
Sandi mengantar Anisa pulang seperti biasanya, semenjak Anisa kuliah di Jakarta setiap hari mereka selalu berangkat pulang bersama bahkan kini mereka sudah bersikap biasa dan tidak seperti saat pertama mereka bertemu yang selalu ribut.
" Oya Nis, enakan tinggal di Jakarta apa Bandung " Ucap Sandi
" Sebenarnya sama sama enak Mas, Bandung adalah tempat kelahiran gue dan Jakarta tempat dimana gue memiliki teman teman baik seperti kalian. " Ucap Anisa
Sandi menatap Anisa dan tersenyum,,
" Nis,, Gue pengin ngomong sesuatu sama Loe "
Anisa menatap Sandi yang tengah menatapnya, jantungnya berdetak lebih cepat bahkan mungkin saja Sandi mendengarnya.
" Sebenarnya gue'- Ucap Sandi terputus dan terus menatap wajah cantik Anisa
" Sebenarnya Gue su'- kembali terputus karena terdengar pintu terbuka
" Ternyata kalian sudah pulang, Ibu kira siapa" Ucap Ibu Anisa
" Sore Tante, " Ucap Sandi tersenyum
" Loh kenapa gak masuk,, Silahkan Nak Sandi masuk "
" Terima kasih bu "
Sandi pun berjalan masuk dan duduk di ruang tamu,,
" Mas mau minum apa " Ucap Anisa
" Apa aja Nis " Ucap Sandi dan Anisa berjalan masuk
" Shit,, Hampir saja,, Tapi kenapa jantung gue terus berdebar,, Tangan gue juga dingin..
Sial,, malu gue kalo Anisa tau "
Anisa kembali dengan membawa minum dan dia pun terlihat duduk di sana,,
" Silahkan Mas diminum "
Sandi tersenyum dan meminumnya,,
" Oya,, tadi Mas Sandi mau bicara apa "
" Uhuk,, Uhuk,,, Sandi batuk dan Anisa langsung mengambilkan tisu dari dalam tas nya..
" Mas Sandi gak papa " Ucap Anisa memberikan tisu
" Gue gak papa "
" Terus tadi, Mas mau bicara apa "
" Oh itu tadi, gak papa Lupain aja gak penting kok "
Anisa mengangguk,,
" Oya Udah sore, gue pulang ya " Ucap Sandi
" Salam buat tante " Lanjutnya
Anisa mengantar Sandi keluar,, dan dia kembali masuk setelah mobil Sandi melaju meninggalkan halaman rumahnya.
" Nis, Apa Ibu bisa bicara "
" Ibu,, Ibu mau bicara apa "
" Ibu lihat hubungan kamu dengan Sandi sangat dekat, apa kalian Pacaran "
" Nisa dan Mas Sandi cuma temen Bu, dan kami gak pacaran "
" syukurlah Nis, Ibu cuma mau ingetin kita ini siapa Nis, kita orang miskin dan kita tinggal di Jakarta pun karena bantuan orang,
Nak Sandi adalah anak orang kaya. "
Anisa tersenyum,,
" Iya Bu, Anisa tau Kok dan Anisa selalu ingat ucapan Ibu "
Sebenarnya Ibu tidak tega mengatakan semua itu kepada Anisa, karena Anisa terlihat juga menyukai Sandi.
Sebenarnya Ibu hanya tidak mau Anisa sakit hati, karena pasti keluarga Sandi tidak akan merestui mereka.
-
Anisa masuk ke dalam kamarnya, dia menutup pintu dan tangisannya pecah begitu saja, hatinya sakit ..
Mulutnya bisa berbohong namun hatinya sama sekali tidak bisa berbohong jika dia sangat menyukai Sandi.
Anisa menangis, dia harus merelakan perasaannya kepada Sandi laki laki yang berhasil merebut hatinya.
" *Semua yang Ibu bilang benar, Mas Sandi orang kaya dan sudah pasti keluarganya menginginkan pasangan yang sederajat dengannya, terus siapa gue, gue cuma orang miskin dan sudah pasti mereka tidak akan menyetujui hubungan kami,,
Gue sayang Mas Sandi, tapi gue harus melupakannya, gue gak mau semakin menyukainya"
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨*
Sementara di Kediaman Wiharto,,
Lona berada di kamarnya, dia masih menatap laptopnya juga memegang pena, namun dia tidak sedang mengerjakan tugas kuliah,,
Dia melamun memikirkan ucapan Zicko siang tadi.
" Gue cuma ngetes aja keseriusan Kak Zicko sama gue, tapi kenapa Kak Zicko malah berpikir kalau gue serius "
" Ehem,, Belajar apa ngelamun " Ucap Biyanka yang ternyata sudah berdiri di samping Lona
" Mama,, " Ucap Lona kaget
" Kamu lagi mikirin apa sih, Mau Cerita sama Mama "
" Ma, Dulu Papa sama Mama menikah setelah lama berpacaran "
Biyanka menautkan alisnya, dia bingung dengan pertanyaan putrinya.
" Papa dan Mama dulu gak pacaran Honey, kita di jodohkan Oleh Oma dan Opa "
" What, Mama serius "
" Ya,, pertama Mama tidak mau sama sekali bahkan Mama selalu menangis, namun setelah beberapa bulan dan sikap Papa sangat baik ke Mama akhirnya Mama bisa mencintai Papa"
" Berarti kalian gak kenal sama sekali dulu "
" Iya honey, " Ucap Tian Tiba tiba masuk
Tian memang sedari tadi mendengar obrolan istri dan Putrinya.
" Setelah kita hidup bersama, rasa sayang rasa cinta itu tumbuh dengan sendirinya bahkan Mama kamu dulu sangat manja dan itu persis seperti Ade "
" Apa kalian juga akan menjodohkan Ade juga Abang, sama seperti dulu Opa "
Biyanka dan Tian saling pandang dan mereka tersenyum,,
" Engga Honey,, kami gak akan memaksa Ade ataupun Abang menikah dengan orang yang kalian tidak kenal, dan kami menyerahkan pilihan kepada kalian" Ucap Tian
Lona tersenyum,,
Dia takut jika dirinya akan sama menikah karena perjodohan namun ternyata dugaannya salah,, Kedua orang tuanya tidak akan menjodohkannya ataupun Abang Lio
" Memangnya kenapa, Kenapa Ade tiba tiba tanya seperti itu " Ucap Biyanka
" Gak Papa Ma,, Ade cuma takut jika ternyat Ade atau Abang ternyata sudah kalian jodohkan " Ucap Lona terkekeh
" Hei,, ini bukan jaman Siti Nurbaya dan asal Ade tau apa pun pilihan kalian siapa pun itu kami akan menyetujui nya asal dia orang yang baik dan bertanggung jawab "
Lona tersenyum,,
" Thanks Pap,, Mam,, " Ucap Lona memeluk mereka
" Sama sama Honey "
Lona memeluk kedua orang tuanya, dan bagi Tian juga Biyanka kebahagiaan kedua anaknya adalah Nomor satu dan mereka akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan mereka.