Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Flash back 2


Upsi ....


Seketika Cheril yang masih menundukkan kepalanya perlahan mengangkat wajahnya.


Dia melihat sesosok yang dia tabrak mulai dari ujung jari kaki kemudian terus naik, naik dan sampailah ke bagian wajah dari pria itu.


Namun Cheril hanya menatap nya sekilas kemudian menundukkan kembali wajahnya dan berkata;


"Maafkan aku Tuan." Ucap Cheril masih tetap menunduk.


Laki-laki itu diam tak bersuara.


Cheril pun penasaran dan ia memberanikan diri untuk mengangkat kembali wajahnya menatap laki-laki itu.


"Eh .... "


'Itu kan?'


Cheril berkata-kata dalam hatinya.


Ia seperti sedang mencoba mengingat-ngingat seseorang. Sepertinya Cheril mengenal orang yang ia tabrak ini, namun Cheril masih agak ragu.


Tapi kenapa sepertinya laki-laki ini sedang bersedih.


Cheril mencoba membaca raut wajah laki-laki itu.


Tunggu, sepertinya aku tidak salah deh, dia kan anak kelas XII waktu itu.


cowok yang dikenal dengan sifatnya yang pendiam.


Eh, salah. Tepatnya yang dikenal dengan cowok yang aneh tapi juga sangat populer sih.


Siapa namanya, aku agak lupa, kalau ga salah El-El-El apa ya ....


Cheril masih mencoba mengingat nama lelaki itu.


Elvano masih pada posisinya yang diam, namun kali ini ia hendak melangkah pergi menjauhi Cheril.


'Eh, kok dia malah pergi? Dia kan belum menjawab maafin aku atau nggak!' Cheril masih berkata-kata di dalam hatinya.


"Ah, masa bodolah .... " Cheril sudah hendak pergi juga dari tempat itu. Namun,


"Ah .... Tapi tidak bisa seperti ini ... Walau bagaimanapun aku harus mendapatkan jawabannya."


"Ah, tapi apa pentingnya sih? Sudahlah pergi saja."


Cheril berperang dalam batinnya.


"Aaaah .... "


Cheril terlihat mengusap wajahnya kasar.


Sedangkan Elvano sudah semakin menjauh.


Akhirnya Cheril memutuskan untuk mengejar laki-laki itu.


"Heh! Kamu tidak dengar ya aku tuh ngomong sama kamu tadi .... " Ucap Cheril agak kesal.


Sedangkan Elvano melirik pun tidak, ia malah terus melangkahkan kakinya.


Oala ....


Akhirnya Cheril dengan gagah berani melangkahkan kakinya lebih cepat dari langkah kaki Elvano dan ia berhasil mendahului laki-laki itu.


Langsung saja Cheril beraksi dengan membentangkan kedua tangan di hadapan Elvano.


"Mau kamu apa Nona?" Akhirnya Elvano bersuara juga melihat tingkah Cheril yang sudah seperti anak-anak yang sedang asyik bermain itu.


Eh, dia malah nanya.


Melihat Elvano yang sudah mau melangkahkan kakinya lagi Cheril segera bersuara.


"Tadi aku minta maaf sama kamu. Jawab dong dimaafin apa tidak?!" Ucap Cheril dengan nada yang agak tinggi.


"Terus kalau aku tidak mau maafin, kamu mau apa Nona? Dan kalau aku maafin juga kamu mau apa?" Jawab Elvano balik melemparkan pertanyaan.


Mendengar jawaban itu membuat Cheril malah semakin geram dengan laki-laki itu, tapi ia juga sangat penasaran dengan laki-laki ini.


'Ternyata selama ini gosip tentang orang ini memang tidak salah.' Gumam Cheril dalam hati.


"Sudah ya Nona, aku mau pergi ke sana. Mau menenangkan diri!" Ucap Elvano singkat padat jelas.


Justru mendengar jawaban Elvano ini malah semakin menambah rasa penasaran Cheril.


"Eh, menenangkan diri? Berarti tebakanku memang benar, orang ini sepertinya sedang ada masalah."


Kali ini Cheril membiarkan laki-laki itu melangkah pergi, dan ia mengikuti nya dari belakang secara perlahan seperti orang yang sedang mengintip. Ya memang mengintip sih.


Elvano merebahkan tubuhnya, duduk di kursi depan danau yang tadi diduduki Cheril. Sesekali ia mengusap kasar wajahnya.


Sedangkan Cheril berdiri agak jauh dari posisi Elvano duduk.


Namun tentu saja Elvano tau kalau gadis itu sedang mengikuti nya.


"Kenapa kamu masih mengikutiku Nona?" Tanya Elvano tiba-tiba yang membuat Cheril sedikit salah tingkah.


Eh, a-anu ....


Eh, aku ....


Cheril mengucap asal tidak tau mau jawab apa.


Namun ia tetap memberanikan diri untuk mendekati pria itu.


"Eh, kamu El-El .... Cheril masih mencoba mengingat nama laki-laki itu.


"Iya .... Namaku Elvano Nona!" Jawab Elvano singkat.


"Iya, maksudnya itu." Hehehe


Tanggap Cheril sambil cengengesan


"Terus, Kenapa kamu kok sepertinya terlihat bersedih?" Cheril memberanikan diri untuk bertanya.


Huuuuuuh


Elvano membuang nafas perlahan


"Jadi nona mau tau?" Tanya Elvano.


Cheril mengangguk-anggukkan kepalanya seperti anak kecil yang sedang menunggu jawaban.


Elvano tersenyum tipis ke arah Cheril yang entah apa artinya itu, senyuman itu justru semakin mengundang rasa penasaran keingintahuan Cheril tentang laki-laki itu.


Setelah itu wajah Elvano kembali bersedih.


"Eh, Kok dia sedih lagi? Gumam Cheril pelan.


Tentu saja Cheril semakin penasaran.


"Ibuku .... Ibuku sedang sakit keras saat ini." Ucap Elvano lalu menundukkan wajahnya.


Kemudian ia mengangkat kembali wajahnya kembali memberi sedikit penjelasan atas jawabannya.


"Aku tidak punya uang untuk membawa nya ke rumah sakit." Lanjut Elvano.


Entah kenapa mendengar jawaban laki-laki itu, Cheril seperti mendapatkan angin segar saja.


Semua rencana yang sudah ia susun dengan baik tadi tiba-tiba terkesibak semuanya.


Wah .... Sepertinya aku bisa memanfaatkan laki-laki ini.


Itulah yang ada di dalam pikiran Cheril saat itu.


Pikiran pikiran liar Cheril muncul begitu saja.


Baiklah Cheril. Katakan, ayo katakan!


Tidak mudah loh menemukan kesempatan langka seperti ini.


Cheril mulai berdebat dengan pikirannya sendiri.


"Jadi kamu sedang butuh uang ya?" Cheril membuka suara setelah terdiam sesaat


Elvano yang tadinya menunduk langsung mengangkat wajahnya menuju Cheril.


Apa mungkin wanita ini akan membantu ku? Mungkin ia bisa memberikan ku pekerjaan. Pikir Elvano dalam hatinya.


"Iya Nona." Jawab Elvano singkat.


Nah, sekarang waktu nya Cheril. Ayo katakan!


Baik lah! Cheril mengumpulkan semua keberaniannya.


"Aku akan membantu mu. Tapi kamu harus berjanji satu hal padaku .... " Ucap Cheril tiba-tiba


Kali ini giliran Elvano yang sedikit bingung mencerna maksud Cheril. Elvano terlihat sedikit mengerutkan keningnya.


"Maksud Nona?"


"Aku mau kamu menjadi suamiku." Ucap Cheril dengan wajahnya yang sedikit memerah karena malu dengan kata-katanya sendiri.


"HAH?"


Elvano jelas kaget bukan main, ia sampai melototkan matanya.


"Eh, tunggu dulu! Dengar dulu penjelasanku." Tambah Cheril lagi ketika melihat mata Elvano hampir meloncat keluar dari matanya karena kaget.


Sementara Elvano, ia seperti sedang mencerna sesuatu.


"Hem .... Tidak perlu, kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa .... " Jawab Elvano yang malah membuat Cheril yang melototkan matanya kali ini.


Eh, apa-apaan sih, dasar laki-laki ANEH.


"OK! Aku setuju menikah dengan mu, asal kamu benar-benar melaksanakan janjimu dengan membawa Ibuku ke rumah sakit dan membayar semua biaya perawatannya." Ujar Elvano tiba-tiba.


Bodoh amatlah, aku sudah tidak memerlukan penjelasan darinya. Yang penting Ibu bisa selamat


Anggap saja ini adalah sebuah pekerjaan, lagian dia cantik juga. Hitung-hitung tidak ada ruginya juga jika aku menikahi gadis ini.


Pikiran liar Elvano mulai bermunculan.


Sementara Cheril ia masih berusaha mencerna ekspresi Elvano yang sepertinya sedikit memasang wajah genitnya.


Iih, jangan-jangan dia berpikir aku beneran suka pada nya.


Kali ini senang bercampur malu bercampur entahlah perasaan apa itu yang menghampiri pikiran Cheril.


Tapi ya sudahlah. Yang penting urusan perjodohan bisa segera teratasi.


"Baiklah! Aku akan menepati semua janjiku." Jawab Cheril kemudian.


"Tapi kamu harus tanda tangan kertas ini!" Cheril mengeluarkan secarik kertas tanda persetujuan untuk bekerja sama.


mungkin maksudnya supaya ada bukti yang kuat hitam di atas putih.


Elvano membaca sekilas isi surat itu membuatnya sedikit tertegun ketika matanya tertuju pada.


"No Sex, tidak boleh menyentuh walau hanya seujung kuku."


Perjanjian macam apa ini? Rasanya Elvano ingin tertawa di dalam hatinya. Hahaha