Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Valen dijebak oleh Dirly


Sesuai dengan yang diucapkan oleh Niko di telepon tadi, saat ini tepat pukul 11 siang, Niko memang menemukan Valen dan Dirly memasuki sebuah mall.


Layaknya penguntit profesional, Niko mengintip mereka berdua dengan sangat hati-hati. Jika biasanya Dirly akan sangat peka, Kali ini ia sama sekali tidak menyadari Niko sedang mengikuti mereka.


Pasangan itu terlihat memasuki sebuah outlet food court yang ada di dalam mall tersebut. Lalu merebahkan diri mereka masing-masing di atas kursi yang tersedia.


"Sayang, kamu mau pesan apa? Pesanlah!" ucap Dirly.


Ia lalu meraih daftar menu yang ada di atas meja dan memberikannya pada Valen.


Untuk sesaat Valen terlihat sibuk dengan aktivitas memilih menu miliknya. Demikian juga dengan Dirly. Ia juga ikut memilih menu miliknya dengan meraih satu daftar menu lainnya yang masih tersisa di sana.


Sesaat kemudian, mereka pun selesai dengan pesanan mereka. Dan Dirly menjentikkan jemarinya untuk memanggil pegawai outlet tersebut supaya mengambil hasil pesanan mereka.


Setelah itu pasangan ini pun terlibat di dalam sebuah perbicangan ringan. Tidak banyak yang mereka bicarakan. Hanya seperti biasa saja. Hanya ada satu pertanyaan yang selalu diajukan oleh Dirly setiap kali bertemu dengan Valen. Jujur, Valen cukup merasa heran dengan pertanyaan Dirly yang satu ini.


"Sayang, apa Jeong Shu pernah mengatakan sesuatu tentangku padamu? Tentang jati diri mungkin? Atau apapun,"


Kalimat itulah yang selalu ditanyakan oleh Dirly.


Jujur Dirly memang sedikit tidak percaya saat Valen menjawab kakaknya itu tidak menceritakan tentang apapun perihal jati dirinya pada Valen. Dirly merasa Elvano pasti memiliki sebuah rencana. Atau mungkin Valen yang berbohong.


Makanya ia selalu mengulang pertanyaan tersebut pada Valen.


"Aku heran deh padamu, kenapa kamu selalu menanyakan hal ini?"


"Emh? Tidak apa-apa kok, aku hanya ingin memastikan saja. Kakakmu itu kan tidak suka padaku,"


Valen memang sudah mengatakan perihal Elvano yang melarang mereka berhubungan.


"Walaupun Kakakku orang yang sangat posesif, dia hanya mengkhawatirkan aku saja. Tidak berarti dia juga akan berusaha menggunakan cara yang licik untuk memisahkan kita. Jadi kamu jangan berbicara tentang yang tidak-tidak mengenai Kakak aku. Aku ga suka kamu terus menuduh Kakakku yang tidak-tidak seperti ini,"


"Maaf Sayang! Baiklah aku tidak akan membahas soal ini lagi,"


Usai mendengar penjelasan dari Valen, Dirly dapat menyimpulkan wanita itu memang tidak sedang berbohong.


Namun jujur, ia benar-benar tidak menyangka Elvano masih menyembunyikan rahasia tentang jati dirinya yang sesungguhnya dari Valen. Padahal jelas-jelas Elvano menentang keras hubungan mereka. Jelas hal ini membuat Dirly merasa sangat curiga.


"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Dirly.


Dan ditanggapi Valen dengan anggukan. Gadis ini masih merasa kesal terhadap Dirly. Dia tidak ingin berbicara terlalu banyak pada Dirly.


Kemudian Dirly pun berlalu dari hadapan Valen.


Sebenarnya Dirly akan melancarkan aksinya hari ini. Ia tidak sedang menuju ke toilet saat itu, melainkan menuju ke arah dapur.


"Nona, masukkan benda ini ke dalam makanan yang dipesan oleh meja nomor 4!" bisik Dirly pada wanita yang mengambil menu mereka tadi.


Tak lupa Dirly juga menyelipkan


beberapa lembar uang untuk wanita itu. Selain itu ia juga memberitahukan rincian menu yang menjadi pesanan Valen. Tentu saja Dirly melakukan itu dengan sangat hati-hati. Ia lebih dulu melirik ke arah Valen, memastikan wanita itu tidak sedang memperhatikan dirinya. Ia juga memastikan sekelilingnya bahwa tidak ada yang seorangpun yang memperhatikan mereka saat itu.


Untung saja Niko cukup bisa diandalkan dalam hal ini. Ia beraksi dengan sangat cantik sehingga Dirly sama sekali tidak menyadari sedang diperhatiikan oleh Niko. Dari kejauhan hal ini cukup membuat Niko kaget.


"Benda apa yang diberikan oleh pria itu? Sepertinya itu semacam obat, mungkinkah obat perangsang atau semacamnya?"


Saat Dirly melangkah pergi, Niko segera berlarian kecil ke arah pegawai food court tersebut untuk mencegah wanita itu sungguh-sungguh menaburkan obat tersebut di dalam makanan milik valen.


"Bos, sepertinya aksi anda diketahui,"


Seseorang berbicara melalui sambungan bluetooth dengan Dirly. Itu adalah orang yang bekerja sama dengan Dirly. kekasih Valen itu cukup kaget mendengar itu. Ia pun segera memberikan perintah.


"Lenyapkan dia!"


"Bruk!


Baru saja beberapa langkah saja Niko melangkah, seseorang yang memberi kabar pada Dirly tadi sudah berhasil melumpuhkan Dirly. Lelaki dengan postur tegap itu memukul tepat di titik lemah Niko yang terletak di samping leher. Membuat Niko terjatuh seketika.


"Sudah beres Bos, apa sungguh mau dibereskan?" tanya pria itu lagi.


"Tidak. Bawa dia sekalian!" titah Dirly.


Setelah itu Dirly pun kembali ke arah meja nomor 4 dimana Valen sedang menantinya.


"Maaf ya sayang membuatmu menunggu lama," ucap Dirly tersenyum canggung.


"Tidak apa-apa kok," jawab Valen juga sambil tersenyum tipis.


Valen tidak menaruh rasa curiga sama sekali terhadap Dirly saat itu.


Sekitar 10 menit kemudian, pegawai wanita yang bekerja di food court itu kembali dengan membawakan pesanan mereka. Wanita ini melangkah dengan berat. Tangannya sedikit bergetar pada saat menyajikan makanan yang ia bawa di atas meja. Valen yang melihat itupun sedikit heran.


"Ada apa Nona? Apa anda sedang sakit? Jika ia biar aku minta ijin pada bosmu supaya kamu bisa beristirahat," ucap Valen tiba-tiba.


"Eh, tidak perlu Nona. Sa-saya baik-baik saja kok," jawab wanita itu canggung.


"Tidak apa-apa kok. Tenang saja! Aku akan menghadapi bosmu. Mana bisa dia mempekerjakan karyawannya yang sedang sakit. Akan aku laporkan pada Kak Vano biar outlet ini tidak mendapat ijin lagi mengontrak di mall ini,"


"Terima kasih Nona, tapi saya sungguh baik-baik saja kok,"


Terus terang saja, pegawai itu jadi merasa sedikit bersalah jika sudah begini.


Pada saat ia hendak melakukan kejahatan, Valen malah bersikap begitu baik terhadap dirinya.


"Lalu kenapa gerakmu seperti tadi?" tanya Valen heran.


Wanita itu memandang Dirly sejenak sebelum menjawab. Sedangkan Dirly juga membalas menatap tajam ke arah wanita itu seakan sedang mengancamnya. Membuat wanita itu sedikit ketakutan.


"Ma-ma-maaf, Nona! Mu-mungkin karena makanan ini terlalu berat. Hehe,"


"Saya permisi dulu, Nona, Tuan!" sambungnya.


Kemudian wanita itu segera berlalu dari hadapan kedua orang itu. Ia melakukannya dengan setengah berlari karena sangat gugup dan ketakutan.


"Aneh sekali ya wanita tadi,"


Dirly lebih dulu memulai pembicaraan. Ia tidak ingin Valen merasa curiga lebih jauh.


"Benar katamu. Sepertinya ada yang dia sembunyikan. Aku begitu yakin dia mungkin memang sedang sakit. Atau aku langsung berbicara saja ya pada bosnya,"


Valen sudah hendak beranjak menuju ke arah dapur. Namun segera dicegah oleh Dirly.


"Eh, dia kan sudah berkata dirinya baik-baik saja. Lagian dia juga bukan siapa-siapa kamu. Kenapa kamu bisa seperhatian ini terhadap wanita itu?"


"Kamu ini bicara apa sih Dir? Kita itu harus saling mengasihi. Sekalipun dia bukan siapa-siapanya aku, aku tetap harus menolong dia jika dia sedang kesusahan,"


Mendengar ini membuat Dirly sedikit ternyuh. Ia tidak menyangka Valen ternyata memiliki sifat yang sebaik ini. Entah perasaan apa yang tiba-tiba mengetuk hati kecilnya saat itu. Namun Dirly juga tidak berpikiran untuk menghentikan rencananya.


"Ya sudah begini saja, jika kamu memang tetap ingin melakukan itu, aku akan mendukungmu. Tapi setidaknya selesaikan dulu makannya baru aku temani kamu ke sana. Bagaimana?" rayu Dirly.


"Emh ... Baiklah!" tanggap Valen kemudian.


Pada akhirnya Valen pun mengalah dan mendengarkan apa kata Dirly. Ia sama sekali tak menyangka ada sebuah mala bahaya yang sedang menanti dirinya.


Valen yang begitu polos sangat percaya pada Dirly. Ia bahkan masih berpikir laki-laki yang ada di hadapannya itu sangat tulus padanya. Seperti dirinya yang mencintai laki-laki itu dengan tulus. Wanita itu memang sangat polos. Ia bisa dengan mudahnya masuk ke dalam jebakan yang dibuat oleh Dirly. Sayang sekali sifatnya yang baik tidak disertai sifat yang penurut. Sehingga ia sama sekali tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya tercinta.