Cinta Dalam Perjodohan

Cinta Dalam Perjodohan
MASIH DALAM RENCANA PERTAMA


Sore Hari nya Reno dan Ali keluar dari kantor bersamaan,mereka menuju markas. Tentunya mereka sudah memastikan terlebih dahulu kalau tidak ada yang mengikuti mereka.


Ali mengemudiakan mobil dengan kecepatan agak tinggi namun masih dapat dikontrol oleh nya.


"Al,bagai mana semua nya?" tanya Reno ditengah perjalanan.


"Semua sudah beres tuan.Nanti tuan akan mengetahui sendiri siapa mereka." ucap Ali dengan yakin nya karena sudah mengetahui kemana arah percakapan tuan nya.


Reno dan Ali kembali saling terdiam.Reno sibuk dengan laptop nya dan Ali fokus untuk menyetir mobil agar tetap pada jalur nya.


Tak lama kemudian,Reno dan Ali telah tiba di markas,Ali memarkirkan mobil dibasment.


Reno dan Ali keluar dari mobil secara bersamaan.


Mereka langsung menuju ruang pertemuan,tempat om Hans dan yang lain nya berada.


Ali membuka ruangan itu dengan kode rahasia. Dan benar saja didalam sudah ada om Hans,Papa dan ayah mertua nya serta dua orang sahabat nya yaitu Seno dan juga Dennis.


"Maaf semua nya saya telat." ucap Reno sambil menyalami satu persatu yang ada disana,diikuti oleh Ali.


"Santai Ren,kita juga baru saja sampai kok." ucap Seno.


"Oke,sesuai rencana awal.Kita sudah melumpuhkan semua anak buah Alan disini,termasuk yang ada dikantor kamu."ucap om Hans menjelaskan.


"Baik om,lalu sekarang mereka ada dimana?" tanya Reno dengan tatapan tajam.


"Ayo kita keruang bawah tanah.Kita temui mereka." Ajak om Hans dan diikuti oleh semua nya.


Mereka berjalan beriringan menuju ruang bawah tanah.Semua nya tampak sangat tegang,bukan karena takut.Tapi lebih ke merasa sangat marah dengan orang-orang yang ditangkap.


Mereka berlima pun telah sampai di ruang bawah tanah.Tepat dipintu masuk ruang bawah tanah ada sekitar sepuluh orang penjaga.Para penjaga itu pun membungkuk hormat kepada kelima orang itu.


"Bagai mana keadaan nya Jul?" tanya om Hans pada Juli ketua penjaga.


"Ada sebagian dari mereka yang sudah mau buka mulut.Tapi ada juga yang masih tetap pada pendirian nya tuan." jawab Juli menjelaskan.


"Oke,buka pintu nya." pinta om Hans.


Juli pun membuka pintu itu,dan memasuki ruangan yang mirip dengan penjara.Karena terdapat bilik-bilik yang terbuat dari trali besi sebagai penyekat nya.


Om Hans,Reno,Ali,Seno dan Dennis pun memasuki ruangan itu mengikuti Juli.


Betapa terkejut nya Reno saat mengetahui bahwa orang-orang yang mereka tangkap adalah oranga-orang yang selama ini bekerja dengan nya.


Diantara nya ada manager humas dikantor nya,ada staf keuangan dikantor nya,beberapa orang OB dikantor nya,Dan yang lebih mengejutkan lagi adalag seorang petugas keamanan dirumah nya yang ternyata adalah mata-mata juga.Orang yang ia percaya untuk menjaga keamanan rumah nya ternyata adalah penjahat nya.


"Om,apa mereka sudah dimintai keterangan?apa mereka juga sudah diperiksa tidak ada racun dimulut nya?" tanya Reno dengan wajah datar.


"Tenang Ren,mereka tidak akan mati dengan menelan racun,Om sudah mengintrogasi sebagian dari mereka.Kalau selama ini mereka rela kehilangan nyawa mereka apa bila mereka tertangkap.Mereka tidak akan membuka mulut, karena apa bila itu terjadi keluarga mereka akan dihabisi.Itulah ancaman yang mereka terima."Om Hans memcoba menjelaskan.


"Lalu bagai mana dengan keluarga mereka saat ini?"tanya Reno tampak khawatir.


"Tenang Ren,semua nya aman.Sebelum menangkap mereka gue sama Dennis udah ngamanin duluan keluarga mereka ketempat yang bener-bener aman." ucap Seno menjelaskan.


"Bagus." ucap Reno sambil keluar dari ruangan itu.Diikuti oleh yang lain nya.


Semua berjalan beriringan,menuju ruang pertemuan.


"Om,buat mereka semua ada dipihak kita." ucap Reno dengan tatapan penuh arti.


"Iya Ren,itu sudah pasti."Jawab om Hans.


"Ren,Alvin dan Dhika serta rombongan sudah sampai disana."ucap Seno sambil memperlihatkan isi pesan singkat pada ponsel jadul nya.


Mereka semua menggunakan ponsel jadul tahun 1990-2000an untuk berkomunikasi.Karena ponsel jadul tidak akan terdeteksi oleh GPS.Selama di pulau W Alvin dan Dhika hanya menggunakan ponsel itu sebagai alat komunikasi mereka.


"Bagus,berarti kita tinggal menyusul mereka.Tepat jam dua belas malam ini kita berangkat.Helikopter sudah disiapkan kan Al?" tanya Reno.


"Sudah tuan,semua sudah siap." jawab Ali.


"Bagus.Dennis persenjataan bagai bagi mana?" tanya Reno pada Dennis.


"Semua aman Ren,gue udah siapin semua nya." ucap Dennis sambil menunjukan beberapa peti besar berisi senjata api.


Dennis selain menjadi dokter dia juga adalah seorang pemimpin anggota mafia.Tetapi dia lebih terkenal di luar negri.Karena Dennis lebih lama tinggal diluar negri.Maka dari itu dia lebih mudah untuk menggumpulkan senjata.Sebenar nya itu adalah perbuatan ilegal yang melanggar hukum.Tetapi Dennis sudah punya bekingan seorang aparat yang berpangkat paling tinggi didalam negri.Bagai mana tidak ayah Dennis adalah seorang Hakim agung.Dan Ibunya adalah seorang pejabat penting.


"Oke,kita tinggal tunggu berangkat.Kalau begitu saya pamit dulu om." ucap Reno sambil menjabat tangan om nya."Sen,Den gue pamit dulu ya.Nanti kita kumpul disini lagi." ucap Reno pada kedua sahabat nya.


"Iya Ren,gue juga mau pamit.Gue mau ketemu istri gue dulu." jawab Seno sambil menyalami om Hans dan Dennis.


Akhir nya Reno pun pamit,diikuti oleh Ali dan juga Seno.Mereka pun berjalan beriringan menuju besment.


Reno dan Seno pun menuju mobil masing-masing.


...


Sementara ditempat berbeda,Aruni tengah duduk bersimpu sehabis shalat magrib.Dia menangis dalam doa nya,betapa rindunya ia pada suami,ibu,ayah dan semua keluarga nya.Aruni memanjatkan doa nya tanpa bersuara,hanya linangan air mata yang tampak membasahi pipi nya.Aruni takut jika Ari akan mendengar doa nya,dan kemudian dia akan marah seperti tempo hari.


Selesai menjalankan kewajiban nya Aruni langsung merapikan peralatan shalat nya.Aruni mendapatkan paeralatan shalat nya dari Ari. Kini Aruni lebih bisa khusu dalam beribadah. Aruni kemudian berdiri di depan jendela,dia menikmati pemandangan malam yang tersaji disana.Ada bulan purnama yang begitu terang,deburan ombak dipantai serta bintang-bintang yang bertaburan dilangit.Ingin sekali rasanya Aruni melompat dari situ untuk kabur. Namun ia urungkan karena tempat nya yang terlalu tinggi serta beberapa pengawal dibawah nya.Aruni memang menempati kamar dilantai tiga rumah itu.


"Maaf nona saya hanya mengantar makanan." ucap seorang penjaga dengan badan tinggi besar dan kepala plontos.


Aruni tak menjawab ucapan penjaga itu.Dia hanya fokus menatap penjaga itu untuk ia tetap waspada.


"Tuan Ari sedang keluar bersama tuan Alan." ucap penjaga itu lagi sambil meletakan nampan berisi makanan diatas nakas.


Lagi-lagi Aruni tak menjawab ucapan penjaga itu.Ia hanya berdiri tegap untuk tetap waspada.


Kemudian penjaga itu pun keluar dan mengunci lagi pintu kamar Aruni.


Sementara ditempat berbeda Ari sedang bersama dengan Alan.Mereka berdua sedang melakukan pertemuan dengan beberapa orang lain nya.


"Bagai mana keadaan disana." tanya Alan sambil lipat kedua kaki nya diatas meja.


"Semua berjalan lancar tuan." ucap seorang yang berbadan tinggi besar.


"Lalu bagai mana pergerakan mereka apa ada kemajuan?" tanya Alan lagi.


"Beberapa kali mereka berhasil menangkap orang-orang kita.Tapi tuan jangan khawatir, mereka yang tertangkap sangat setia pada tuan,mereka tidak akan membuka mulut." ucap pria plontos satu nya.


"Bagus,lakukan lagi sesuai rencana." ucap Alan sambil keluar dari ruangan itu dan diikuti oleh Ari.


next bab ya.