Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Niko dan rombongan terjebak di dalam labirin


Setelah keluar dari kamar, Elvano menuju ke ruang kerjanya yang juga berada di dalam kastil tersebut. Dan kemudian mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Niko.


Sebab Elvano sedikit mengkhawatirkan keadaan sahabat yang sekaligus juga merupakan bawahannya itu. Tentu saja Elvano merasa khawatir, gunung Elang Muda bukan tempat sembarangan. Di sana juga sangat banyak jebakan, juga dikelilingi oleh orang-orang hebat dalam hal ilmu beladiri.


Baru saja Elvano akan menekan simbol telepon yang berwarna hijau untuk memanggil, ternyata Niko malah sudah lebih dulu menghubungi Elvano. Sontak Elvano pun segera menjawab panggilan tersebut.


"Hallo Nik, apa ada masalah?" tanya Elvano cepat.


Eh, apa dia menungguku sejak tadi hingga menjawab telepon secepat ini ... Ah, aku jadi terharu ...


Sementara Niko membatin, Elvano malah semakin khawatir.


"Nik ... Nik ... Apa kamu bisa mendengarku?" Elvano mulai panik karena tidak mendapat jawaban.


"Eh, i-iiya ... Aku dengar kok," jawab Niko akhirnya.


Fiiuuh


"Bagaimana keadaan kalian? Apa sudah tiba di gunung itu? Atau kalian menemukan masalah?" tanya Elvano tertubi-tubi.


"Iya, karena itulah aku menghubungimu. Saat ini kami sedang terjebak ke dalam sebuah labirin di hutan. Dan kami tidak bisa menemukan jalan keluarnya," jelas Niko.


"APA? Tunggu, apa labirin itu dikelilingi dengan mawar putih di setiap sudutnya?" tanya Elvano dengan nada serius.


"Sepertinya kamu benar, aku bisa melihatnya, di sudut tempat aku berdiri sekarang ada sebuah mawar putih," tanggap Niko yang sudah mengangkat tangannya hendak menyentuh mawar tersebut.


"Hei, ingat untuk tidak menyen ...,


Gruduk gruduk gruduk!


Gawat sepertinya Niko sudah menyentuh mawar itu.


"Hallo Nik ... Nik ... Apa kau bisa mendengarku?" Elvano semakin panik.


Gruduk gruduk


"I-iiiiya No, apa yang sebenarnya terjadi? Bunyi apa itu?" Niko malah jauh lebih panik saat itu.


"Itu adalah suara gemuruh dari tembok labirin Nik, sebentar lagi dinding labirin itu akan bergerak menghimpit kalian. Dan penyebabnya adalah mawar putih yang kamu sentuh tadi. Sekarang kalian harus cepat keluar dari sana," nasehat Elvano.


"Ii-iiiya, tapi bagaimana caranya No? Kami sudah sejak 1 jam yang lalu berkeliling di tempat ini, dan tidak menemukan jalan keluar sama sekali,"


"Baiklah, sekarang kamu dengarkan aku baik-baik, petunjuknya ada apa mawar putih itu. Jika kamu menemukan mawar putih yang terselip 1 kelopak mawar merah, maka ikuti jejak itu. Namun ...,


"Baiklah, aku mengerti ... "


Lagi-lagi belum selesai Elvano menjelaskan Niko sudah lebih dulu memotong. Dan sudah segera berlari.


Ah ... Kenapa dia selalu memotong pembicaraanku sih ...


Wajar sih, karena pada saat itu tembok labirin memang sudah mulai bergerak. Namun baru 2 lorong yang Niko beserta rombongan lewati, mereka malah menemukan masalah baru. Terdapat ribuan serangga yang sedang merayap mendekati mereka dari arah depan.


Srek srek srek srek


"No, kenapa sekarang sangat banyak serangga?" tanya Niko masih dengan nada panik.


"Makanya, kamu itu dengarkan aku dulu, jangan memotong pembicaraan. Kenapa bisa ada banyak serangga, jawabannya adalah karena kalian salah arah," jelas Elvano yang langsung ditanggapi oleh Niko tanpa jeda.


"Tapi kan kami sudah mengikuti petunjuk yang kamu berikan," protes Niko.


"Kamu ini sudah salah masih saja ngotot. Kamu dengarkan aku, mawar putih yang kamu lihat itu pasti terselip lebih dari satu kelopak mawar merah. Dan itu adalah jebakan. Sekarang kamu dengarkan aku baik-baik, dan jangan memotong lagi."


"Jadi petunjuknya ada pada mawar putih yang terselip 1 kelopak mawar merah saja, tidak boleh lebih dari itu. dan ketika kalian sudah tiba di jalur terakhir, kalian akan menemukan 2 jalur. Satu di antaranya adalah jebakan. Jalur yang benar adalah yang terdapat setangkai bunga mawar dengan warna pelangi bukan warna yang tadi lagi ...,


"Baiklah, aku menger ...,


"HEH! Aku kan sudah bilang, dengarkan aku dulu. Apa kamu mau mati konyol di sana?" murka Elvano.


Elvano marah karena Niko terus memotong pembicaraannya yang belum selesai.


"I-iya, maaf! Tapi tembok ini sudah semakin mendekat, Vano ...," lirih Niko.


"Iya, aku tau itu, seharusnya kalian masih memiliki waktu selama 5 menit lagi. Karena itu dengarkan aku baik-ba ...,


"APA? 5 menit lagi?"


Dan Niko kembali memotong pembicaraan Elvano karena panik.


"Benar. Dan kalian akan memiliki waktu kurang dari itu jika kamu terus memotong penjelasanku," ancam Elvano.


"Ba-baiklah, aku akan mendengarkanmu hingga kamu selesai berbicara," jawab Niko yang akhirnya berdiam diri mendengarkan penjelasan Elvano dengan manis.


"Bagus. Jika kalian sudah menemukan jalur terakhir dan menemukan mawar pelangi itu, ingatlah untuk menyebutkan warna dari pelangi secara berurutan. Ingat, HARUS BERURUTAN! Jika tidak, kalian akan mendapatkan masalah yang sangat berbahaya. Serta jangan ada di antara kalian yang mencoba-coba menyentuh mawar itu. Karena mawar tersebut sangat beracun. Sekarang kamu paham?"


Demikianlah akhirnya Elvano berhasil menjelaskan semuanya pada NIko.


Setelah itu Niko beserta rombongan pun segera bergegas, mengingat waktu yang sangat singkat itu. Mereka melangkah dengan cukup teliti dan sangat cepat, hingga tibalah pada jalur terakhir yang dikatakan oleh Elvano.


"Sekarang, siapa di antara kalian yang menghafal warna dari pelangi?" tanya Niko


Saat suasana hening suara gemuruh terdengar begitu mencekam.


GRUDUK GRUDUK GRUDUK


"HEH! Apa kalian semua tidak ada yang tau? Kenapa kalian begitu BOD*H?" bentak Niko yang sudah semakin panik.


"Maaf Tuan, mungkin Tuan bisa mencari tau di g*ogle," saran salah satu pengawal.


Benar juga ... Kenapa aku tidak terpikir ya ... Ternyata aku lebih bodoh dari mereka.


Batin Niko yang merasa dirinya begitu tak berguna di saat-saat begini.


Dan Niko pun segera mencari di g*ogle apa warna dari pelangi. Lalu menyebutkan dengan keras warna dari pelangi secara berurutan di depan jalur yang benar.


"MEJIKUHIBINIU (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu)"


Pada saat Niko menyebutkan warna-warna tersebut, labirin itu terdengar menimbulkan suara yang sangat kencang, membuat Niko dan para pengawal merasa ketakutan.


KRAK KROK KRAK KROK!


Namun beberapa detik kemudian mereka bisa merasa lega, sebab labirin tersebut menghilang seketika bagaikan ditelan bumi tanpa meninggalkan jejak sama sekali.


Fiiiuh


Mereka pun bernafas lega.


Sayangnya kelegaan yang mereka rasakan tidak berlangsung lama. Beberapa detik kemudian mereka sudah harus menghadapi tantangan lain. Yaitu tiba-tiba mereka kedatangan segerombolan binatang aneh yang belum pernah mereka lihat. Kepala mereka menyerupai manusia, tapi tubuh mereka seperti lembuh, ada juga yang menyerupai singa, dan lain sebagainya. Kira-kira puluhan hingga ratusan jumlahnya.


"Sekarang kita harus bagaimana Tuan?" tanya salah satu pengawal pada Niko.


Dan yang ada di pikiran Niko saat itu tentunya segera menghubungi Elvano kembali.