Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Ketegangan


Suasana yang tadinya begitu santai kini berubah tegang. Valen sudah bersiap untuk menyantap makanan miliknya. Sepiring nasi goreng spesial lengkap dengan telor ceplok dan 1 potong ayam krispi di atasnya. Sepiring makanan yang sangat menggoda mata. Membuat setiap orang yang melihat akan sangat tidak sabar untuk mencoba.


Gadis itu kemudian meraih sendok yang terletak di atas piring tersebut dengan perlahan, lalu mengambilkan 1 sendok makanan yang ada di atas piring tersebut dengan gerak yang sangat anggun. Satu sendok nasi goreng lengkap dengan sedikit potongan telor ceplok telah berhasil diraih Cheril, mulut gadis itu mulai terbuka bersiap menerima suapan pertama yang akan segera mendarat di mulutnya. Sementara Dirly memperhatikannya dengan seksama.


Sendok yang masih di tangan Valen sudah hampir mencapai tempat tujuan. Aroma dari makanan itu juga tak kalah menggugah selera. Semakin dekat tentu saja semakin harum, membuat Valen lebih dulu menelan salivanya karena aroma yang sangat nikmat itu.


Ehem ....


"Kenapa kamu melihatku seperti itu, Dir? Kamu pengen nasi goreng milikku?" tanya Valen tiba-tiba.


Valen tiba-tiba menghentikan gerak tangannya yang sudah berada tepat di depan bibirnya. Membuat Dirly merasa sangat gemas melihat itu.


Sementara dirinya yang sedari tadi begitu tegang sontak kaget mendengar Valen berbicara demikian padanya.


"Eh, ti-tidak kok. Kamu saja yang makan. Hehe," tanggap Dirly cengengesan.


Padahal di dalam hati ia sudah mengumpat kesal. "Ah, kenapa malah berhenti? Cepat makan!" batinnya saat itu.


"Aku serius, sepertinya kamu sangat menginginkan ini. Aku suap ya, ayo buka mulutmu!" pinta Valen.


Saat itu Valen sudah menjauhkan sendok itu dari mulutnya. Ia bersiap menyuapkan sendok tersebut ke arah mulut Dirly.


"Eh, aku sungguh tidak menginginkan itu. Kamu saja yang makan!" tolak Dirly.


Valen tersenyum tipis mendengar itu. Valen berpikir mungkin Dirly hanya merasa malu. Sebab memang ini merupakan pertama kali bagi mereka bersuap-suapan seperti ini.


Sebelumnya mereka memang belum pernah melakukan hal ini.


Jika hanya sekedar suap-suapan saja mereka belum pernah, lalu apakah mereka sudah pernah melakukan hal yang lebih dari pada ini?


Seperti hal yang saat ini sedang membuat Elvano begitu panik. Saat dimana Elvano mendapatkan laporan dari orang suruhan Niko mengenai foto Adiknya dan Dirly yang memasuki sebuah penginapan. Jelas hal ini membuat Elvano berpikiran sangat negatif.


Jawaban yang sebenarnya, mereka memang belum melakukan hal yang demikian. Bahkan sekedar saling bertukar saliva saja mereka belum pernah. Walaupun Dirly terlihat sangat jahat, ia juga masih memiliki harga diri yang selalu ia jaga. Seumur hidupnya, ia hanya akan melakukan kecupan pertama dengan kekasih yang ia cintai saja. Apalagi dalam hal yang lebih dari pada itu. Dirly sangat berkomitmen dalam hal ini.


Jadi penjelasan mengenai foto yang ada pada Elvano itu, mereka berdua memang sungguh-sungguh memasuki penginapan tersebut. Namun bukan untuk melakukan hubungan terlarang. Valen hanya menemani Dirly meninjau penginapan yang tak lain adalah milik Dirly sendiri. Ya, tidak hanya itu saja tujuannya, Dirly memang sengaja merangkul Valen mesra memasuki tempat itu karena tahu Elvano mengirimkan orang untuk membuntuti mereka. Ia hanya ingin sedikit mengerjai Elvano dan membuat laki-laki yang merupakan sahabat juga sekaligus merupakan musuhnya itu merasa kesal.


Dan sepertinya rencana itu berjalan dengan sukses. Dirly memang berhasil membuat lelaki super posesif itu menjadi sangat kesal.


"Kamu malu ya Dir? Tidak apa-apa kok. Kita ini kan sepasang kekasih. Lagian aku juga belum memakannya. Ayo buka mulutmu!"


Saat ini Valen sudah memajukan sendok itu tepat di hadapan mulut Dirly.


"Valen, a ...,"


Hup!


Baru saja Dirly hendak membuka mulut untuk berkomentar, Valen sudah mendaratkan makanan itu pada mulut Dirly. Perbuatan Valen ini jelas membuat Dirly sontak membulatkan matanya sangat besar.


"Gimana? Enak kan?" tanya Valen polos.


Dengan sangat terpaksa Dirly pun mengangguk pelan sambil tersenyum kaku supaya Valen tidak mengetahu semuanya. Padahal ia sendiri hanya berani mengulum makanan tersebut tanpa berani mengunyah sama sekali.


Dirly tak menyangka malah dirinya yang masuk ke dalam jebakannya sendiri.


Shit! Shit! Shit!


Umpatnya kesal.


Jantung Dirly yang sebelumnya berdetak seirama seakan berhenti sejenak sebelum kemudian berdetak kembali dengan irama yang tak beraturan.


Saat melihat Valen tidak memperhatikan dirinya lagi, Dirly dengan segera memuntahkan kembali makanan tersebut di atas tisue dan menyembunyikannya. Sambil berharap-harap cemas obat tersebut tidak masuk ke dalam tubuhnya. Pasalnya, dosis pada obat yang diberikan oleh Dirly pada wanita pegawai food court tadi cukup tinggi. Hanya 1 suap saja masuk ke dalam tubuh seseorang, bisa dipastikan akan langsung bekerja.


Sementara Valen sudah menarik kembali tangannya untuk mengambil suapan selanjutnya yang akan ia tujukan untuk dirinya sendiri. Sekali lagi Ia menggerakkan tangannya anggun menuju ke arah piring dan mengambil sedikit nasi goreng itu yang akan ia suapkan ke dalam mulutnya. Dan Dirly kembali memperhatikan Valen dengan seksama. Namun ia melakukannya dengan lebih berhati-hati kali ini. Ia tak ingin Valen kembali salah paham dan malah kembali menyuapkan makanan tersebut padanya.


Valen menggerakkan tangannya sekali lagi, yang sedang memegang sendok berisikan sedikit nasi goreng spesial dengan perlahan menuju ke arah mulutnya. Perlahan tapi pasti. Valen menggerakkan tangannya tertuju ke arah mulutnya sendiri.


Sendok tersebut sudah hampir mencapai tempat tujuan yang benar. Dirly pun sudah semakin bersemangat melihat itu. Di dalam hatinya, Dirly sedang berteriak seakan memberikan support pada Valen untuk segera mendaratkan makanan itu.


Ayo Valen, makanlah! Cepat!


Dirly sudah seperti seorang penggemar yang sedang menyoraki idolanya di dalam sebuah pertandingan silat di atas panggung saja. Rasanya ia sudah tak sabar lagi menunggu lebih lama. 2 detik yang seharusnya menjadi waktu yang sangat cepat menjadi begitu lambat bagi Dirly. Seharusnya memang hanya membutuhkan waktu 2 detik saja, atau bahkan hanya 1 detik saja, sendok tersebut sudah mendarat dengan cantik pada mulut Valen.


Namun bahkan waktu satu detik itu seakan begitu lama bagi Dirly. Waktu seolah seperti sedang berhenti berdetak saat itu. Gerakan tangan Valen seolah sedang berhenti bergerak bagi Dirly. Mengingat saking tegangnya Dirly saat itu.


Jujur saja, Dirly merasa sedikit takut rencana itu sungguh tidak berjalan dengan lancar. Dan bisa saja Valen malah membelokkan sendok itu ke arah mulutnya kembali.


Membayangkan hal ini saja sudah membuat Dirly semakin tegang saja.


Bersambung ....