan beberapa tanda kepemilikan. Hingga terjadilah pertarungan sengit di antara kedua insan itu yang berlangsung cukup lama karena pengaruh obat tersebut.


Sesaat setelahnya mereka berdua pun tertidur dengan posisi Elvano memeluk Cheril yang membelakangi nya dengan pelukan erat.


Jadilah malam itu menjadi malam pertama yang tertunda.


---------------


Matahari kini telah bersinar kembali, cahayanya mengintip dari sela jendela yang sedikit terbuka tirainya.


Dan membangun kedua insan yang sedang tertidur pulas itu.


Saat itu Cheril yang lebih dulu terjaga.


"Eh, ternyata sudah pagi!" Ucap Cheril pelan. Ia mengangkat tangan ke atas untuk meregangkan otot, rasanya tubuh itu hampir remuk karena kerja keras yang telah ia lakukan semalam bersama Elvano.


Perlahan Cheril pun membuka matanya yang masih sangat berat, tubuhnya juga terasa berat, seperti ada beban yang menindih nya.


Ketika Cheril hendak berangkat dari tempat tidur itu, ia baru menyadari, ternyata tangan Elvano sedang melingkar di perutnya. Dan pada saat itu juga ia baru sadar, dirinya masih belum berbusana. Cheril kembali teringat kejadian yang menimpanya semalam. Wajahnya pun kembali memerah ketika mengingat semua itu.


Sementara Elvano yang masih terlelap juga ikut terjaga saat merasakan Cheril sedang berusaha menyingkirkan tangannya.


"Tidak perlu dilepas ....Tetaplah seperti ini! Aku masih ingin memelukmu." Ucap Elvano, dan semakin mempererat pelukannya.


Cheril pun hanya bisa terdiam tak berkutik. Hal yang paling Cheril takutkan akhirnya terjadi juga. Sesaat kemudian, Elvano malah membalikkan tubuh Cheril menghadap diri nya. Cheril merasa sangat malu saat itu. Tentu saja wajahnya sudah semakin memerah lagi.


"Cheril, apa semalam aku sudah menyakitimu? Maafkan aku Cheril!" Ucap Elvano memulai pembicaraan.


"Eh .... Ti-tidak kok .... " Hehehe.


Jawab Cheril cengengesan.


"Maafkan aku Cheril, aku tidak tau kamu belum pernah melakukan ini. Padahal kamu sudah pernah menikah sebelumnya." Tambah Elvano lagi. Ia juga merasa sangat senang saat mendapati ternyata Cheril masih perawan.


"Tapi aku sangat senang Cheril ... " Sambung Elvano sambil tersenyum.


Sementara Cheril malah meneteskan air matanya saat itu.


"Kenapa kamu menangis? Maaf jika aku sudah menyakitimu Cheril!" Ujar Elvano sedikit salah tingkah ketika mendapatkan Cheril menangis.


Lalu ia pun memeluk Cheril dan mendekap wajah Cheril di dadanya yang lapang.


Dan Cheril merasa sangat nyaman saat itu.


"Cheril, bisakah kamu mengulangi pernyataannya cinta mu padaku semalam?" Pinta Elvano tiba-tiba.


"Eh .... Ucapan yang mana?" Tanya Cheril.


"Yang benar saja, apa kamu tidak ingat apa yang sudah kamu ucapkan semalam? Apa jangan-jangan kamu hanya asal ucap saja?" Elvano sudah melepas tangannya yang sedang mendekap Cheril tadi. Membuat Cheril segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tanpa balutan apapun.


"Lihat saja dirimu .... Bahkan kamu sangat takut aku melihat tubuhku itu .... "


Elvano semakin murka


"Eh ....


Kenapa dia mulai lagi sih ...


"Apa kamu sungguh tak ingat sudah menyatakan cinta padaku semalam?" Elvano kembali menanyakan hal konyol itu.


Sebenarnya Cheril tau apa yang dimaksud oleh Elvano. Hanya saja ia tak berniat untuk mengulangnya sama sekali. Bisa dibayangkan, peperangan akan segera dimulai kembali.