
Sesaat setelah Elvano menyadari Cheril sudah tidak ada di dalam kamar, ia pun bergegas keluar dari kamar tersebut untuk mencari keberadaan istrinya itu.
"Ya ampun, bagaimana bisa aku sampai kecolongan begini. Kapan Cheril pergi pun aku tak tau."
Huuuh
"Jangan-jangan Cheril marah lagi padaku. Aaah! Dasar aku ini memang sudah keterlaluan."
Elvano beragumen di dalam hatinya, dan sesekali ia juga menepuk-nepuk dahinya pelan.
Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama bagi Elvano untuk menemukan Cheril. Wanitanya itu sedang duduk di tepi pantai seorang diri setelah selesai berbicara dengan Pak Jono di dalam Villa tadi.
Elvano berjalan perlahan mendekati Cheril dari arah belakang. Ia masih berpikir mungkin saja wanita itu sedang marah padanya perihal dirinya yang terlibat perdebatan dengan Shinta tadi. Karena itu, Elvano memilih melangkah dengan perlahan supaya Cheril tidak menghindar darinya.
"Eh .... "
Cheril sedikit tersentak saat merasa lengannya dipegang oleh seseorang. Dan ia tersenyum kecil saat menoleh ke arah samping ternyata yang memegang lengannya adalah Elvano.
"Sayang ...," sapa Cheril pelan.
"Sedang apa di sini? Kenapa pergi begitu saja?"
"Maafkan aku, Sayang!"
Ucap Cheril sambil menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Elvano saat Elvano sudah duduk di samoingnya. Membuat laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu merasa heran. Sebab tak biasanya istrinya itu bertingkah semanja ini.
Eh, aku pikir dia akan marah padaku.
Walaupun ada sedikit keraguan dan juga rasa bingung yang menyelimuti pikiran Elvano, ia tetap mengangkat tangannya perlahan lalu mengusap-usap lembut kepala Cheril dari arah depan ke belakang.
"Ada apa ini, tumben kamu bersikap seperti ini?" tutur Elvano.
"Tidak apa-apa kok. Aku hanya sedang merasa sangat bahagia saja," jawab Cheril sambil tersenyum manis.
"Ehm? Apa yang bisa membuatmu bahagia ini?"
Elvano yang memang sudah bingung bertambah bingung mendengar penjelasan dari Cheril.
Apalagi Cheril juga tidak lagi menjawab pertanyaan terakhir yang dilontarkan oleh Elvano, membuat Elvano merasa semakin penasaran dan kebingungan.
Namun, ia juga tidak ingin memaksakan kehendak. Jikapun memang Cheril tidak menceritakan alasannya, ia tetap merasa senang melihat perubahan sikap Cheril yang demikian.
Biarlah waktu berlalu lebih lama. Jika perlu biarkan waktu berhenti detik ini juga. Agar aku dan dirimu bisa seperti ini dalam jangka waktu yang lebih lama. Hatiku senang tiada terkira, melihat kasih kini bersikap begitu manis. Semoga saja akan terus seperti ini hingga selamanya. Seperti cintaku padamu yang akan abadi hingga selamanya.
Puisi di atas menggambarkan isi hati Elvano saat ini.
"Sayang, apa aku boleh bertanya padamu tentang satu hal?"
Cheril membuka kembali pembicaraan setelah suasana di antara mereka hening sejenak.
"Tentu saja Sayang, katakanlah!"
Pasti Cheril ingin bertanya perihal Shinta.
Batin Elvano memang tidak salah. Cheril memang ingin menanyakan hal ini.
"Sayang, ini tentang ...,"
"Tentang Shinta kan?" potong Elvano.
Cheril menatap Elvano sesaat kemudian mengangguk pelan.
"Apa kamu memiliki perasaan terhadap gadis itu?"
Cheril memberanikan diri untuk melemparkan pertanyaan ini.
"Ehm? Aku rasa tidak perlu aku jelaskan pun kamu seharusnya sudah tahu jawabannya.
Aku dan Shinta memang agak dekat. Dan itu berawal dari perkenalan kami pada saat aku menolong anak Pak Jono beberapa waktu yang lalu."
Elvano menjelaskan persis seperti yang diceritakan oleh Pak Jono tadi.
sementara Cheril tidak berkomentar apapun. Dia berpura-pura tidak tau dengan semua itu.
"Aku tau, Shinta menaruh perasaan terhadapku. Namun Sejak pertama berjumpa dengan nya hingga saat ini aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadap gadis itu. Aku hanya menganggap dia seperti seorang kakak yang menyayangi adiknya saja, seperti aku memperlakukan Flo dan Valen."
Elvano memalingkan wajahnya untuk menatap ke arah Cheril sebelum mengucapkan kalimat berikutnya.
"Cheril, kamu paham kan maksud aku? Percayalah padaku, seumur hidup ini, aku hanya pernah mencintai seorang wanita saja, yaitu dirimu." Ucap Elvano sambil menatap Cheril lekat.
Demikian juga dengan Cheril, dia juga menatap Elvano pada saat laki-laki itu mengungkapkan perasaannya yang terdalam. Sepasang manik mereka yang indah saling bertemu untuk beberapa detik.
"Ya, aku percaya padamu, Jeong Shu." tanggap Cheril sambil memperlihatkan senyumannya.
"Hanya saja aku mengkhawatir gadis itu," lanjut Cheril menundukan wajahnya.
"Aku tau. Aku akan berbicara padanya nanti. Terima kasih ya, Sayang. Kamu sudah mau menjadi wanita yang sangat mengerti aku," ucap Elvano terharu.
Elvano tak menyangka Cheril memiliki hati yang serendah ini. Bukannya merasa marah, Cheril justru merasa kasihan pada Shinta. Sikap Cheril yang seperti ini cukup menyentuh hati Elvano.
"Oh iya, apakah kamu masih merasa mual?"
Elvano tiba-tiba mengingat sesuatu yang sangat penting.
"Hem em. Hanya sedikit saja. Sudah banyak kurangnya kok ketimbang tadi pagi," jelas Cheril.
"Apa tidak lebih baik kamu beristirahat dulu?" bujuk Elvano.
"Aku tidak apa-apa kok. Malah sangat membosankan di dalam kamar saja,"
"Tapi ...,"
Elvano masih mengkhawatirkan keadaan Cheril.
"Aku tidak apa-apa kok. Aku hanya ingin duduk di sini dan memelukmu seperti ini. Seperti ini sungguh sangat nyaman. Boleh kan?"
Cheril berucap sambil berhambur memeluk Elvano manja.
Tentu saja Elvano tidak dapat menolak Cheril yang bersikap seperti itu. Yang ada juga Elvano merasa sangat senang dengan sikap Cheril yang demikian. Dan akhirnya Elvano pun membiarkan Cheril tetap berada di tepi pantai. Ia sendiri juga ikut duduk di tepi pantai menemani Cheril. Mereka berduaan mengulangi kembali momen saat mereka baru tiba tadi.
-
-
Sekitar 30 menit kemudian, ponsel milik Elvano bergetar yang menandakan ada panggilan masuk. Elvano pun merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel tersebut.
"Telepon dari siapa, Sayang?"
"Eh, ini dari Ibu Winda. Aku jawab dulu ya,"
Cheril mengangguk setuju.
~ Ibu Winda dan Elvano on phone ~
"Hallo, Bu, ada apa?"
"Hallo, Vano, Ibu kangen sekali padamu dan Cheril. Kalian ada dimana sih? Kenapa tidak pulang-pulang? Dan bagaimana kabar kalian?"
"Maafkan Vano, Bu! 2 hari lagi Vano janji akan pulang ke rumah bersama Cheril,"
"Benarkah? Baguslah! Tapi apa tidak bisa pulang sekarang juga? Ibu dengar dari Niko, kamu sedang tidak di kantor. Kamu ada dimana sekarang?"
"Ehm ... Vano sedang jalan-jalan bersama Cheril, Bu. Belum bisa pulang hari ini. 2 hari lagi Vano janji akan pulang bersama Cheril,"
"Begitu ya? Kalian jalan-jalan kemana? Ibu susul kalian ya,"
"Eh, jangan ... Vano sedang ingin berduaan dengan Cheril saja Bu. Sudah ya, Bye!"
"Eh ... Tung .... "
Tut tut tut
Panggil terputus begitu saja sebelum Ibu Winda menyelesaikan kalimatnya.