Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Tentang Baby G


Usai berbicara dengan Valen, tentu saja langkah Elvano tertuju ke arah Cheril yang sedang duduk manis menunggunya di ruang santai. Cheril sedang menikmati acara televisi saat itu.


"Eh Sayang, sudah selesai bicaranya? Mana Valen?" tanya Cheril saat melihat Elvano hampir tiba di hadapannya.


"Masih di ruangan aku. Ayo kita kembali ke kamar! Maaf sudah membuatmu menunggu lama,"


"Tidak apa-apa kok. Memangnya apa yang sedang terjadi? Kenapa Valen tidak keluar bersamamu?"


Cheril terlihat sedikit penasaran.


"Nanti aku ceritakan semua padamu. Ayo kita ke kamar!" ajak Elvano sekali lagi.


Dan kali ini Cheril pun segera beranjak.


Kedua insan ini kemudian melangkah menuju kamar mereka. Kamar yang sudah 1 bulan lebih mereka tinggalkan. Kamar yang baru satu kali mereka tempati setelah bersatu di dalam pernikahan.


Dengan penuh perhatian dan ketelatenan Elvano menuntun istrinya melangkah. Merangkul serta mendekap wanita itu dengan penuh kasih. Mereka berdua memilih menggunakan fasilitas yang lebih mudah untuk mencapai kamar mereka yang berada di lantai 2. Mengingat Cheril sedang mengandung, Elvano lebih memilih mengajak Cheril menggunakan lift.


Hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja pasangan ini telah mencapai tempat tujuan mereka.


Saat ini pasangan ini sudah berada di dalam kamar.


"Sayang, apa yang sebenarnya terjadi?"


Cheril membuka suara. Wanita itu sudah tak dapat menahan diri untuk tidak bertanya. Sesungguhnya memang sangat banyak yang ingin ditanyakan oleh Cheril pada Elvano mengenai Dirly. Mengenai semua yang ia lihat di dapur tadi.


Saat itu Elvano sedang merebahkan dirinya di atas sofa. Dan Cheril yang masih dalam posisi berdiri juga segera mengikuti jejak Elvano merebahkan diri tepat di samping laki-laki itu.


"Aku meminta Valen meninggalkan laki-laki tadi," jawab Elvano.


Saat itu Elvano sedang meletakkan telinganya di perut Cheril. Dan Cheril mengusap lembut kepala Elvano.


"Memangnya ada apa dengan pria itu? Aku lihat kamu juga sangat galak padanya di dapur tadi," ungakap Cheril.


Ucapan Cheril membuat Elvano mendongakkan wajahnya menatap Cheril sesaat.


'Jadi kamu melihat semuanya ya tadi?"


Setelah menanggapi Cheril, kemudian ia kembali membenamkan wajahnya pada perut Cheril untuk mengecup lembut perut itu.


"Iya. Sebenarnya tadi aku tidak sedang mual. Aku hanya sedikit bersandiwara saja. Hehehe," aku Cheril cengegesan.


"Wah, ternyata sekarang kamu sudah begitu nakal ya? Berani sekali melakukan hal seperti ini padaku,"


"Aku hanya takut saja kamu sampai terlibat pertengkaran dengan laki-laki itu. Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Memangnya ada apa dengan dia? Kenapa sepertinya kamu sangat tidak menyukainya? Bukannya dia itu temanmu?"


Elvano lalu menegakkan kembali posisinya yang sedari tadi wajahnya masih berada di sekitar perut istrinya itu.


"Laki-laki itu bukan pria baik-baik. Dia hanya memanfaatkan Valen untuk mengambil keuntungan dariku saja," jelas Elvano.


"Maksud kamu Sayang?"


Cheril semakin penasaran.


"Dia menginginkan peta itu!" seru Elvano.


"Tunggu! Maksud kamu peta yang waktu itu? Yang sudah diambil oleh orang-orang jahat waktu di kastil itu kan?


Cheril masih bisa mengingat dengan jelas kejadian beberapa hari yang lalu. Kejadian yang bahkan menyebabkan mereka bertengkar.


"Iya. Tapi Peta itu masih ada padaku sekarang. Peta yang mereka ambil waktu itu bukanlah peta yang asli," ungkap Elvano jujur.


"Jadi begitu ya? Tapi kenapa Frans juga menginginkan benda itu? Aku jadi bingung kenapa semua orang menginginkan benda itu? Dan kamu juga, kenapa kamu masih mau menyimpannya? Padahal benda tersebut sudah banyak membawa mala bahaya bagi kita,"


"Kamu tidak mengerti tentang ini Sayang. Peta itu memang sangat penting. Tempat yang ditunjukkan oleh peta itu terdapat sebuah harta karun yang sangat berharga," jelas Elvano.


"Tapi kita tidak membutuhkan harta lagi Sayang. Semua yang kita miliki saat ini lebih dari cukup. Untuk apalagi masih mengincar harta itu?"


Mendengar pendapat Cheril yang satu ini membuat Elvano teringat kembali dengan pertengkaran mereka waktu itu. Dimana dia menuduh Cheril yang hanya menginginkan harta warisan dari keluarganya. jujur, Elvano merasasedikit bersalah soal itu. Perkataan Cheril kali ini jelas menampar keras pria itu.


"Maafkan aku ya Sayang, beberapa hari yang lalu aku sudah membuat hatimu terluka dengan menuduhmu sebagai wanita penggila ...,"


"Sudahlah Sayang, tidak usah membahas tentang itu lagi," potong Cheril dengan segera.


Cheril memang sangat tidak ingin mnendengar tentang tuduhan itu lagi. Ia tidak berharap Elvano mengulangi ucapan itu lagi walaupun hanya sekedaringin meminta maaf saja.


Apa yang dilakukan oleh Cheril ini justru menambah rasa bersalah di hati Elvano.


Maafkan aku Sayang, aku sangat menyesal telah mengatakan tentang itu. Kalimat itu pasti sudah sangat menyakitimu ya. Aku bersalah padamu Sayang.


"Sayang, lebih baik kita membahas yang lain ya. Aku masih penasaran mengenai laki-laki yang bernama Frans itu. Memangnya siapa dia? Bukannya dia itu temanmu?"


"Ya, dia memang temanku. Dan nama laki-laki itu bukan Frans, melainkan Dirly." ungkap Elvano.


"Maksud kamu dia memalsukan identitasnya?" tanya Cheril sambil mengerutkan dahi.


"Iya!


"Apa Valen sudah tahu soal ini?"


"Tentu saja belum, aku tidak tega memberitahukan padanya. Dia pasti akan sangat kecewa ketika tahu orang yang ia cintai itu malah menipunya," jelas Elvano.


"Benar juga sih yang kamu katakan. Aku tidak menyangka kamu masih bisa berpikir sejauh ini di saat-saat seperti ini. Kecerdasaanmu itu sungguh di atas rata-rat deh," puji Cheril.


"Itu karena aku sangat menyayangi Valen," jawab Elvano dengan tampang serius.


Ternyata sebesar itu ya rasa cintamu terhadap keluargamu ini, kamu memang pria yang sempurna, Vano.


"Hei, kenapa menatapku seperti itu?"


Elvano melemparkan protes ketika menyadari Cheril saat itu sedang menatap lekat dirinya.


"Eh, tidak apa-apa kok. Aku hanya sedang berpikir ternyata kamu adalah seorang Kakak yang baik. Hanya itu saja," ungkap Cheril.


"Tentu saja! Juga suami yang baik kan?" ledek Elvano.


"Ehm, mengenai yang satu ini, coba aku pikirkan dulu," goda Cheril.


Melihat Cheril yang bersikap demikian membuat Elvano murka seketika.


"Hei! Apa kamu masih belum mengakui kebaikanku padamu? Kurang baik apalagi aku memperlakukanmu selama ini?" sergah Elvano tiba-tiba.


"Eh, kenapa marah begitu? Nanti Baby G mu ini kaget loh!"


Elvano seketika menurunkan sikap arogannya ke tempat terendah. Biasanya di posisi seperti ini, Cheril pasti akan menjadi pihak yang paling dirugikan. Perdebatan panjang dipastikan akan terjadi dan kemenangan itu akan didapatkan oleh Elvano. Tentu saja berbeda jauh dengan saat ini. Elvano lebih memilih mengalah seketika saat mendengar Cheril menyebut Baby G.


"Maafkan Papa ya Nak. Mamamu ini yang nakal. Memang harus diomelin," ucap Elvano sambil mengelus-elus perut Cheril.


Sekarang Cheril sunguh memiliki senjata yang sangat tepat untuk melawan Elvano.


Senyuman tipis merekah di wajah cantik Cheril.


"Kok Mamanya yang salah? Papanya yang nakal. Selalu saja membuat Baby G kaget. Nanti biar Mama omelin Papamu ini ya Nak," balas Cheril.


Keduanya lalu tertawa kecil. Mereka merasa sedikit kegelian dengan apa yang mereka lakukan saat itu.


"Oh iya, Sayang, sebenarnya Baby G yang kamu namai anak kita ini singkatan dari apa?"


Dan topik yang mereka bahas pun berubah total. Berbelok tajam seperti kehidupan mereka saat ini.


Dan memang sudah lama sekali Cheril merasa penasaran dengan hal yang satu ini. Namun ia baru memiliki kesempatan untuk bertanya sekarang.


"Ya, Baby G aja. Aku juga belum tau singkatan dari apa," jawab Elvano sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak terasa gatal.


Mendengar itu Cheril menanggapi dengan mengerutkan dahi.


"Bagaimana kamu ini? Memberikan inisial tapi tidak tahu kepanjangannya apa?" protes Cheril.


Hehehe


Elvano terkekeh kecil.


"Lagian kan belum tahu juga kita ini laki-laki atau perempuan, bagaimana hendak menamainya?"


"Lalu kenapa kamu memberikan inisial?"


"Ya terlintas begitu saja sih. Begini saja, apapun jenis kelamin anak kita nanti, nama anak kita akan berawalan dengan huruf G. Bagiamana?"


Cheril tampak berpikir sejenak dan segera memberikan jawabannya.


"Ehm ... Tentu saja. Kamu sejak awal sudah memberikan inisial pada anak ini. Memangnya aku bisa melakukan apalagi?


Bahkan sepertinya dia sudah sangat hafal dengan nama itu," ucap Cheril sambil mengelus lembut perutnya.


Melihat apa yang dilakukan oleh Cheril, Elvano pun tergerak untuk ikut melakukan hal yang sama. Elvano lalu mengarahkan tangannya ke arah perut Cheril yang masih terdapat tangan Cheril. Ia memegang tangan itu lembut dan perlahan menggeser tangan Cheril penggantikan itu dengan tangannya. Lalu mulai mengusap lembut perut Cheril.


Secercah kebahagiaan meliputi hati kecil mereka.