
Hubungan Sandi dan Anisa sudah semakin serius bahkan mereka sudah merencanakan pernikahan.
Sebenarnya Anisa masih belum siap, namun Sandi terus meyakinkannya dan akhirnya Anisa pun menyetujuinya.
Kedua keluarga pun sudah bertemu dan membicarakan acara pernikahan mereka yang akan di adakan tiga bulan lagi.
Sandi dan Anisa pun menyiapkan segala sesuatunya mulai dari sekarang.
Kesibukan Anisa yang kuliah dan bekerja setelah pulang kuliah membuatnya sedikit kewalahan alhasil beberapa kali Anisa jatuh sakit.
Sandi sering memintanya tidak kembali bekerja namun Anisa memaksakannya namun Sandi meminta setelah mereka menikah Anisa tidak lagi bekerja dan harus di rumah.
Seperti pagi ini,,
Sandi langsung menuju rumah Anisa saat di kabari jika Anisa demam.
" Sayang,, Kita ke Rumah Sakit ya " Ucap Sandi menatap wajah Anisa yang terlihat pucat.
" Engga usah Mas,, Aku gak papa Kok "
" Badan kamu panas dan wajah kamu pucat Yang "
" Mas,, Aku gak mau.. Aku mau istirahat saja ya"
Sandi menghela napasnya,,
Dia pun mengangguk pasrah dan kembali mengompresnya.
Tiba tiba Bu Widia masuk ke dalam kamar membawakan bubur,,
" Nis,, Kamu sarapan dulu ya Sayang "
" Biar Aku yang suapi Anisa Bu " Ucap Sandi
" Ya Udah,, Makasih Nak Sandi "
" Iya Bu "
Sandi membantu Anisa bangun dan mulai menyuapinya,,
Anisa merasa mual saat makan bahkan dia akan muntah namun dengan sigap Sandi langsung mengambil tisu.
" Sayang,, Minum dulu " Ucap Sandi membantu Anisa minum
Tubuh Anisa sangat lemas, dan Anisa memegang kepalanya yang terasa pusing.
" Kita Ke Rumah Sakit " Ucap Sandi membopong tubuh Anisa
Bu widia yang melihatnya khawatir,,
" Astaga Anisa,, "
" Bu,, Aku bawa Anisa ke Rumah Sakit "
" Ibu Ikut Nak Sandi "
Anisa hanya pasrah, dia sudah tidak ada tenaga lagi rasanya sangat lemas dan kepalanya sangat pusing.
-
" Dokter,, bagaimana keadaan anak saya " Ucap Bu Widia saat melihat Dokter yang keluar
" Tidak ada yang serius dengan Nona Anisa, hanya saja karena kelelahan dan banyak pikiran, Tapi Saya sarankan Nona Anisa di rawat beberapa hari "
" Baik Dokter "
" Silahkan bisa mengurus Administrasinya untuk mengurus ruang inap pasien "
" Bu,, Aku urus semua dulu ya "
" Ya Nak Sandi, Ibu masuk melihat Anisa "
Sandi berjalan mengikuti suster, sementara Bu Widia masuk dan terlihat Anisa yang terbaring lemas dengan tangan yang diinpus.
" Sayang,, " Ucap Bu Widia
" Ibu,, Dimana Kak Sandi "
" Nak Sandi sedang mengurus semuanya Nak, Kamu istirahat ya "
" Anisa gak mau di rawat Bu, Anisa mau pulang aja "
" Sst, nurut ya Nak, Kamu harus banyak istirahat juga hak boleh banyak pikiran "
Anisa memejamkan matanya yang memang terasa pusing, dan tidak lama Sandi berjalan masuk dengan suster untuk memindahkan Anisa ke ruang inap biasa.
-
Sandi terus menemani Anisa, menatap wajahnya yang masih pucat.
Sementara Bu Widia sedang pulang untuk mengambil beberapa pakaian Anisa.
Sandi mengusap lembut rambut Anisa, dia merasa sedih melihat calon istrinya yang malah jatuh sakit di saat mereka sedang sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk acara pernikahan mereka.
" Mas " Ucap Anisa membuka matanya
" Sayang,, kenapa ada yang sakit " Ucap Sandi khawatir namun Anisa menggeleng
" Aku haus Mas "
" Sebentar sayang "
Sandi mengambil minum dan membantu Anisa minum,,
" Sudah " Ucap Sandi dan Anisa mengangguk.
Sandi kembali meletakan gelas di atas nakas
" Sekarang istirahat lagi ya, Aku temani kamu"
Anisa menatap Sandi, betapa beruntungnya dia bertemu dengan Sandi laki laki yang baik dan bertanggung jawab.
Walaupun sebetulnya dulu dia sangat membenci Sandi di saat mereka baru pertama bertemu namun nyatanya mereka malah berjodoh.